Another Life : After Meet You

Another Life : After Meet You
Bahagian 73


__ADS_3

Kini Hana tengah duduk di meja kelas nya, di hadapannya ada Wahyu yang tengah asik bersama Alifa. Mereka berdua nampak asik memakan kuaci, bahkan kulitnya sudah menggunung tepat di hadapan Hana.


" Kayaknya turnamen nanti bakal seru deh, aku denger Kak Romi bakal main sama rival nya. " Ucap Wahyu sambil membuka bungkus kuaci yang baru.


" Ck, loe kalo mau makan kuaci sekalian sediain tong sampah Yu. Loe bikin meja kita jadi gunungan sampah. " Ujar mira dengan tatapan kesal.


Ia sedari tadi pokus main HP, hingga lupa sama keadaan di hadapannya yang sudah penuh sampah kulit kuaci.


" Emang siapa rival kak Romi, perasaan kak Romi gak pernah punya rival. Orang anak cowok aja banyak yang kagum sama dia kok. " Alifa semakin penasaran dengan orang yang di maksud Wahyu.


" Kalian tau kan, kalo di sekolah kita tuh ada murid legend. Nah anak itu yang jadi rival kak Romi. " Jelas Wahyu dengan tatapan serius.


Hana yang sedari tadi melamunkan kejadian pagi bersama Roby nampak sedikit terusik, ia penasaran siapa orang yang dimaksud oleh Wahyu dan siapa yang sudah menjadi rival Romy. Pikirannya seakan terpancing untuk mencari tahu, dan membiarkan rasa penasarannya terpenuhi.


" Han, gue denger loe nolak kak Romi ya. Gue baru denger kemaren dari gosip anak-anak lain. " Tanya Mira penasaran.


Hana menoleh ke arah Mira, rasa penasarannya kini berubah menjadi rasa bersalah. Setelah ia mengingat bagaimana dirinya berkata kasar, bahkan itu di depan Romi sekalipun. Walau ia tahu jika dirinya gak salah, karena saat itu keadaan nya sedang tidak kondusif.


" Iya " Hana mengangguk membenarkan perkataan Mira. " Aku juga merasa bersalah, karena waktu itu aku sedikit kasar. Tapi aku gak bermaksud berkata seperti itu sama kak Romi, dan aku juga udah minta maaf sama dia. " Jelas Hana.


" Lagian bukan salah nya kan nolak orang yang gak kita suka, kita juga punya hati dan perasaan. Dan dia gak bisa maksain perasaan kita buat dia." Bela Alifa.


Wahyu yang tengah asik memakan kuaci tiba-tiba berhenti, jujur ia tersindir dengan perkataan Alifa barusan.


" Yu, kamu tau siapa orang yang jadi rival kak Romi. " Tanya Hana penasaran, ia juga berniat mengalihkan pembicaraan agar tidak membahas ke arah Romi yang membuatnya merasa bersalah.


" Yang gue denger sih,dia anak kelas 12 Ips. Kalo gak salah Namanya Robiansyah deh, gue denger dari anak-anak. " Ucap Wahyu sambil melanjutkan makan kuaci.


" Seriusan Yu, loe gak bohong kan? " Tanya Mira antusias.


Sedangkan Hana menegang setelah mendengar ucapan Roby, jantungnya berdetak kencang saat mendengar bahwa yang jadi rival sejati dari Romi adalah suaminya sendiri.


" Apa sih loe mir, gaje amat jadi orang. " Celetuk Wahyu dengan raut wajah tak suka.


" Kok bisa jadi rival sih, lagian aku baru denger nama-Nya. " Tanya Hana kembali, ia mencoba menormalkan detak jantung nya yang seakan melompat dari tempatnya.


" Kalian tau kan, sama siswa badung yang dulu sempat heboh gara-gara dateng sama polisi. Dia kak Robiansyah, siswa yang sudah dua tahun gak pernah lulus dan menjadi murid legend dengan cap sebagai bad boy sejati. Kerjaannya ya tawuran sama anak sekolah lain, bolos, ya kalian tau dia udah dapet hukuman skors dari kepala sekolah. Tapi sampe sekarang dia gak pernah berubah, sampe kepala sekolah membiarkan dia. Tapi ada satu hal yang buat semua murid cowok penasaran sama dia, alasan kenapa dia gak pernah hadir saat ujian kelulusan. " Kata Wahyu.

__ADS_1


" Gila, gimana jadinya kalo dua orang itu di bikin satu team. " Ucap Alifa bergidik ngeri.


Hana merasakan jantung nya semakin berdebar-debar, bukan nya kembali normal. Tapi denyutan jantungnya sekan meningkat, terlebih kata-kata Wahyu seakan berputar-putar dalam pikirannya.


" Kenapa aku gak tau, kenapa mama sama si mbok gak cerita tentang hal ini. " Batin Hana. Ia meringis membayangkan semua sikap kasar Roby kepadanya selama ini, dan fakta tentang suaminya yang baru dia dengar dari temannya membenarkan semuanya.


" Yang jelas, gak ada yang berani deket sama dia. Gue denger dia gak bakal mandang cewek atau cowok, kalo menurut dia salah ya berakhir bonyok. " Jelas Wahyu.


" Gila, gue baru denger ada cowok macam dia. Masa cewek aja di hajar sih, mending kalo di hajar nya pake bibir, ini pake bogem mampus gue. " Ucap Alifa bergidik ngeri.


" Yee... Loe mah mau nya di sosor mulu Lif, dasar otak kotor loe. " Wahyu melempar kuaci kearah Alifa.


" Kamu tau dari mana Yu tentang kak Roby. " Tanya Hana gugup.


Ketiga temannya menatap Hana yang nampak gelisah, namun tak lama kemudian tatapan mereka beralih darinya.


" Baru-baru ini gue dapat info itu, kenapa emangnya han? " Tanya Wahyu balik.


Hana menggeleng pelan, ia masih tidak percaya dengan apa yang ia dengar.


***


Hana baru saja mengunci pintu rumahnya, hingga suara pintu belakang membuatnya kaget dan langsung mengalihkan pandangan tajam nya ke arah belakang. Ia dapat bernafas lega setelah melihat jika Roby baru saja masuk dan mengunci pintunya dari dalam.


" Aku kira mau balik kerumah, dari tadi di tungguin di depan tapi gak muncul. Emang habis dari mana dulu? " Tanya Roby sambil menatap Hana. Ia meletakan kantong plastik dan segera merebahkan tubuhnya di atas karpet bulu di ruang tengah.


" Tadi angkotnya telat, kakak tau kan kalo udah malam angkotnya jarang ada yang lewat. " Jawab Hana, sedangkan Roby hanya mengangguk paham.


Ia kemudian meninggalkan Roby yang tengah asik memainkan ponselnya sambil berbaring. Hana kemudian pergi mandi terlebih dahulu, ia merasakan tubuhnya sudah lengket dengan kringat.


Selesai mandi Hana langsung menunaikan ibadah sholat Isya, karena ia biasanya hanya sempat sholat maghrib saja di tempat ia bekerja.


" Kak Roby udah makan? " tanya Hana sambil berjalan keluar dari dalam kamar.


Roby menoleh ke arah Hana, ia hanya menggelengkan kepalanya tanpa sedikit pun menyahut perkataan nya.


Sedangkan Hana mengangguk paham, ia tidak kesal karena Roby sibuk dengan ponselnya itu.

__ADS_1


Hana bergegas menyiapkan makanannya, beruntung tadi pagi ia sempat memasak nasi di magicom. Jadi ia tinggal memasak lauk nya saja. Hana sempat berpikir ia ingin masak apa, karena di hadapannya cuman ada mie instan, telur, dan beberapa bumbu dapur walau pun gak komplit.


Ia sempat ragu untuk memasak, karena setahu nya Roby tidak pernah memakan makanan sederhana. Ia sangat tahu bagaimana kehidupan di dalam keluarga suaminya itu, makanan yang selalu mewah dan penuh dengan gizi dan nutrisi vitamin. Sedangkan di rumahnya hanya tersedia mie dan juga telur, tidak ada istimewa dengannya.


" Apa kak Roby tidak masalah kalo aku masakan mie sama telur doang. " Tanya hana kepada dirinya sendiri.


Tadi ia sempat melihat ke arah Roby, ia bingung dengan keadaan nya sekarang.


" Kenapa belum masak juga, aku padahal udah nunggu makanan nya dari tadi. " Ucap Roby.


Sontak Hana terkejut dan otomatis membalikan badannya, ia merasakan detak jantungnya kembali tak normal. Ia memberanikan diri menatap Roby, ia kebingungan harus menjawab apa dengan pertanyaan nya tadi.


" Aku... Aku gak punya bahan makanan yang bagus untuk kak Roby makan, maaf kalo persediaan bahan makanan hana tidak sebaik di rumah kakak. " Cicit hana pelan.


Roby melihat ke arah belakang Hana, ia kemudian tersenyum. Tangan nya terulur menyentuh puncak kepala Hana dan mengusapnya secara lembut.


" Aku bukan orang pemilih, kamu masak apa aja yang ada. Aku sudah lapar dan kau juga pasti belum makan dari sore. " Ucap Roby.


Perlakuan Roby yang sekarang sukses membuat Hana terhanyut, sikapnya yang lemah lembut membuatnya lupa dengan perlakuan kasar Roby. Senyuman yang selalu ia lihat dan perhatian yang selalu ia dapatkan, itu semua sudah cukup membuatnya merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya.


Hana tersenyum dan mengangguk pelan, lalu berbalik membelakangi Roby. Ia menyalakan kompor, kemudian mengisi air kedalam panci kecil lalu memasaknya. Dan seterusnya ia melanjutkan aksi nya yang sudah menjadi rutinitasnya setiap hari. Masak mie dengan campuran telur, itu sudah menjadi bagian dari kehidupan seorang anak kost. Apalagi kalau sudah di penghujung bulan, cukup dengan telur atau mie saja udah menjadi hal yang ternikmat.


Setiap gerak gerik Hana tak luput dari perhatian Roby, dia bahkan belum beranjak dari tempat ia berdiri. Namun ia sedikit mundur dan memberikan ruang agar keberadaan nya tidak mengganggu kegiatan memasak sang istri.


" Apa perlu aku praktekan hal yang aku lihat kemarin dari artikel tentang relationship goals. " Batin Roby.


Pandangannya seakan menerawang, ia bisa melihat bagaimana dirinya memeluk mesra Hana dari belakang. Aroma masakan yang menyapa indra penciuman nya membuat ia semakin terbuai. Namun semua itu hanya bayangan semata, saat ia tersadar dengan suara benda jatuh.


Matanya seakan otomatis tertuju pada tangan Hana yang sedang di tiup oleh sang empunya. Kakinya bergerak untuk menolong Hana yang tengah kesakitan, perasaan nya mendorong dirinya untuk lekas mengambil tangan sang istri dan meniup dengan mulutnya. Namun sayangnya, langkah pertama yang baru saya ia ambil kini terhenti. Ego menghentikan apa yang ia ingin lakukan, dan pada akhirnya ia memilih pergi dari sana.


" Apa dia sadar sama keberadaan gue barusan.. " Guman Roby sambil menundukan badannya.


Kini Roby sudah duduk di ruang tengah, setelah kejadian barusan. Ia langsung duduk dan berusaha menenangkan debaran pada jantung nya.



' sayang nya cuman hayalan.. '

__ADS_1


__ADS_2