
Bab. 32
Areta telah selesai didandani. Bukan hanya gaun saja yang dibelikan Henry untuknya, pria itu juga membeli perintilannya lengkap dari kaki sampai kepala. Gaun eksklusif rancangan Olivia Rajendra dengan mode one shoulder itu ternyata sangat cocok dan pas di tubuh ramping Areta. Dengan rambut dikuncir rapi ke belakang, serta penambahan aksesoris berupa anting itu semakin mempercantik tampilan Areta. Ditambah lagi pulasan make up tipis nan glamour itu semakin menampakkan kecantikan yang dimiliki Areta.
Rupanya Olivia tidak salah menyarankan gaun itu kepada Henry. Intuisinya sebagai seorang desainer tak diragukan lagi. Hanya dengan membayangkan karakter yang dimiliki Areta dari cerita Henry saja, ia mampu menentukan gaun yang paling cocok untuk Areta.
"Waaah ... Ternyata Bu Areta sangat cantik ya? Pak Henry pasti pangling nih ngelihatnya." Desi memuji sembari merapikan kembali perlengkapan make up ke dalam koper.
Areta tak menggubris pujian Desi. Ia malah menatap kaku dirinya pada pantulan cermin rias itu. Cantik memang, namun sayangnya tak sedikitpun ada perasaan bahagia dalam hatinya.
Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam saat terdengar bunyi bel pintu. Desi lekas menuju pintu, hendak membukakan pintu untuk tamu yang datang.
"Panjang umur. Padahal kami baru saja membicarakan Pak Henry, eh sekarang Pak Henry malah nongol di sini. Silahkan masuk, Pak. Calon istri Pak Henry sudah siap." Desi berkata ketika pintu dibuka dan menampakkan sosok Henry yang malam ini pun tampil memukau dalam balutan jas berwarna hitam. Serasi dengan gaun yang dikenakan Areta.
Henry pun melangkah masuk, menghampiri Areta yang masih berdiri di depan cermin. Tengah memandangi pantulan dirinya dalam cermin itu.
"Kalau begitu saya permisi dulu Bu Areta, Pak Henry. Lain kali kalau butuh gaun lagi jangan sungkan berkunjung langsung ke galery kami. Kami akan selalu siap melayani Anda. Permisi." Desi berpamitan, berjalan cepat meninggalkan apartemen itu sambil menggeret koper. Tak lupa pintu ia tutup kembali.
"So beautiful." Henry memuji, menatap berbinar pantulan diri Areta pada cermin itu. Senyumnya terukir lebar sembari membawa kedua tangannya memegangi pundak Areta.
Yang refleks membuat Areta terkesiap. Ia bahkan tak berani mempertemukan pandangannya dengan Henry melalui cermin. Yang ada hanya ketegangan setiap kali Henry mendekat.
Sekilas Areta sempat melihat Henry. Yang tampan dan kharismatik, terlihat maskulin memanjakan mata. Namun sayangnya ketampanan pria itu malah menakutkan baginya. Seolah tersimpan banyak misteri dibalik ketampanan itu.
"Kamu sangat cantik, Areta." Henry membawa Areta berhadapan dengannya.
Namun Areta malah menunduk. Seperti apapun kecantikannya malam ini, baginya itu tak berguna. Hidupnya kini sudah tak berarti lagi. Mau Henry memujinya seperti apapun, tetap saja takkan bisa merubah perasaannya terhadap pria itu.
Sorot mata Henry berbinar-binar menatap Areta. Hatinya bahkan berbunga-bunga bahagia melihat Areta dalam tampilan yang berbeda, cantik dan anggun. Malam ini Areta tampil berkelas dan memukau. Ia jadi tak sabar ingin melihat reaksi Angga yang sempat mengeluhkan penampilan Areta kepadanya.
"Areta." Henry meraih dagu Areta. Menekannya perlahan, hendak membawa wanita itu untuk bersitatap dengannya.
__ADS_1
"Lihat aku," pinta Henry.
Takut-takut Areta pun menaikkan pandangannya, membalas tatapan Henry dingin. Yang dibalas Henry dengan ukiran senyum manisnya.
"Kamu siap untuk malam ini?" tanya Henry.
Areta pun mengangguk pelan. Antara bimbang dan ragu. Sebab ia tahu pada perayaan itu ia akan bertemu Angga. Ia berpikir bagaimana seharusnya ia bersikap jika memang seandainya mereka bertemu. Lalu apa yang harus ia lakukan jika Henry benar akan memperkenalkan dirinya sebagai calon istri pria itu.
Pernah sekali, pada perayaan anniversary Dreams Food, Angga mengajaknya serta. Memperkenalkan dirinya kepada rekan-rekan kerja Angga. Akan tetapi, ia tak pernah betah berlama-lama berada di pesta seperti itu. Biasanya, tak sampai sejam ia akan memilih pulang. Dengan alasan tak ingin meninggalkan Rosa terlalu lama. Semoga saja pada pesta itu nanti rekan-rekan Angga tidak akan mengenalinya ketika Henry memperkenalkannya sebagai calon istrinya.
...
Anniversary Dreams Food sedang berlangsung. Beberapa rangkaian acara telah dilaksanakan. Salah satunya yaitu pemberian penghargaan kepada beberapa karyawan berprestasi serta tekun dalam bekerja. Yang diserah terimakan oleh Agatha Andri Adiswara, istri mendiang Andri Adiswara, pendiri sekaligus pemilik Dreams Food. Juga pengumuman kenaikan jabatan Angga Adinata.
Sebetulnya Henry lah yang seharusnya memberikan penghargaan itu. Akan tetapi beberapa menit lalu Henry memberi kabar melalui Fabian bahwa dirinya terjebak macet. Sehingga tidak memungkinkan untuk tiba tepat waktu di tempat perayaan itu. Mau tak mau mengharuskan Agatha untuk mengambil alih tugas Henry.
Angga terlihat bahagia ketika ia diumumkan resmi menduduki jabatan Direktur Pemasaran. Banyak pujian serta ucapan selamat mengalir kepadanya dari rekan-rekan kerjanya. Ada yang turut berbahagia, ada pula yang tak percaya bahkan tak terima secepat itu Angga mendapatkan kenaikan jabatan. Padahal Angga termasuk karyawan baru dibanding mereka yang telah lebih dulu bekerja di perusahaan itu.
"Selamat ya, Angga. Aku ikut senang." Mega sumringah, memberikan ucapan selamat kepada Angga sembari menggenggam jemari Angga.
"Jadi kapan nih kamu akan menjawab pertanyaanku?" Mega menyinggung kembali soal pertanyaannya beberapa jam lalu. Mengenai apakah Angga tidak berniat menikahinya.
Angga pun salah tingkah dibuatnya. Memang sudah lama ia mengagumi Mega, bahkan ingin sekali ia menjalin kedekatan dengan wanita itu. Namun tak sekalipun terbersit dalam benaknya untuk menikahinya.
"Mega, apa kamu serius ingin menikah denganku?" Angga malah balik bertanya. Sebab entah mengapa ia sendiri malah ragu.
"Tentu saja Angga sayang. Bukannya kamu bilang kamu suka sama aku? Kamu juga cinta sama aku kan? Jadi, ya udah, ayo kita menikah."
"Emm... Mega, masalahnya aku tuh belum resmi bercerai dengan istriku. Proses perceraiannya masih berjalan."
"Iya, aku tahu. Kamu udah ngasih tahu aku. Aku hanya ingin tahu apa kamu benar-benar akan menikahi aku. Aku kan capek di PHP-in terus sama kamu. Aku tuh butuh kepastian, Angga. Kalau kamu memang serius, aku akan menunggu sampai kamu resmi cerai dari istri kamu. Tapi jika sebaliknya, ya, lebih baik kita akhiri saja bubungan kita. Aku ini wanita dewasa, butuh lelaki yang serius, bukan yang main-main." Panjang lebar Mega berujar sembari memasang wajah serius.
__ADS_1
Bukannya Angga senang bisa mendapatkan Mega sebagai pendamping hidupnya. Lelaki itu justru mulai menemui keraguan. Semula ia sangat antusias ingin mendekati Mega. Ia bahkan dengan kejinya telah menukar Areta dengan jabatan, hanya demi bisa menggaet Mega.
Namun, disaat burung merpati itu telah terperangkap dalam sangkarnya, mendadak hatinya malah meragu. Bahkan ada keinginan ingin melepas kembali si burung merpati itu.
Apakah ini merupakan sebentuk perasaan bersalahnya terhadap Areta?
Entahlah.
"Kamu serius kan mau nikahin aku?" Mega kembali bertanya.
"Akan aku pikirkan."
"Kenapa harus dipikirin dulu sih. Yang ingin aku tahu, kamu itu serius atau tidak. Kalau kamu cuma main-main, lebih ba_"
"Iya, iya. Aku akan menikahi kamu." Angga menyela cepat kalimat Mega. Sehingga wanita itu mengukir senyumnya lebar. Lalu memeluk Angga sebagai ungkapan bahagianya atas jawaban gamblang Angga.
"Makasih ya, Angga. Aku senang sekali bisa menjadi pendamping hidup kamu. Aku mencintaimu, Angga," ucap Mega bahagia.
"Tapi kamu harus bersabar dulu sampai aku resmi bercerai."
"Iya. Aku akan bersabar menunggu kamu, Ga."
Angga tersenyum ragu. Entah yang ia rasakan saat ini adalah kebahagiaan ataukah perasaan bersalah. Namun hati kecilnya selalu saja berbisik agar ia tidak melewatkan kesempatan emas ini.
Disaat Mega masih setia menyandarkan kepalanya di dada bidang Angga. Disaat itu pula tiba-tiba terdengar suara lembut bergetar memanggil.
"Angga?"
Sontak Angga dan Mega pun menoleh ke arah sumber suara. Lalu refleks Angga mendorong tubuh Mega menjauh begitu dilihatnya sesosok wanita anggun tengah berdiri memandanginya dengan sorot mata tajam menikam.
*
__ADS_1
Kira-kira seperti ini tampilannya Areta😊