Antara Cinta Dan Obsesi

Antara Cinta Dan Obsesi
ACDO Bab. 9


__ADS_3

Bab. 9


Tersenyum lebar, Agatha merasa puas dengan hasil yang diberikan. Ia memainkan rambutnya di depan cermin dengan sumringah.


"Waaah ... Ternyata benar ya, hasilnya memuaskan. Saya suka dengan tatanan rambutnya." Agatha memuji hasil kerja tangan Areta.


Areta pun tersenyum, ikut senang melihat pelanggannya senang. Salon Areta tak hanya melayani creambath, tetapi juga tata rias rambut. Kecuali potong rambut. Karena Areta tidak memiliki keahlian di bidang itu. Salonnya juga hanya membuka jasa mewarnai rambut, manicure pedicure, sulam alis, facial, dan jenis perawatan kecantikan lainnya.


Terkadang juga ada yang meminta untuk di make up. Namun Areta tak membuka jasa layanan make up artist. Areta hanya melakukannya jika ada yang meminta. Sebab ia bukan seorang MUA profesional. Areta hanya dibantu oleh dua orang karyawannya. Sebab penghasilan salonnya tak sanggup menggaji lebih banyak karyawan lagi.


"Terimakasih, Bu Agata," ucap Areta.


"Oh ya, sudah berapa lama salon kamu ini beroperasi?"


"Baru dua tahunan, Bu. Saya memulainya dengan modal kecil-kecilan."


"Saya jadi salut sama kamu. Kamu kelihatannya pekerja keras ya? Maaf, saya mau tanya kamu sudah punya pacar?" Entah mengapa Agatha tiba-tiba menanyakan hal itu. Sedari tadi, ketika Areta mengeringkan hingga menata rambutnya, sesekali ia mengintip Areta dari cermin.


Agatha menilai Areta memiliki paras yang cantik dibalik kesederhanaannya. Baik dalam bersikap, dalam bertutur, maupun dalam hal berpenampilan. Membuat Agatha sedikit menaruh kekaguman terhadap wanita itu.


Areta tertawa kecil mendengar pertanyaan Agatha. Sebab bukan baru kali ini ada yang bertanya demikian kepadanya. Banyak yang mengira ia wanita lajang. Padahal ia sudah berkeluarga dan memiliki satu anak.


"Saya ini su_"


"Mah?" Suara bariton seorang pria menyela ucapan Areta tiba-tiba.


Sontak Areta dan Agatha menoleh ke arah sumber suara berasal.


"Cepat sekali sampainya?" Agatha terkejut tak percaya. Padahal baru beberapa menit lalu ia share lokasi salon Areta kepada ke nomor Henry. Tak disangka Henry malah secepat kilat tiba di lokasi.


Berbanding terbalik dengan Areta. Yang justru berkerut dahi ketika melihat Henry yang datang menghampiri. Wajah yang familiar, namun Areta sedikit lupa di mana ia bertemu. Sampai detik kemudian ia pum teringat dengan si supir taksi online yang mengantarnya ke rumah sakit tempo hari.


"Kebetulan jalanan sepi, Mah." Henry berkilah. Padahal ia memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi. Menyalip gesit setiap kendaraan di depannya, saking bersemangatnya ingin bertemu Areta.


"Oh ya? Setahu Mama jalanan ke arah sini itu macet.  Tadi saja Mama nyampenya hampir sejam loh." Agatha tak percaya. Matanya memicing tajam memperhatikan gelagat sang putra yang terlihat sedikit salah tingkah. Serta lirikan matanya yang sesekali terarah kepada Areta. Tepatnya sedang mencuri-curi pandang.


"Itu kan tadi. Nah sekarang lancar." Henry tak kehilangan alasan demi menutupi gelagatnya.


Sementara Areta, diam saja memandangi ibu dan anak itu bergantian. Areta langsung menoleh ketika tanpa sengaja bertemu tatap dengan sepasang mata Henry.

__ADS_1


Sedangkan Henry menyembunyikan senyumnya ketika Areta kedapatan menatapnya, lalu menoleh untuk menghindari bertatapan dengannya.


"Oh ya, saya mau bayar ini. Berapa ya kira-kira?" tanya Agatha kepada Areta.


"Bu Agatha silahkan ke kasir saja langsung. Saya akan melayani Bu Agatha di meja kasir."


"Oh iya. Ayuk!" Agatha pun mengikuti Areta menuju ke meja kasir. Disusul oleh Henry kemudian.


Di meja kasir itu Agatha melakukan pembayaran yang dilayani langsung oleh Areta. Dan ditatap langsung oleh Henry. Pandangan Henry tak beralih sedikit pun dari wajah Areta. Membuat wanita itu salah tingkah dan risih.


"Waaah ... Ternyata murah ya? Bagus lagi. Hasilnya memuaskan. Tapi, apa kamu tidak merasa rugi dengan harga segitu?"


Areta mengulum senyumnya. Membuat Henry terpana seketika. Bukan hanya terlihat lebih dewasa, namun Areta justru lebih memikat. Membuat hatinya berdebar hebat.


"Tidak, Bu."


"Tapi sayang loh. Kalau harganya kamu naikkan sedikit, keuntungannya bisa kamu gunakan untuk merenovasi tempat kamu ini. Kamu bisa membuat salon kamu ini jadi lebih bagus lagi. Maaf ya, saya tidak bermaksud menyinggung." Agatha tersenyum sungkan. Wajar jika ia berkata demikian. Sebab salon Areta masih terlihat kurang berkelas. Jika ditilik sekilas, masih kurang meyakinkan. Menurut Agatha, yang sudah terbiasa mendatangi salon-salon mewah.


"Tidak apa-apa, Bu. Salon saya ini memang cuma salon sederhana, khusus buat kalangan menengah ke bawah. Kedatangan Bu Agatha ke salon saya ini, sungguh merupakan kebanggaan tersendiri buat saya. Saya hanya tidak menyangka, orang seperti Bu Agatha ini mau melakukan perawatan di salon saya."


"Wah ... Saya kok jadi tidak enak hati ya sama kamu. Tapi, jujur. Hasilnya memuaskan. Saya sangat puas dengan pelayanan kamu."


"Terimakasih, Bu."


"Waaah ... Terimakasih banyak, Bu Agatha. Saya tersanjung dengan kebaikan Bu Agatha."


"Sama-sama. Saya permisi dulu. Ayo Hen, kita pulang." Agatha hendak beranjak. Namun urung saat melihat Henry mematung di tempatnya, tak menggubris ajakannya.


Agatha memicing, menelisik keadaan Henry yang seperti patung lilin. Menatap tak berkedip ke arah Areta. Di bibirnya bahkan terukir senyum tipis.


Sedangkan Areta terlihat risih dan salah tingkah ditatap lekat seperti itu oleh Henry. Areta membuang muka sungkan sembari mengusap tengkuk. Dari gelagat itu, Agatha bisa menyimpulkan jika Areta sedang menghindari tatapan Henry.


PUK


Agatha menepuk kuat lengan Henry sembari berkata.


"Henry, kita pulang sekarang."


Henry pun tersentak, gelagapan, lalu menyahuti asal ajakan ibunya.

__ADS_1


"Eh, iya cantik."


Agatha terkejut, mengerutkan dahinya bingung.


"Cantik? Sejak kapan kamu manggil Mama cantik?" telisik Agatha menatap curiga sang putra yang terlihat salah tingkah. Berkali-kali membasahi bibir, juga mengusap tengkuk gugup.


"Emm ... Itu ... Rambut Mama cantik. Aku juga mau creambath. Mama udah mau pulang kan? Ya udah, Mama pulang aja dulu. Aku mau creambath dulu. Kebetulan dari kemarin aku belum keramas." Henry benar-benar gugup dibuatnya. Dan hanya itu alasan yang terlintas cepat di benaknya. Saking ia tak ingin kehilangan kesempatan untuk berada dekat dengan Areta.


"Bukannya kamu setiap hari keramas? Setahu Mama kamu tidak pernah melupakan ritual mandi kamu yang satu itu."


Henry semakin salah tingkah. Ia mencoba memberi kode kepada Agatha melalui kerlingan matanya. Meminta Agatha untuk tidak berkata apa-apa lagi. Dan sebaiknya Agatha segera pergi dari salon itu.


Namun agaknya Agatha tidak menangkap maksud Henry. Sehingga membuat Henry harus menyeret sang mama. Membawanya menjauh sebentar dari Areta. Lalu setengah berbisik ia berkata,


"Mama sebaiknya pulang deh. Aku masih ada urusan di sini," usirnya telak.


Agatha pun memicing curiga. "Mama tahu nih. Dari gelagatnya Mama tahu nih kenapa kamu nyuruh Mama pulang." Sembari Agatha melirik-lirik Areta yang masih berdiri di balik meja kasir.


"Mama apaan sih? Jangan main curiga-curigaan deh. Aku tuh ke sini emang mau creambath. Memangnya tidak boleh?"


"Creambath apa creambath? Ayo?" Agatha malah meledek. Membuat Henry kesal, lalu mendorong wanita itu sampai ke pintu.


"Pulang ya? Pulang!" Henry melambaikan tangannya saat Agatha memasuki mobilnya.


...


Menghembuskan napasnya lega, Areta akhirnya bisa sedikit leluasa. Merasa terbebas dari sepasang sorot mata tajam yang menghujamnya dengan tatapan menikam sejak tadi.


Areta dibuat hampir tak bisa bernapas dan tak bisa bergerak ketika sepasang mata Henry terus menatapnya sejak tadi.


Melihat wajah Henry sekilas, Areta merasa familiar. Bukan saat mereka bertemu tanpa sengaja, ketika Areta mengira Henry adalah supir taksi online. Tetapi Areta merasa seolah pernah melihat Henry jauh sebelumnya. Namun entah di mana.


Tak ingin membuang waktu dengan memikirkan hal yang percuma, Areta pun hendak ke ruangannya. Saat terdengar suara bariton seorang pria memanggil namanya.


"Areta."


Sontak Areta pun menoleh. Sorot matanya bertemu tatap dengan sorot mata Henry seketika. Membuat Areta menelan salivanya tanpa sadar, lagi-lagi tatapan mata Henry serasa membuatnya membeku.


"Maaf, ada yang bisa saya bantu?"

__ADS_1


"Bisa kita bicara sebentar?"


*


__ADS_2