Antara Cinta Dan Obsesi

Antara Cinta Dan Obsesi
ACDO Bab. 66


__ADS_3

Bab. 66


Tentu saja Angga sangat terkejut melihat seorang petugas kepolisian berseragam lengkap tiba-tiba saja berada di rumah Mega. Petugas itu datang menghampirinya dengan wajah marahnya.


Sementara Mega menyeringai sinis. Ia merasa menang menghadapi Angga yang berbuat semena-mena kepadanya. Dan tentu saja ia tak terima.


Mega baru saja mengetahui kabar duka yang menimpa Angga. Putri kesayangan Angga meregang nyawa setelah ia memberitahu kebenaran tentang kedua orang tuanya kepada gadis kecil itu. Bisa dipastikan Angga pasti akan menyalahkannya untuk kejadian itu. Sehingga ia harus menyiapkan tameng sebelum Angga menyerangnya.


"Kamu mau membunuh ponakan saya? Lancang sekali kamu mau menghilangkan nyawa orang di rumahnya sendiri!" Pria paruh baya yang mengenakan seragam lengkap itu berkata lantang.


Membuat Angga gentar seketika. Akibat amarah yang menguasai, akal sehatnya bahkan telah terbutakan. Sehingga membuatnya nekat hendak menghabisi Mega. Ia bahkan tak memedulikan lagi di mana Mega berada. Karena yang terpenting baginya adalah melampiaskan kemarahannya serta menuntaskan sakit hatinya terhadap Mega.


Namun tak ia sangka, di dalam rumah Mega telah ada seorang polisi yang mengakui Mega sebagai ponakannya. Selama berhubungan dengan Mega ia bahkan tidak tahu jika Mega memiliki sanak saudara seorang anggota kepolisian.


"Aku tahu kamu akan melakukan ini padaku. Jangan kamu kira aku ini bodoh, Angga," ujar Mega tersenyum sinis.


Angga hanya bisa menahan geram. Ingin berbuat lebih, tapi ada yang mengawasi. Akal sehatnya kembali dalam seketika. Ia tak ingin salah langkah, lalu pada akhirnya malah ia sendiri yang rugi.


"Kamu sudah membunuh anakku, Mega. Kamu harus bertanggung jawab," ujar Angga memberi penekanan pada setiap katanya. Dengan wajah geram, mata melotot.


Namun Mega sedikitpun tak takut.


"Apa kamu melihat dengan mata kepala kamu sendiri kalau aku yang sudah membunuhnya? Misalnya aku mencekik lehernya, begitu? Memang dasar anak kamu sendiri yang penyakitan. Lalu sekarang kamu mau menuduh aku?"


"Apa kamu punya bukti kalau ponakan saya yang sudah membunuh anak kamu? Jangan asal menuduh kalau kamu tidak punya buktinya, Angga. Kamu bisa terkena pasal pencemaran nama baik," ujar Guntur, paman Mega, seorang Kepala Kepolisian Resort di kotanya.


"Bahkan kedatangan kamu kemari dengan niat buruk pun, kamu bisa terkena pasal pembunuhan berencana," tambah guntur.


Angga salah tingkah. Ia kebingungan harus berkata apa.


"Kamu mau menuntut aku untuk bertanggung jawab atas kematian anak kamu? Sedangkan kamu sendiri tidak mau bertanggung jawab atas anak kamu yang aku kandung? Aku bisa saja melaporkan perbuatan kamu, Angga," ancam Mega.


"Jangan macam-macam kamu Angga. Mega sudah cerita semua tentang kamu ke saya. Dan saya akan selalu mengawasi kamu. Kalau kamu tidak mau mempertanggung jawabkan perbuatan kamu terhadap ponakan saya, saya bisa menjebloskan kamu ke penjara. Kamu bisa terjerat pasal 82 Undang-Undang Perlindungan Anak," timpal Guntur.


Angga ketar-ketir. Ia kalang kabut, tak punya persiapan untuk melawan Mega. Tak ia sangka ternyata Mega tak sebodoh yang ia kira. Awalnya ia pikir akan mudah menghempas Mega dari hidupnya, seperti yang ia lakukan terhadap Areta. Tapi ternyata, Mega jauh lebih cerdik dari yang ia kira.

__ADS_1


Setelah kehilangan Areta dan Rosa, mana mungkin ia mau mendekam di penjara.


Sedangkan Mega tersenyum puas melihat wajah ketakutan Angga. Tak sia-sia ia meminta bantuan pamannya untuk menakut-nakuti Angga.


"Jadi Angga, dengarkan aku baik-baik. Sekarang kamu hanya punya dua pilihan. Nikahi aku atau masuk penjara," ujar Mega.


Angga pun terdiam, menelan ludahnya kelat, tak berkata-kata lagi. Ia tak bisa berkutik sekarang. Mau melawan, penjara menjadi taruhannya. Tidak ada pilihan lain lagi baginya, selain menuruti Mega.


...


Berdiri di balkon kamar dengan tatapan kosong, sudah hampir sejam lamanya Areta lakukan. Sedangkan matahari sebentar lagi terbenam. Ia masih diselimuti duka mendalam akan kepergian putri tercintanya. Ia bahkan belum mengganti pakaian yang dikenakannya ke pemakaman tadi.


Ia menghela napas panjang, terkejut saat sepasang lengan kekar melingkari pinggangnya.


"Aku tahu kamu masih bersedih, tapi tolong perhatikan juga kesehatan kamu. Sejak pagi kamu belum makan apapun." Sedikit membungkuk, Henry menopang dagunya di pundak Areta.


"Aku tidak lapar."


"Kamu harus makan, sayang. Aku tidak mau kalau sampai kamu sakit."


Henry mengurai rangkulannya, lantas memutar tubuh Areta, membawanya berhadapan dengannya.


"Kita makan di luar, ya? Katakan saja kamu ingin makan apa sekarang." Henry terkesan memaksa..Terdorong oleh kekhawatirannya lantaran sejak pagi tadi Areta belum makan apapun.


Areta menggeleng lemah. Disertai bulir-bulir air mata yang kembali turun di wajahnya. Ia masih sangat terluka, tak kuasa menerima kenyataan jika putrinya telah pergi meninggalkannya untuk selama-lamanya.


"Aku sungguh tidak lapar. Bisakah kamu tidak memaksaku?" Areta berkata dengan wajah sedihnya, menahan agar tangisnya tak pecah.


"Sorry, sayang. Baiklah, aku tidak akan memaksa. Tapi jika ada yang ingin kamu makan, kamu kasih tahu aku ya? Sungguh aku sangat mencemaskan kamu." Henry menghela napas sejenak.


Areta mengangguk lemah.


"Kemarilah." Henry meraih Areta ke dalam pelukan. Membawa kepala Areta bersandar di dadanya. Tangan kanannya naik turun menyapu lembut punggung Areta, yang sekarang berguncang karena tangisnya.


Padahal semua rencana telah ia susun rapi demi membahagiakan Rosa. Ia bahkan telah bersiap untuk mengenalkan Henry kepada Rosa. Ia telah memikirkan satu cara untuk memberitahu Rosa agar Rosa tidak akan terkejut, meski harus berbohong. Yang terpenting adalah Henry bisa dekat dulu dengan Rosa.

__ADS_1


Namun, apalah daya. Tuhan telah mendahului rencananya. Areta pun tak bisa berbuat apa-apa.


Begitupun dengan Henry. Ia tak bisa berbuat apa-apa selain memberi Areta penghiburan. Ia tak bisa melawan kehendak Tuhan. Yang ia bisa hanya memberi Areta dukungan untuk selalu berada di sisinya dalam keadaan masih berduka seperti ini.


...


"Kambuhnya penyakit Rosa itu lebih dikarenakan shock." Nino berkata ketika ia dan Hera datang berkunjung.


Nino dan Henry kini tengah mengobrol di ruang tengah, menunggu makan malam yang tengah disiapkan. Sedangkan Areta, ia biarkan beristirahat saja malam ini. Ia bahkan telah memberitahu Agatha agar memberikan ruang dan waktu kepada Areta untuk meredakan kesedihannya.


Beruntung Agatha memahami seperti apa perasaan Areta saat ini. Sehingga ia pun melakukan hal yang sama. Yaitu memberikan Areta kesempatan untuk berdamai dan menerima kenyataan.


"Shock?" Dahi Henry terlipat, masih mencerna kalimat Nino.


"Iya, shock. Kemungkinan Rosa mendengar sesuatu yang membuat dia terkejut. Sebelumnya, Angga sedang bertengkar di dengan pacarnya di dalam ruangan Rosa. Ada seorang suster yang sempat mendengarnya."


"Kamu sudah cerita ini pada Areta?"


"Belum."


"Sebaiknya tidak usah. Aku hanya tidak mau istriku bertemu dengan mantan suaminya itu." Sudah cukup bagi Henry membiarkan Areta bertemu dengan Angga. Alih-alih bertemu dengan alasan Rosa, Angga justru berusaha merayu Areta untuk kembali ke pelukannya. Sehingga untuk sekarang, lebih baik mereka menjaga jarak. Apalagi sekarang Rosa sudah tiada. Tak ada lagi alasan untuk mereka saling bertemu muka.


"Aku kasihan sekali dengan Areta. Padahal bertahun-tahun dia berjuang demi kesembuhan putrinya. Dia pasti sangat sedih dan terpukul."


"Tentu saja. Dia masih sangat terluka. Oh ya, kira-kira apa yang harus aku lakukan untuk menghiburnya?"


Nino berkerut dahi, ikut berpikir.


"Sebaiknya kamu ajak dia jalan-jalan. Ke mana saja. Kalau perlu ke tempat yang jauh, ke luar negeri misalnya. Yah, itung-itung, sekalian bulan madu."


Henry mengangguk paham.


"Akan aku pertimbangkan saran kamu." Sembari mengulum senyum.


"Dan untuk Angga, aku sudah memikirkan cara untuk memberinya pelajaran." Senyuman di wajah Henry pun berubah menjadi seringai. Ia tahu harus berbuat apa untuk memberi pelajaran kepada bawahannya yang satu itu.

__ADS_1


*


__ADS_2