
Bab. 20
"Aku sudah mencaritahu tentang kondisi anak kamu, Areta. Satu-satunya cara untuk menyelamatkan anak kamu adalah dengan transplantasi jantung. Dan itu membutuhkan biaya yang tidak sedikit Areta. Terlambat sedikit saja kamu mengambil keputusan, maka nyawa anak kamu yang akan jadi taruhannya."
Areta terpaku di tempatnya. Sementara berpasang-pasang mata tertuju kepadanya. Tak ingin mengundang perhatian pengunjung yang lain, ia pun memutar tubuhnya. Membawa langkahnya kembali ke meja dimana Henry dan Angga refleks berdiri ketika ia hendak pergi.
Berusaha menahan senyum, Henry senang ketika Areta kembali dan mendudukkan diri di tempatnya semula. Ia pun duduk kembali, memaku tatapan kepada Areta. Si makhluk manis yang membuat hatinya ingin menangis ketika ia tahu makhluk manis itu telah dimiliki orang lain.
Beberapa jam lalu, Henry sempat menghubungi Nino. Meminta Nino untuk menakut-nakuti Areta akan keadaan Rosa.
"Kamu sudah gila ya, Hen? Aku bukan dokter yang seperti itu. Aku tidak ingin menakut-nakuti keluarga pasien. Memang kondisi anak kecil itu semakin memburuk. Dan untuk prosedur transplantasi jantung itu kemungkinan masih lama. Kalau operasi penyumbatan pembuluh darah ini masih bisa membuatnya bertahan hidup, untuk apa transplantasi jantung dilakukan sekarang. Semua itu ada aturannya Hen. Ada prosedur yang harus dilakukan. Kami tidak asal mendiagnosis dan mengambil tindakan. Takutnya malah akan berakibat fatal bagi pasien. Kamu paham?"
Henry membuang napasnya berat. Nino mengomel di seberang, terdengar jelas di kupingnya. Rupanya ia keliru hendak mengajak Nino bekerja sama.
Ya.
Bekerja sama dalam mendapatkan apa yang ia inginkan. Yaitu Areta.
"Tolonglah Kakak Iparku yang baik. Please ..." Henry memohon, membujuk rayu si kaka ipar agar mengikuti arahannya.
Namun Nino malah memutus sambungan teleponnya segera. Ia tak tahu apakah Nino menuruti keinginannya atau tidak. Akan tetapi, melihat kedatangan Areta, serta keputusan tiba-tiba Areta sebelumnya, rupanya Nino masih bisa ia harapkan.
"Areta, kamu tidak akan berubah pikiran lagi kan?" Angga bertanya, kembali mendaratkan pantat di tempat duduknya.
Areta pun menoleh, menghunus tatapan tajamnya kepada Angga. Sungguh ia tak menyangka, entah hal apa yang melatarbelakangi Angga sehingga dengan mudahnya menyetujui syarat gila yang diberikan Henry.
Apakah ia dan Rosa sebegitu tak berartinya bagi Angga? Sehingga mudah bagi Angga mengorbankan pernikahan yang telah mereka bina enam tahun lamanya?
Padahal, masih banyak cara yang bisa mereka tempuh untuk menyelamatkan Rosa. Tidak harus dengan mengorbankan rumah tangga mereka.
"Tolong kamu jawab pertanyaan aku dengan jujur. Angga, apa kamu masih mencintaiku atau tidak?" tanya Areta menatap tajam Angga penuh kemarahan.
__ADS_1
"Areta, aku sudah pernah kasih tahu kamu ini sebelumnya. Bahwa ini bukan lagi tentang cinta. Sebagai orangtua kita dituntut untuk berkorban demi anak kita."
"Tapi bukan dengan bercerai, Angga. Kalau seperti ini, itu bukan berkorban namanya. Tapi egois."
"Egois? Jadi menurut kamu aku egois?" Angga geram, setengah berbisik sembari melirik-lirik Henry. Yang tengah memperhatikan perdebatan diantara mereka.
"Tolong jangan permalukan aku di depan atasan aku. Kalau ada yang mengganjal di hati kamu, nanti kita bicarakan itu di rumah. Pak Henry sudah berbaik hati mau menolong kita. Apa kamu pikir biaya transplantasi jantung itu sedikit? Belum lagi, kita harus mencari pendonor jantung. Tolonglah Areta, mengertilah keadaan," sambung Angga memelankan nada suaranya.
Areta menghela napasnya panjang. Sungguh ia tak mengerti mengapa Angga begitu antusias dengan persyaratan gila itu.
"Sepertinya kalian masih membutuhkan waktu untuk bicara," kata Henry sembari melirik arloji di pergelangan kirinya.
"Kalau begitu aku beri kalian waktu sampai besok malam sebelum aku berubah pikiran. Pikirkan ini baik-baik, nyawa anak kalian ada di tangan kalian sekarang. Jadi, silahkan ambil keputusan yang tepat. Pikirkan matang-matang selagi aku masih berbaik hati. Permisi." Henry pun bangun dari duduknya. Mengancingkan kembali jasnya, lalu beranjak pergi. Bergegas membawa langkahnya keluar dari kafe untuk membuat Angga ketar-ketir.
Dan tindakan Henry itu pun membuat Angga panik. Seketika didera gelisah. Yang membuat amarahnya mulai tersulut.
"Areta, mau kamu tuh apa sih?" Angga jengkel dengan sikap plin-plan Areta. Sebelumnya Areta setuju untuk bercerai. Dengan catatan mereka akan kembali bersama begitu Rosa sembuh. Tetapi kini mendadak Areta berubah pikiran. Membuatnya jengkel juga sakit hati.
"Cara lain yang mana, Areta? Kita sudah tidak punya pilihan lain lagi. Hanya ini, hanya ini satu-satunya cara yang kita punya. Berapa kali aku kasih tahu ini sama kamu, kenapa kamu tidak mengerti juga, Areta? Atau, kamu mau Rosa mati?" Angga pun semakin naik pitam. Dipicu oleh obsesinya akan jabatan terancam gagal.
"Coba kamu kasih tahu aku, cara apa itu? Menjual rumah? Meminjam dari bank? Atau menjual motor bututku? Apa kamu pikir semua itu cukup untuk biaya pengobatan Rosa? Jangan kamu lupa, rumah sudah kita jadikan sebagai jaminan di bank. Yang berarti kita sudah tidak punya apa-apa lagi sekarang," sambungnya berang seakan mengajak berperang.
Areta menghirup udara sebanyak-banyaknya guna meredam amarah yang mulai merasuki jiwanya. Tak ingin beradu argumen lagi dengan Angga. Yang ujung-ujungnya justru ia sendirilah yang harus mengalah.
"Kemari, ikut aku." Kesal, Angga pun menarik lengan Areta. Menyeretnya ke luar dari kafe, mengajaknya kembali berdebat di selasar kafe tersebut.
"Angga, cukup. Aku tidak ingin berdebat."
Baru saja Angga hendak berkata, namun Areta malah menyela cepat. Membuat kalimat yang hendak Angga utarakan menggantung di udara.
Angga tampak menghela napasnya dalam-dalam. Tak ingin amarah merajai, membuatnya kehilangan kontrol akan dirinya. Lalu pada akhirnya ia gagal membuat Areta mengerti bahwa yang mereka lakukan ini semata-mata hanya demi Rosa.
__ADS_1
Mungkin Angga mengalah saja kali ini. Masih ada waktu esok hari. Ia akan mencari cara untuk membujuk Areta. Dan semoga saja Henry tidak akan berubah pikiran.
...
"Masuk."
Daun pintu ruangan Henry didorong terbuka lebar dari luar. Menampakkan Fabian yang datang dengan sebuah map. Map itu diserahkan Fabian kepada Henry.
"Persiapan anniversary untuk esok malam sudah hampir rampung, Pak Henry," kata Fabian.
Henry memeriksa isi map itu hanya sebentar saja. Ia kemudian memberikan kembali map itu kepada Fabian.
"Oh ya, Fabian. Apa kamu bisa mencarikan aku seorang pengacara?" tanya Henry.
"Pengacara? Untuk apa, Pak Henry? Apa Pak Henry sudah melakukan tindak kriminal?" Fabian terkejut, meninggikan kedua alisnya penasaran.
"Bukan. Bukan pengacara kriminal. Tapi pengacara yang mengurus kasus perceraian."
"Siapa yang mau bercerai?" Fabian semakin terkejut lagi dibuatnya. Pasalnya, atasannya itu jomblo abadi. Merupakan salah satu spesies yang tidak mau berkembang biak.
"Tidak usah banyak tanya. Kamu carikan saja aku pengacara dan penghulu. Seperti yang aku katakan kemarin sama kamu. Ingat, aku butuh mereka besok malam."
"Ta-tapi, Pak_"
"Fabian, sudah aku bilang jangan banyak tanya. Laksanakan saja perintahku."
"Perintah? Perintah apa itu?" Agatha tiba-tiba masuk ke ruangan Henry tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Wanita anggun paruh baya itu menghampiri meja kerja Henry dengan raut bertanya-tanya.
"Tadi kayaknya Mama dengar kamu menyebut pengacara dan penghulu? Untuk apa, Henry?" tanya Agatha penasaran.
*
__ADS_1