
Sesampai di depan gerbang sekolah, Hana menghela nafasnya sebelum ia melangkah memasuki lingkungan itu. Ia seperti berat untuk memasukinya, karena ia bingung harus berkata apa kepada sahabatnya saat bertemu nanti.
Hana merasa lega setelah berhasil berdebat dengan Nisa sebelum berangkat ke sekolah, drama antara mertua dan menantu itu sangatlah membuat pusing para pelayan disana, termasuk sang supir dan tentunya Hana yang terpenting. Karena Nisa, dia tak ingin tahu dan ia tidak ingin ucapannya di bantah, karena itu demi keselamatan Hana sendiri. Nisa khawatir karena kemarin tiba-tiba Hana pingsan dan ia memaksa untuk berangkat sekolah walau kondisinya belum sepenuhnya membaik.
Nisa memaksa Hana untuk naik mobil dan diantar sama supir pribadinya, namun Hana menolak karena ia sudah cukup tersiksa kemarin saat pulang dari Villa. Ia tidak ingin dirinya selalu merepotkan orang lain karena trauma dan membuat orang lain tahu kelemahan nya. Hana tidak ingin dirinya dikasihani, apalagi dia di perlakukan seperti orang lemah.
Sudah cukup selama ini Hana merasakan perlakuan seperti itu, karena sejak di asrama ia selalu di perlakukan berbeda dari orang lain karena kakek nya. Hana merasa risih, karena mereka tidak tahu betapa keras kakek nya itu dalam mendidiknya tentang keagamaan.
Bahkan tak jarang Hana selalu menyendiri, karena temannya yang tak suka terhadap Hana. Guru-guru yang mengajar selalu memuji dan menjadikan Hana sebagai contoh kepada santri yang lain, hingga akhirnya para santri banyak yang iri dan membencinya.
Flashback...
Hingga suatu hari, Hana sengaja di jebak oleh salah satu santri disana. Mereka mengambil salah satu benda penting milik Guru pengajar, lalu menyimpannya di tempat Hana. Saat kepala pengawas menggeledah dan menemukan benda yang dicari itu di tempat Hana, mereka membawa Hana menghadap dewan pemimpin pesantren yang tak lain sang kakek. Disana terjadi perdebatan antara kakek Hana dengan guru yang kehilangan benda tersebut, karena sang guru yakin jika Hana tidak mungkin melakukan hal seperti itu. Hana kemudian di bebaskan dari tuduhan pencurian, bahkan Hana juga terbebas dari hukuman yang selalu pesantren itu terapkan pada anak didiknya.
Semenjak hari itu, gosip tentang Hana yang mencuri dan tidak dihukum karena sang kakek adalah dewan pemimpin menyebar luas di seluruh penjuru pesantren. Karena hal itu, sang kakek tetap menghukum Hana dengan menyuruhnya tetap tinggal di pesantren tanpa harus pulang lagi kerumahnya, bahkan beliau juga menambah hukuman Hana dengan hapalan yang banyak juga tugas untuk jadi pengawas di asrama putri.
Karena kejadian itu, Hana mengalami guncangan mental yang hebat. Disaat kondisi mentalnya tidak normal sejak kejadian yang menimpanya di masalalu, ditambah tekanan dari sang kakek dan juga teman santri nya. Di sekolah menengah Hana mengalami penurunan nilai yang sangat drastis, Hana juga mengalami stress dan kurang tidur karena harus menjalani hukuman.
__ADS_1
Disaat seperti itu, Hana hanya dapat dukungan dari ketiga sahabatnya yang tak lain Mira, Alifa, dan Wahyu. Walau mereka tidak seperti Hana yang tinggal di lingkungan pesantren, tapi mereka sangat dekat bahkan kedekatan mereka layaknya seperti saudara.
Hingga saat Hana menginjak jenjang pendidikan yang lebih tinggi, ia mendapatkan beasiswa bersekolah di sekolah terbaik dan ternama di kota karena prestasi yang luar biasa. Hingga kabar yang menyedihkan membuat Hana mengurungkan niatnya untuk mengambil tawaran itu.
Sang kakek yang selama ini sudah menjadi orang tua tunggal dan satu-satunya keluarga nya saat ini jatuh sakit, Hana hanya menangis melihat sang kakek yang tiba-tiba saja terbaring lemah tak bergerak. Dewan pengurus pesantren ingin membawanya berobat kerumah sakit, tapi beliau menolak dan lebih memilih dirawat seadanya di sana.
Hingga hari itu tiba, dimana sang kakek menghembuskan nafas terakhirnya. Hana tak kuasa menahan kesedihannya, ia menangis sambil membayangkan nasib dirnya kedepannya nanti. Hingga acara pemakaman selesai, Hana tetap terdiam sambil memandangi makam kakek dan juga kedua orang tuanya.
Hampir seminggu Hana mengurung dirinya di rumah sang kakek, dewan pengurus juga banyak yang menasehati Hana dan mencoba menghiburnya. Tapi Hana seperti tuli dan buta akan kehadiran orang disekitarnya, hingga ketiga sahabat Hana datang melayat dan membantu untuk menyadarkan Hana dari keterputukan.
Back again...
Kembali lagi kemasa sekarang, Hana berjalan melewati beberapa koridor kelas. Terkadang Hana menjawab sapaan dari beberapa temannya, hingga akhirnya ia sampai di depan kelas 11 MIPA. Dengan senyuman yang biasa Hana lakukan, ia masuk dan melihat isi kelas yang sudah ia rindukan karena hampir sepekan lebih Hana tidak masuk kelas.
" Assalamu'alaikum, pagi semuanya.. " Ucap Hana memasuki kelas.
" Waalaikumsalam.. " Jawab mereka.
__ADS_1
" Makkkkkk..... " Teriak Alifa dengan keras, membuat seisi kelas jadi heboh karena kedatangan Hana. Termasuk mira dan Wahyu yang terkejut saat mendengar teriakan Alifa.
Alifa langsung memeluk Hana dengan sangat erat, terlihat dari sorot mata yang menyiratkan kerinduan serta kekhawatiran terhadap Hana. Begitu pula dengan kedua sahabatnya yang menghampiri Hana, teman sekelasnya juga langsung menanyakan kabar Hana dan bersyukur karena Hana sudah kembali bersekolah.
" Kemana aja sih Mak, aku udah ngehubungi nomor ponsel mu tapi gak bisa tersambung. Apa sudah terjadi sesuatu, apa ada yang jahat sama kamu Mak. " Kata Alifa dengan cepat.
" Iya, loe kemana aja sih. Enggak biasanya loe ngilang tanpa kabar, loe buat kita cemas dan berfikir yang enggak-enggak." Ucap Mira sambil memeluk Hana.
" Iya Han, HP kamu juga gak aktif. Kita udah datengin rumah kostan, tapi kata tetangga samping rumah. Kamu udah beberapa hari enggak kelihatan pulang, kita semakin cemas dan berfikir negatif tentang kamu Han. " Ucap Wahyu yang berdiri di depan Hana.
" Kita minta penjelasan loh Mak, kenapa bisa tiba-tiba ngilang tanpa jejak. " Ucap Alifa dengan tatapan kesal.
" Iya nanti aku jelasin sama kalian, tapi lepasin dulu pelukan kalian. Tangan ku masih belum sembuh total, jadi kalian jangan membuat tanganku semakin parah oke. " Jawab Hana dengan tatapan memelas, karena sedari tadi dirinya menahan rasa ngilu di bagian lengannya yang masih di perban.
" Astagah, kenapa sama tangan loe Mak. Kok bisa sampe di perban kaya gini? " tanya Alifa khawatir.
" Boleh aku duduk dulu, nanti aku jelasin sambil duduk. Kepalaku terasa pusing pagi ini, ditambah kalian juga menanyaiku layaknya sedang menginterogasi penjahat. " Ucap Hana sambil nyengir.
__ADS_1