Antara Cinta Dan Obsesi

Antara Cinta Dan Obsesi
ACDO Bab. 29


__ADS_3

Bab. 29


Keluar dari ruang rawat Rosa, Areta berpapasan dengan Angga yang hendak membesuk. Langkah Angga sempat terhenti sejenak. Ingin bertegur sapa namun Areta tak memedulikannya. Areta melenggang, berlalu begitu saja melewati Angga. Tanpa menoleh apalagi bertegur sapa. Bagi Areta, Angga kini tak lebih dari orang asing.


Sementara Angga, mematung di tempatnya, memandangi punggung Areta yang semakin menjauh.  Sebetulnya ada sedikit perasaan bersalah mendera hatinya. Namun bila mengingat kesempatan mungkin tidak akan datang untuk kedua kali, sedalam mungkin ia mengubur perasaan itu. Demi sesuatu yang tak mungkin ia dapatkan lagi jika ia melewatkan kesempatan ini.


"Kesempatan itu tidak akan datang dua kali, Angga. Jadi, manfaatkan saja kesempatan ini sebaik mungkin. Masalah Areta, Ibu yakin, dia pasti akan kembali lagi sama kamu. Ibu juga yakin, rumah tangganya nanti tidak akan bahagia." Wirda berujar ketika Angga masuk, membesuk Rosa yang belum juga siuman pasca operasi.


"Aku yang menceraikannya, Bu." Angga terlihat lesu, seolah kehilangan semangat seketika. Padahal, tinggal selangkah lagi impiannya akan menjadi kenyataan.


"Ibu tahu. Toh, kalian melakukan ini juga ada alasannya. Anggap saja, ini adalah ujian rumah tangga kalian. Ibu sudah tahu kalau Areta akan menikahi atasan kamu kan?"


Angga menoleh, bertanya-tanya dari raut wajahnya.


"Areta yang kasih tahu Ibu. Sudahlah, kamu tidak perlu merasa bersalah. Ibu yakin, rumah tangga Areta tidak akan bahagia. Mana mungkin orang seperti Pak Henry cinta tulus sama Areta." Tak memungkiri, ada iri dalam hatinya, juga tak bisa menerima jika Areta menikahi Henry.


Namun hal itu sudah menjadi salah satu dari kesepakatan Angga dan Henry. Yaitu menukar Areta dengan jabatan. Hanya demi jabatan Angga bahkan rela kehilangan istri dan anaknya. Bukankah itu keterlaluan namanya?


"Dari awal, saat Pak Henry datang membesuk Rosa, Ibu sudah curiga kalau Areta itu punya hubungan dengan Pak Henry. Kalau tidak mana mungkin Pak Henry mau sama perempuan seperti Areta. Iya kan?" Wirda masih saja mencoba melimpahkan kesalahan kepada Areta. Padahal jelas-jelas semua ini terjadi juga karena keserakahan Angga. Yang termakan rayuan jabatan tinggi. Pun sama dengan dirinya, yang silau dengan harta dan jabatan. Jika jabatan Angga naik, otomatis penghasilan Angga pun naik.


"Jadi Pak Henry pernah datang membesuk Rosa?" tanya Angga mengangkat kedua alisnya ingin tahu. Areta tidak pernah memberitahunya soal ini.


"Iya. Dia datang bersama Areta. Awalnya Ibu kira dia selingkuhannya Areta. Habisnya, mereka kelihatan seperti sudah saling kenal."


"Oh ya?" Pantas saja Angga merasa ada yang aneh. Mengapa Henry memberinya syarat untuk menceraikan Areta. Apakah Henry dan Areta sudah saling mengenal sebelumnya? Sebab jika tidak, mana mungkin Henry menginginkan Areta. Bahkan pria itu sampai rela menggelontorkan dana demi kesembuhan Rosa.


...

__ADS_1


Areta melangkahkan kakinya lesu ketika keluar dari ruang dokter. Ia baru saja menemui Nino untuk menanyakan kondisi Rosa. Nino mengatakan kondisi Rosa sudah lebih baik. Rosa bahkan sudah diperbolehkan pulang. Namun tetap harus melakukan kontrol untuk menjaga efek samping tetiba muncul, seperti pendarahan yang umumnya terjadi kepada pasien pasca operasi jantung.


Areta berdiri di pelataran parkir, tengah menunggu taksi yang baru saja ia pesan lewat aplikasi saat tiba-tiba sebuah fortuner hitam menepi tak jauh dari tempatnya berdiri. Kaca jendela diturunkan, bersamaan dengan ponselnya yang berdering nyaring.


Bergegas Areta menjawab panggilan itu. Yang ia kira telepon dari supir taksi online yang telah ia pesan beberapa menit lalu.


Namun ternyata, Areta salah mengira. Areta langsung bisa mengenali si penelepon begitu si penelepon berkata.


"Cepat naik. Kita masih punya urusan penting yang harus segera diselesaikan."


Areta pun hanya bisa meniupkan napasnya panjang sembari memandangi si penelepon di seberang sana lewat jendela mobil yang diturunkan.


Henry tak berkata banyak, hanya menyemburkan kalimat perintah yang tak bisa dibantah oleh Areta. Kaca jendela pun dinaikkan kembali, bersamaan dengan ayunan langkah kaki Areta yang berjalan menghampiri. Lantas bergegas naik ke mobil itu, mendudukkan diri di jok penumpang bersama Henry.


"Gimana dengan keadaan putrimu? Aku dengar operasinya lancar. Sorry aku belum sempat membesuk." Henry berkata ketika mobil telah melaju membelah jalanan ibukota.


"Tidak apa-apa. Tapi terima kasih sudah bertanya. Dan terima kasih juga atas bantuan Anda. Operasinya berjalan lancar juga berkat Anda." Areta berkata, memelankan nada suaranya. Ini hanya operasi alternatifnya saja demi mengurangi resiko yang lebih besar terjadi. Namun meski begitu, Areta tetap harus berterima kasih kepada Henry yang sudah mengulurkan tangan membantu dalam hal biaya.


"Kenalkan, Areta. Ini adalah Pak Galih." Henry memperkenalkan ketika mereka sudah berada di sebuah restauran. Berada di ruang VIP yang terpisah dari pengunjung lainnya.


Areta menyunggingkan senyumnya. Yang dibalas oleh Galih dengan senyuman ramahnya.


"Beliau ini adalah pengacara yang akan membantu kamu mengurus perceraian kamu dengan Angga," sambung Henry.


Areta tidak memberikan kalimat apapun sebagai bantahan, atau paling tidak bertanya tentang sesuatu yang belum ia pahami. Kali ini ia menurut saja dengan perkataan Henry.


Sementara Fabian yang tengah berdiri di sisi Henry hanya bisa menahan keterkejutannya. Atasannya yang setia menjomblo itu tak ia sangkan malah akan menikahi wanita yang masih berstatus istri orang.

__ADS_1


"Apa di dunia ini tidak ada perempuan lain apa? Segitu terobsesinya Pak Henry sama perempuan ini." Fabian hanya bisa membatin heran terhadap kelakuan atasannya itu.


Padahal di luar sana ada banyak perempuan cantik dan singgel yang menaruh hati kepadanya. Namun sayangnya, pria itu malah menjatuhkan pilihannya kepada perempuan yang sudah bersuami. Sungguh Fabian tak habis pikir dengannya.


Bincang-bincang dengan Galih sekaligus dirangkaikan dengan acara makan siang bersama, Areta tak berkata sepatah kata pun. Ia cukup mengangguk saja ketika Galih memberinya arahan, mengenai apa saja yang perlu ia persiapkan untuk mengajukan gugatan cerai ke pengadilan. Galih berkata, Galih akan mendampinginya sampai jatuh keputusan pengadilan.


Sebetulnya Areta masih belum merasa yakin ingin berpisah dari Angga. Namun sikap dan perkataan Angga membuatnya sakit hati. Sehingga ia hanya bisa pasrah dengan nasibnya yang seolah tengah dipermainkan takdir.


Dalam perjalanan pulang menuju apartemen pun Areta memilih diam. Sehingga hening membentang sepanjang perjalanan. Hanya Fabian yang sesekali terdengar memberitahukan jadwal Henry selanjutnya sebelum menghadiri anniversary malam nanti.


Areta tengah mengalihkan pandangan ke luar jendela mobil, memandangi setiap objek yang mereka lewati. Saat ia merasakan sebuah tangan hangat dan kekar tiba-tiba menyentuh jemarinya, lalu menggenggamnya erat.


Sontak Areta pun menoleh. Dan bertemu tatap dengan sepasang mata tegas Henry. Yang menatapnya lekat tak berkedip. Seketika perasaan aneh pun merambati seluruh urat syarafnya. Jantungnya berdebar tak karuan saat menatap sorot mata Henry. Yang baginya terasa menakutkan.


Namun berbeda dengan Henry. Semakin hari perasaannya semakin tumbuh subur, bermekaran bunga-bunga cinta di hatinya setiap kali melihat Areta. Ia mengagumi dan menyukai Areta sejak bertahun-tahun lamanya. Jadi wajar saja jika ia serakah kali ini. Obsesinya terhadap Areta membuat hatinya serakah ingin merebut wanita itu dengan cara yang gak manusiawi.


"Bukankah kamu ingin tahu kenapa aku melakukan ini?" Henry berkata, memecah hening diantara mereka. Ia menatap lekat sepasang mata Areta. Yang malah memancarkan binar-binar ketakutan.


Areta pun menelan salivanya kelat. Kerongkongannya serasa tercekat, sehingga rasa-rasanya ia sulit untuk bernapas.


Sementara di depan, Fabian pasang telinga penasaran. Tanpa mengalihkan fokusnya dari jalanan.


"Mungkin sudah saatnya kamu tahu. Karena aku tidak ingin ada rahasia diantara kita berdua. Aku mau kamu tahu alasan aku ingin menikahi kamu. Areta, aku mencintai kamu," sambung Henry.


Yang membuat pernapasan Areta semakin tercekat. Bukannya terkejut ataupun berbunga-bunga saat mendapatkan ungkapan cinta. Areta justru ketakutan berhadapan dengan pria seperti Henry.


Sedangkan Fabian tercengang di depan. Hampir saja fokusnya terganggu lantaran kalimat yang tak pernah ia dengar keluar dari mulut Henry.

__ADS_1


*


__ADS_2