
Malam minggu pun tiba, dimana banyak pasangan remaja atau pun dewasa yang menikmati waktu berduaan. Tempat seperti taman dan alun-alun kota sudah padat dan ramai di kunjungi pasangan yang sedang berkencan. Apalagi tempat nongkrong, seperti kafe, warung-warung pinggir jalan, tempat tersebut selalu penuh saat malam minggu. Dan buat orang berduit, restoran mewah berbintang menjadi tempat favorit untuk melakukan nge-date sama pasangan kekasih mereka.
Seperti saat ini, selepas solat maghrib. Hana begitu sibuk melayani para pelanggan yang pergi dan datang bergantian memasuki kafe. Ia bahkan belum sempat istirahat, bahkan ia masih belum makan dari siang. Tapi Hana tidak pernah mengeluh atau pun bersantai-santai, ia tetap dengan semangat dan ramah melayani para pengunjung nya itu.
" Mbak, aku pesen makan sama minumnya dong. " Teriak salah satu pelanggan di meja dekat pintu masuk.
" Iya kak, mohon tunggu sebentar. " Jawab Hana dengan nada lembut. Ia baru saja mau mengantarkan pesanan ke meja yang tak jauh dari sana.
" Permisi kak, mau pesan menu apa aja ya. " Tanya Hana dengan sopan, ia sudah siap dengan buku kecil serta pulpen yang ada di kedua tangannya.
" Aku pesen kopi Americano satu, terus sama menu ayam bakar Madu. Kamu yang mau pesen apa? " Tanya pelanggan cowok sama sang pacar.
Hana segera mencatat apa yang diucapkan oleh sang pelanggan di buku catatan miliknya.
" Aku pesen jus mix Berry aja, makanannya samain aja ya mbak. " Ucap pelanggan wanitanya.
" Baik kak, saya ulangi lagi untuk pesanannya ya. Minumannya Americano satu, jus mix Berry, lalu makanannya ayam bakar madu dua. Apa ada yang mau ditambah lagi kak, kita juga menyediakan desert seperti kue dan puding. " Ucap Hana.
" Udah mbak, kita pesan itu aja dulu. " Jawab sang wanita.
" Baik, mohon di tunggu ya kak. " Ucap Hana.
Hana kemudian pergi menyerahkan pesanannya untuk di proses kebagian belakang. Setelah itu, ia membantu mengantar pesanan yang sudah siap menuju pelanggan nya.
" Hana, sini dulu. " Teriak Mila dengan suara pelan.
" Ia mbak ada apa? " Tanya Hana heran.
" Itu calon tunangan pan Adi, dia dateng kesini ternyata. Kamu harus hati-hati sama dia, jangan sampai kamu berurusan sama nenek lampir itu, berabe nanti. " Ujar kila memperingati Hana.
Hana mencari keberadaan sosok yang selalu menjadi topik biang gosip beberapa hari ini, hingga kedua matanya menemukan sosok wanita yang cukup cantik dan elegan berjalan dengan berlenggak-lenggok layaknya seorang model. Warna gaun yang berwarna terang dengan model terbuka cukup membuat wanita itu menjadi pusat perhatian disana.
Tak lama wanita itu sudah menghilang setelah memasuki ruangan kantor milik Adi.
" Gimana menurut kamu han, dia cantik gak " Tanya Mila.
Hana tersadar setelah ia termenung saat melihat kedatangan sosok wanita yang menjadi bahan gosip antara dirinya dan Mila.
" Cantik lah mbak, orang body nya aja udah kayak gitu. Ditambah jalannya udah kaya model di peragaan busana gitu, pantas aja pak Adi suka. " Jawab Hana polos.
" Tapi menurut mbak sih biasa aja, malahan cantikan kamu dibanding dia. " Ucap Mila sambil terkekeh pelan.
" Mbak ada-ada aja, mana ada aku di bandingin sama calon pak Adi. Di lihat dari kasat mata aja udah jauh mbak perbandingannya. " Jawab Hana malu-malu.
" Kamu ini selalu saja merendah diri, sekali-sekali gitu han banggain diri sendiri. " Tawa Mila bercanda.
" Udah ah mbak, nanti di liat pak Adi gajinya di potong lagi. " Ucap Hana bercanda.
Ia kemudian melanjutkan kegiatannya dalam melayani para pengunjung.
Sementara di sisi lain, Gilang baru saja sampai di depan kafe tempat Hana. Ia lekas masuk dan mencari meja kosong untuk dirinya dan Roby nanti duduk. Setelah cukup lama mengedarkan pandangannya, ia menemukan satu meja dengan dua kursi yang kosong di bagian sudut ruangan. Pencahayaan disana agak sedikit temaram, tapi masih dapat jelas terlihat.
" Loe dimana sih anjing, gue udah sampe cepet gue tunggu loe disini. " Ucap Gilang di ponselnya.
__ADS_1
Ia sedang menghubungi Roby yang masih belum datang kesana. Gilang tersenyum melihat Hana yang tengah sibuk melayani para pengunjung dengan ramah, saking pokusnya ia memperhatikan gerak gerik Hana. Ia sampai lupa dengan orang yang baru saja dateng, dia tak lain adalah Roby.
" Iler loe anjing, loe kalo mau malu-malu in gak usah ngajak gue juga goblok. " Tegur Roby dengan kasar.
Roby baru saja sampai di kafe, ia sempat kebingungan saat mencari keberadaan Gilang karena kafe itu cukup padat pengunjung. Ia mendengus saat matanya menangkap sosok yang sedang ia cari sedang melamun gak jelas, bahkan saat dirinya menyapa nya pun tak di gubris dari sahabatnya itu.
" Sorry, gue sampe lupa sama loe. Tuh, cewek yang gue maksud. Dia pekerja paruh waktu disini " Ucap Gilang malu, ia juga memberi kode kepada Roby untuk melihat orang yang menjadi pusat perhatiannya.
" Oh, jadi dia yang loe ceritain selama ini. Paling juga anak kemarin, kalo enggak anak Cabe-cabean. " Ucap Roby setelah menatap kearah yang dimaksud Gilang.
Sayang nya, saat Roby menatap kearah sana. Dia tidak sempat melihat wajahnya, karena orang yang di maksud Gilang sudah pergi mengantarkan piring kotor bekas makan pengunjung disana.
" Kenapa gue gak asing sama tuh orang ya. " Batin Roby. Ia kemudian berbalik dan menatap sahabatnya Gilang.
" Loe belum kenal aja sama dia, gue sebenarnya malu buat deketin tuh anak. Dia anak baik, sedangkan gue brandalan. " Gumam Gilang pelan.
" Belum juga loe PDKT, loe udah nyerah aja. " Ucap Roby kesal.
Ia kemudian mengeluarkan sebungkus rokok beserta korek api nya, ia kemudian menyalakan satu batang rokok yang baru ia keluarkan dalam bungkusannya.
" Dia tuh anak yatim piatu, dia bekerja keras buat biaya hidup dia sama buat menggapai mimpinya masuk universitas terbaik. Gue salut sama tuh cewek, di umurnya sekarang dia udah belajar hidup mandiri tanpa embel-embel harta orang tua. " Cerita Gilang sambil tersenyum kecil.
" Emang apa urusannya sama gue " Ucap Roby acuh.
" Loe gak bakal ngerti by, loe udah lahir dari keluarga kaya dan hidup dalam kemewahan. Jadi loe gak bakal ngerti apa yang gue maksud tadi, karena loe gak bakal paham gimana hidup tanpa orang tersayang didekat loe. Makanya gue kadang minder kalo deket sama dia, gue ngerasa kalo gue belum pantas aja. " Jawab Gilang sambil menatap kearah luar jendela.
" Sok bijak loe Lang. " Sarkas Roby.
" Loe ngajak gue kesini cuman mau ngomong gitu doang, loe gak ada niatan gitu buat pesenin makan atau gak minum gitu. " Ucap Roby kesal.
Tak lama kemudian, pesanan mereka sudah sampai. Satu gelas kopi latte dan ice Americano, serta ada makanan ringan yang sudah tersaji di atas meja mereka.
" Habis ini loe langsung balik apa ketempat biasa, gue dapat chat kalo malam ini anak sebelah ngajak balapan. Loe gak ada niatan buat nerima tantangan mereka apa? . " Tanya Gilang.
" Liat aja nanti, kalo mood gue baik ya ayok-ayok aja. " Jawab Roby santai.
" Eh tuh anak mau kesini, Hanadia.... " Teriak Gilang tiba-tiba. Ia senang melihat Hana yang berjalan membawa nampan ke arah nya, ia sangat ingin memperkenalkan gadis yang baru-baru ini ia kenal sama teman nya.
Roby mematung saat mendengar salah satu kata yang di ucapkan oleh Gilang, jantungnya berdetak kencang saat kalimat itu di teriakan dengan cukup nyaring. Otaknya di penuhi bayangan gadis yang sudah mengisi hatinya itu, dan juga gadis yang sudah menjadi istrinya.
Roby tak berani menatap kebelakang, ia gelisah karena ia merasa takut jika dugaannya benar. Ia tidak bisa membayangkan apa yang sudah ia lakukan, dan juga apa yang akan ia katakan kepada sahabat di hadapannya kini.
Gilang tiba-tiba saja berdiri dan hendak pergi menghampiri gadis yang tak lain adalah Hana. Namun belum juga ada dua langkah, Gilang terhenti tak kalah melihat kejadian di hadapannya.
" Loe gak liat hah, ini baju harganya mahal. Loe kalo gak becus kerja, gak usah deh sok-sok an kerja segala. Makan gajih buta aja loe. " Teriak seorang wanita dengan pakaian sexy nya.
" Maaf mbak, saya gak sengaja. " Ucap Hana gemetar.
Tadi ia sempat kehilangan keseimbangan karena pokusnya terpecah saat seseorang memanggil namanya, ia juga cukup kelelahan karena banyaknya pengunjung yang berdatangan. Belum lagi nampan yang ia bawa menampung banyak gelas yang berisi berbagai macam minuman.
" Alesan aja gak sengaja, jelas-jelas loe tadi sengaja kan nyenggol gue biar semua minuman itu tumpah ke gue. " Ucap wanita itu sambil menunjuk-nunjuk kearah jidat Hana.
" Maaf mbak, saya bener-bener gak sengaja. Sekali lagi aku minta maaf " Ucap Hana, tangannya semakin bergetar, namun masih berusaha menahan nampan yang berisi gelas yang masih utuh.
__ADS_1
Pranggg....
Suara gelas pecah memenuhi ruangan yang cukup luas itu, pecahan gelas berhambur memenuhi lantai. Tidak hanya disitu, Hana kini sudah terduduk dengan meja yang sudah jatuh tak jauh darinya.
Kejadian itu cukup membuat semua orang yang ada disana ketakutan, bahkan banyak pengunjung wanita yang berteriak histeris melihat bagaimana wanita tadi mendorong tubuh Hana dengan sangat kencang hingga membentur meja dan jatuh.
Mila yang ada disana juga terkejut saat melihat kejadian yang terjadi begitu cepat, niat awalnya yang akan menolong Hana. Malah terlambat saat nampan itu terjatuh dan Hana terhunyung kebelakang.
Gilang yang melihat hal itu pun langsung mendekati Hana untuk membantunya, dan membangunkan Hana. Sedangkan Roby hanya diam mematung menatap kearah Hana yang masih meringis kesakitan. Tubuhnya kaku setelah melihat siapa yang dimaksud oleh temannya itu, ia tidak percaya bahwa dugaannya itu ternyata benar-benar sebuah kenyataan.
" Mbak jadi cewek tuh gak usah kasar, gak malu apa diliatin sama orang. Ini juga udah kelewat batas dengan bermain kekerasaan seperti ini. " Ucap Gilang dengan nada tinggi.
" Eh, loe ini siapa hah. Loe gak usah ikut campur deh, loe tau siapa gue hah. Gue istri pemilik kafe ini, kenapa loe kaget hah. " Ucap wanita tadi dengan nada tak lebih tinggi.
Gilang tak lagi bersuara, ia kaget saat mendengar jika wanita itu istri dari pemilik kafe itu.
Mila membantu membersihkan pecahan gelas yang berhamburan, dan salah satu karyawan yang lainnya juga ikut membantu dan membubarkan para pengunjung yang berkerumun.
Tak lama dari kejadian itu, Adi tiba-tiba muncul dan menyeret calon istrinya itu keluar dari dalam kafe. Ia juga memberi tahu kan kepada salah satu karyawan cowok untuk tidak lagi menerima pesanan, karena waktu yang semakin larut dan masih banyak antiran pesanan yang belum selesai. Ditambah dengan keributan yang di lakukan calon istrinya, membuat beberapa karyawan harus berhenti dan membereskan kekacauan yang terjadi.
" Untuk kamu Hana, aku pulangkan lebih awal. Dan kamu Anita, bantu mbak Mila buat beresin kekacauan ini. Nanti saya pulang kesini lagi setelah urusan saya selesai. " Ucap Adi, lalu pergi ke luar kafe.
" Apa sih mas, aku belum selesai ya dengan pekerja kamu yang sok cantik itu. Dia sengaja numpahin minuman ke baju aku, dia tuh... " Bela wanita itu dengan nada kesal.
" Diam kamu Putri, kamu udah bikin kekacauan di tempat kerja aku. Apa kamu Gak malu hem.. " Geram Adi, lalu ia menyeret paksa tubuh tunangannya itu.
Setelah kepergian wanita yang bernama putri bersama Adi, suasana kafe menjadi normal kembali. Bahkan suasana kafe menjadi sedikit lenggang karena beberapa pengunjung sudah pulang, dan kafe sudah closing.
" Kamu gak Papa, biar aku bantu bangun. " Ucap Gilang khawatir.
" Aku gak papa kak, maaf sudah melibatkan kalian. " Ucap Hana.
Ia tahu kalau Roby ada disana, karna itu pula Hana menjadi hilang pokus dan tak sengaja menyenggol tubuh Putri.
" Kamu serius gak Papa, atau gue anter pulang aja. " Tawar Gilang dengan nada bicara lembut.
" Gak papa, nanti aku pulang sama mbak Mila aja. " Tolak Hana dengan halus.
" Maaf, gara-gara aku kamu jadi kena masalah. " Gilang menunduk merasa tak enak hati.
" Enggak kok, tadi aku gak sengaja nyenggol mbak nya. Mungkin aku harus lebih berhati-hati lagi dalam bekerja. " Jawab Hana.
" Oh ya, ada yang mau aku kenalin. Ini temen aku, namanya Roby. " Kata Gilang sambil berjalan menghampiri Roby dan menariknya lebih dekat dengan Hana.
Roby terlihat gugup, tapi ia berusaha menetralkan degupan jantungnya dan berkenalan dengan Hana ( Pura-pura).
" Gue Roby, salam kenal. " Ucap Roby mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.
" Iya kak, salam kenal juga. Nama ku Hanadia, panggil aja Hana. " Ucap hana sambil menautkan kedua tangannya di depan dada.
Roby yang tak mendapatkan balasan dari Hana, segera menarik lengan nya dan memasukannya kedalam saku celana.
Kekacauan di sana sudah selesai di bereskan, Mila juga sudah selesai membuang semua pecahan gelas kaca yang berhambur.
__ADS_1
" Ya udah kamu kebelakang gih, tuh tangan di obatin dulu. " Ucap Mila.