
" Ngapain kamu duduk disitu, apa gak ada tempat lain untuk melakukan kebiasaan aneh mu? " Tanya Roby tiba-tiba.
Sontak Hana langsung kaget dan menghentikan kegiatannya itu, ia juga bangkit dari tempat tidur dan berdiri agak jauh dari Roby.
" Maaf sudah mengganggu tidur kakak, dari tadi aku berusaha membangunkan kakak. Tapi kakak tak kunjung bangun, aku khawatir karena kakak belum makan sejak pagi, dan ini sudah lewat jam makan siang. " Jawab Hana panjang lebar. Tak lupa ia juga sedikit menunduk untuk menghindari tatapan membunuh Roby.
" Gak usah sok perhatian, gue gak bakal kemakan rayuan tipu muslihat gadis seperti mu. " Ucap Roby dengan datar.
" Emangnya siapa yang mau ngerayu cowok singa kayak dia, sepertinya cewek secantik Ariana Grande aja mikir dulu sebelum lihat kak Roby. " Gumam Hana pelan.
" Apa? " ucap Roby dengan kesal, ia mendengar perkataan Hana yang sangat pelan. Namun pendengarannya mendadak menjadi sangat tajam setelah Hana mengatainya dengan sebutan Singa.
" Ah, kenapa? " tanya balik Hana dengan gelagapan.
" Barusan aku dengar umpatan mu, kau kira telingaku tuli. Apa kau terlalu bodoh hingga berani mengumpati seseorang dihadapan telinga orang tersebut. " Jawab Roby dengan nada keras.
" Aku, aku tidak mengumpati seseorang. Emangnya aku bilang apa? " tanya Hana dengan polos, ia berpura-pura tidak tahu dan berharap Roby tidak bertanya lagi.
" Kau.... " Geram Roby dengan kesal.
Hana yang mendengar Roby sudah berteriak lantas segera mengambil nampan yang ada di meja, lalu menaruh nya di atas selimut dihadapan Roby. Setelah itu Hana langsung berlari menuju pintu untuk keluar dari kamar dan menghindari amukan dari sang suaminya.
__ADS_1
Sebelum Hana menutup pintu, ia berteriak meminta maaf dan tidak akan mengulangi perbuatannya barusan. Setelah itu Hana langsung menutup pintu dan berlari kedapur untuk membereskan peralatan yang ia gunakan untuk memasak makanan siang Roby.
Sedangkan Roby yang masih terdiam disana setelah melihat tingkah Hana yang tiba-tiba berubah, ia sedikit kebingungan akan hal tersebut. Namun tiba-tiba perut nya Berbunyi, pandangannya teralihkan pada makanan yang ada di hadapannya. Dengan perasaan takut, jikalau Hana menaruh racun di makanan nya. dengan perasaan takut, ia mengambil satu potong buah dan memakannya secara perlahan. Karena perut nya yang belum terisi sejak kemarin malam, buah itu terasa begitu menyegarkan dan membuatnya memakan semua buah potong itu hingga habis tak tersisa. Lantas ia pun segera menyantap nasi goreng dan meminum jus nya hingga habis.
Jam menunjukan pukul 16:30, mobil jemputan yang sudah disiapkan oleh Nisa pun sudah datang dan menunggu di depan rumah. Hana membereskan beberapa barang yang sempat ia pakai, tak lupa si mbok juga membantu mengemas pakaian Roby dan membawanya keluar untuk di masukan kedalam bagasi mobil. Si mbok juga terlihat sering menatap dengan penuh selidik kepada Hana, ia masih curiga kalo Hana bukan gadis baik-baik.
Hingga akhirnya Hana dan Roby masuk dan duduk bersama di kursi jok belakang, lalu si mbok duduk di depan sama supir. Awalnya beliau menolak, tapi dengan sikap datarnya Roby memaksa dan menyuruh si mbok untuk ikut pulang bersama mereka. walaupun Roby suka berkata kasar dan sikapnya yang dingin, tapi ia juga punya sisi lembut dan baik dalam hatinya.
Saat di perjalanan, Hana mulai merasa phobia nya mulai kambuh. Ia terlihat sangat cemas dengan tangan yang sudah memucat dan terasa mendingin, tubuhnya juga terlihat gemetar. Walau ini kali kedua Hana menaiki mobil pribadi, tapi Hana masih merasa sangat ketakutan terlebih mimpi buruk itu masih belum berhenti. Apalagi semenjak terakhir kali Alex memberi obat penenang, setelah itu Hana kembali merasakan kegelisahan yang sangat berlebih. Namun dengan sangat baik, ia menutupi semua yang ia alami dari semua orang dengan sangat sempurna.
Saat di perjalanan, Hana tidak berbicara sedikitpun. Bahkan saat Roby bertanya, Hana tidak menjawabnya dan sibuk dengan lamunan nya. Setiap melewati persimpangan, Hana membayangkan kejadian yang selalu ia impikan. Ia selalu melihat mobil besar melaju dengan kencang kearahnya, hingga Hana langsung kemejamkan matanya. Padahal kenyatannya tidak ada satupun mobil yang melintas, kalau pun ada mobil itu berjalan pelan dan sangat jauh dari khayalan Hana.
Setelah sampai di Kota, Hana memberanikan melihat kearah jendela. Ia melihat apotek tempat biasanya ia menebus obat, lantas dengan cepat ia menyuruh supir untuk menghentikan mobilnya.
Roby yang melihat gelagat mencurigakan Hana segera menghentikan nya setelah mobil berhenti, Hana hendak bergegas pergi keluar dari dalam mobil. Namun dengan cepat Roby menahannya dan bertanya apa yang akan Hana lakukan.
" Mau kemana kau, emangnya mobil ini kendaraan umum dengan seenaknya kau menghentikannya di tempat sembarangan. " Ucap Roby dengan wajah kesal, ia meluapkan kekesalannya karena sebelumnya Hana hanya diam dan tidak menyahut pembicaraan darinya.
" Maaf Kak Roby, tapi ini benar-benar penting. Aku janji gak akan lama " ucap Hana sambil melepaskan tangan Roby yang menggenggam pergelangan tangannya.
Dengan cepat Hana keluar dari mobil, ia pun berlari menyebrangi jalan menuju kearah apotek yang biasa ia kunjungi. Sedangkan sang supir dan si mbok hanya bisa diam, terlebih Roby yang terlihat kesal karena ulah Hana.
__ADS_1
" Sore Mbak, saya mau beli obat yang biasa aku tebus!." Ucap Hana dengan nafas yang terengah-engah, karena kelelahan akibat berlari.
" Oh dek Hana kan, iya tunggu sebentar ya mbak ambil dulu obatnya. " Ucap pelayan apotek tersebut dengan ramah, beliau juga terlihat sudah mengenali Hana.
" Iya Mbak " Jawab Hana.
Tak lama kemudian pelayan apotek itu kembali sambil membawa satu toples berukuran sedang.
" Ini obat nya, semuanya 185 rb. " Kata pelayan apotek itu.
" Astaghfirullah, aku lupa enggak bawa dompet. Pasti dompetku ada ditas yang di bawa sama Mama, bagaimana aku bisa membayarnya, sedangkan aku sangat membutuhkan obat ini " Gumam Hana dengan gelisah.
" Kenapa dek, apa ada obat yang ingin adek beli lagi?. " Tanya pelayan apotek.
" Anu Mbak, aku lupa bawa uang nya. Uang ku ketinggalan di dalam dompet di rumah, sedangkan aku sangat butuh obat ini. " Jawab Hana dengan lesu.
" Tak apa, biar mbak yang bayar dulu. Kapan-kapan dek Hana bisa kembaliin uangnya, lagian dek Hana kan udah menjadi pelanggan tetap disini. " Tawar pelayan apotek itu sambil tersenyum.
" Apa boleh mbak, atau sebagai jaminannya aku simpan antingku disini. Besok aku akan mengambilnya dan mengembalikan uang yang di pinjamkan mbak, gimana?. " Tawar Hana kepada pelayan apotek itu.
" Baiklah, kalau itu kemauan dek Hana. " Jawabnya lagi.
__ADS_1
Akhirnya Hana menjadikan anting peninggalan sang ibu kepada pelayan apotek itu, sebenarnya ia tak rela melepaskannya. Hanya saja ia sangat membutuhkan obat itu agar ia tidak mengalami kegelisahan yang parah.