
" Ma setelah ini Hana akan kerumah sakit untuk menjenguk Papa dan juga membawakan makanan untuk kak Roby dan paman Hans, mungkin setelah dari rumah sakit Hana akan pergi bekerja agar Hana bisa pulang agak sore. " Ucap Hana meminta ijin kepada Nisa.
" Iya sayang, kamu jaga kesehatanmu dan jangan terlalu keras saat bekerja. Sampaikan salam Mama sama pak Hans, bilang sama Roby untuk berjaga disana dengan pak Hans " Ucap Nisa.
" Iya Ma" Kata Hana mengangguk.
" Anu___Hana minta tolong sama Mama buat rahasia'in tentang pekerjaan Hana. Hana takut kalau kak Roby tau Hana bekerja ia akan marah dan melarang Hana pergi, Hana tidak terbiasa berdiam diri dan juga Hana merasa senang karena Hana tidak merasa kesepian saat bekerja" Ucap Hana gugup sambil menunduk.
" Tentu, jika itu yang kamu mau nak. Mama tidak akan memberi tahu tentang mu kepada Roby, tapi Mama tidak janji kalau Mama tidak bisa mencegah nya jika dia mengetahuinya sendiri. " Ucap Nisa.
Hana mengangguk dan segera merapikan kembali peralatan makanan nya, ia juga membantu Nisa kembali berbaring setelah meminum obat nya. Setelahnya Hana keluar dari dalam kamar, ia lekas menaruh peralatan makan itu kedapur. Ia juga bergegas kembali ke kamar untuk mandi, dan bersiap pergi kerumah sakit.
* * *
Setelah selesai dengan ritual mandi, Hana kemudian memakai baju kemeja dan juga celana panjang. Tak lupa hijab yang selalu menyembunyikan surai hitam yang sangat cantik. Ia juga membawa tas ransel kecil, dan ponsel serta dompet yang sudah di masukan kedalam tas.
Hana berjalan menuruni tangga, ia melihat para pelayan sedang bekerja dengan kegiatannya masing-masing. Hana kemudian pergi kearah dapur, disana si mbok sedang menunggu Hana.
" Mbok, Hana berangkat dulu ya. Nanti kalau ada apa-apa kabarin Hana ya, sama jagain Mama juga. " Ucap Hana sambil membawa kotak bekal yang tadi sudah ia siapkan.
" Loh, non Hana enggak sarapan dulu?. " Tanya si mbok kaget.
" Enggak mbok, biar Hana sarapan di sana saja sekalian. Hana juga ada sedikit urusan penting, jadi enggak bisa lama-lama. " Jawab Hana.
Hana kemudian meraih tangan si mbok dan mencium punggung tangannya lalu pamit pergi. Si mbok juga merasa sangat senang dengan sikap sopan Hana, ia juga berpesan agar Hana berhati-hati dan mendoakan nya agar selamat sampai tujuan.
__ADS_1
Hana berjalan agak jauh dari rumah, karena jalur angkutan umum tidak ada di perumahan elit. Jadi mau tidak mau Hana harus berjalan agar dirinya bisa berangkat bepergian.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh, Hana akhirnya tiba di depan rumah sakit. Setelah membayar biaya ongkosnya, Hana bergegas pergi menuju ruangan tempat Raihan dirawat. Hana juga merasa sudah tidak sabar untuk bertemu dengan teman barunya, sesuai dengan janji yang ia ucapkan kemarin saat mereka berpisah.
" Hana, tumben pagi-pagi udah kesini? " Tanya Alex yang kebetulan berpapasan di lorong rumah sakit.
" Pak dokter, selamat pagi. " Sapa Hana buru-buru.
" Selamat pagi juga, bukannya jadwal pemeriksaan minggu depan? " tanya Alex heran.
" Oh, Hana datang kesini mau jenguk Papa. Sekalian mau ngantar makanan buat kak Roby sama pak Hans. " Jawab Hana dengan sopan.
" Oh.. " Alex mengangguk tanda paham, ia juga melihat kotak bekal yang Hana jinjing di tangan kirinya.
Tiba-tiba Alex memanggil Hana yang belum terlalu jauh darinya, Hana juga langsung menoleh karena dirinya merasa dipanggil dari arah belakang.
" Maaf, kamu terus kan saja.. " Ucap Alex canggung.
Hana kembali tersenyum dan berpamitan sebelum ia benar- benar melanjutkan perjalanannya menuju ke ruangan tempat Raihan di rawat.
" Apa aku harus memberitahunya sekarang, apa dia akan terkejut dengan kebenaran yang aku katakan. Tidak__apa dia akan menerima semua kebenaran yang selama ini kakek sembunyikan darinya. Kau benar-benar egois kek, kau sudah mengurung jati diri cucu tunggal mu sendiri dan kau limpahkan semua kesalahan masa lalu mu kepada anak mu hingga mereka tiada. " Gumam Alex sambil menatap kepergian Hana.
" Pak dokter, pasien di ruangan khusus mengalami kejang dan keadaannya semakin kritis. " Kata seorang suster dengan wajah tegang, ia berlari mencari dokter Alex yang selama ini menangani pasiennya.
" Apa sudah di tangani sebelumnya? " Tanya Alex yang terkejut.
__ADS_1
" Dokter jaga saat ini sedang menangani pasien, tapi keadaan nya tidak kunjung kembali normal. " Jawab suster di sela larinya.
" Baiklah, secepatnya kita akan kesana. " Jawab Alex sambil berlari kecil.
Sementara di ruangan Raihan, Hana sedang duduk sambil membuka bekal yang ia bawa. Sedangkan Roby sedang pergi ke toilet untuk mencuci mukanya, karena pas Hana tiba di sana Roby masih tertidur di sofa.
" Sini Pak duduk dulu, ini Hana bawa banyak makanan untuk sarapan. Sama ada salam dari Mama buat pak Hans " Ucap Hana sambil meletakan kotak makanan.
" Iya non, terimakasih banyak " Jawab pak Hans dengan ramah.
Hana kemudian memberikan makanan yang sudah ia siapkan tadi kepada pak Hans, ia juga sudah memberikan beberapa lauk dan sayur kedalam nya.
Tak lama kemudian, Roby muncul dari arah toilet. Ia kemudian duduk tepat di samping Hana, dengan handuk kecil yang masih bertengger di bahunya. Rambutnya yang basah dan mata yang terlihat masih sipit, membuat Hana tersenyum saat memandangnya.
" Kenapa kau kesini, bagaimana keadaan Mama dirumah. Seharusnya kau disana dan menjaganya " Ucap Roby dengan wajah dinginnya.
Mereka berdua masih belum bisa akrab atau dekat seperti sepasang kekasih, tak jarang pertengkaran kecil selalu terjadi saat mereka bertemu atau pun saat bersama.
" Bukannya kau diam dirumah, kau malah seenaknya tinggal di rumah mu. Kau seharusnya sadar kau sekarang ini siapa, apa pasilitas yang di berikan keluargaku kurang sehingga kau seenaknya pergi dan masuk begitu saja. " Ucap Roby dengan sarkas.
Terlihat gurat kekesalan yang tercetak jelas di wajah Roby, selama ini dirinya selalu diam karena Nisa selalu memarahinya. Tapi saat melihat sang ibu terbaring lemah dan Hana tidak ada dirumah, ia merasa sangat marah terhadapnya.
Sementara Hana hanya diam, ia merasa tidak enak karena disana ada pak Hans. Untuk itu ia tidak menjawab semua kekesalan yang dilayangkan Roby kepadanya, ia juga sadar diri selama ini. Untuk itu Hana akan lebih sering tinggal di kediaman sang mertua dan mengalah kepada egonya. Walaupun ia tahu jarak dari tempat ia bekerja akan ditempuh lebih jauh di banding jarak rumah kostan nya dengan kediaman Danuarta.
" Sebaiknya kak Roby makan dulu, pak Hans bilang kalau kak Roby belum makan dari semalam. Jangan biarkan dirimu sakit, apa kak Roby tidak merasa kasihan kepada pak Hans. Dia harus mengurus kantor dan juga menjaga Papa, aku juga tidak bisa mengurus tiga orang sekaligus, seharusnya kak Roby mengerti maksud ku. " Kata Hana dengan wajah serius, tak lupa ia memberikan kode kepada pak Hans untuk membenarkan perkataan nya.
__ADS_1