
Sementara di sekolah, ketiga kawan Hana nampak sedang gelisah menunggu kedatangan Hana. Apalagi Alifa dan wahyu, sedari tadi mereka modar mandir gak jelas di depan pintu masuk. Bahkan Amira yang melihat itu sangat pusing, di tambah Ali sang ketua kelas yang tak tahu kemana perginya. Amira sedari tadi terus saja menghubungi nomor ponsel milik Hana, namun hal tersebut sia-sia dan nada panggilan nya tetap tidak tersambung. Ia juga sudah banyak mengirimkan pesan kepada Hana, namun hasilnya nihil dan tidak ada respon apapun.
" Kemana sih si emak, tumben banget dari semalam dia gak bales chatan aku. Ditelpon juga gak bisa, mana ini udah hampir masuk lagi. " Gerutu Alifa.
" Iya tumben banget si emak telat, biasanya dia yang paling rajin buat sekolah. Kalopun dia sakit, pasti ada surat buat keterangan yang dikirim kesekolah " kata wahyu.
" Mir, loe udah berhasil hubungin Hana. Gimana keadaannya sekarang? " tanya Alifa kepada Amira sambil teriak.
" Belum ada jawaban, dari tadi aku udah coba telpon tapi tetap gak tersambung. " Jawab Amira.
" Ngapain kalian mondar mandir kaya gitu, udah nyaingi setrikaan aja kalian ini. Sana duduk, sebentar lagi guru bakal dateng. " Ucap Ali saat masuk kedalam kelasnya.
" Eh Al, kita lagi nungguin si mak loe malah sewot bandingin kita sama setrikaan. Loe gak sadar apa mak kita belum dateng, loe sebagai wali kelas gak guna amat sih. " Jawab Alifa dengan sewot.
" Entah Al, gak tau apa kita lagi cemas sama si emak. Loe emang bukan tipe teman sejati, temen sendiri aja gak di peduliin. " Ucap Wahyu juga, ia merasa kesal terhadap Ali yang acuh kepada teman sekelasnya sendiri.
" Lah mana gue tau, gue aja baru masuk ke kelas. Emang si emak kemana, tumben dia gak masuk. Biasanya kalo ada sesuatu dia suka ngirim surat ke guru piket, emangnya kalian belum ngehubungi si emak?. " Tanya Ali penasaran.
" Seharusnya gue yang nanya sama loe Al, loe kan ketua kelasnya. Masa loe malah nanya sama rakyat loe sih " Ucap Alifa dengan kesal.
__ADS_1
" Ya gue juga lagi sibuk Lif, loe tau sendiri kan kalo gue anggota OSIS. Gue sama yang lain lagi sibuk buat acara sertijab yang tinggal beberapa hari lagi, seharusnya kalian bantuin gue dan nyari tahu sendiri ke kantor, bukannya malah nungguin gue yang lagi sibuk. " Ucap Ali menjelaskan.
" Ya udahlah, entar kita hubungin lagi si Hana. Kalo masih gak bisa di hubungi juga, balik sekolah kita mampir ke rumah kost'an nya. Siapa tahu dia lagi sakit atau kenapa-napa " Ucap Ali dengan tenang.
Akhirnya Ali pergi menuju meja tempat ia duduk, begitupun dengan Alifa dan Wahyu yang ikut menyusul Ali untuk duduk di meja mereka masing-masing. Tak lama kemudian guru yang mengajar pun datang memasuki kelas itu, mereka kini sedang pokus untuk belajar mata pelajaran pagi itu.
Kembali lagi ke rumah sakit, saat ini Hana sedang di periksa oleh dokter. Nisa tidak bisa tinggal lebih lama disana, karena ia juga harus menemani sang suami di ruangan yang lain. Hana mengerti dengan keadaan Nisa, untuk itu dia tidak menghalangi kepergiannya. Padahal Hana sangat senang karena ada teman yang bisa menemaninya disana.
" Untuk pemeriksaan selanjutnya, aku akan mengambil poto rontgen. Karena semalam kita belum mengambil tes untuk keadaan tangan mu, mungkin pemeriksaan besok pagi baru kita lakukan. " Ucap sang dokter kepada Hana.
" Baiklah dok, apa tangan ku masih bisa sembuh dan bisa di gunakan seperti biasanya?. " Tanya Hana gelisah.
" Dan satu lagi, kau harus beristirahat dengan cukup dan jangan banyak fikiran. Karena jika kau tertekan atau mengalami stress, maka fase penyembuhannya akan terganggu. " Tambahnya lagi.
" Baiklah dok, terimakasih atas sarannya. " Ucap Hana sambil tersenyum.
" Baiklah, kalo begitu aku akan pergi dan akan kembali lagi nanti untuk memeriksa dirimu lagi. Sampai jumpa kembali " Kata dokter sambil pergi keluar ruangan diikuti sang suster di belakangnya.
Setelah kepergian sang dokter, Hana kembali melamun dan menatap sebelah tangannya yang di balut gips. Pandangannya beralih menuju jendela yang menghadap kearah taman, ia melihat salah satu pasien seorang anak-anak yang sedang berbincang dengan ayah dan ibunya. Hana hanya bisa tersenyum dengan air mata yang menetes dan membasahi kedua pipinya.
__ADS_1
Tak lama kemudian suara pintu ruangan yang terbuka mengalihkan perhatian Hana, ia dengan cepat menyeka air matanya dan menetralkan suasana disana.
" Apa ada sesuatu yang tertinggal pak dokter?. " Ucap Hana dengan spontan, ia bahkan tidak melihat terlebih dahulu siapa yang masuk kedalam ruangan tempat ia diam.
Merasa tak ada jawaban, Hana kemudian berbalik dengan cepat dan melihat siapa yang datang untuk menemuinya. Hana begitu terkejut saat melihat orang yang baru saja masuk itu, terlihat dari raut wajahnya yang sangat ketakutan dengan mata yang membulat dan mulut terbuka.
" K... Kau... M.. Maksudku, ada apa kau datang kemari. A.. Aku tidak melakukan apapun, dan apa yang sedang kau lakukan disini?. " Ucap Hana dengan gemetar.
Orang yang di maksud Hana terlihat berjalan mendekati brangkar dan terus semakin mendekati nya, begitupun dengan Hana yang dengan repleks mengikuti gerakan orang itu dengan bergerak mundur. Namun sayang sekali, Hana terpojok karena semakin ia bergerak mundur, ia akan jatuh kebawah karena berada di tepian brangkar.
" Kenapa, apa aku salah mengunjungimu. Maksudku mengunjungi orang yang sudah membuat Papa ku dalam keadaan koma, apa ada larangan untuk hal itu.? " Tanya orang tersebut yang tak lain adalah Roby, ia terlihat sangat tampan walau masih ada bekas lebam di sudut pelipisnya. Dan jangan lupa ekspresi datar dan cuek nya yang selalu ia pasang, tapi tetap saja ia terlihat sangat menawan walau memasang ekspresi seperti itu.
" T.. Tidak, maksudku... Tentu saja tak akan ada yang melarang mu untuk berkunjung Kak Roby. " Jawab Hana dengan gugup.
" Hah... Kau bahkan sudah berani menyebutkan nama-Ku, lalu apa lagi yang akan kau lakukan besoknya lagi. " Ucap Roby dengan senyum smirk nya, ia juga semakin mendekatkan dirinya dengan Hana. Bahkan saat ini wajah mereka sangat dekat karena Roby dengan sengaja mendekati Hana, namun Hana terlihat semakin gelisah dan ketakutan terhadap perlakuan Roby.
" A.. Apa yang sedang kau lakukan, tidak baik jika kau terlalu dekat dengan ku. Kita bukan mukhrim dan agama melarang nya, a..aku harap kau mengerti maksudku. " Kata Hana dengan gemetar.
__________________________________________
__ADS_1
see next chapter..