
Saat ini Hana tengah ada di kafe, ia sudah ada disana sejak jam 4 sore. Seperti biasanya ia akan mengganti pakaian nya dengan seragam kerja, lalu langsung mulai membantu pekerjaan yang lain.
" Mbak, aku mau nanya boleh gak? " Tanya Hana dengan wajah murung.
" Nanya apa, tentang hubungan pasutri. " Jawab Mila semangat sambil terkekeh pelan.
" Ikh.. Mbak kok ngomong gitu sih, kan aku jadi malu. " Kata Hana.
" Malu apa Mau " goda Mila.
" Mbak Mil.....Serius deh, malu kalo ada yang denger. " Hana merengek tak Terima karena terus saja di goda sama ibu dua anak itu.
" Lah malu apa, kamu udah nikah juga. Jadi apa yang musti di bikin malu, lagian kan mbak juga udah nikah. Jadi sah-sah aja kalo bahas yang ginian. " Ucap Mila.
" Ya kan bukan tentang itu yang mau aku tanyain sama mbak, itu mah beda lagi. " Jawab Hana tak mau kalah.
" Lah terus mau nanya tentang apa lagi kalau bukan tentang hal seperti itu, apalagi kamu kan masih tergolong pengantin baru walau kenyataannya udah lewat masa kadaluarsa. " Ucap Mila kembali terkekeh geli.
Mereka berdua terlihat sangat akrab layaknya ibu dan anak, kedekatan yang lebih dari sekedar rekan kerja.
" Mbak... "
" Gimana kalau teman mbak ternyata menyukai suami mbak sendiri? " Tanya Hana tiba-tiba.
" Kamu suka sama suami Mbak Han, huss.. Jangan ngawur kamu, suami mbak udah punya anak. Lagian muda juga suami kamu di banding suami mbak yang udah karatan. " Canda Mila.
" Eh, bukan seperti itu mbak. Hana mana mungkin suka sama suami mbak Mil, Hana udah anggap dia paman Hana sendiri. " Ucap Hana tak Terima. " Yang aku maksud itu suami Hana sendiri, mbak kan tau kalau suami aku masih sekolah. Dan temen Hana suka sama dia bahkan sampe rela mutusin persahabatan kita. " Ucap Hana lagi dengan wajah sendu.
Tangan Hana terus saja menggosok tray dengan cara berputar-putar, jelas jika hal itu menjadi perhatian dari ibu dua anak di hadapannya.
" Kamu yang sabar aja, nanti juga lambat laun dia bakal sadar. " Mila mencoba memberikan semangat kepada rekan kerja nya itu. " Apa kamu tidak memberi tahu status kamu sekarang sama temen mu itu, mereka yang suka main kesini kan. Yang dua cewek dan satu cowok itu kan? " Tanya Mila.
Hana menatap Mila, ia merasa bimbang setelah mendengar perkataan Mila.
" Tapi Hana takut malah bocor, terus berita ini nyebar sampe ke kepala sekolah. Hana takut beasiswa yang selama ini di perjuangin malah sia-sia, dan juga harapan buat Alm. Kakek bangga juga sia-sia. " Ucap Hana.
Mila terdiam, ia bingung harus memberi saran seperti apa. Karena ia tidak pernah mengalami hal rumit seperti gadis di hadapannya kini. Ia cukup menasehati apa yang sekiranya benar dan bermanfaat untuk Hana, dia tidak akan terlalu ikut campur dalam permasalahan gadis yang selalu berpenampilan santun itu.
__ADS_1
" Kak, es cappucino nya satu ya, sama French fries nya satu. " Pesan pengunjung.
" Apa ada tambahan lagi mbak? " Tanya Hana setelah selesai mencatat orderan pengunjungnya.
" Segitu aja kak " Jawab nya.
Hana kemudian membacakan kembali menu yang di order nya tadi, setelah selesai ia lekas menyerahkan kertas orderan itu kebagian Bar agar segera di serahkan kepada anak kitchen.
Waktu terus berjalan, kini kafe sudah tutup dan sisanya para pekerja sedang beberes untuk lekas pulang. Begitupun dengan Hana yang sudah selesai merapikan meja, ia tak lupa membantu Mila merapikan bar dan mencuci gelas yang tersisa sedikit.
" Han, itu ada orang yang nunggu kamu di luar. " Ucap Anit dengan wajah sinis.
Gadis itu memang tak pernah berubah, ia selalu saja menunjukan sikap tak suka nya kepada Hana. Namun bagi Hana itu bukan masalah besar, karena bagaimana pun ia tak merasa melakukan hal salah.
" Iya Nit, makasih ya. " Ucap Hana sambil tersenyum. Dalam hati ia merasa heran dan juga bingung, karena baru pertama kali ada yang menunggu nya saat pulang.
" Cie, udah punya pacar nih " Ucap Danish sambil menggoda Hana yang nampak kebingungan.
" Paling juga hubby sweaty " Canda Mila juga.
" Ya udah aku duluan ya mas, mbak " Ucap Hana pamit. Ia tidak ingin berlama-lama berada disana, dan berakhir dengan candaan maut dari rekan kerjanya itu.
" Hayo, malah diem. Itu suaminya nunggu, ternyata dia lebih ganteng aslinya ya. " Bisik Mila sambil menepuk pelan pundak Hana.
" Eh, mbak juga mau pulang. " Tanya Hana kaget.
" Ya pulang dong Hana, masa nginep disini. Udah ah, mbak pulang duluan ya."Β Mila sambil menggelengkan kepala nya.
" Duluan ya dek " Ucap Mila kepada Roby sambil berlalu menjauh.
Roby berjalan mendekat, ia merasa yakin kalau istrinya itu sedang terkejut. Dan benar saja, satu kata yang sukses membuatnya merasa gemas.
" Kok kak Roby kesini, kenapa gak langsung pulang buat istirahat. " Ucap Hana pelan.
" Ayok pulang bareng " Ucap Roby sambil menggandeng tangan Hana sambil pergi dari sana.
Mereka berjalan bersama untuk pertama kalinya, dengan Roby yang berada di depan sambil menuntun Hana layaknya anak kecil. Hana hanya diam sambil menatap jalan dan sesekali mencuri pandang pada tangannya yang ada dalam genggaman suaminya itu.
__ADS_1
' ada apa dengannya hari ini, kenapa dia bisa berubah menjadi seperti ini. Apa dia sudah menerima ku dan juga status diantara kita. ' pikir Hana sambil menatap punggung lebar Roby.
Hana melihat keatas, ia tersenyum melihat rambut Roby yang sudah tercukur pendek dan juga rapih. Ia senang kalau Roby mendengarkan idenya semalam, bahkan Hana tersenyum geli mengingat kejadian yang terjadi anatara dirinya dan Roby semalam.
' Bahkan kak Roby terlihat sangat tegas jika seperti ini, lagian kenapa tubuhnya harus tinggi sih. Kan aku jadi kayak anak kecil, mana tinggi aku gak nyampe bahu dia. '
" Apa kamu gak dingin, maaf gak bisa ngasih jaket ini. Soalnya ku gak mau kamu memakai jaket yang kotor. " Ucap Roby.
Hana hanya menatap Roby, namun kepalanya menggeleng. Ia juga merasa tak enak kalau Roby memberikan jaketnya dan malah ia yang kedinginan.
" Kenapa kak Roby repot-repot buat jemput Hana. " Tanya nya.
" Lagi pengen aja, mungkin bakal jadi jadwal rutinitas malam. Dari pada main sama anak-anak, bosen juga kalo tiap hari nongkrong bareng. " Jawab Roby.
Angkot menuju daerah Hana sampai, Hana kemudian beranjak dari halte di ikuti Roby dari belakangnya. Mereka masuk secara bergantian, duduk saling berhadapan dan agak menjaga jarak.
Seperti biasa Hana mengeluarkan earphones dari tasnya dan memasangnya, ia kemudian menyalakan ponsel setelah memasang kan dengan earphones nya. Sudah menjadi kebiasaan, ia akan mendengarkan musik ketika berada di dalam mobil, setidaknya itu mengalihkan rasa trauma yang selama ini ia derita. Semua itu tak lepas dari perhatian Roby, bahkan saat Hana asik mendengarkan musik sambil menutup kedua matanya.
" Pacarnya ya dek? " Tanya supir angkot.
" Iya Pak. " Jawab Roby singkat.
" Baru jadian ya dek? " Tanya nya lagi.
Roby mengernyitkan dahinya, ia tidak suka saat orang lain banyak bertanya kepadanya.
" Bukan urusan bapak " Jawab Roby ketus.
Sesampainya di rumah, Roby terlihat masih kesal. Bahkan saat ia selesai mengunci pintu belakang, ia langsung merebahkan tubuhnya di ruang tengah tempat biasa ia berbaring. Hana yang baru saja memasuki rumah terkejut melihat Roby yang sudah tepar di atas karpet bulu.
" Kak, mau mandi dulu atau langsung makan? " Tanya Hana sambil menggoyangkan bahu Roby pelan.
Sedangkan orang yang dimaksud tak bergeming sedikit pun, bahkan tak menjawab pertanyaan yang di layangkan oleh Hana. Sedangkan Hana sendiri merasa aneh dengan tingkah Roby, ia bertanya-tanya dalam hati nya apa dirinya telah melakukan kesalahan atau membuat dia kesal. Namun setelah di pikirkan secara berulang atas kejadian penjemputan di kafe, ia merasa tidak ada yang aneh.
...[ Seperti biasanya, Gambar ini hanya ilustrasi saja. Agar cerita lebih menarik dan khayalan kalian bisa lebih berkembang lagi. wkwk..maaf.]...
__ADS_1
...Gambar Diambil dari Salah satu situs Dj Google. Daftar Link : https://i.pinimg.com/originals/87/a7/a2/87a7a2c1369dfabce007adf84249cef2.png...