
" Sejak kapan Mama duduk disana, apa aku setampan itu hingga Mama terus memandangi ku bahkan saat aku tidur. " Ucap Roby dengan pede, walau ia masih belum membuka matanya. Tapi ia sudah kenal dengan aroma khas sang ibu, baginya aroma ibunya itu sangat unik dan dia bisa membedakan nya dengan orang lain.
" Sampai kapan kamu akan menjadi anak tak berguna?, apa kamu ingin seperti ini sampai tua! . Kau sudah memiliki istri, setidaknya kau harus belajar bertanggung jawab dan memenuhi tugas sebagai seorang suami. Bukannya kamu harusnya sudah masuk ya, kenapa tidak berangkat sekolah. " Ucap Nisa dengan nada kesal.
" Mama kenapa sih, pagi-pagi udah marah-marah gak jelas. Gimana perkembangan Papa, apa sudah ada peningkatan. Besok Mama istirahat saja di rumah, biar Roby yang jaga Papa di rumah sakit. " Jawab Roby sambil bangun dan duduk di samping Nisa.
" Jangan mengelak dari pertanyaan Mama Roby, Mama sudah tak muda lagi dan kondisi Papa mu juga belum pasti. Kamu belajarlah untuk sedikit demi sedikit merubah kebiasaan buruk mu ini, Mama tidak ingin kamu menjadi orang yang tak berguna di masa depan." Ucap Nisa dengan nada lemah.
_________________________________________________
" Mama ini ngomong apa sih, tenang saja jangan terlalu mencemaskan keadaan ku ma. Lagian aku masih muda dan aku ingin menikmati kehidupan ku saat ini " Jawab Roby ngotot.
" Lagian Mama terus saja mengatakan tanggung jawab dan tugas seorang suami, lalu bagaimana dengannya. Dia bahkan pergi tampa pamit dan berbuat seenak nya tampa memikirkan tugasnya sebagai istri dan menantu di keluarga ini. " Ucap Roby kesal.
Nisa yang mendengar perkataan Roby menjadi tersenyum, ia melihat sedikit perubahan yang terjadi pada anak bungsunya itu. Ternyata sedikit demi sedikit Roby mulai menerima Hana, walau perkataan nya terkesan seperti tak menyukainya. Tapi Nisa sangat senang kalau anaknya itu selalu mengingat istrinya.
" Tadi Mama ketemu sama Hana di sekolah, dia menitipkan salam untuk mu. Dia anak yang sangat baik, Mama sangat bahagia mempunyai Hana saat ini. " Ucap Nisa sambil memegang tangan Roby.
" Apa-apa itu, Mama bahkan lebih menyayanginya dibandingkan dengan ku. Bahkan mama membebaskannya dari tugas dan tanggung jawabnya sebagai istri dan menantu, ini sangat tidak adil ma. " Kata Roby tak Terima.
" Jangan mengatakan hal seperti itu, dia selama ini sudah berusaha dengan keras untuk menjalani hidupnya sendirian. Jika kamu masih merasa tak Terima dengan perkataan Mama, kamu boleh berkunjung kerumahnya atau mau menginap juga tak apa. Tapi ingatlah, jangan sampai mempermalukan dan membuat harga dirinya jatuh. Dia gadis yang baik, Mama tak ingin melihat dia sedih. Ingatlah apa yang mama katakan ini " Ucap Nisa dengan raut wajah khawatir. Tak lupa ia juga menyerahkan secarik kertas alamat rumah kostan Hana, disana juga terdapat nomor rumah dan juga nomor telpon milik Hana.
Nisa kemudian pergi meninggalkan Roby, ia ingin mengistirahatkan badannya sebelum nanti berangkat kekantor untuk melaksakan meeting bersama kliennya.
__ADS_1
Sedangkan Roby masih terdiam memikirkan percakapan dirinya dan sang ibu, ia melihat raut wajah yang sangat kelelahan dari ibunya.
" Apa aku benar-benar bodoh, aku selalu menyia-nyiakan kesempatan yang selalu Papa dan Mama berikan kepadaku. Tapi aku harus bagaimana, masa muda ku tak mungkin aku lewatkan dan aku masih ingin merasakan masa-masa ini dengan kehidupan bebas bersama teman-teman ku. " Ucap Roby dengan wajah yang terlihat prustasi.
Lantas ia menyimpan kertas yang di berikan oleh Nisa, dan segera pergi ke kamar mandi untuk membersihkan badannya.
Setelah ia selesai dengan rutinitas paginya, Roby keluar dari kamar dengan mengenakan pakaian biasa. Ia merasa malas untuk masuk sekolah hari ini, jadi dia memutuskan untuk pergi ke tempat biasa dirinya nongkrong bersama temannya.
Ia pergi menggunakan motor kesayangannya, ia juga sudah memberitahu si mbok jika dirinya akan keluar. Di perjalanan, Roby membawa motornya dengan kecepatan tinggi. Bahkan dia juga menyalip beberapa mobil karena ia tak ingin ikut terjebak macet.
Setelah sampai di tempat yang dimaksud olehnya, ia segera turun dan ikut bergabung dengan beberapa siswa yang memang sengaja nongkrong disana. Tempat itu hanya sebuah warung lesehan biasa yang ada tepat di seberang sekolah teman Roby, tapi tempat itu selalu penuh sama siswa yang di cap sebagai anak bandel semua. Bahkan ada beberapa siswi yang memang tak takut dengan peraturan sekolah dan ikut bergabung nongkrong disana, walau ada alasan lain yang membuat mereka ikut bergabung yang tak lain untuk berpacaran.
" Wah, dari mana aja loe selama ini. Kirain kemarin loe bakal dateng, udah puas main kuda-kudaan sama bin.... " Ucap Gilang yang di hentikan oleh Roby dengan cara di bekap mulutnya.
" Lepas anjir, loe belum cuci tangan apa. Tangan loe bau kaya gitu, sorry gue tadi kelepasan. Gue gak berniat buat ngomongin loe sama kakak ipar " Kata Gilang
" Emang nya elo, habis boker gak cuci tangan langsung maen comot makanan aja. " Kata Roby tak mau kalah.
" Eh by ( a.k.a bi) kalo mau ngomong yang jorok tu jangan disini, orang pada makan juga. Sopan dikit dong, apa loe gak geli apa denger orang ngomong hal jorok pas loe makan " Tegur siswa yang ada di pojokan.
" Sorry Dim, gue gak maksud buat ngomong jorok. Lagian si Gilang duluan yang mancing gue buat ngomong jorok. " Ucap Roby kepada temannya yang bernama Dimas.
" Eh, kenapa loe nyalahin gue sih. " Kata Gilang tak Terima.
__ADS_1
" Udah lah males debat gue, enggak dirumah gak ditempat nongkrong sama saja bikin gue kesel. " Gerutu Roby.
" Kenapa jadi loe yang bete, harusnya gue yang melakukan itu bukannya elo. Oh ya, by the way gimana penampilan kakak ipar gue. Apa.... " Ucap Gilang dengan semangat sambil memberikan gambaran dengan isyarat mengenai body nya Hana dengan meliuk-liuk kan gerakan tangannya dari atas hingga bawah.
" Apa sih loe, kepo amat jadi orang. Lagian dia buka sodara loe, jadi nggak usah ikut campur urusan orang, termasuk juga mendekatinya walau itu hanya sebatas teman. " Kata Roby dengan sedikit tekanan.
" Cie elah, mentang-mentang udah punya istri loe jadi posesif gini. " Ledek Gilang.
" Oh ya, gimana rasanya first night.? " Tanya Gilang penasaran dan dengan wajah yang gembira.
" Apa, nggak ada yang gituan. Loe tau sendiri kan kalo gue mabuk malam itu, apa loe lupa gue udah hubungin loe tengah malam. " Ucap Roby dengan wajah datarnya.
" Hah, kirain loe udah melakukan 'itu'. " Kata Gilang dengan lemas, ia tidak menyangka jika harapannya mendengarkan cerita yang sangat hot dari temannya itu.
" Loe gak pake cincin kawin loe? " Tanya Gilang sambil melirik jari manisnya.
" Males gue, entar banyak yang kepo lagi kalo gue pake tu cincin. " Ucap Roby dengan santai.
" Terus loe kemanain tuh cincin " Tanya Gilang semakin penasaran.
" Heran gue sama loe, kenapa loe semakin kepo amat sih sama hidup gue. Nih gue simpen disini, puas loe " Kata Roby sambil mengeluarkan cincin yang ia kenakan sebagai bandul kalungnya.
" Ya kan gue adek loe, jadi gue berhak tahu dong tentang kehidupan loe. Lagian gue juga nggak pernah nutupin tentang diri gue sama loe " Jawab Gilang sambil mentenderkan badannya di senderan kursinya.
__ADS_1
Mereka menghabiskan waktu bersama mereka dengan mengobrol disana, Roby juga sesekali ikut bercanda dan tertawa kecil saat ada hal lucu. Ia begitu berbeda saat berada di tempat lain, kepribadiannya akan berubah saat tidak bersama dengan temannya.