
" Kenapa tidak menginap saja Ma, ini kan hampir malam. Kenapa tidak besok saja, atau ajak aku juga pulang bersama Mama.aku juga ingin menjenguk pam__ maksudku aku ingin mengunjungi Papa. Karena selama ini aku belum mengunjunginya. " Jawab Hana dengan khawatir.
" Tidak sayang, Mama akan baik-baik saja. Dan kamu harus beristirahat, agar luka mu bisa cepat sembuh. Kamu tenang saja ada Roby yang akan menjaga mu, dan aku sarankan kalian jangan terburu-buru untuk melakukan itu. Kau paham kan maksud perkataan Mama " ucap Nisa sambil terkekeh pelan.
Setelah mendengar perkataan Nisa, Hana langsung tertunduk malu dengan pipi yang sudah memerah bagaikan kepiting rebus. Walaupun Hana terlihat seperti orang kampung sederhana, nyatanya dia adalah gadis yang pintar dan dia tahu apa yang dimaksud oleh sang ibu mertua.
Setelah percakapan itu selesai, Nisa berpamitan dan segera keluar dari kamar pengantin. Ia berjalan dengan langkah gontai menghampiri Roby yang tengah asik menikmati rokoknya di teras depan. Nisa langsung duduk tepat di hadapan tempat Roby duduk, ia memegang tangan Roby dan mengelusnya dengan lembut.
" Nak, kini kau sudah besar. Dan sekarang kau sudah menjadi seorang suami dari gadis itu, Mama harap kamu bisa lebih dewasa dan bertanggung jawab. Jaga gadis itu untuk Mama, jangan pernah sakiti dia atau membuatnya menangis. Mama mohon kepadamu, karena ini demi kebaikan mu juga. " Nisa kembali menangis saat mengatakan hal tersebut.
" Kenapa Papa dan Mama melakukan hal ini kepada ku, aku sudah besar dan aku bisa mengatur hidupku sendiri. Bagaimana bisa Mama menikahkan ku dengan gadis yang sudah membuat Papa sekarat. " Jawab Roby dengan nada seraknya. Ia juga mematikan rokoknya dan berlutut di kaki ibunya.
" Ini demi kebaikan mu nak, aku tahu Papa mu tidak salah dalam menentukan apapun mengenai dirimu. Mama tidak ingin mendengar perkataan itu lagi, apalagi kamu mengatakannya didepan Hana. Dia tidak bersalah nak, ini hanya kecelakan dan Tuhan sudah menakdirkan nya. Mulai saat ini jagalah Hana untuk Mama, jika kau melakukan apapun terhadapnya maka kamu tak akan Mama anggap sebagai putra Mama sendiri, kau dengarkan itu. " Ucap Nisa sambil melepaskan tangan Roby. Ia berjalan menuju mobil yang sudah menunggunya untuk pulang ke kota.
" Aku mohon Ma, jangan lakukan ini kepadaku. " Ucap Roby memohon kepada Nisa. Tapi sayangnya ucapannya itu bagaikan angin lewat dan Nisa tidak mendengarkan permohonan anaknya itu.
Sementara di dekat pintu, Hana menyaksikan perbincangan antara Roby dan Nisa. Ia merasa sedih saat melihat Roby yang memohon kepada ibunya, ia tahu jika Roby tidak menyetujui pernikahan ini dan ia tidak menginginkan pernikahannya juga. Hana menangis dan merasa kecewa terhadap dirinya sendiri, ia merasa bersalah karena sudah merenggut kebebasan orang lain.
__ADS_1
" Apa aku sudah salah, Kak Roby tidak menginginkan pernikahan ini. Dia bahkan sampai memohon kepada kepada ibunya, apa yang harus aku lakukan. " Gak mam Hana sambil menangis.
Hana kemudian kembali masuk kedalam kamarnya, karena ia sangat takut jika Roby melihatnya disana. Sesampai di dalam kamar, Hana langsung duduk di kursi tempat meja rias. Ia masih merenungi apa yang baru saja ia lihat, Hana terlihat meremas pakaiannya dengan kencang.
Brak....
Tiba-tiba pintu di buka dengan kasar dari luar, tak lama setelah hana masuk. Roby dengan kasar membanting pintu hingga pintu menutup dengan rapat, Hana yang sedang termenung karena kalut pun langsung terkejut karenanya. Hana menoleh kearah Roby yang memasang wajah garangnya, ia juga menelan ludahnya dengan sangat kasar dan gemetar karena ekspresi Roby yang terlihat begitu marah.
" Kenapa, apa aku terlihat begitu menyeramkan hingga kau melihatku dengan tatapan seperti itu?. " Tanya Roby sambil berjalan mendekati Hana.
" T.. Tidak, maaf aku terlalu kaget saat mendengar kakak masuk. " Jawab Hana dengan gugup.
" A.. Aku, maksud ku... Aku tidak mengerti maksud kakak " elak Hana sambil memalingkan wajahnya.
" Kau ini bodoh atau pura-pura bego, aku bahkan tidak percaya dengan ucapan mu barusan. Kau hanya berpura-pura polos untuk menutupi kebusukan mu yang lainnya, benarkan ISTRI ku. " Ucap Roby dengan menekan kata ' istri '.
" A.. Apa yang kakak lakukan.. " Gumam Hana lemah, ia sangat takut karena Roby mendekatkan wajah dan dirinya dengan memegang dagunya.
__ADS_1
" Bukankah ini yang kau inginkan.. " Goda Roby sambil mengusap lengan Hana.
Hana mencoba berontak menggunakan sebelah tangannya, ia sangat takut dengan perlakuan Roby yang mulai menggerayami dirinya. Walau dia tahu jika dirinya sudah sah menjadi sepasang suami istri, tapi dirinya tetap merasa ketakutan. Bahkan Hana sampai memohon kepada Roby dan menangis agar Roby berhenti melakukan hal itu.
" Aku mohon Kak, jangan seperti ini.. " Kata Hana sambil berontak untuk lepas dari pelukan Roby.
Tanpa Hana sadari, ia lepas kendali hingga menampar Roby karena perlakuan kasar terhadapnya.
" Lalu seperti apa yang kau inginkan, apa kau ingin diperlakukan seperti seorang putri. Hahaha..... Jangan harap mendapatkan perlakuan seperti itu, bahkan dalam mimpi sekalipun. Karena mulai sekarang kau akan merasa hidupmu menyesal karena tidak mendengarkan peringatan dariku. "Tawa Roby dengan keras.
Roby kemudian mengangkat tubuh Hana dengan paksa dan menggendongnya dengan kasar, Hana yang mendapat perlakuan itu tetap berontak dan menangis ketakutan. Ia bahkan tidak menghiraukan lengannya yang masih di balut perban karena belum sembuh total. Tanpa memberi aba-aba, Roby melempar dengan kasar tubuh hana di atas ranjang.
Hiasan dan juga taburan bunga yang sudah disusun dengan sangat rapi, kini sudah tak berbentuk karena hancur berantakan. Roby berusaha mengunci pergerakan Hana karena ia terus melakukan pemberontakan.
Roby terlihat sangat kesal dan emosi, tanpa ia sadari dengan keras ia menyobek baju bagian atas Hana dan membuka dengan paksa hijab yang digunakan oleh Hana. Roby terlihat sangat kasar dan memperlakukan Hana sama seperti boneka. Hana terus saja meronta dan manangis hingga menjerit ketakutan, dengan sekuat tenaga ia mencoba melepaskan dirinya.
Hingga satu kesempatan, ia menampar kembali Roby dengan begitu keras. Hingga Roby tersadar dan berhenti menyiksa Hana, ia bahkan terkejut melihat Hana yang sudah berantakan karena ulahnya sendiri. Hana berusaha menutupi bagian atas tubuhnya yang terbuka, dan berusaha melepaskan diri dari kungkungan Roby yang mengurungnya dalam cengkraman kuatnya.
__ADS_1
" Ibu..... " Tangis Hana dengan sangat memilukan. Ia terus memanggil nama Ibu dalam tangisannya.