
Hari demi hari hana dan Roby sering bertemu, walau pada kenyataannya Roby menemui Hana hanya sekedar untuk meminta uang saja. Tapi dari sana mereka semakin dekat dan selalu memberi kabar masing-masing. Dimana Roby memberi tahu kabar sang ayah, karena ia lebih sering menjenguk dan terkadang menginap disana. Sedangkan Hana memberitahu kabar sang ibu, karena Hana juga lumayan sibuk dengan kerja paruh waktunya hingga jarang menjenguk kerumah sakit.
Hari ini, Hana nampak tertidur di bangku tempat ia duduk saat di dalam perpustakaan. Ia sangat kelelahan karena waktunya cukup tersita, paginya ia sekolah dan malam harinya ia gunakan untuk bekerja.
Tanpa disadari Hana, Roby datang kemudian duduk tepat di samping Hana. Tangannya terulur mengusap kepala nya yang terhalang oleh hijab, ada rasa iba saat melihat punggung gadis yang saat ini menyandang status istri sah nya.
" ceroboh banget sih, gimana kalo ada anak lain yang akan berbuat sesuatu sama kamu. Maaf karena aku sudah banyak merepotkan mu, tapi aku juga gak ada cara lain selain ini. " Ucap Roby pelan.
Hana yang merasakan sakit di bagian lehernya, ia mengubah arah tidur nya menghadap kearah Roby. Ia bahkan bergumam kecil dalam tidurnya, hal itu cukup membuat Roby terkekeh pelan saat mendengarnya.
Roby kemudian melepaskan jaket nya dan memakaikan kepada Hana sebagai selimut. Tangannya kembali terulur mengusap pipi Hana yang sedikit memerah akibat terlalu lama menekan tangannya.
" Cantik " Gumam Roby pelan sambil tersenyum.
Tak lama kemudian, ia pergi dari sana setelah puas memandangi Hana yang masih tertidur. Tak lupa ia juga memberi sebuah ciuman di pipi chubby Hana, walau singkat tapi Roby nampak sangat puas dengan kesempatan itu.
Setelah kepergian Roby, Hana nampak bergerak karena ia merasa ada yang menganggu tidurnya. Ia menutup mulutnya saat dirinya menguap, mata nya juga sesekali mengerjap untuk menyesuaikan cahaya serta mengumpulkan sisa nyawa yang masih asik di dunia mimpi.
" Dimana aku... " Gumam Hana sambil membenarkan duduknya agar lebih tegak.
Setelah sadar dimana ia berada, Hana seketika kaget dan menatap sekeliling untuk mencari keberadaan jam dinding.
" Ya Alloh, kenapa aku bisa ketiduran disini sih. " Ucap Hana kesal.
Hana kemudian melihat kearah meja, dan raut wajahnya kembali normal saat melihat dompetnya masih ada diatas meja. Sejak ia sering bertemu dengan Roby, dirinya selalu membawa dompet kecilnya agar memudahkan nya mengambil uang saat Roby meminta kepadanya.
Matanya kembali menatap heran pada jaket jeans yang masih menempel di belakang tubuhnya. Ia keheranan karena disana cuman ada dirinya, dan seingatnya ia tidak pernah membawa jaket ke sekolah.
" Aroma ini, apa kak Roby tadi sempat kesini. Tapi kenapa gak bangunin aku, apa dia gak minta uang lagi atau dia sudah baikan lagi sama Mama. " Gumam Hana keheranan.
Hana kemudian melipat jaket dan segera pergi dari sana, ia juga meminjam novel barunya dan segera bergegas kembali ke kelasnya.
Sesampai di kelas, Hana langsung duduk di bangku tempatnya. Hampir semua temannya juga sudah kembali masuk kelas termasuk trio sahabatnya itu.
" Wah, jaket siapa mak itu. Perasaan tadi loe gak bawa jaket deh. " Tanya Alifa.
" Iya han, tumben banget kamu bawa jaket. Kamu lagi sakit apa " Ucap Wahyu penasaran.
" Tumben Yu loe perhatian banget sama si Mak, biasanya juga lempeng-lempeng aja. " Curiga Alifa.
" Oh ini, tadi aku sempet ketiduran. Tapi pas bangun udah ada jaket ini, jadi aku gak tau punya siapa. " Ucap Hana.
" Kok gue kayak gak asing ya sama tuh jaket, soalnya pas tadi gue mau ke toilet, gak sengaja papasan sawa cowok yang pake jaket kaya gini juga. " Ucap Mira.
Mira nampak serius melihat jaket yang ada di atas meja Hana, ia juga mengingat-ingat kejadian dimana ia berpapasan dengan orang tersebut.
" Mentang-mentang ketemu gebetan disana, jadi dipikirin mulu. " Ledek Alifa kepada Mira.
Hana nampak sangat gugup serta kebingungan, ia takut jika jaket itu beneran punya Roby dan teman-temannya mengetahui nya. Tanpa banyak pikir lagi, Hana memasukan jaket tersebut kedalam ransel bersamaan dengan buku novel yang baru ia pinjam.
" Baru juga ketemu udah segitunya, gimana kalo di ajak jalan. Palingan juga udah pingsan tuh anak. " Ledek wahyu dengan wajah tak suka.
Ekspresi wahyu tak lepas dari pandangan Hana, ia merasa heran karena baru pertama kali melihat wahyu yang sangat kesal tentang Mira. Karena biasanya ia akan meledek nya sambil bercanda dan tertawa, tapi kali ini nampak ada sesuatu yang berbeda darinya.
" Loe ngomong apa sih, makanya gak usah jomblo mulu. Kali-kali cari kek gitu cewek buat di deketin, gak usah nempel mulu sama kita. " Jawab Mira dengan nada kesal.
" Udahlah, gak usah debat mulu. Emangnya kamu ketemu dimana mir, kamu udah tahu nama sama kelasnya. " Tanya Hana penasaran.
" Nah itu dia mak, si Mira malah diam kaya patung pas ketemu tuh anak. Katanya gak bisa apa-apa, soalnya udah deg-degan dulu. " Jawab Alifa cepat.
__ADS_1
" Ya kan namanya gugup bego, loe kira ketemu sama gebetan loe sama kaya gue ketemu sama kalian. Ya beda lah. " Bela Mira.
" Tapi gue inget, kalo gebetan gue juga tadi kayaknya pake jaket jeans yang kaya loe bawa deh mak. " Tambah Mira.
Deg....
Hana merasakan jantungnya berdetak tak karuan setelah mendengar perkataan Mira.
" Apa jangan-jangan kak Roby.. " Tanya Hana dalam hatinya. " Tapi aku juga belum bisa memastikan apa jaket ini punya kak Roby atau siapa".
" Mungkin beda orang, soalnya gak cuman satu orang yang suka pake jaket jeans kaya ini. " Kata Hana.
" Tapi aneh aja sih, kok bisa kebetulan gitu ya. " Ucap alifa.
" Paling cuman kebetulan doang lif. " Jawab Hana.
" Jadi penasaran sama orang yang selimutin mak pake jaket miliknya. " Ucap Alifa tiba-tiba.
" Ya, kalo tau mana aku bawa nih jaket. Paling aku balikin lagi sama orang nya. " Jawab Hana gugup.
Di tengah perbincangan mereka, Tiba-tiba bel pelajaran berbunyi tanda akan di mulai pembelajaran baru. Percakapan antara keempat orang itu lantas terhenti saat seorang guru tiba dan memasuki ruang kelas mereka.
...
Saat ini Hana tengah mengganti seragam sekolahnya dengan seragam kerja biasanya. Tiba-tiba suara dering ponselnya menghentikan kegiatan nya tersebut, ia kemudian membuka ponselnya dan melihat notifikasi yang terpampang di atas layar ponsel android nya itu.
...Kak Roby :...
^^^" *Gue titip jaket gue, jangan sampe ilang atau robek. Kalo rusak gue bakal minta ganti rugi. Satu lagi, kalo tidur tuh gak usah sembarangan. Loe kira semua tempat itu aman apa!.^^^
^^^By the way, gue pinjem dulu kartu ATM loe. Entar kalo urusan gue udah selesai baru gue balikin, thank's*. "^^^
Mata Hana membulat seketika saat melihat poin terakhir, ia langsung teringat dengan dompet yang ia bawa. Ia sangat ceroboh hingga tidak memeriksanya terlebih dahulu sebelum pergi dari perpustakaan tadi.
" Gimana kalo kak Roby mengambil semua uangnya, bagaimana dengan biaya kuliah ku nanti. Hasil kerja keras ku selama ini hilang sekejap, apa aku harus bilang sama Mama, kalo kak Roby udah ngambil uang tabungan ku. Tapi, kalo aku bilang. Nanti Mama pasti marah besar sama kak Roby. Tapi gimana sama biaya kuliah yang udah kumpulin, apa aku tidak bisa menggapai mimpi ku lagi. " Gumam Hana pelan, ia bahkan sampai menangis sambil memandang sisi dari dompetnya.
" Hana kamu kenapa, kenapa kamu menangis?. Apa sudah terjadi sesuatu lagi " tanya Mila dengan khawatir.
" Gak papa kok mbak, tadi mata Hana cuman kelilipan debu." Bohong Hana.
" Seriusan gak ada apa-apa? " tanya Mila lagi.
" Iya mbak, aku gak papa kok. " Jawab Hana.
Ia kemudian menaruh kembali dompetnya kedalam tas, dan merapikan barangnya di dalam loker penyimpanan. Setelah itu Hana mengunci rapat lokernya, dan segera merapikan seragamnya dan lekas memulai pekerjaan nya.
Di depan meja kasir..
" Han, kamu udah tau kan kalo pak Adi bakal tunangan minggu ini. " Ucap Mila.
" Wah seriusan mbak, sukur lah kalo pak Adi udah mau tunangan. Semoga mereka cepet nikah sama dapet momongan. " Jawab Hana senang.
" Kamu ini, baru juga mau tunangan udah di do'ain cepet punya anak aja. Kamunya kapan, udah nikah beberapa bulan yang lalu masih aja nunda. " Canda Mila kepada Hana.
" Hus, mbak mil ini. Gimana kalo ada yang denger, lagian Hana masih kepengen ngejar cita-cita sama sukses berkarir dulu mbak. " Jawab Hana sopan.
" Baguslah kalo kaya gitu, jangan kayak mbak. Udah punya anak banyak masih sibuk kerja, bukannya ngurusin mereka. " Kata Mila sambil terkekeh pelan.
" Kan nasib orang beda-beda mbak. " Kata Hana.
__ADS_1
" Oh ya, kamu hati-hati ya sama pacar pak Adi. Dia itu galaknya ngalahin monyet kelaperan, apalagi kalo dia tahu kalo pak Adi selama ini suka sama kamu. " Ucap Mila memperingati Hana.
" Iya mbak, nanti Hana bakal hati-hati. Lagian mbak ada-ada aja, masa istri bos sendiri di samain sama hewan sih. " Ucap Hana.
" Mbak serius tau, kamunya aja yang belum ketemu. Tapi siang sebelum kamu dateng, pak Adi datang sama pacarnya kesini. Tuh si Anit jadi korban semburan omelan pedas dari pacar pak Adi, kalo gak percaya tanya aja sendiri. " Ucap Mila.
...
Sementara di lain tempat, nampak segerombolan pemuda yang tengah asik nongkrong di warung kecil yang sudah tutup. Warung itu memang tempat dimana anak sekolahan yang sering kumpul bersama geng nya.
" Gila woy, loe kesambet apa sampe beliin kita kuaci sebanyak ini. " Ucap Gilang yang sedang asik makan kuaci.
" Gue lagi baik aja, mumpung bini gue lagi baik. Jadi gue traktir kalian kuaci. " Jawab Roby sambil ketawa.
" Eh entar bi ijah marah loh, loe liat sampah kulit kuaci bekas loe makan udah segunung kaya gitu. Kumpulin dulu cangkangnya, kalo udah habis baru buang ke tong sampah. " Teriak salah seorang pemuda.
" Nih si Roby yang jadi biang keroknya, minta dia yang bersihin nanti. " Jawab Gilang sambil teriak.
" Gila loe, udah gue traktir juga malah gue yang disalahin. " Ucap Roby tak Terima, tak lupa satu gerakan mendarat mulus di kepala Gilang.
" Sakit anjg, ya loe pake traktiran kuaci segala. Traktir tu makan berat, gak kaya kuaci. Ini makan sebanyak apapun gak bakal kenyang, yang ada sampah cangkangnya yang numpuk. " Kata Gilang tak Terima.
" Ck, tenang aja besok gue traktir loe pada makan bakso di depan sekolah loe. Tapi semangkok satu orang, gak usah nambah lagi. " Jawab Roby ketus.
" Gila, temenan sama anak orang kaya mh gini nih. Dikit-dikit traktir, dikit-dikit jalan-jalan gratis. " Ucap Gilang semangat.
" By the way, bini loe gak marah loe hambur-hambutin uang kayak gini. " Sambung Gilang.
" Iya juga sih, tuh anak marah apa enggak ya kalo saldo ATM nya habis gue pake. Masa bodo ah, toh duitnya juga dari Mama. " Batin Roby.
" Loe tenang aja, bini gue baek kok. Entar juga gak bakal ngambek Lama-lama. " Ucap Roby santai.
" Ck, ini nih. Udah nikah muda, istri nya baek pula, emang gimana cara loe buat minta duit sama bini lu. Bukannya kalian gak deket ya, tempo hari lu juga bilang kalo seluruh keuangan loe di sita sama emak loe. " Ucap Gilang pelan.
Dammm.....
Roby terdiam mendengar perkataan dari sahabat karibnya itu, ia lupa kalau dia udah cerita masalah di rumah kepada dirinya.
" Loe tenang aja, gue udah ngebujukin bini gue. Loe gak tau apa, pesona gue ini bisa diandalkan, pake beberapa trik langsung cair kan. " Jawab Roby.
" Gila, sejak kapan kalian deket. Loe juga yang anti spesies cewek kok bisa deket, jangan bilang kalo loe udah belah duren selama ini. Sialan, loe gak cerita sama gue hah. " Marah Gilang.
" Apa sih, makanya loe cepet cari cewek. Terus loe nikahin, ngapain gue repot-repot cerita pengalam gue sama bini gue. " Jawab Roby kesal.
Gilang ketawa sendiri, dan jadi bahan tontonan dari teman tongkrongannya.
" Loe waras kan lang, ketawa udah kaya kesurupan aja. " Kata Roby.
" Kaya nya loe bener-bener udah banyak berubah by, biasanya loe yang paling kalem kayak tai ayam. Tapi akhir-akhir ini loe keliatan gembira banget, gue perhatiin loe juga jadi banyak bicara sama ketawa dibanding diemnya. Tapi gue seneng liat loe yang kayak gini, gue harap gue cepet ketemu sama bini loe. " Ucap Gilang.
" Apa sih loe, sok bijak jadi orang. Lagian loe mau ngapain ketemu sama bini gue. " Tanya Roby ketus.
" Siapa tau dia udah gak tahan sama loe, gue siap nampung kok. janda muda lebih menggoda,iya kan by?." Canda Gilang sambil menaik turunkan kedua alisnya.
" Sialan loe lang, berani loe sentuh tu tangan tinggal nama doang. " Ancam Roby.
" Sans bro, loe udah serius aja. Gue cuman bercanda kali, ya kali gue ngebet istri orang, apalagi ini sahabat karib sendiri. Gue cuman mau bilang makasih sama dia, karena udah mau sabar ngadepin manusia setan kaya loe, gue juga mau minta kaka ipar gue buat ngerukyah elo. Siapa tau loe insaf kalo udah di rukyah. " Canda Gilang.
Setelah berkata seperti itu, Gilang langsung mengamankan wajahnya. Karena Roby melempar biji kuaci kearah nya dengan lemparan kuat.
__ADS_1
" Sialan loe lang, loe bilang gue setan. Lah loe gak nyadar diri, kalo loe temenan sama setan berarti loe juga sama goblok. " Teriak Roby kesal.
Kedua orang itu terus saja berdebat, bahkan tak jarang kepalan tangan mendarat dengan epik di atas kepala masing-masing.