Another Life : After Meet You

Another Life : After Meet You
bahagian 47


__ADS_3

Takkk...


Hana terperanjat saat mendapatkan sentilan di dahinya, ia tidak menyangka disaat momen yang sangat mendebarkan dan sesuatu akan bersentuhan serta merasakan hal yang sangat manis itu malah berakhir seketika. Padahal tinggal sedikit lagi sebelum kedua bibir mereka saling bersentuhan dan bertautan menciptakan sesuatu yang lebih menarik lagi.


" Akh... Kenapa kak Roby melakukan hal itu kepadaku?. Ini sangat menyakitkan " Hana mencoba meredam rasa sakit dahinya dengan mengosoknya pelan, tapi karena sentilan yang di dapatkan nya lumayan kencang. Jadi lah dahi Hana sedikit memerah dan berdenyut setelahnya.


Disaat dirinya sedang melayang-layang dengan perasaan yang sedang ia alami, seketika dirinya dihempas kebawah dengan begitu saja. Dan yang melakukan keduanya itu tak lain adalah Roby sendiri.


" Kau yang kenapa, dari tadi kau menatap ku tanpa berkedip. Bahkan pipimu sudah seperti kepiting rebus yang sangat merah, kau pikir aku tidak memperhatikan gerak-gerik mu." Jawab Roby dengan wajah kesal.


Sedari tadi dirinya merasa tidak nyaman saat Hana menatapnya intens, bahkan wajah Hana sampai memerah saat menatap dirinya yang semakin mendekat kearahnya.


" Aku??___emangnya siapa yang menatap kak Roby. " Kata Hana dengan gugup sambil menunjuk dirinya, ia berusaha menyangkal perkataan Roby. " Apakah tadi itu hanya hayalan ku saja, akh....bagaimana bisa. Bahkan jantungku masih merasakan debaran yang sama, akh..... Tidak.. Tidak.. Ini tidak boleh di biarkan, matilah aku kalau kak Roby mencurigai diriku sedang membayangkan hal itu bersamanya. " Gumam nya dalam hati. Ia juga berusaha menetralkan detak jantungnya yang sedang berdetak kencang.


Roby menatap aneh kearah Hana yang sedari tadi menggelengkan kepala nya sambil memegang dadanya.


" Ada apa dengan anak ini, lihatlah tingkahnya yang sangat aneh itu. " Ucap nya dalam hati.


" Apa barusan kau sedang mengkahayalkan diriku, dilihat dari ekspresi wajah dan tingkah lakumu. Aku sangat yakin jika kau sedang membayangkan hal-hal aneh, dan aku yakin aku juga terlibat didalamnya. " Ucap Roby sambil menyunggingkan senyuman liciknya.


" Apa...memangnya siapa yang mau berhayal bersama dengan mu, aku yakin mereka akan terhempas sama seperti ku. Jadi jangan berharap kau ada dalam khayalan ku " jawab Hana dengan gugup dan takut.

__ADS_1


" Sudah kuduga, dari tadi ia memandangku dan sibuk dengan berkhayal tentangku. Tapi apa yang aku lakukan di dalam imajinasinya hingga membuat wajahnya memerah dan menjadi gugup seperti itu. " Tanya nya dalam hati.


" Ternyata aku sudah menghempaskan khayalan bersama pangeran mu itu, tapi aku sangat penasaran dengan apa yang kau lakukan hingga wajahmu memerah dan bibir yang... " Kata Roby menatap Hana dengan penuh godaan.


" Aku akan pergi dulu, aku sedang ada urusan dan aku juga sudah memberitahu Mama kalau aku akan pulang sore. Aku akan pergi dulu, maaf harus meninggalkan kak Roby." Ucap Hana sambil bangkit dari sofa dan hendak keluar dari ruangan itu. Ia tak bisa mendengar Roby menanyainya dan meledeknya karena perbuatan konyol yang sudah ia lakukan


Seketika wajah Roby berubah menjadi dingin kembali, ia merasa jika Hana akan terus seperti itu dan seenaknya datang dan pergi sesukanya.


" Aku belum selesai berbicara Hanadia Marisa.. " Ucap Roby dengan geram.


Seketika kaki Hana berhenti saat nada bicara Roby terdengar begitu marah kepadanya. Ia tidak menyangka jika perkataannya mampu membangkitkan kembali singa yang sedang tertidur, niat awalnya menghindari pertanyaan dari Roby yang akan membuatnya malu. Tapi saat ini dirinya harus bersiap menerima segala jenis makian dan juga umpatan yang sebentar lagi Roby layangkan kepadanya.


" Maaf, aku tidak bermaksud memotong perkataan kak Roby. " Jawab Hana dengan gugup.


" Kau, apa karena kebaikan ibuku kau menjadi seenaknya dan melunjak seperti ini. Apa kau pikir aku akan melunak kepadamu setelah kau masuk kedalam keluarga ku, kau pikir wajahmu itu mampu membuatku bertekuk lutut di kakimu, hah. Jangan pernah berpikir aku akan melepaskan mu begitu saja, apa kau sudah lupa dengan apa yang aku katakan sejak awal. " Kata Roby dengan kasar, ia juga memegang sebelah pergelangan tangan Hana dengan keras.


" Kak Roby, lepaskan tanganku ini sangat sakit. " Ucap Hana sambil terisak menahan sakit di pergelangan tangannya.


Roby tidak menggubris perkataan yang Hana ucapkan, bahkan ia tidak melihat jika saat ini Hana tengah merasa kesakitan akibat perbuatannya.


" Dengarlah, jika aku mendengar atau melihat sikapmu yang masih belum berubah. Aku tidak akan segan membuat hidupmu menderita, aku tidak akan pernah menarik kata-kata yang aku ucapkan. Jadi jangan lengah dan jangan sampai kau melupakan semua peringatan yang sudah aku berikan " Sarkas Roby. Ia mencengkaram wajah Hana dengan kuat hingga tanpa disadari ia membantingkannya hingga Hana sedikit terhunyung kebelakang.

__ADS_1


Hana yang merasa syok dan ketakutan memilih pergi dari sana dan mencoba untuk menenangkan dirinya. Saat keluar dari ruangan itu, Hana berlari dan tidak memperhatikan sekitarnya. Bahkan ada beberapa orang yang kebetulan lewat di sana merasa heran dengan Hana yang menangis dan berlari menjauh, bahkan pak Hans yang awalnya akan menegur Hana juga kaget dan tertegun melihat kepergian Hana sambil menangis.


" Apa tuan besar sudah keliru dengan keputusannya, apakah gadis ini akan bertahan dan akan baik-baik saja setelah memasuki kehidupan barunya dengan Roby. Aku tidak bisa membayangkan perlakuan serta perkataan kasar yang selalu ia Terima darinya, semoga saja dia baik-baik saja. " Gumam pak Hans yang menatap punggung Hana yang sudah menghilang di tikukan lorong rumah sakit itu.


Sementara Roby kembali merebahkan tubuhnya di sofa, ia bahkan merasa tidak selera untuk melanjutkan memakan makanannya. Ia bingung dengan dirinya sendiri dan juga perasaan nya, ditambah sahabatnya yang selalu menjadi tempatnya mengadu tidak bisa dihubungi.


" Kemana kau Gilang brengsek, apa kau sengaja menghindariku dan menghilang sejak semalam. " Gerutunya. Ia menutup matanya dengan tangan, ia bahkan beberapa kali menghela nafas nya dengan kasar.


" Apa den Roby baik-baik saja? " tanya pak Hans yang masuk ke dalam ruangan itu. ( ckk.. ralat, seharusnya yang di tanya itu Hana bukan si iblis kecil Roby😠).


Roby hanya mendengus ketika mendengar pak Hans bertanya kepadanya, seketika ia bangkit dan mengambil jaket serta kunci motornya.


" Aku akan keluar sebentar, jika ada sesuatu langsung hubungi nomor ku saja " Ucap Roby sambil berjalan menuju pintu.


" Makanan nya habiskan saja pak, aku tidak berselera dengan makanan itu. Aku tidak suka dengan makanan yang sudah dingin dan tidak memiliki cita rasa yang enak " Ucap Roby dengan wajah datarnya, lalu ia pergi begitu saja setelah mengomentari makanan buatan istrinya itu.


Pak Hans hanya terdiam tidak menjawab semua perkataan Roby, entah kenapa ia merasa kesal dengan sikap Roby selama ini. Dirinya juga memiliki seorang anak laki-laki yang sedang duduk di sekolah menengah pertama, tapi sikapnya masih biasa dan selalu hormat kepada orang yang lebih tua. Padahal setahu nya, selama ini dirinya tidak pernah memanjakan ataupun bersikap lembut. Sebaliknya, dirinya selalu keras kepada anaknya apalagi dalam mendidik anak-anak nya itu.


Melihat bagaimana tingkah dan perilaku Roby, dirinya sangat menyayangkan akan hal itu. Padahal setahu nya, selama ini atasan serta istrinya itu selalu memanjakan dan tidak pernah menegurnya dengan keras, kecuali di beberapa waktu yang memang ada hal yang sudah tidak bisa di tolerir lagi.


" Apa dukun harus bertindak untuk mengubah tingkah serta prilakunya yang keterlaluan, anak itu memang sudah diluar batas. Bahkan guru bimbingan konseling pribadinya aja sampai tak mau mengajarinya, apalagi psikiater yang nyonya suruh. Belum juga seminggu dia sudah memakinya habis-habisan, sebenarnya apa yang dia mau. " Keluh pak Hans dengan raut wajah lelahnya.

__ADS_1


Di umurnya yang sudah tak muda lagi, dirinya belum sukses membuat Roby berubah walau sudah berbagai macam cara ia lakukan, tidak termasuk cara berdukun.


" Kenapa dia bilang tidak enak, dia bahkan sudah menghabiskan setengah makanan nya, ini juga masih belum dingin. Bagaimana dia bisa dengan sombong mengatai makanan ini tidak memiliki cita rasa yang enak, bukankah ini masakan Nona kecil sendiri. " Pak Hans kembali duduk di sofa dan melanjutkan makanan makanan yang masih tersisa.


__ADS_2