Antara Cinta Dan Obsesi

Antara Cinta Dan Obsesi
ACDO Bab. 42


__ADS_3

Bab. 42


Refleks Areta memalingkan muka ketika Henry membunuh jarak, hendak mencumbu bibirnya. Gerakan tanpa sengaja itu terdorong oleh rasa tak sukanya kepada Henry. Yang memang ia tak memiliki perasaan apapun terhadap pria itu.


Henry menghela napas, mencoba menguasai amarah yang mulai merasuk ketika menerima penolakan dari Areta. Tak menampik, ada perasaan kecewa dalam dada yang mulai memantik api amarahnya dengan penolakan secara terus menerus dari wanita yang teramat diinginkannya itu. Rahangnya mengetat, gemeletuk gerahamnya terdengar. Sebagai penanda ada amarah yang berusaha ia redam. Agar tak meledak, lalu mengacaukan segalanya.


Rangkulan tangannya di pinggang Areta pun dilepasnya. Lantas ia mengambil satu langkah mundur, memberi ruang bagi Areta untuk kenyamanannya.


"Baiklah, Areta. Apa yang kamu inginkan," ujar Henry, berdiri tegak menyelipkan kedua tangannya ke dalam saku celana. Sorot matanya tajam menghunus Areta. Terbawa oleh kekecewaannya yang ikut menyakiti hati dan perasaannya. Ia mengira akan mudah menaklukkan Areta, sebab wanita menyukai perlakuan lembut juga kepedulian serta perhatian dari lawan jenis. Tetapi kenyataannya, Areta berbeda.


Areta menghela napasnya panjang, sebelum akhirnya menoleh, membalas tatapan tajam Henry. Ia menelan ludah, mengumpulkan keberaniannya.


"Aku hanya ingin tahu apa tujuan kamu menikahi aku?" tanyanya.


"Untuk memiliki kamu," sahut Henry jujur. Karena memang tak perlu ada yang ditutup-tutupi. Toh sekarang Areta sudah menjadi miliknya.


"Kenapa?"


"Karena aku mencintai kamu. Aku cinta sama kamu, Areta." Henry berkata dengan penuh penuh penekanan di setiap kata pada kalimat terakhirnya untuk meyakinkan Areta. Bahwa ia menikahi Areta bukan sekedar obsesinya semata. Tetapi karena memang perasaannya terhadap Areta nyata adanya.


Areta menggeleng pelan.


"Tidak. Kamu tidak mencintai aku. Kamu hanya terobsesi padaku. Dan perasaan itu bukan cinta," balasnya memberanikan diri menatap Henry.


Dan Henry malah tersenyum miring.


"Kata siapa? Perasaan yang aku rasakan sama kamu ini sudah bertahun-tahun aku pendam. Dan ini bukan obsesi Areta, tapi perasaan yang mendalam. Karena cintaku sama kamu sangat besar Areta."


"Kalau begitu kamu tentu bisa menerima Rosa dalam hidup kamu. Karena Rosa adalah bagian dari diriku. Mencintai seseorang berarti menerima segala kekurangan yang dimiliki orang itu."

__ADS_1


Henry mendesahkan napasnya pelan. Bukannya tak suka dengan kehadiran Rosa diantara mereka. Ia hanya ingin memiliki lebih banyak waktu saja berdua bersama Areta. Dan kehadiran Rosa mungkin akan menjadi pengganggu. Bukankah lebih baik jika gadis kecil itu tinggal bersama ayah dan neneknya saja?


Lagipula gadis kecil itu kemungkinan tidak akan merasa nyaman tinggal bersama orang asing yang baru ditemuinya. Terlebih lagi gadis kecil itu memiliki riwayat penyakit jantung. Dan kenyataan akan hubungan kedua orang tuanya itu akan menjadi masalah baru bagi kesehatan jantungnya. Masih untung ia bersedia membiayai pengobatan gadis kecil itu, tak peduli berapapun nominalnya. Yang ia inginkan dalam hidupnya hanya Areta.


"Rosa adalah putriku. Dia adalah bagian dari diriku. Kalau kamu benar mencintaiku, seharusnya kamu juga bisa menerima kekurangan aku. Termasuk menerima Rosa dalam hidup kamu. Aku ini bukan seorang gadis yang kamu nikahi. Aku ini adalah wanita yang sudah bersuami, yang kamu rebut secara paksa dengan memanfaatkan keadaan. Dan seharusnya kamu beritahu keluarga kamu siapa aku ini sebenarnya," tambah Areta.


Membuat Henry mengetatkan rahangnya geram. Namun tak ingin begitu saja tersulut amarah. Sebab ia tak ingin menyakiti wanita yang dicintainya. Karena terus terang saja ia tak punya keinginan untuk membawa Rosa tinggal bersamanya. Bukannya ia tak menyukai anak kecil, ia hanya tak ingin direpotkan oleh anak kecil. Apalagi disaat ia sedang ingin memiliki waktu yang berkualitas bersama Areta.


...


Sementara di lain tempat.


"Sayang, menurut kamu hadiah apa yang cocok aku kasih ke Henry sebagai hadiah pernikahannya. Apa aku carikan saja dia WO yang bagus untuk resepsi?" Hera bertanya sembari menaruh secangkir teh hangat di meja, di depan Nino yang sedang memeriksa sebuah laporan kesehatan milik seorang pasiennya di  rumahnya.


Hari ini Nino sedang ada jadwal operasi. Untuk itu, sebelum melakukan operasi terlebih dahulu ia mempelajari kembali riwayat penyakit si pasien.


"Apa saja yang menurut kamu bagus," sahut Nino tanpa mengalihkan pandangannya dari berkas di tangannya.


"Honey moon selama sebulan? Aku rasa istrinya tidak akan bisa."


"Loh, memangnya kenapa?"


"Areta itu punya anak penderita penyakit jantung. Kondisinya harus selalu diwaspadai. Aku rasa Areta tidak akan mau pergi jauh dari anaknya."


"Apa kamu bilang? Areta punya anak?" Hera sangat terkejut. Ekspresi wajahnya tegang menatap Nino.


Tanpa sadar Nino berkata demikian kepada Hera yang tidak tahu menahu tentang Areta. Nino refleks saja mengatakan itu, karena ia mengira Hera dan Agatha sudah mengenal Areta dengan baik.


"Kenapa kamu terkejut seperti itu? Aku pikir kalian sudah kenal Areta." Nino malah kebingungan melihat ekspresi Hera yang terkejut luar biasa itu.

__ADS_1


Hera lantas mengambil duduk di depan Nino. Menatap tajam pria berkaca mata itu dengan dahi berkerut.


"Jadi selama ini kamu kenal Areta? Henry tidak cerita apa-apa tentang Areta. Dia hanya bilang kalau Areta itu yatim piatu. Dari yang aku lihat, Areta itu perempuan baik-baik. Dia cantik, ramah, sopan. Tapi Henry tidak pernah cerita kalau Areta itu sudah punya anak."


Nino pun salah tingkah dibuatnya. Rupanya ia telah salah mengira. Jika Hera saja tidak tahu tentang Areta, berarti Agatha juga tidak kenal siapa Areta. Henry adalah putra satu-satunya penerus keluarga Adiswara. Tentu saja Agatha menginginkan jodoh terbaik untuk keluarganya. Nino menggaruk tengkuknya. Kenapa ia sampai melupakan hal itu?


"Sayang, jawab pertanyaan aku. Sudah berapa lama kamu kenal Areta?" tanya Hera kembali menuntut jawaban. Sebab kenyataan Areta bertentangan dengan kriteria keluarganya. Agatha juga dirinya tak pernah menginginkan Henry menikahi wanita yang sudah mempunyai anak. Apalagi Agatha kerap kali membanggakan Henry di depan teman-teman sosialitanya. Dan kenyataan tentang Areta adalah hal yang memalukan bagi keluarganya.


Nino menelan ludah, menggaruk tengkuknya sekali lagi, lantas membetulkan kaca matanya.


"Areta itu baru bercerai dari suaminya. Dia punya satu anak perempuan yang menderita penyakit jantung. Anak itu adalah salah satu pasien aku. Dan Henry yang membiayai pengobatan anak itu." Nino menerangkan.


"Apa kamu bilang?" Dan disaat bersamaan Agatha tiba-tiba saja sudah berdiri di seberang dengan wajah penuh tanya.


Sontak Nino dan Hera pun menoleh ke arah sumber suara.


...


Bersandar punggung sambil memejamkan mata, Henry tengah memikirkan serta menimbang permintaan Areta untuk membawa serta Rosa tinggal bersamanya di kediaman Adiswara.


Bukannya tak ingin, hanya saja ia belum mengatakan kebenaran Areta kepada keluarganya. Ia sadar suatu hari nanti ia harus membuka jati diri Areta di depan keluarganya tanpa ada yang ditutup-tutupi. Hanya saja sampai detik ini ia masih belum bisa merebut hati Areta. Ia khawatir, jika Agatha memintanya untuk berpisah dari Areta nanti ketika Agatha tahu tentang Areta, dan Areta tidak akan keberatan melakukannya.


Hal itulah tang sedang ia hindari. Ia hanya sedang menunggu waktu yang tepat saja. Ia ingin ketika keluarganya mengetahui kebenaran tentang Areta, disaat itu Areta sudah membuka hati untuknya juga sudah menerimanya sebagai suaminya.


Mana mungkin juga ia rela Areta pergi dari hidupnya begitu saja. Susah payah ia mendapatkan Areta, bahkan ia harus mengubah dirinya menjadi seorang bangssatt hanya demi mendapatkan wanita itu. Tentu saja ia tak ingin kehilangannya.


Ia tengah dilambungkan khayalannya tentang hubungannya dengan Areta, saat tiba-tiba terdengar suara derit pintu terbuka. Disusul suara seorang wanita yang berseru kepadanya.


"Kenapa kamu tidak cerita ke Mama sejak awal Henry." Agatha telah berdiri di ambang pintu ruangan Henry dengan raut wajah yang sulit dijabarkan.

__ADS_1


*


__ADS_2