Antara Cinta Dan Obsesi

Antara Cinta Dan Obsesi
ACDO Bab. 31


__ADS_3

Bab. 31


Berdiri di depan wastafel, Areta memaku tatapan pantulan wajahnya pada cermin wastafel itu. Bayangan Henry mengecup keningnya melintasi benaknya. Bayangan yang membuatnya jijik. Kesal mengingat perbuatan Henry yang mengecup keningnya sembarangan, Areta lantas membuka keran, membasuh wajahnya berulang-ulang kali. Berharap bekas bibir Henry terhapus oleh air.


Keluar dari kamar mandi, Areta dikejutkan oleh bunyi bel pintu. Lekas ia melangkahkan kakinya menuju pintu. Lalu membuka pintu itu.


"Selamat sore Bu Areta." Seorang perempuan menyapanya dengan senyuman terukir lebar. Ditangan perempuan itu menggantung sebuah gaun mewah berwarna hitam panjang. Sementara satu tangannya yang lain menggeret sebuah koper berukuran cukup besar. Juga sebuah paper bag berlogo Olive Galery.


"Saya Desi, pegawai Olive Galery. Saya diperintahkan langsung oleh Bu Olivia untuk mendandani Bu Areta." Desi berujar sebelum Areta sempat melayangkan tanya.


"Apa saya bisa masuk, Bu? Oh iya, hampir lupa. Pak Henry, calon suami Bu Areta membeli gaun di galery kami. Saya ke sini juga atas perintah dari Pak Henry," tambah Desi untuk mengikis keraguan juga kecurigaan dalam benak Areta. Sebab Desi melihat, wanita itu berkerut kening, bertanya-tanya dari raut wajahnya.


"Oh, iya, maaf. Silahkan." Areta baru tersadar, mempersilahkan Desi membawa diri masuk ke dalam apartemen. Beberapa jam lalu juga Henry sempat memberitahunya bahwa akan ada seseorang yang akan datang membantunya. Dan orang itu mungkin adalah Desi.


Menaruh gaun yang dibawanya ke atas tempat tidur, Desi lantas membuka koper yang berisi peralatan tempurnya. Kemudian ia meminta Areta duduk di depan cermin meja rias.


Areta tak banyak bertanya. Ia menuruti saja permintaan Desi. Yang mulai menyapukan make up ke wajahnya sembari berceloteh.


"Bu Areta beruntung banget ya punya calon suami seperti Pak Henry. Udah ganteng, tajir, perhatian lagi. Jarang-jarang loh laki-laki membelikan gaun untuk calon istrinya. Apalagi Pak Henry datang langsung sendiri ke galery. Memilih gaun dengan hati-hati, takut salah pilih gaun katanya." Dengan wajah tersenyum Desi bercerita. Mengingat-ingat kembali Henry yang kebingungan memilih gaun. Sampai akhirnya Olivia turun tangan membantu.


Areta hanya menyunggingkan senyuman tipisnya ketika bertemu tatap dengan Desi. Sejujurnya ia tak tertarik mendengar ataupun membahas tentang Henry. Namun ia tak ingin mengundang kecurigaan Desi, jika dirinya masih berstatus istri orang. Ia hanya tak ingin Desi beranggapan buruk tentangnya.


...


Sementara di lain tempat. Henry telah selesai membersihkan diri. Ia hendak bersiap-siap saat pintu kamarnya didorong terbuka dari luar.


"Mana nih gaunnya Mama? Mau Mama pake sekarang buat ke anniversary." Agatha berujar sembari melangkah masuk, menghampiri Henry yang hanya dibalut handuk dari pinggang sampai batas lutut. Sembari mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil. Dada bidang berotot pria itu terekspose begitu saja.


"Siapa bilang aku beli gaun buat Mama?" Henry acuh tak acuh sembari membuka lemari. Ia memilih jas terbaik diantara beberapa jas yang tersimpan di lemari itu.


Agatha memicing dengan senyuman menggoda. "Bukannya kamu beli gaun buat Mama? Kamu belinya di butik langganan Mama kan?"

__ADS_1


Sebetulnya Agatha sudah tahu kalau putra bungsunya itu tidak membeli gaun untuknya. Beberapa saat lalu ia telah menghubungi Olivia Rajendra, menanyakan gaun seperti apa yang dibeli sang putra. Dari keterangan Olivia itulah ia mengetahui jika sang putra membeli gaun untuk seorang wanita teristimewa di hatinya.


"Memang aku beli gaun di sana. Tapi bukan buat Mama." Sembari mengeluarkan satu jas berwarna hitam dari dalam lemari.


"Memangnya gaun itu untuk siapa sih? Mama boleh tahu dong."


"Tanpa perlu aku kasih tahu, Mama juga pasti tahu aku beli gaun untuk siapa."


"Boleh kamu kenalin dia ke Mama?"


Henry diam sejenak, tak langsung menyanggupi permintaan Agatha. Ia berpikir bagaimana caranya agar Agatha tidak mengetahui status Areta ketika ia membawa Areta masuk ke dalam keluarganya nanti. Karena jika Agatha tahu sudah pasti ia tidak akan mendapatkan restu.


"Boleh dong Mama tahu siapa perempuan itu." Agatha kembali berkata, meminta secara langsung. Sebab ini adalah yang pertamakalinya Henry dekat dengan seorang wanita. Sebagai seorang ibu, tentu saja ia harus tahu siapa wanita yang sedang dekat dengan putranya itu. Ia hanya tidak mau sang putra malah salah memilih wanita.


"Nanti Mama akan tahu. Tapi, aku mau tahu satu hal dari Mama." Henry menoleh, menatap intens bola mata Agatha. Ia tahu Agatha tidak akan memberi restu jika Agatha tahu siapa Areta. Sebab wanita paruh baya tersebut sangat menjaga nama baik dan kehormatan keluarganya. Hanya itulah satu-satunya yang bisa Agatha lakukan sebagai pesan terakhir dari mendiang suaminya.


"Mama sering sekali mendesak aku untuk segera menikah. Iya kan?" sambung Henry bertanya.


Agatha mengiyakan dengan mengangguk mantap. "Tentu saja dong Mama pengen kamu segera menikah. Asalkan bukan dengan perempuan yang salah. Mama juga sudah berulang kali memberitahu kamu dan kakak kamu pesan terakhir Papa bukan? Yaitu menjaga nama baik keluarga kita. Kamu paham kan?" Intuisi seorang ibu biasanya sangat peka. Sehingga, entah mengapa mendadak perasaan Agatha menjadi tak enak. Seolah ia merasakan sang putra telah melakukan kesalahan besar.


Agatha pun mengukir senyumnya lebar. "Tentu. Tentu saja Mama akan memberi restu. Tapi ..." Agatha menjeda kalimatnya. Mengerling menggoda sang putra.


"Pertemukan dulu perempuan itu dengan Mama. Karena Mama juga harus kenal siapa calon menantu Mama. Oke?" sambungnya kemudian melenggang pergi. Meninggalkan Henry yang masih terpaku memandangi pintu kamarnya.


Henry mulai was-was. Didera resah juga gelisah. Areta akan segera ia nikahi, yang berarti juga Areta akan segera ia bawa masuk ke dalam keluarganya. Mana mungkin ia akan membiarkan Areta tinggal sendirian di apartemen. Otomatis ia akan memboyong serta Areta untuk tinggal bersamanya di rumah ini.


Yang ia khawatirkan adalah reaksi keluarganya jika mereka tahu siapa Areta sebenarnya. Areta adalah calon janda dengan satu anak.


Ya. Satu anak.


Astaga!

__ADS_1


Mengapa Henry sampai melupakan Rosa?


Areta adalah ibunya Rosa. Yang artinya Areta sudah pasti akan mengajak Rosa tinggal bersamanya andai hak asuh Rosa jatuh ke tangannya.


Henry pun menghela napas panjang. Meniupkannya perlahan kemudian.


"Siapapun dirimu, Areta, aku akan menerima kamu apa adanya. Aku yakin, suatu hari nanti kamu pasti akan menyukaiku," gumamnya tersenyum tipis.


...


Anniversary Dreams Food yang digelar di aula kantor malam itu berlangsung cukup meriah. Tampak Angga tengah sibuk mengecek kesiapan acara. Pria itu tampak rapi dalam balutan kemeja bewarna biru langit, rambut klimis, serta wajah yang bersih berseri.


Perhatian Angga pun teralihkan begitu sesosok anggun nan jelita dalam balutan dress selutut berwarna senada dengan kerah terbuka muncul dari arah pintu masuk. Leher jenjang wanita itu dihiasi kalung bermata berlian, yang membuat penampilan wanita itu memukau dan memesona.


Wanita itu tidak lain adalah Mega Amalia. Wanita yang kini tengah dekat dengannya. Mega tersenyum manis sembari melenggang menghampiri Angga yang terpukau oleh pesonanya. Sengaja malam ini Mega mengenakan pakaian dengan warna senada dengan Angga untuk menunjukkan kedekatan mereka kepada khalayak ramai. Sesuai seperti perintah Henry.


Mega pun menurut. Sebab ia merasa tidak ada lagi yang perlu ditutup-tutupi dengan kedekatan mereka. Toh juga Angga sudah memenuhi kriteria pria idamannya.


"Kamu sangat cantik malam ini." Angga memuji, tersenyum penuh arti.


"Oh ya? Apa hanya malam ini saja aku terlihat cantik?" Mega pun mulai melancarkan rayuannya.


"Sebenarnya setiap hari kamu terlihat cantik. Hanya saja, khusus malam ini kamu lebih cantik dari biasanya." Sungguh senang hati Angga bisa memikat Mega semudah ini. Yang tadinya ia pikir sulit.


"Tapi, apa kamu hanya akan memuji aku terus nih? Apa kamu tidak ingin yang lain?"


"Maksud kamu?"


"Angga ..." Mega mendekat, mengalungkan kedua lengannya di pundak Angga tanpa peduli situasi. Sembari menatap Angga dengan seksama, ia kembali berkata.


"Apa kamu tidak ada niatan buat nikahin aku?"

__ADS_1


Angga pun terpaku.


*


__ADS_2