
Sesampainya Hana di kafe, ia segera menganti pakaian nya dengan seragam khusus pekerja. Tak lupa ia juga menyapa pekerja lain, seperti Danish, Mila, Roni, dan Anit. Ia juga sempat berpapasan dengan Adi dan menyapa sekaligus memberitahukan tentang apa yang terjadi semalam.
" Han gimana ceritanya, mbak dengar semalam kamu terlibat keributan sama lelaki yang pingsan itu ya? " Tanya Mila penasaran.
" Iya Mbak, aku enggak sengaja nabrak dia sebelum kejadian dia pingsan dalam toilet cowok. " Jawab Hana.
" Terus ngapain kamu yang repot buat nganter dia ke klinik, apa tidak ada yang kenal sama lelaki itu?. "
" Kalau ada yang kenal, mungkin aku enggak usah repot-repot buat nganter dia. Justru karena orang-orang cuman sibuk ngeliatin doang, makanya aku berinisiatif buat nolongin dia. Lagian aku juga merasa bersalah karena menabrak dia sebelum kejadian itu. " Kata Hana dengan wajah lesu.
" Oh.. " Mila mengangguk tanda ia mengerti keadaan Hana.
" Terus kenapa kamu terlihat sangat lemas hari ini, mata mu juga terlihat sembab. Apa sudah terjadi sesuatu? " Mila menatap curiga kearah Hana.
" Enggak kok mbak, aku baik-baik aja " Jawab Hana dengan semangat.
" Kalo ada masalah tuh cerita aja, siapa tau mbak bisa bantu kamu. " Kata Mila sambil menepuk pundak Hana pelan.
" Hemm.. Sebenarnya aku tadi habis dari rumah sakit, tadinya aku mau jenguk teman kecil ku. Tapi saat sampai di depan ruangan tempatnya di rawat, para perawat dan juga dokter sibuk keluar dan masuk ruangan. Aku juga sempat berbincang dengan kedua orang tua teman ku itu, aku sangat khawatir dengan keadaan nya saat ini. Karena saat pertemuan kami, dia terlihat tidak baik. " Cerita Hana dengan wajah sendu.
" Kamu jangan seperti ini, kamu doa in aja teman mu itu agar cepat sembuh. Siapa tahu dokter dan suster itu memang sedang memeriksa nya, jangan berfikiran negatif dulu. " Kata Mila menasehati Hana.
" Iya mbak "
" Kamu sudah sarapan belum?, entar yang ada kamu yang sakit lagi. " ucap Mila mengingat kan Hana.
" Belum, tadi aku lupa." Jawab Hana sambil tersenyum.
__ADS_1
" Ya sudah, kamu makan dulu sama. Di loker mbak ada roti coklat, kamu makan aja, biar nanti enggak pingsan lagi dan ngerepotin pak Adi. " Kata Mila.
" Iya mbak, makasih banyak " Ucap Hana sambil tersenyum dan pergi menuju loker.
Saat ini keadaan kafe masih belum terlalu ramai, jadi Hana dan yang lain bisa sedikit santai saat bekerja. Namun bukan berarti bisa santai untuk bermalas-malasan, melainkan santai sambil tetap melakukan beberapa hal kecil seperti membersihkan meja makan, merapikan kursi, merapikan gelas di bar dan juga ikut menyiapkan prepare bahan minuman. Tak jarang Hana juga akan membantu di bar untuk membuat minuman, Hana termasuk pekerja yang rajin dan multi talent. Ia juga tidak pernah menolak pekerjaan yang di perintahkan untuknya, termasuk membantu mencuci piring di dapur.
πΎ π πΎ π πΎ
Sore harinya, jam kerja Hana sudah selesai bersamaan dengan Mila. Mereka berdua pulang bersama, tak lupa mereka membawa sedikit makanan lebih yang dimasak oleh Danish. Kebetulan tadi ada tamu rombongan banyak, mereka memesan banyak makanan tapi mereka pulang sebelum makanan sisanya keluar. Tapi mereka sudah membayar biaya makanan yang mereka pesan semua, alhasil makanan yang belum di keluarkan itu di bungkus dan di bawa pulang sama Hana dan Mila serta pegawai yang lainnya.
Saat mereka menunggu angkutan umum, mobil tumpangan tujuan Hana sampai dahulu. Hal itu membuat Mira heran, karena selama ini Hana tidak pernah naik jurusan angkutan umum itu.
" Mbak aku duluan ya, maaf sudah ninggalin mbak. " Ucap Hana berpamitan.
" Loh, bukannya mobil itu bukan jurusan ketempat kamu ya. Mobil itu jauh loh dari rumah kamu Han, malahan hampir berlawanan. " Tanya Mila keheranan.
" Neng, jadi enggak nih. Aku lagi kejar orderan, jadi mau naik apa enggak? " tanya supir angkot kepada Hana.
Hana terkejut saat mendengar perkataan supir angkot itu, ia bingung harus berkata apa untuk menjawab nya.
" Tunggu sebentar ya pak, aku jadi naik kok " Jawab Hana.
Hana kemudian berbalik menghampiri Mila yang masih menatap heran kearah Hana.
" Aku sekarang sudah tinggal di rumah baru, tapi aku juga sering balik kerumah kost buat nginap sesekali." Jawab Hana.
" Sejak kapan kamu pindah, kok enggak ngasih kabar sama Mbak kalo kamu pindahan.! " Ucap Mila.
__ADS_1
Hana bingung harus menjawab apa, ia juga sedikit takut melihat tatapan interogasi dari Mila.
" Besok saja Hana jelasin nya ya, kasihan supir angkot nya nunggu lama. Aku janji bakal jujur sama mbak, tapi nanti janji ya untuk tidak menceritakannya kepada orang lain. " Kata Hana gugup.
" Ya sudah, mbak tunggu penjelasan dari kamu besok. Hati-hati ya " Jawab Mila.
" Iya mbak, makasih ya " Ucap Hana, kemudian ia berbalik dan segera naik kedalam mobil angkot.
Saat berada di dalam angkot, Hana nampak berfikir cara menjelaskan yang terjadi kepadanya saat besok. Ia bingung, karena Mila pasti bakal membrondong nya dengan sejuta pertanyaan. Ia juga masih was-was dengan teman-teman sekelas nya, karena sepandai apapun ia menyimpan rahasia. Pada akhirnya akan terbongkar juga suatu saat nanti, dan pada saat itulah Hana harus mempersiapkan dirinya untuk menjawab setiap pertanyaan yang akan dia terima.
Tak terasa dirinya sudah sampai di persimpangan jalan menuju ke rumah utama, setelah membayar ongkosnya dan turun dari mobil. Hana kembali melanjutkan jalan kaki, karena angkot tidak sampai mengantarkan kedepan gerbang kediaman Nisa.
Tin... Tin...
Suara klakson motor mengagetkan Hana yang tengah berjalan di trotoar, sekilas Hana melihat pemotor itu hingga langkah kakinya berhenti saat sang pengendara menghentikan motornya tepat di samping Hana.
" Siapa dia, kenapa malah berhenti disini? " tanya Hana dalam hatinya.
Ia merasa was-was kalau pemotor itu berniat jahat kepadanya, bahkan Hana tengah bersiap untuk kabur jika ada gerakan yang mencurigakan dari nya.
" Apa yang sedang kau lakukan disini, apa kau tidak suruh supir untuk menjemputmu. " Teriak sang pemotor setelah membuka kaca helm full face nya.
Hana terkejut saat menatap mata yang menatap tajam kearah dirinya, ia juga kenal dengan suara yang terdengar kurang jelas karena tertutup helm. Hanya saja Hana masih terpana melihat orang yang kini ada dihadapannya, pesona nya mampu membuat seorang Hana terdiam cukup lama.
" Aku heran bagaimana kau menjalani keseharian mu, jika setiap saat kau melamun seperti patung. Bagaimana kalau ada yang berniat jahat atau menculikmu, pasti mereka akan senang saat melihat targetnya malah diam. " Ucap Roby setelah membuka helm nya.
Hana tersadar dari lamunannya dan menatap Roby yang tengah menatapnya tajam, ternyata pirasatnya benar jika suara dan mata yang membuatnya terdiam adalah suaminya sendiri.
__ADS_1
" Kak Roby..? Kenapa berhenti disini, bukannya rumah masih jauh. " Kata Hana heran.