
Roby terlihat menghela napas setelah mendengar Hana malah balik bertanya kepadanya. Ia tidak sadar jika dirinyalah yang membuat Hana terdiam dan tidak pokus pada perkataan darinya sendiri.
Rambut yang sedikit berantakan, jaket jeans yang melekat di badannya menutup sebagian kaos putih yang ia gunakan. Serta celana jeans rapids berwarna biru lusuh dan sepatu casual abu, helm yang digunakan nya berwarna hitam dan campuran hijau serta motor sport berwarna merah membuat sosok Roby terlihat sangat sempurna.
" Apa kau selalu melamun dimana saja, bagaimana kalau ada yang ingin menculikmu atau melecehkan mu. Apa kau tidak takut, jaman sekarang marak terjadi kejahatan yang banyak mengincar wanita terutama gadis. " Ucap Roby dengan kesal.
" Oh itu... Aku tadi hanya kaget saat mendengar suara yang tak asing lagi buat ku, tapi aku tidak ingat siapa orangnya. Namun setelah melihat kak Roby membuka helm, aku merasa benar dengan tebakan ku. " Jawab Hana dengan polos.
" Cih.. Apa-apa'an ini, dia bahkan tidak mengenali suaminya dengan baik. Istri macam apa yang ada dihadapan ku saat ini. " Gumam Roby sambil menatap Hana dengan ekspresi kesal.
" Ya sudah, ayok cepat naik. Hari ini aku sedang berbaik hati dan memberikan mu tumpangan, tapi bukan berarti diriku akan selalu mengajak mu bersama, karena hari ini pengecualian saja buat mu. " Ucap Roby sambil memalingkan wajahnya kearah lain.
Sebenarnya ia merasa malu, apalagi mengajak seorang gadis untuk ia bonceng. Karena Hana orang yang termasuk kedalam daftar pengecualian ditambah ia juga istrinya, jadi mau tidak mau ia harus mengenyampingkan egonya.
" Kak Roby mau ngajak siapa, disini cuman ada aku saja.. " Ucap Hana sambil menengok ke kanan dan kekiri untuk memastikan jika hanya ada dirinya disana.
" Lalu dari tadi aku berbicara dengan siapa Hana.. Ayok cepat naik, atau aku tinggal saja " Ucap Roby dengan wajah yang terlihat semakin kesal.
Padahal dirinya sedang menahan malu karena untuk pertama kalinya ia mengajak seorang gadis untuk ia bonceng, bahkan dulu dirinya tidak membiarkan mantan kekasihnya untuk ikut bersama. Namun melihat respon Hana yang terlihat acuh kepadanya, ia merasa terhempas karena dirinya sudah mempertaruhkan ego nya sendiri.
__ADS_1
Roby sudah siap dengan helm yang kini sudah menempel di kepalanya, ia juga sudah menyalakan kembali mesin motornya.
" Sebaiknya aku jalan kaki saja, kak Roby duluan aja. Lagian ini tinggal beberapa puluh meter lagi. " Jawab Hana dengan suara yang semakin melemah, ia hanya bisa pasrah menatap jalan yang akan ia lalui masih sangat jauh.
" Andai saja aku tidak takut, mungkin aku tidak akan kesusahan sedari dulu. " Ucap Hana dalam hatinya. Ia merasakan jika trauma yang ia alami selama ini sangat serius, hingga membuatnya merasa kesusahan dengan apa yang harus ia jalani setiap hari.
Hana kemudian melanjutkan perjalanan panjangnya dengan wajah lesu, apalagi dirinya baru pulang bekerja, lalu harus berhadapan dengan jalan yang ia sedang tempuh.
Roby yang sedari tadi menunggu merasa aneh karena Hana tidak menyahut perkataan nya, terlebih ia tidak merasakan ada pergerakan di belakang kemudinya. Karena bosan menunggu, ia akhirnya memberanikan diri untuk menatap kearah Hana. Namun sedetik kemudian, ia baru sadar jika Hana sudah tidak ada disana.
" Sial itu anak, kenapa dia bisa menghilang dengan cepat. Apa perkataan ku kurang jelas tadi, dia bahkan beraninya menolak ajakan ku yang tidak seorang pun terlepas dari pesona tampan ku ini. Hah... Siapa dia, berani sekali dia menjatuhkan harga diri dan ego ku seperti ini. " Ucap Roby dengan geram.
Ia tidak menyangka jika Hana menolak begitu saja tumpangan yang ia tawarkan. Hingga kedua matanya menemukan sosok yang sedang ia cari sudah berada jauh di depan nya.
Seketika Roby memacu motor sport nya hingga melewatkan Hana yang tengah berjalan sangat pelan. Sedangkan Hana hanya bisa menatap kepergian Roby dengan tatapan nanar. Ia hanya bisa pasrah menapaki setapak demi setapak jalan yang harus ia lalui.
Selang beberapa menit kemudian, ponsel Hana berdering dengan tas nya yang ikut bergetar. Hana kemudian membuka tas ransel untuk mengambil ponselnya, setelah berhasil, ia melihat notifikasi pesan di layar ponselnya itu.
From : Kak Roby
__ADS_1
"Jangan berjalan lelet kaya siput, jika kau tidak ingin kehujanan, maka berjalan lah seperti kembaran mu π "
Hana yang membacanya terlihat sangat kesal, ia tidak menyangka jika dirinya disamakaan dengan se ekor kuda.
" Memangnya kaki ku ada empat, kenapa aku di samakan dengan se ekor kuda. " Gerutu Hana dengan kesal.
Hana kemudian memandang kearah langit, ia melihat awan hitam sudah memenuhi langit dan angin berhembus cukup kencang. Untuk saat ini dirinya akan membenarkan perkataan Roby dan harus berlari agar tidak kehujanan.
Dengan tenaga yang tersisa, Hana berlari sepanjang trotoar dan berdoa sepanjang jalan agar hujan tidak turun sebelum ia sampai di rumah.
Setelah perjuangan yang sangat menguras tenaga, Hana sampai di depan gerbang rumahnya. Dengan nafas yang masih memburu dan kringat yang membasahi dahi dan kemeja yang ia pakai.
" Loh Non Hana kenapa..? " Tanya satpam yang membukakan gerbang saat dirinya melihat ada orang di depannya.
" Tadi aku habis lari pak, soalnya takut kehujanan jadi aku cepet-cepet buat bisa sampai sini. " Jawab Hana terbata-bata. Sesekali ia mencoba mengatur nafasnya dan merapikan hijab yang sedikit berantakan.
" Loh kok bisa lari, apa enggak di jemput aja sama supir. Atau enggak naik taksi Non, kenapa harus lari segala. " Ucap pak satpam sambil mempersilahkan Hana masuk sebelum dirinya menutup kembali pintu gerbangnya.
" Makasih ya pak, aku tidak terbiasa naik mobil pribadi atau naik sepeda motor. Aku sudah terbiasa naik angkutan umum, dan sayang nya angkutan umum cuman sampai persimpangan disana. " Ucap Hana sambil menjunjung kearah ia tadi datang.
__ADS_1
" Kalo gitu aku masuk dulu ya pak, mari.. " Kata Hana kembali berjalan menuju rumah.
" Astaghfirullah, apa Non Hana berjalan dari persimpangan jalan disana. Padahal jaraknya sangat jauh, kenapa dia gak mau naik mobil. Padahal keluarga tuan memiliki banyak kendaraan, aneh sih. Tapi aku salut sama Non Hana, dia sangat ramah dan terlihat sederhana. " ucap pak satpam sambil menggelengkan kepalanya.