
" Ya sudah, kamu bawa saja dia ke puskesmas. Lagian sebentar lagi kafe tutup, jadi kamu enggak usah balik lagi ke sini. Maaf aku tidak bisa mengantar, ada hal penting yang harus aku urus. " Ucap Adi dengan tegas walau jelas ia menatap Hana dengan perasaan kecewa.
" Baiklah, maaf karena aku selalu merepotkan Pak Adi. " Ucap Hana.
" Tak apa, kamu sudah benar dengan mementingkan keselamatan pelanggan. Ini patut untuk di beri penghargaan, ya sudah aku akan carikan taksi di depan " Ucap Adi sambil pergi dari sana.
" Andai saja kau membuka pandangan mu dan membuka sedikit hatimu untuk ku, aku akan menjagamu dan seharusnya kau yang memperhatikan ku dan mengkhawatirkan diriku seorang. Apalah daya kalau cinta ku ini hanya bertepuk sebelah tangan. " Kata Adi dalam hatinya, ia menembus kerumunan pengunjung yang hanya sekedar melihat karena penasaran.
Tak lama kemudian, Hana ikut menyusul kedepan sambil membawa tas. Tak lupa Gilang juga sudah di bopong sama beberapa orang lelaki, karena ia masih tak sadarkan diri.
" Maaf ya pak, Hana harus izin lagi. Kalau saja teman Hana sadar, Hana nggak bakal pulang lebih awal. Tapi ini keadaan darurat, jadi Hana minta pak Adi untuk mengijinkan nya. " Ucap Hana dengan gugup, ia bingung karena tak mengenal Gilang sama sekali. Tapi ia sudah terlanjur menyebutnya sebagai teman dan ia juga merasa kasihan karena sebelumnya Hana sudah berbincang dan menabraknya tadi.
" Sudahlah, kamu terlalu banyak berbicara. Aku sudah mengizinkan kamu untuk pergi, lagian ini juga untuk menolong teman mu. Tenang saja aku tak akan memotong gajimu gara-gara hal seperti ini. " Ucap Adi sambil mengelus pelan kepala Hana, ia juga terkekeh pelan karena Hana akan banyak bicara jika terlalu gugup.
Hana kemudian masuk kedalam taksi yang sudah Adi pesan, ia duduk di belakang dan menjaga Gilang yang masih tak sadarkan diri. Namun Hana menjaga posisi tubuhnya agar tidak berdekatan dan menempel, ia menahan tubuh Gilang dengan kedua lengannya. Bahkan supir taksi pun tertawa melihat tingkah Hana yang tak mau duduk berdekatan sama Gilang.
" Haduh neng, kenapa duduknya harus jauhan. Lagi marahan ya sama pacarnya? " tanya supir taksi sambil terkekeh pelan.
__ADS_1
" Enggak kok pak, lagian mas ini teman Hana kok. Hana belum punya pacar dan Hana juga sengaja tidak terlalu berdekatan kan bukan mukhrim. " Jawab Hana.
" Oalahh, Bapak agak kaget mendengar perkataan neng barusan. Biasanya anak jaman sekarang tuh paling gak tahan berjauhan, dan selalu melakukan hal tak senonoh bahkan di depan umum sekalipun. Tapi bapak salut sih sama kamu, semoga anak gadis bisa seperti kamu dan bisa menjaga harga diri serta kesuciannya. " Ucap sang supir taksi dengan keheranan.
Hana hanya tersenyum mendengar perkataan sang supir itu. Hingga tak lama kemudian, mereka sudah sampai di sebuah klinik kecil. Sang supir taksi membantu Hana membawa Gilang kedalam klinik.
Setelah selesai membaringkan tubuh Gilang di atas brangkar, sang supir pamit dan tak lupa Hana membayarnya dan mengucapkan banyak terimakasih karena sudah membantunya membawa Gilang kedalam klinik.
Setelah mengisi formulir pasien, Hana kemudian menunggu Gilang didalam ruangannya. Ia juga melihat dokter yang sedang memeriksa keadaan Gilang yang masih belum sadarkan diri. Tak lama kemudian di dokter tersebut memasangkan jarum infus di punggung tangan Gilang, dan segera duduk di bangku depan Hana.
" Sepertinya pasien mengalami gangguan pencernaan, dia juga mempunyai riwayat penyakit asam lambung yang sudah semakin parah. Apa sebelumnya pasien memakan makanan yang sangat pedas? " Kata sang dokter.
" Mbak sendiri siapanya pasien ya, soalnya saya perlu meresepkan obat. Untuk sekarang pasien harus menjalani perawatan terlebih dahulu, untungnya mbak cepat membawa nya klinik. Kalau tidak, ini sangat berbahaya untuk nyawanya. " Jelas sang dokter sambil menyerahkan obat yang harus di tebus.
" Baik Bu dokter, saya teman nya. Nanti akan saya sampaikan kepada nya selelah mas nya siuman. " Ucap Hana.
Kemudian dokter itu pergi dari sana, Hana yang sedang kebingungan hanya menatap kertas yang di berikan sang dokter kepadanya. Ia kemudian pergi ke tempat administrasi untuk membayar biaya pengobatannya, disana seorang perawat memberikan selembar kertas. Tanpa pikir panjang, Hana mengeluarkan uang dari dalam dompetnya dan menyerahkan nya pada perawat itu. setelah selesai mengurus biaya Administrasi nya, tanpa menunggu waktu lagi, Hana memutuskan untuk pergi ke apotek untuk menebus obatnya.
__ADS_1
Dengan langkah cepat, Hana keluar dari klinik itu dan melihat sekitarnya. Karena tak melihat adanya toko obat, Hana memutuskan untuk menghampiri tukang ojek yang kebetulan mangkal di dekat klinik, ia berjalan dengan cepat agar urusan nya disana segera selesai.
" Maaf Pak saya mau tanya , kalo apotek terdekat dari sini sebelah mana ya? " Tanya Hana dengan sopan.
" Oh iya dek, kebetulan apoteknya agak jauh dari sini. " Jawab tukang ojek.
" Mmm... Kalo gitu saya minta tolong boleh pak, saya mau nebus obat ini. Tapi saya enggak bisa naik motor, apa bapak bisa belikan obatnya nanti saya bayar untuk ongkosnya sekalian. " Kata Hana.
" Boleh dek, lagian bapak seharian ini belum dapet penumpang. Tak apa biar bapak saja yang beli, adek tunggu disini saja. " Ucap ojek tersebut dengan senang.
Hana lantas menyerahkan resep obat dan juga dia lembar uang pecahan 100.000, lalu sang ojek pun segera berangkat menuju apotek terdekat dari sana. Sedangkan Hana hanya duduk menunggu obat yang ojek itu beli, Hana terlihat sangat kelelahan dan hampir saja ketiduran disana.
Tak lama kemudian, ojek yang tadi sudah kembali. Ia juga menyerahkan sisa uangnya yang masih banyak. Bahkan uang tersebut tidak terpakai setengahnya, dengan baik hati Hana memberikan semua kembaliannya kepada ojek tersebut. Sang ojek juga terlihat sangat kegirangan karena mendapat rezeki yang tak terduga. Ia banyak mengucapkan terimakasih kepada Hana, karenanya ia bisa pulang setidaknya ia bisa membelikan anak dan istrinya makan untuk malam ini dan besok. Hana merasa senang karena ia bisa membantu orang itu, ia juga tersenyum ramah.
Hana kemudian pamit masuk kedalam klinik, setelah berada didalam. Hana menaruh obat nya di atas nakas tepat di samping tempat brangkar Gilang. Ia juga menyelipkan satu kertas yang berisi pesan untuk Gilang.
Hana tidak bisa tinggal disana lama-lama, karena tadi siang ia dapat kabar Nisa jatuh sakit. Ia memang sudah merasa khawatir sedari pagi tadi, karena tumben Nisa tidak menelpon seperti biasanya.
__ADS_1
Dalam surat itu, Hana juga meminta maaf karena tak bisa membantunya lebih lagi. Ia mengatakan jika dirinya ada urusan penting dan karena sudah hampir tengah malam.