
Tanpa banyak kata lagi, Hana langsung memakan makanan yang Roby berikan kepadanya. Setelah selesai, Hana kembali berbaring di bantu sama Roby. Sebenarnya masih banyak hal yang ingin di tanyakan sama sang suami, tapi mengingat kondisinya yang lagi tak memungkinkan. Membuat nya mengurungkan niatnya itu, dan lebih memilih untuk tidur.
Sedangkan Roby baru saja selesai mencuci piring dan sendok bekas makanan, setelah selesai ia duduk sambil menonton televisi yang sedang menayangkan film barat bergenre action. Tangannya meraih ponsel dan melihat sekilas lalu di taruh kembali di samping tempat ia duduk.
Sesekali pandangannya mengarah kearah Hana yang tengah tidur, hingga kedua mata Roby menangkap gerakan aneh pada Hana. Ia langsung bangun dan berjalan kearah kamar untuk mengambil selimut, setelah menemukan benda yang ia cari. Roby lekas kembali ke ruang tengah, dan menyelimuti Hana yang tengah menggigil kedinginan.
Setelah berhasil menyelimuti nya, Roby masih keheranan saat Hana masih menggigil kedinginan. Hingga tangannya terulur untuk memeriksa suhu tubuhnya, ia sangat terkejut saat mendapati suhu panas yang sangat tidak normal pada dahi dan juga leher Hana.
" Bunda..... Ayah.... " Gumam Hana pelan.
Roby merasa kasihan melihat bagaimana Hana merasa kesakitan, bahkan dalam tidurnya sekalipun.
" Apa kamu sedang merindukan mereka, kenapa kau belum memperkenalkan aku sama bunda dan Ayah. " Balas Roby dengan suara lirih. Tatapan mata sendu menatap wajah Hana yang sudah pucat.
Karena kebingungan, Roby kemudian mengambil ponsel dan mencari cara untuk mengobati Hana yang tengah demam tinggi. Setelah menemukan cara nya dari Google, Roby lantas pergi ke dapur lalu mulai memanaskan air di panci dan menyiapkan wadah berupa mangkuk berukuran besar. Setelah bersusah payah menghidupkan kompor gas, yang pada dasarnya Roby tak pernah menyentuh benda tersebut. Ia kembali kembali ke depan sambil membawa wadah berisi air panas yang di campur dengan sedikit air dingin.
" Kain buat kompresan nya pakai apa? " Roby kembali kebingungan saat kini sudah berada di samping Hana.
Akhirnya ia memutuskan untuk mencari di kamar Hana, siapa tau ia menemukan kain atau handuk kecil yang bisa ia gunakan.
Langkah nya terhenti di lemari plastik susun, Roby sedikit ragu saat akan membuka lemari berukuran sedang itu.
" Oh shitt... " Umpat Roby pelan.
Ia kaget saat yang di bukanya ternyata tempat penyimpanan pakaian dalam milik Hana, ia kemudian menutupnya kembali dengan kesal. Terlihat wajah Roby yang sudah geram karena kesusahan untuk mencari benda kecil yang ia inginkan.
__ADS_1
Akhirnya ia kembali kedepan, ia akhirnya menggunakan baju kaos yang di gunakan untuk membalut es tadi. Setelah mencelupkan dan memeras kaosnya, ia melipat menjadi lipatan agak kecil. Lalu ia menaruhnya di dahi Hana, sambil sesekali di cek dan di ganti jika sudah dingin.
π...π...π
Keesokan pagi, Hana terbangun dari tidur lelap nya. Ia merasa senang karena tidak mengalami mimpi buruk seperti malam-malam biasanya. Namun saat kesadarannya sudah pulih, ia di kejutkan dengan badannya yang terasa berat. Saat menengok kearah samping, ia hampir saja berteriak karena tepat di depan wajahnya ada wajah Roby yang sedang terlelap.
" Ya Alloh, hampir saja... " Ucap Hana dalam hati.
Tangannya berusaha untuk keluar dari pelukan Roby, jika di bayangkan. Saat ini Hana sudah seperti guling yang di peluk Roby, tangan dan kakinya seakan mengunci agar Hana tidak lepas dari pelukannya.
Setelah berhasil, Hana kemudian mengambil benda yang ada di atas dahinya. Ia merasa risih dengan sesuatu yang lembab menenpel di atas dahinya itu.
" Jadi kak Roby semalaman sudah merawat ku. " Gumam Hana pelan, ia menatap kain yang dia ambil dari atas dahinya.
Dengan perlahan, Hana berusaha menyingkirkan lengan Roby. Lalu di susul dengan kakinya yang masih berada di atas paha Hana. Pergerakan Hana terhenti sebentar, saat tidur Roby terganggu olehnya. Setelah memastikan Roby kembali pulas, Hana lekas beranjak dari sana dan pergi ke toilet untuk mengambil air wudhu. Karena waktu subuh yang sudah lewat beberapa menit yang lalu.
Tak ingin berlama-lama dan malah membatalkan wudhu nya, Hana bergegas pergi ke dalam kamar dan menunaikan sembahyang wajib nya.
" Kak, bangun. Ini sudah pagi, kakak harus pulang. " Ucap Hana sambil menggoyangkan lengan Roby pelan.
Orang yang di maksud tak bergerak sedikit pun, ia masih nyenyak dalam mimpi indahnya. Hingga gerakan yang ketiga kalinya, baru Roby terganggu dan bergerak tanda ia akan bangun.
" Kak... " Ucap Hana lagi.
" Ck, gue baru juga tidur. Loe gak ada kerjaan apa ganggu orang tidur. " Jawab Roby kesal. Ia masih ngantuk karena semalam ia menjaga Hana.
__ADS_1
" Gak enak kak kalo pulang nya kesiangan, nanti tetangga curiga sama kita. Hana gak pernah ajak orang lain buat masuk rumah. Kecuali temen deket. " Jelasnya.
" Biarin aja sih, repot banget. Kalo iya mau grebek ya tinggal di lakukan, toh gue gak salah juga. " Gumam Roby, ia malah menggulung tubuhnya dengan selimut Hana dan menenggelamkan kepalanya di balik selimut.
" Tapi kak, aku... "
" Ck, iya gue bangun. Sekarang gue balik, puas loe. " Kesal Roby sambil bangun dan menyibak selimut nya.
Hana tersenyum geli melihat penampilan Roby yang sangat berantakan. Rambutnya yang lebat dan agak panjang, membuatnya mirip seperti singa. Apalagi matanya yang masih merem, padahal ekspresinya nampak kesal.
" Kak.. "
" Iya, tunggu bentar kek. Loe mau suami loe mati kecelakaan gara-gara masih ngantuk hah. " Bentak Roby pelan. Ia tidak habis pikir dengan Hana yang terus saja merengek memintanya untuk pergi dari sana.
Hana kembali menunduk, ia merasa bersalah karena sudah membangunkan Roby. Ia tidak berniat untuk mendoakan suaminya itu untuk kecelakaan, tapi omongan Roby juga tidak salah.
" Kak.. Aku ingin berterima kasih, karena semalaman kakak udah rawat Hana. " Ucap Hana gugup.
Roby yang masih mengumpulkan sisa nyawanya, seketika membuka kedua matanya dan menatap kearah samping. Ia melihat Hana yang menunduk ketakutan, bahkan lengannya sibuk meremas ujung jaket miliknya yang masih di kenakan Hana. Seulas senyuman terbit di bibir Roby, ia senang melihat keluguan gadis di hadapannya kini. Ia bahkan tidak marah, hanya saja ia merasa kesal karena tidurnya yang terganggu.
" Apa lukanya masih sakit? " Tanya balik Roby. Tangannya terangkat mengelus puncak kepala Hana dan mengusapnya lembut.
Hana terkejut mendengar pertanyaan balik dan Perlakuan Roby kepadanya. Ia kemudian mengangkat kepala dan memberanikan diri untuk menatap Roby.
Deg... Jantungnya kini berdetak lebih cepat dari kebiasaan normalnya. Apa ia tidak salah lihat, matanya menatap Roby yang tengah senyum sambil mengelus kepalanya.
__ADS_1
Hana menggelengkan kepalanya, ia tidak bisa merepotkan Roby terus dan terpaksa berbohong. Jujur sakitnya masih terasa, lebih tepatnya rasa ngilu di bagian