
Bab. 13
Usai rapat Henry bergegas, beranjak lebih dulu dari ruang rapat. Ia bahkan meninta Fabian untuk menghandle sebentar semua urusan yang berhubungan dengannya.
Hati kecil Henry tergerak, ingin menemui Areta. Henry ingin menyusul Areta ke rumah sakit, dengan dalih ingin membesuk anak Areta yang sedang sakit. Tiba-tiba saja ia mendapatkan ide itu kala ia termenung ditengah rapat. Untuk itulah rapat segera ia akhiri dan tergesa-gesa ia mengayunkan langkahnya meninggalkan ruang rapat.
Namun begitu tiba di lobi, sepasang netranya menangkap sosok familiar tengah berdiri gelisah di depan resepsionis. Tak perlu menajamkan penglihatan, dalam sekali lirik saja, ia sudah bisa mengenali sosok itu. Sebab bayang-bayang sosok itu tak pernah lepas dari pelupuk matanya.
Tak bermaksud lancang, terdorong oleh keinginan hati, Henry mengintip sejenak sepasang suami istri yang tengah beradu argumen di selasar gedung itu. Angga dan Areta.
Angga terlihat sedikit emosi. Sedangkan Areta terlihat memelas juga sedih. Dari bahasa tubuh serta mimik wajah yang tampak, Henry bisa menyimpulkan bahwa kemungkinan Angga dan Areta tengah bertengkar saat ini.
Dan pertengkaran suami istri itu justru memantik amarah dalam dirinya ketika melihat posisi Areta yang seolah tersudutkan. Bahkan yang sering dipersalahkan.
"Ga, kondisi Rosa akan semakin memburuk jika tidak segera dioperasi." Areta berkata, setengah menahan emosi. Juga kecewa, sebab belakangan Angga mulai berubah. Entah apa sebabnya. Padahal putrinya saat ini sedang sakit parah.
"Iya. Aku tahu. Tapi tolong jangan minta aku untuk kasbon di kantor. Apalagi meminjam." Angga terlihat kesal. Namun masih berusaha meletakkan kewarasan pada tempatnya. Permintaan Areta tak hanya menyulut emosinya saja, tetapi juga melukai harga dirinya sebagai lelaki.
Dan lagipula, mana mungkin Angga menjatuhkan imagenya di depan Mega. Yang telah mematok standar tinggi dalam kriteria pria idamannya.
"Aku akan cari jalan lain untuk mendapatkan uangnya. Kamu tidak usah cemas. Sebaiknya fokuskan perhatian kamu sama Rosa. Pulang kantor ini, aku akan mampir ke rumah sakit," ucap Angga cemas. Sebagai seorang ayah, sejujurnya ia juga khawatir bahkan takut jika terjadi sesuatu yang buruk pada Rosa. Mengingat anak itu usianya baru lima tahun.
"Beneran kamu bakal jenguk Rosa?"
"Iya. Apa kamu pikir aku tidak menyayangi Rosa? Bagaimanapun aku ayahnya. Sudah, sekarang kamu pulang. Bukannya kamu harus aplaus dengan Ibu?"
Areta meniupkan napasnya pelan. Lagi-lagi hanya bisa pasrah dan menurut saja dengan perkataan Angga.
"Tapi, Ga. Biaya operasinya harus segera dilunasi," ucap Areta.
"Iya, aku tahu. Akan aku usahakan. Ya sudah, kamu pulang. Kasihan Rosa kamu tinggal lama-lama." Sembari Angga celingukan, seolah tengah memperhatikan situasi.
Angga hanya berjaga-jaga saja jangan sampai Mega melihat ia disambangi istrinya ke kantor. Hal itu tentu saja akan membuatnya malu. Dan disaat ia mendekati Mega, wanita itu mungkin akan merasa risih bahkan tak mau meliriknya sama sekali. Yang pada akhirnya akan membuatnya kesulitan mendekati wanita itu.
Areta pun hanya bisa menurut. Lagi dan lagi. Berjalan kaki menyusuri trotoar jalan, pikiran Areta bercabang-cabang. Jujur saja, bukan hanya dirundung duka akan kondisi kesehatan Rosa. Areta bahkan didera ketakutan yang sangat, kekhawatiran yang merajai hati dan pikirannya. Berharap agar sesuatu yang buruk tidak terjadi pada Rosa.
Menghentikan langkahnya di bawah pohon rindang, Areta bermaksud menunggu angkutan kota yang lewat. Namun bukannya angkot atau sejenisnya, yang berhenti di depannya adalah sebuah fortuner hitam.
__ADS_1
Areta mengerutkan dahinya ketika kaca jendela diturunkan. Seorang pria tampan dibalik kemudi itu tengah tersenyum kepadanya.
Henry.
"Ayo naik, aku antar." Henry berkata setengah berteriak.
"Tidak, terimakasih. Biar saya pesan taksi saja," tolak Areta sungkan. Tanpa bermaksud menyinggung.
"Ayolah, tidak perlu sungkan. Bukankah kita teman sekolah dulu?"
Areta tampak berpikir. Sebetulnya ia tak nyaman menumpang pada pria itu. Menolaknya untuk kedua kali pun, mungkin pria itu akan kembali memaksa.
"Nunggu angkot di sini tuh lama. Bisa-bisa nanti malah sampe sore kamu berdiri di situ," kata Henry.
"Tidak apa-apa. Lagi pula sekarang kan banyak taksi online. Aku bisa pesan taksi online. Tapi makasih atas tawarannya."
Henry tidak menanggapi lagi. Namun pria itu justru turun dari mobilnya. Lalu datang menghampiri Areta. Bahkan tanpa permisi juga lancang, pria itu meraih pergelangan Areta. Membawanya mendekati mobil, lalu hendak membuka pintu mobil saat Areta menarik tangannya dari genggaman Henry.
"Sorry, sorry. Aku tidak bermaksud lancang," ucap Henry.
"Saya sudah menolak kenapa Anda malah memaksa?" sahut Areta ketus. Kesal atas sikap lancang Henry. Yang berlaku seolah mereka dekat saja.
Areta pun menengadahkan kepalanya. Memandangi langit di mana sekumpulan awan mulai menggelap. Apa yang dikatakan Henry memang benar. Sebentar lagi mungkin akan turun hujan. Lalu apakah ia akan tetap berdiri di bawah pohon ini sampai hujan turun atau ia terima saja tawaran Henry?
Sementara ia harus segera sampai di rumah sakit. Sebab ia harus aplaus jaga dengan Wirda. Dua jam lalu ia hanya meminta waktu sebentar pada Wirda dengan alasan ingin pergi ke ATM untuk mengambil sisa tabungannya. Tetapi malah ia pergi mendatangi Angga di kantornya.
Tiba-tiba saja gemuruh guntur terdengar. Membuat Areta tersentak kaget. Ia pun mulai berpikir, jika ia terlalu lama mengambil keputusan, bisa-bisa ia basah kuyup saat tiba di rumah sakit nanti. Sementara ia tidak membawa pakaian ganti.
"Baiklah jika memang kamu tidak mau. Aku tidak akan memaksa," ucap Henry berlagak menyerah. Namun sebetulnya dalam hati ingin sekali ia menyeret paksa wanita itu.
Henry pun memutar tubuh, hendak naik kembali ke mobilnya saat Areta tiba-tiba Areta berkata,
"Baiklah. Saya ikut dengan Anda." Sungkan Areta berkata. Meski dulu mereka satu sekolah, tetapi kini Henry adalah atasan suaminya di kantor. Bagaimanapun ia harus menjaga kesantunan tutur dan sikapnya kepada pria itu.
Henry terlihat sumringah, senang bukan main. Bisa semobil berdua dengan Areta itu adalah momen yang membuatnya berdebar-debar. Hanya semobil, namun kebahagiaan Henry seperti baru menang lotere saja. Bagaimana jika seandainya ia bisa memiliki Areta?
Mungkin seluruh kebahagiaan di dunia ini ada padanya.
__ADS_1
Mungkin.
Namun takdir siapa yang tahu.
Dan satu kegilaan yang sempat terbersit di benak Henry baru-baru ini. Andai saja ia bisa merubah takdir, ia ingin Areta ditakdirkan untuknya.
Ya.
Untuknya seorang.
...
Mendorong daun pintu ruang perawatan Rosa, Areta lantas membawa langkahnya masuk. Berusaha derap langkahnya tak menimbulkan suara bising yang nantinya akan membangunkan Rosa.
Wirda yang tengah menunggu sedari tadi pun memasang wajah masamnya seketika begitu Areta masuk.
"Kok lama amat sih? Katanya cuma mau ke ATM, tapi ini sudah hampir tiga jam," omel Wirda, kesal bukan main.
"Maaf, Bu. Tadi antriannya panjang."
"Kan bisa cari ATM lain." Dan kekesalan Wirda pun bertambah ketika dilihatnya seorang pria tampan nan rupawan masuk ke ruangan.
"Kamu bukannya pergi ke ATM? Kok pulang-pulang bawa laki-laki? Pantesan lama ya, ternyata kamu_"
"Maaf, kalau kedatangan saya mengganggu. Kenalkan Bu, saya Henry."
Omelan Wirda terhenti kala Henry mengulurkan tangannya memperkenalkan diri. Henry mengulas senyum ramahnya demi meredam amarah serta prasangka Wirda terhadap Areta.
Wirda terlihat enggan meraih uluran tangan Henry. Dan malah menghadiahi pria tampan itu dengan tatapan sinis tak ramah.
Henry pun kembali mengulum senyumnya.
"Kamu ini siapanya Areta? Selingkuhannya?" sinis Wirda bertanya.
"Bukan," jawab Henry tegas. Namun hati sejujurnya ingin demikian, andaikata diperbolehkan.
"Saya Henry Adiswara. Presiden Direktur Dreams Food, atasan Angga di kantor," sambung Henry, memukul telak kesombongan Wirda.
__ADS_1
Dan Wirda pun terperangah. Sama hal nya dengan Areta. Yang tak menyangka ternyata Henry bukan orang sembarangan. Semula ia mengira Henry mungkin hanyalah manajer di kantor. Namun ternyata pria itu memiliki kekuasaan yang jauh lebih tinggi.
*