
Jalan yang sedikit sepi, karena hari sudah malam. Hana semakin mempercepat langkahnya, ia sangat takut berjalan sendirian. Walau rumah disini cukup padat, tapi tetap saja terkesan horor dengan pencahayaan yang kurang.
Tangannya menenteng dua plastik berwarna hitam yang berisi makanan berkat dari pengajian pemilik rumah kostan yang Hana tempati. Dirinya di undang di acara pengajian tersebut, dia bahkan ikut ambil bagian dalam acara tersebut dengan menjadi Murrotal Qur'an dan pembaca sholawat. Hana cukup dekat dengan keluarga pemilik tempat ia tinggal, terlebih Hana juga pernah ikut beberapa kali pengajian yang di adakan oleh masjid ta'lim yang di pimpin sama bapak pemilik kostan Hana.
Ia sedikit menyesal karena sudah menolak ajakan pulang dari salah satu tetangga nya. Karena merasa malu tidak membantu tadi siang, Hana menyempatkan diri untuk membantu membereskan selesai acara tersebut. Namun sayangnya para tetangga nya udah pada pulang duluan, sedangkan di disana hanya tersisa keluarga pemilik acara saja. Dan sekarang ia baru menyesal karena tidak meng-iya kan saja perkataan istri dari pak Ustad yang menyuruhnya untuk pulang karena sudah hampir larut malam.
" Apa kak Roby sudah pulang ya, kenapa aku sampe lupa buat ngabarin dia sih.. " Gerutu Hana di sepanjang jalan, ia baru teringat dengan Roby dan ia lupa mengabari jika dirinya akan ikut pengajian dan akan pulang agak lama.
Ia bernafas dengan lega saat dirinya sampai di depan rumah, dia melihat jika sekeliling nya sudah sepi. Apalagi kebun yang ada di samping rumah, itu terlihat sangat seram karena disana tidak ada cahaya sedikit pun kecuali lampu jalan yang menyinari bagian bawah tempat lampu itu berada.
Hana kemudian membuka pintu, tepat saat pintu terbuka ia melihat Roby yang sedang berbaring di karpet bulu dengan tangan yang di gunakan sebagai bantal kepalanya. Terbersit rasa bersalah karena tidak mengabari suaminya itu, namun ia juga ragu apakah suaminya itu mengkhawatirkan dirinya atau tidak.
" Assalamu'alaikum.. " Ucap Hana pelan.
" Waalaikumsalam.. " Jawab Roby.
Hana kaget saat mendapati ada yang menjawab salam nya, ia segera menoleh saat dirinya selesai mengunci pintu dan membenarkan gorden yang sedikit tersingkap. Ia melihat Roby yang menatap kearahnya, lebih tepatnya kearah plastik yang ia bawa.
" Dari mana aja, tadi aku telpon gak kamu angkat. Aku khawatir soalnya semalam kata kamu hari ini libur, jadi aku mau ke kafe buat nyari kamu,siapa tau kamu ada disana karena panggilan darurat. Untungnya gak jadi pergi pas denger suara dari speaker yang nyebut nama kamu sebagai murottal Qur'an di acara tadi. " Ucap Roby sambil bangun dari rebahan nya.
" Maaf ya Kak, Hana lupa ngabarin tadi. Ponselnya juga di silent, soalnya takut ganggu acara nya. " Jawab Hana, ia langsung mencium tangan Roby dan tak lupa memperlihatkan ponsel nya kepada suaminya itu.
Roby tersenyum, lantas ia mengambil ponsel milik Hana dan memainkannya sebentar. Sedangkan Hana hanya bisa diam, lagian dirinya tak menyimpan rahasia apapun, kecuali poto dan beberapa vidio pendek yang berisi ke gabutan semata. Dan untuk salaman nya, Hana sudah membiasakan itu sejak tiga hari terakhir. Dan beruntungnya Roby welcome-welcome aja, bahkan saat tadi pagi Hana lupa Roby sendiri yang mengingatkan. Dan itu menjadikan nya sebagai salah satu langkah awal dalam hubungan mereka.
" Kamu juga sama kaya gadis biasanya, aku kira kamu gak suka yang ginian. " Ucap Roby sambil tertawa, ia memperlihatkan salah satu koleksi vidio dari salah satu aplikasi hape-nya.
" Kak Roby jangan di gituin, Hana malu. Itu cuman iseng doang kok, lagian juga itu buat koleksi pribadi. " Cicit Hana pelan, ia merasa malu melihat dirinya berjoget heboh dengan musik Korea kesukaan nya.
__ADS_1
" Baguslah, aku senang mendengarnya. " Ucap Roby sambil mengelus puncak kepalanya.
Kini ponselnya sudah di letakan di dekat ponsel milik dirinya, ia menatap penampilan Hana yang sangat anggun dengan balutan hijab berwarna coklat muda. Baju kemeja panjang berwarna krem dengan kain sarung batik yang biasa di gunakan para santri, hal itu menambah aura kecantikan dari wajah Hana menguar begitu saja walau tanpa memakai make-up.
" Kak Roby belum mandi? " Pertanyaan Hana sukses membuyarkan lamunan mesra yang ia bayangkan bersamanya.
" Belum, tadi pas pulang aku langsung nyari kamu. Sampe tiduran, eh malah ketiduran beneran. " Jawab Roby gugup.
Akhir-akhir ini dirinya sering gugup gak jelas, apalagi saat melihat wajah Hana yang cantik dan anggun di matanya. Hingga membuat ia lupa dan malah terhanyut dengan bayangan yang beradegan mesra-mesraan bersama dengan dirinya.
" Ya udah biar Hana siapin dulu air hangat nya ya, soalnya kalo mandi malam gak bagus buat kesehatan. Apalagi kalo mandinya pake air dingin tapi kalo pake air hangat kayaknya gak papa" Kata Hana lalu pergi beranjak dari sana.
Hana pergi kedapur, ia mulai menyiapkan panci dan mengisinya dengan air, lalu ia mulai memanaskannya di atas kompor. Selagi ia menunggu air nya mendidih, Hana pergi ke toilet untuk mengambil air wudhu, ia tidak lupa dengan kewajiban lima waktunya.
" Kak Roby mau sholat berjamaah sama Hana. " Tanya Hana kepada Roby.
Roby menatap wajah bersih juga berseri yang masih basah oleh air, namun kepala nya dengan cepat menggeleng dan kembali pokus pada ponsel lipat yang ia pegang.
Suara rumah berubah hening seketika, Hana yang sedang khusyuk dengan bacaan sholatnya terlihat begitu tenang dalam adegan sembahyang nya. Sementara Roby nampak sendu, kedua matanya melihat kearah kamar dimana Hana sedang melakukan sholat. Ia meletakan kembali ponsel yang ia mainkan, tangannya terulur memegang dadanya bagian kirinya.
Ia merasakan geleyar aneh yang mengalir menuju ke ulu hatinya, rasa kecewa seakan memenuhi relung hatinya. Ia merasa sedih melihat ketenangan yang di rasakan Hana, sedangkan dirinya selalu merasa tak tenang selama ini. Mungkin ini adalah jawaban untuk semua keluhannya selama ini, ia sadar kalau dirinya sudah melupakan Tuhan dan tak pernah bersujud meminta pencerahan untuk semua kebimbangan dan kegelisahan nya.
Malu, satu hal itu juga yang saat ini ia rasakan. Ia merasa jika dirinya tidak pantas untuk bersanding dengan gadis yang baik watak dan juga sikapnya, ia merasa jika dirinya sangat rendah jika berdampingan dengan gadis yang ada di depan matanya. Dirinya terlalu kotor dan banyak kekurangan untuk bisa di sandingkan dengan gadis yang berstatus istrinya itu. Ia membenarkan perkataan temannya, kalau pemuda berandalan kayak mereka memang tidak pantas untuk di sandingkan dengan gadis Baik.
'Andai saja malam itu aku tidak melihatnya bekerja, andai saja saat itu aku tidak melihat bagaimana ia dengan raut wajah lelah nya melayani para pengunjung, andai saja malam itu aku tidak datang kesana, dan andai saja hal sekecil itu tidak ia ketahui.' kata-kata itu terus saja berputar dalam otaknya, seakan mengingatkan apa yang menjadi kesalahannya selama ini.
"Jika saja aku tidak melihat fakta tentang mu malam itu, mungkin sampai hari ini kau akan menjadi salah satu dari semua gadis dan wanita yang paling aku benci selain ibuku. " Gumamnya. " Apakah aku masih pantas untuk selalu berjalan beriringan dengan mu, apa aku.... "
__ADS_1
" Kak, airnya sudah disiapin, aku sudah menaruh airnya dalam ember di toilet. Kakak bisa bersih-bersih sekarang, ini juga udah hampir tengah malam." Ucap Hana kembali menyadarkan lamunan panjang Roby.
" Oh iya.... Makasih Ana " Jawab Roby, ia kemudian bangkit dan pergi menuju ke belakang.
" Ini kak handuknya " Kata Hana sambil menyodorkan handuk.
Roby berbalik dan tersenyum, lalu ia mengambil handuknya dan bergegas memasuki kamar mandi dan melangsungkan ritual mandinya.
Sedangkan Hana kini tengah menyiapkan makan, ia memindahkan makanan berkat yang ia bawa dari rumah acara pengajian tadi ke dalam piring. lauknya cukup banyak, dengan berbagai jenis masakan, tak lupa juga ada beberapa kue tradisional yang terselip disana.
Setelah selesai memindahkan makanan kedalam piring dan mangkuk, Hana segera menyajikannya di ruang tengah. Tak lupa ia juga membuatkan tes panas untuk Roby, itu menjadi kebiasaan saat dirinya makan malam atau nonton TV di rumah itu. Tak lupa ia juga menyiapkan air putih dan juga gelas untuknya dan juga Roby.
Roby keluar dengan bertelanjang dada dan handuk yang melilit di pinggangnya, rambut basahnya tergerai menutupi sebagian wajahnya. Hana merasa malu saat melihat Roby yang berjalan menghampirinya, walau itu bukanlah yang pertama kalinya, tetap saja ia merasa canggung dengan keadaan itu.
Hana berjalan kearah kamar, ia menunjukan salah satu tas berukuran besar yang berisi pakaian Roby yang ia bawa dari rumah saat tadi sore. Ia sengaja berkunjung kesana karena sudah beberapa hari tidak bertemu dengan Nisa, ia cukup merindukan sosok yang menjadi ibu mertuanya itu.
" Pakaian Kak Roby aku simpan di tas ini, maaf karena lemari di rumah Hana gak cukup buat nyimpan pakaian kakak. " Ucap Hana sambil mengeluarkan beberapa pakaian dari dalam tas, ia menyiapkan apa yang di perlukan Roby agar mempermudah untuk di gunakan. Roby memang belum terbiasa hidup mandiri, karena sejak kecil ia sudah nyaman dengan segala perlakuan manja dari kedua orang tua nya. Ia hanya tahu cara menggunakan tanpa mengerti bagaimana menyiapkannya.
" Makasih An " Ucap Roby pelan.
Hana mengangguk dan bergegas keluar dari kamarnya, tak lupa ia juga menutupkan tirai agar Roby bisa leluasa mengganti pakaian di dalam kamarnya itu.
Tak butuh waktu lama untuk Roby mengenakan pakaiannya, ia kembali dari dalam kamar dengan menggunakan kolor di atas lutut dan kaos singlet yang menampakan seluruh bagian lengannya. Bahkan bagian ketiaknya juga terekspos dan menampakan jika di bagian sana sudah di tumbuh bulu yang agak jarang. Dan satu hal yang tak pernah di lupakan oleh seorang Roby, ia sangat suka wewangian yang menurutnya wajib ia kenakan.
Hana memberikan sebuah senyuman manis kepada Roby, ia mulai menerapkan apa yang sudah ia pelajari dari pengajiannya di pesantren saat dirinya tinggal di pondok dan juga pengajian di komplek nya.
Selalu tersenyum di depan seorang suami adalah salah satu adab penting dalam sebuah rumah tangga, terlebih saat menyambut sang suami selepas pulang bekerja adalah hal yang wajib. Karena itu suami akan merasa senang dan rasa lelahnya seakan berkurang ketika melihat sambutan hangat dari istri, begitupun dengan permasalahan di tempat sang suami bekerja akan ikut berkurang ketika ia menerima sebuah kenyamanan dari sang istri..
__ADS_1
Gambar di copy dari Pinterest.