Antara Cinta Dan Obsesi

Antara Cinta Dan Obsesi
ACDO Bab. 17


__ADS_3

Bab. 17


"Lakukan ini demi, Rosa. Di situasi ini bukan cuma kamu, tapi aku juga akan berkorban demi Rosa. Demi kesembuhan Rosa, anak kita Areta." Angga berucap menaruh kedua tangannya di pundak Areta.


Areta menggeleng, disertai bulir-bulir air mata yang mulai berjatuhan membasahi pipinya. Ia tak menyangka semudah itu Angga mengucap kata perpisahan hanya demi sesuatu yang masih bisa diperjuangkan dengan cara lain. Tidak harus dengan mereka bercerai.


"Tapi apa alasannya, Angga? Kenapa harus dengan syarat itu? Apa tidak ada cara lain lagi? Kenapa orang itu memberikan syarat dengan perceraian?" Areta tak bisa lagi menahan tangisnya. Sungguh hal ini membuatnya sangat terpukul. Lalu mengapa dengan mudahnya pula Angga menyanggupi syarat itu.


Jujur saja Angga juga sempat bertanya hal serupa kepada Henry. Yaitu alasan mengapa Henry memintanya untuk menceraikan Areta. Tetapi Henry enggan mengungkap alasannya. Malah Henry melempar kesalahan kepadanya dengan beralasan jika ia telah bosan dengan Areta. Karena Areta sudah tidak menarik lagi di matanya. Lalu untuk apa mempertahankan rumah tangga jika cinta di dalamnya sudah mulai memudar?


"Apa kamu sudah tidak mencintaiku lagi, Angga?" tanya Areta dengan berderai air mata.


"Ini bukan lagi tentang cinta Areta. Tapi ini tentang Rosa, tentang keselamatan Rosa, nyawa Rosa, anak kita." Angga menegaskan, berharap Areta memahami keadaan.


"Iya, tapi kenapa? Kenapa harus dengan syarat itu? Tapi kita masih bisa cari cara lain, Ga. Tidak harusĀ  dengan perceraian."


"Cara lain yang bagaimana Areta? Kita tidak punya pilihan lain. Kita mau cari pinjaman ke mana lagi? Pinjaman kita di beberapa bank saja belum lunas. Lalu kita mau pinjam ke mana? Areta, hanya ini satu-satunya cara yang kita punya. Aku mohon mengertilah." Agaknya Angga sudah dibutakan oleh hasratnya untuk mendapatkan jabatan yang lebih tinggi.


"Tidak, Angga. Aku tidak ingin melakukan itu. Kita masih punya pilihan lain. Kita jual saja rumah ini."


"Apa? Menjual rumah ini? Apa kamu bercanda, Areta? Bukannya rumah ini sudah kita jadikan jaminan di bank? Menjual rumah ini, itu tidak akan mungkin Areta. Andaikan rumah ini laku terjual pun, uangnya tidak akan cukup untuk biaya pengobatan Rosa juga untuk menutupi semua hutang-hutang kita. Dan andaikan rumah ini dijual, lalu kita akan tinggal di mana?"


Areta terdiam dengan air mata yang masih mengucur deras. Ia sungguh tak menyangka rumah tangganya dengan Angga akan diuji dengan permasalahan se-pelik ini.


"Tidak. Aku tidak mau kita cerai. Pokoknya aku tidak mau. Tolong jangan paksa aku." Bergegas Areta turun dari tempat tidur, hendak keluar dari kamarnya. Namun cepat Angga menahan pergelangan tangannya.


Angga pun turun dari tempat tidur itu. Mencoba mengajak Areta membicarakannya dengan kepala dingin. Meminta Areta lebih memahami situasi.


"Areta, aku janji kita akan berkumpul kembali setelah Rosa sembuh. Kita bercerai hanya demi pengobatan Rosa. Begitu Rosa sembuh, kita akan berkumpul lagi seperti dulu. Aku tidak tahu apa alasan orang itu memberiku syarat seperti ini. Tapi percayalah, aku mencintai kamu Areta," ucap Angga melembutkan nada suaranya, ingin menyentuh perasaan Areta.

__ADS_1


Bisa saja Angga berpikir demikian. Namun Angga tidak tahu kejutan apa yang tengah menantinya di depan nanti.


Angga boleh saja memanfaatkan keadaan, mengambil keuntungan dari kesulitan yang mereka hadapi sekarang. Tetapi takdir siapa yang tahu.


Andai Areta setuju mereka berpisah pun, apakah mungkin mereka masih bisa kembali bersama seperti yang Angga janjikan?


"Tapi, Ga_"


"Areta, please. Nyawa Rosa sedang dipertaruhkan sekarang. Apa kamu mau jika sampai terjadi sesuatu sama Rosa? Apa kamu sudah siap kehilangan Rosa?" potong Angga, membuat Areta menghentikan kalimatnya.


Areta tidak tahu harus berkata apa lagi. Sungguh ia tak ingin sesuatu yang buruk menimpa Rosa. Jika sampai hal itu terjadi, Areta takkan memaafkan dirinya sendiri. Sebagai ibu, ia merasa sangat bersalah kepada Rosa. Sebab ia telah gagal menjadi seorang ibu yang baik bagi Rosa.


"Percaya padaku, Areta. Aku janji, aku akan memperbaiki semuanya begitu Rosa sembuh. Kamu pasti pengen kan melihat Rosa ceria seperti dulu lagi? Jujur, aku juga sebenarnya tidak ingin melakukan ini. Tapi mau bagaimana lagi. Kita tidak punya pilihan lain selain ini. Kamu dan aku, kita akan berkorban demi anak kita. Aku tidak tega Areta melihat Rosa terbaring di rumah sakit dengan alat bantu pernapasan seperti itu. Sebagai ayah, hatiku sakit melihat itu Areta. Jadi, please, pahami keadaan kita." Angga memelas, merayu mendayu-dayu demi sebuah keuntungan lain. Dengan berdalihkan keselamatan Rosa.


Dan Areta sebagai seorang ibu, tentu saja lebih mengutamakan keselamatan anaknya daripada dirinya sendiri. Lagipula, Angga sudah berjanji akan memperbaiki semuanya begitu Rosa sembuh. Lalu apa lagi yang ia takutkan?


Mana mungkin.


Angga sudah berkata dengan jelas, bahwa perpisahan mereka semata-mata hanya demi keselamatan Rosa. Bukan karena hal lain. Lalu pada akhirnya, Areta pun hanya bisa memasrahkan diri. Namun nurani tetap berharap Tuhan memberikan yang terbaik bagi rumah tangganya.


"Akan aku pikirkan. Tapi aku tidak janji," ucap Areta malas.


Senyum Angga pun mengembang. Ini merupakan langkah awal baginya untuk mendapatkan apa yang diimpikannya selama ini. Yaitu kedudukan, kekuasaan, kehormatan, perbaikan finansial, juga wanita cantik. Apa salahnya jika ia bermain-main sebentar saja.


...


Henry melangkah penuh percaya diri memasuki rumahnya. Senyuman manis tak lepas dari wajahnya sekembalinya dari kantor. Dalam perjalanan pulang ia bahkan bersenandung ria mengikuti irama dan lirik lagu yang ia setel kencang di dalam mobilnya. Bahkan saat memasuki rumah pun ia bernyanyi-nyanyi mirip orang yang sedang jatuh cinta.


Melewati ruang tengah, hendak menapakkan kaki di pijakan anak tangga, ayunan langkahnya terhenti ketika terdengar suara lembut memanggilnya.

__ADS_1


"Henry."


Menoleh ke belakang, Agatha datang menghampiri dengan senyum usil terukir di wajahnya.


"Anak Mama senyam-senyum sendiri udah kayak orang gila aja," goda Agatha melihat ekspresi Henry yang tak biasanya.


"Lebih tepatnya kayak orang yang lagi jatuh cinta, Mah." Hera Adiswara, kakak perempuan Henry pun ikut menghampiri. Tersenyum usil, hendak menggoda sang adik.


"Wah, wah, waaah ... Siapa sih perempuan yang sudah berhasil merebut hati si jomblo abadi kita yang satu ini?" Nino Orlando, suami Hera, dokter ahli jantung itu pun datang menghampiri. Ikut-ikutan menggoda adik iparnya. Dokter berparas tampan kebule-bulean itu bekerja di rumah sakit Sinar Harapan. Saat ini ia tengah menangani seorang pasien kelainan jantung bawaan yang masih berusia lima tahun.


Henry mengusap tengkuknya malu. Malu gelagatnya begitu mudah terbaca. Henry tak hanya berbunga-bunga hatinya saat ini, tetapi ia juga sedang jatuh cinta. Sebab si bunga pujaan akan segera ia petik dari tangkainya. Meski dengan cara licik juga keji. Ia tak peduli.


"Memang kelihatan banget ya?" tanyanya malu.


"Ya iyalah, jomblo. Kelihatan banget dari wajah kamu itu tauk. Ini mungkin yang pertamakalinya kamu jatuh cinta ya, jadi kelihatan banget kalau kamu itu lagi kasmaran. Oh ya, kasih tahu dong siapa sih perempuan itu? Perempuan yang sudah berhasil membuka segel si mister jomblo ini," ledek Hera ingin mencaritahu.


"Ada deh ..." Lagak Henry persisi remaja kemarin sore. Tak ingin ia memberitahu keluarganya jika perempuan yang berhasil merebut hatinya itu masih berstatus istri orang. Jika keluarganya tahu, bisa dipastikan restu tak akan pernah dikantonginya.


"Kayaknya Mama tahu nih siapa perempuan itu," ucap Agatha. Mencoba menebak perempuan yang sudah berhasil merebut hati putranya.


"Siapa Mah, siapa? Kasih tahu dong." Hera mendesak.


"Pasti perempuan yang di salon itu kan? Siapa namanya? Mama lupa deh kayaknya."


"Udaaah, Mama tidak usah sok tahu. Oh ya, Nin. Katanya kamu sedang menangani seorang pasien kelainan jantung bawaan. Trus gimana kondisi pasien itu sekarang?" Henry mengalihkan topik segera. Sebab ia membutuhkan Nino untuk rencananya kali ini.


"Kondisi anak itu sebenarnya cukup parah. Dia harus segera dioperasi. Tapi andai setelah operasi kondisinya masih saja memburuk, terpaksa kami harus menempuh satu-satunya opsi yang tersisa. Yaitu transplantasi jantung."


*

__ADS_1


__ADS_2