
Pagi hari yang cerah, begitu pun dengan gadis yang sedang asik memilih sayur mayur yang masih segar dan nampak hijau. Siapa lagi jika bukan Hana, sejak pagi Hana sudah berada di pasar tradisional. Ia memutuskan untuk berbelanja keperluan dapur, karena sejak kedatangan Roby di rumah kostan nya. Membuat ia harus membeli persediaan makanan untuk mereka berdua.
Sejak kejadian malam dimana mereka hanya memakan mie instan dan telur, membuat Hana sedikit merasa tak enak hati. Bahkan sejak kejadian itu pula, Roby mengirimkan sebuah kulkas berukuran sedang ke rumahnya. Tentu saja hal itu membuat para tetangga heboh, apalagi ibu-ibu yang selalu bergosip ria. Mereka seakan mendapat info yang sangat berharga, ketika kurir yang mengantar barang menanyakan rumah Hana kepada mereka yang kebetulan tengah berbelanja di tukang sayur keliling.
" Totalnya jadi 45 ribu mbak. " Ucap ibu pedagang kepada Hana.
Hana kemudian mengambil satu lembar uang berwarna biru, lalu memberikannya kepada pedagang itu.
" Ini kembaliannya ya mbak " Ucapnya lagi sambil menyedorkan selembar uang dan kantong plastik berisi sayuran yang sudah Hana pilih.
" Terimakasih ya bu. " Jawab Hana ramah sambil tersenyum.
Beruntungnya kemarin ia baru saja gajian, terlebih ia merasa bahagia karena hari ini dirinya di beri jatah libur. Entah kenapa atasan kerja nya itu memberikan jatah libur selama satu hari dalam seminggu, dan yang membuat Hana heran adalah Adi memberinya libur hari ini padahal ini adalah weekend. Semua orang tahu kalau tanggal merah itu kafe selalu penuh oleh pengunjung, tapi dirinya malah di liburkan begitu saja.
Adi bilang itu sebagai permintaan maaf nya karena kejadian tempo lalu yang di sebabkan oleh tunangannya itu. Hana yang notabe nya anak baik dan polos, ia tidak mempersalahkan hal itu. Tapi atasan nya itu tetap memaksa dan pada akhirnya hana menerimanya dengan senang hati, walau perasaan nya tak enak dengan staf yang bekerja disana. Karena setahu nya, para pekerja disana tidak di perbolehkan libur di hari weekend.
Tetesan keringat sudah tak terhitung lagi, kerudung yang di kenakan oleh Hana bahkan terlihat sedikit basah karena keringat nya. Panas matahari tak menyurutkan dirinya untuk segera pergi dari tempat itu, beberapa kali ia harus berdesakan dengan para pengunjung lainnya. Apalagi saat ada penjual yang menawarkan barang dengan harga murah, ibu-ibu seakan terpanggil dan melihat apa yang di jajakan oleh penjual itu. Wajah nya kini sudah memerah, dan kedua tangannya sudah di penuhi oleh plastik belanjaannya.
" Angkot neng.. " Ucap seorang kondektur angkot.
" Iya Pak, ke daerah xxx ya " Ucap Hana sambil masuk kedalam angkutan umum menuju rumahnya.
Teriakan pria yang berpenampilan urakan dengan rambut gondrong dan badan yang di penuhi tato seakan menjadi ciri khas tersendiri. Suara riuh pasar itu tak menjadi halangan untuk memberi tahu kan kepada orang tujuan mana angkot itu pergi. Hingga beberapa orang masuk kedalam angkot itu, dengan barang bawaan mereka masing-masing.
***
__ADS_1
Sementara di lain tempat, seorang pemuda nampak sedang serius mengotak atik mesin motor. Tangannya berhasil membuka sebuah penutup di bagian bawah mesin motor metik dengan bantuan alat, lalu tangannya dengan cekatan mengambil selang kompresor dan mengarahkannya pada lubang kecil di bagian mesin. Setelah selesai menguras cairan berwarna hitam pekat dari dalam mesin itu, ia kembali menutup bagian bawahnya dan membereskan alat yang dia gunakan tadi.
Lalu ia pergi ke dalam, lalu kembali dengan membawa barang yang ia butuhkan. Setelah selesai dengan pekerjaan nya, ia kemudian membawa motor itu ke depan dan memberitahu pemilik nya kalo servis nya sudah selesai.
" Maaf mas, motor nya sudah selesai. Mas tinggal cek pembayarannya di kasir. " Ucap pemuda itu dengan sopan.
" Oh iya, makasih ya dek. " Ucap lelaki itu sambil tersenyum.
Pemuda tersebut mengangguk dan membalas senyuman nya dengan ramah, setelahnya ia kembali kedalam untuk melanjutkan pekerjaan yang lainnya. Tangannya yang terlihat sangat kotor dan di penuhi oleh minyak hitam, begitu pula dengan celana dan kaos nya yang terlihat banyak noda di sana.
Tak lama kemudian seorang berjalan dengan gaya cool nya, ia beberapa kali menyapa para pekerja yang ada di bengkel itu. Hingga saat ia berada di dekat pemuda tadi, ia terdiam dan lebih memilih memperhatikan apa yang sedang pemuda itu lakukan. Bahkan ia tak segan memotret kegiatan pemuda tersebut dengan ponsel mewah yang ia ambil dari dalam saku jaket nya, lalu setelah puas ia kembali menyimpannya lagi ke tempat semula.
" Rajin amat loe sekarang, loe udah turun pangkat dari anak Mami jadi anak amit-amit. " Ledek pemuda yang baru datang sambil tersenyum licik.
Pemuda yang di maksud itu kemudian menoleh kearah sumber suara yang sudah tak asing lagi buat nya. Ia hanya mendengus melihat tingkah sombong yang di perlihatkan pemuda di hadapannya itu, jika bukan orang yang penting buat nya. Mungkin cairan oli yang ada di depannya sudah berpindah tempat ke tubuh pemuda congkak di hadapannya itu. Begitulah pikiran sang pemuda yang sedang mengecek bagian mesin motor.
" Ck, gak asik loe by. Lagian loe sok-sok an serius, biasanya juga loe gak kaya gitu. " Ucap nya kesal, lalu tak lama ia ketawa membuat pemuda yang di panggil By itu semakin terusik.
Hingga akhirnya mereka sedikit berdebat dengan kata-kata kasar yang biasanya anak cowok gunakan, bahkan para pegawai yang lain ikut ketawa karena mendengar candaan dari kedua pemuda yang berpenampilan berbeda itu.
" Roby, pak Ganes manggil kamu buat ke kantor. Katanya ada hal penting yang mau di omongin. " Ucap lelaki yang baru datang dari arah tangga.
" Mampus lo By, paling juga abang gue mecat loe. Kan udah gue bilang loe itu gak bakal cocok kerja ginian, paling juga banyak yang komplain sama hasil kerja loe. " Ucap pemuda yang berpenampilan rapih mengolok orang yang tak lain adalah sahabat nya sendiri.
" Anjing loe Lang, kalo loe bukan temen sama adek bang Ganes. Nih kunci Inggris yang gue pegang udah dari tadi nengger di kepala loe, loe kalo ngomong asal mulu ****** emang. " Marah pemuda yang tak lain adalah Roby.
__ADS_1
" Gue sekarang yakin, kalo loe masih Roby yang sama. Gue kira loe udah berubah jadi Roby yang luar biasa, nyatanya masih si anak brengsek. " Jawabnya tak kalah sarkas.
" Udah, Rob cepetan sana pergi. Nanti pak Ganes marahin loe gara-gara kelamaan nungguin. " Lerai lelaki yang tadi.
Roby kemudian tersenyum sambil mengangguk kearah lelaki yang lebih tua dari nya itu, namun sedetik kemudian raut wajah nya kembali di tekuk saat melihat kearah sahabatnya yang tak lain adalah Gilang.
" Makan tuh anjig... " Dengan kesal Roby melempar kain lap yang di penuhi oleh oli ke arah wajah Gilang. Ia kemudian bangkit dan pergi berlalu meninggalkan sahabatnya yang sedang mengumpatinya dengan kata-kata kasar.
" Sialan tuh anak, beraninya sama gue yang adek pemilik tempat dia kerja. Gue aduin kicep juga loe, tau rasa loe kalo di pecat sama abang gue. " Ucap Gilang kesal.
Sebenarnya tadi ia cepat menghindar, jadi kain berwana hitam glossy itu tidak mengenai wajah nya. Namun namanya juga temen laki, gak saling mengumpat itu gak asik. Dan mereka berdua udah mirip kaya kucing sama anjing, kalo ketemu pasti gak bakal singkron dan selalu aja ada hal yang membuat mereka debat dan berakhir dengan pertengkaran kecil. Walaupun hal itu tak berlangsung lama, mereka akan tetap akur dan tertawa bersama, karena pada dasarnya mereka saling membutuhkan selayaknya seorang saudara.
Kini Roby tengah membersihkan Noda oli di kedua tangannya, ia juga mencuci wajahnya yang terlihat kucel dan kumel karena sudah lama ia tidak merawatnya dengan benar sejak pergi dari rumah.
Sebenarnya tadi ia sedikit was-was, apalagi sahabat bobrok nya malah membuat ia semakin kalut dengan perkataan nya.
" Apa iya konsumen nya pada komplain sama hasil kinerja gue, perasaan gue udah teliti sama semua kerjaan yang gue kerjain. " Gumam Roby, ia mengusap wajahnya dengan gusar. " Gimana gue bisa dapet duit, kalo nanti bang Ganes mecat gue dari pekerjaan ini. Gimana gue bisa ngasih jajan si Ana, apa segitu gak bergunanya hidup gue. Sampe gue harus nyusahin orang lain, bahkan istri gue yang seharus nya gue nafkahin malah dia yang kerja banting tulang buat bantuin gue suaminya yang brengsek. " Lanjutnya lagi.
Roby menghela napasnya saat berada di depan pintu kantor yang terletak di lantai tiga. Setelah selesai bersih-bersih sekaligus buat nenangin diri, ia segera bergegas menuju ke atas di mana ruang kantor itu berada. Jantung nya tak bisa ia kendalikan, perasaan was-was nya semakin menjadi dan rasa takut akan kehilangan pekerjaan nya semakin menyeruak dari dalam hatinya.
Tangannya terulur mengetuk pintu, hingga ketukan ketiga kalinya baru ia masuk setelah orang yang berada di dalam mempersilahkan dirinya untuk masuk.
" Siang Pak, maaf agak lama. Tadi aku bersih-bersih dulu di toilet. " Ucap Roby sopan.
Bagaimana pun Ganes adalah atasan tempat ia bekerja, walau notabe nya dia sudah menganggap Ganes sendiri sebagai Abangnya selain Malik yang kini berada di luar Negeri. Baginya keluarga dari Gilang adalah prioritas utama sama seperti keluarganya, dia juga bisa merasakan hangatnya keluarga dan ia sudah menganggap keluarga Gilang sebagai rumah kedua setelah kediaman Danuarta.
__ADS_1
Namun sekarang, keadaan nya sudah berubah. Dengan bertambahnya seorang Hana yang berstatus istri sah nya di mata agama dan hukum negara, walau pernikahan mereka itu terkesan di paksakan oleh keadaan yang tidak di harapkan. Namun sekarang Roby sudah yakin dan menerima semua nya dengan ikhlas. Ia menerima kenyataan, takdir dan juga status barunya sebagai suami di usianya yang masih muda.
Kini Hana adalah prioritas utamanya, ia mengukir nama Hana di urutan teratas lalu setelahnya keluarga dan sahabatnya. Tujuan hidupnya kali ini adalah untuk membahagiakan Hana dan juga keluarga kecilnya nanti. Namun baru saja melangkah untuk memulai, ia merasakan beban yang sangat berat yang menghampiri dirinya. Ia baru merasakan bagaimana menjalani tanggung jawab sebagai seorang lelaki dan juga proses menuju pendewasaan itu sendiri.