Antara Cinta Dan Obsesi

Antara Cinta Dan Obsesi
ACDO Bab. 35


__ADS_3

Bab. 35


Sebab suasana hati Areta yang memburuk, Henry tak memaksanya untuk berlama-lama berada di pesta itu. Henry tahu Areta tak nyaman. Sehingga ia menawarkan Areta kembali ke apartemen.


Hening membentang sepanjang perjalanan pulang. Areta membisu seribu bahasa, berpaling muka ke jendela mobil. Hanya air mata yang senantiasa berderai, menyuarakan betapa sakit hatinya diperlakukan Angga seperti itu.


Ingin sekali Henry menghapus air mata itu, lalu membawa Areta ke dalam dekap hangatnya. Namun Areta tidak akan suka Henry berlaku demikian kepadanya. Areta tidak suka jika Henry menyentuhnya sembarangan. Sehingga Henry hanya bisa membiarkan Areta menangis, memberinya kesempatan untuk menumpahkan sakit di hatinya.


Sampai di apartemen, Areta berjalan cepat mendahului Henry yang hendak mengantarnya sampai depan pintu, ingin memastikan wanita itu dalam keadaan baik-baik saja.


Namun langkah Areta terseok ketika kakinya terkilir akibat heels yang dikenakannya. Heels itu pun dilepasnya, menentengnya, kemudian kembali berjalan dengan terseok-seok. Sakit di kakinya itu masih tak sebanding dengan sakit di hatinya, yang terasa menusuk sampai ke dasar kalbunya.


Henry yang merasa iba melihat keadaan Areta yang tak memedulikan cedera ringan di kakinya itu, tanpa berpikir panjang dan tanpa ijin langsung membopong tubuh Areta.


Namun seketika itu juga malah mendapat penolakan dari Areta.


"Turunkan saya," titahnya masih dikuasai amarah akibat peristiwa beberapa jam lalu di depan toilet.


"Kaki kamu terkilir. Kalau kamu paksakan berjalan, akibatnya bisa fatal. Aku hanya tidak mau calon istriku ini jadi pincang." Henry tak peduli dengan wajah tak bersahabat Areta. Ia terus saja melangkah, membopong tubuh wanita itu.


"Sudah saya bilang, Anda tidak bisa menyentuh saya sembarangan. Turunkan saya."


Henry masih tak menghiraukan penolakan Areta. Sampai di depan pintu, ia tak lantas menurunkan Areta dari gendongannya. Seolah berat tubuh Areta tak seberapa baginya.


"Buka pintunya," titah Henry.


"Turunkan saya dulu, baru pintunya saya buka."


"Baiklah, kalau begitu." Henry pun menurunkan Areta.


Lekas Areta membuka handbag nya, mengambil keycard dari dalam sana untuk membuka pintu unit apartemen itu. Begitu pintu terbuka, ia malah kembali dibuat terkejut oleh perlakuan Henry tanpa ijin kepadanya.


"Anda lancang sekali," umpat Areta tak sopan atas perlakuan Henry yang kembali menggendongnya, membawanya masuk, lalu mendudukkannya di sofa dengan hati-hati.


Henry kemudian membungkuk, bertumpu dengan satu lututnya, memeriksa pergelangan kaki Areta. Lalu dengan tanpa permisi pula disentuhnya kaki Areta. Sehingga membuat Areta meringis kesakitan. Padahal beberapa menit lalu Areta tidak merasakan sakit ketika berjalan terseok-seok.


"Kita harus ke dokter," ujar Henry mendongak.

__ADS_1


"Tidak perlu. Aku tidak apa-apa." Areta menarik kakinya dari tangan Henry.


"Aw!" Ia kembali meringis memegangi kakinya saat merasakan sakit.


"Ternyata kamu itu bawel ya?" Henry tersenyum geli melihat tingkah Areta mirip anak kecil yang sedang merajuk.


"Sakit ini tidak seberapa, saya masih bisa menahannya. Jadi untuk apa harus ke dokter?"


"Tapi, jika tidak diobati nanti sakitnya bisa parah. Aku hanya tidak mau terjadi sesuatu sama kamu, sementara kamu hanya sendirian di apartemen ini."


Areta menghela napasnya sembari memalingkan wajahnya, menghindari menatap mata Henry terlalu lama. Walau bagaimanapun ia hanyalah seorang wanita yang rapuh, meski terlihat tegar dari raga yang membungkus. Ia hanya tak mau benteng kebencian yang ia bangun untuk pria itu runtuh oleh laku lembutnya.


"Kalau begini jadinya, aku malah semakin ingin cepat mendapatkan kamu. Agar aku bisa menjaga kamu 24 jam non stop," sambung Henry.


"Dasar pria gila." Lirih Areta bergumam, mengumpat lelaki yang sedang berjongkok di depannya sembari mengamati kakinya.


Gumaman Areta itu sampai ke telinga Henry. Bukannya marah atau tersinggung, Henry justru mengukir senyumnya. Karena apapun yang dilakukan dan dikatakan Areta baik, baik sengaja atau tidak, baginya itu menggemaskan.


Hatinya sedang berbunga-bunga, dipenuhi oleh cinta, sehingga sedikitpun ia tak melihat keburukan dalam diri Areta. Buatnya, Areta adalah wanita paling istimewa. Areta sempurna di matanya.


Henry melirik arloji di pergelangan tangannya sekilas. Kemudian ia bangun berdiri, melepas jas yang dikenakannya, lalu menyingsingkan lengan kemeja sampai batas siku. Ia kemudian beranjak ke dapur.


Namun kini segalanya telah berubah. Waktu terlalu cepat berlalu, Areta bahkan hampir lupa pernah berbagi bekal dengan pria itu.


Buru-buru Areta memalingkan muka ketika Henry kembali dari dapur dengan kantung kompres. Pria tampan itu lantas berjongkok di depan Areta, meraih kaki Areta, lalu mulai mengompresnya.


"Maaf, aku harus menyentuh kaki kamu lagi kali ini," ucap Henry sambil menekan pelan kantung kompres itu di pergelangan kaki Areta.


"Tidak perlu, biar saya lakukan sendiri," tolak Areta.


"Jangan bawel, Areta. Turuti aku kali ini kalau kamu tidak ingin aku terkam malam ini."


"Te-terkam? Memangnya aku ini kelinci apa?" gumam Areta menggerutu.


"Kamu memang seekor kelinci. Kelinci yang menggemaskan." Henry menahan senyumnya. Malam terlalu indah untuk dilewatkan. Kapan lagi ia bisa punya kesempatan berdua bersama Areta walau dalam keadaan yang berbeda.


Henry pun hanya bisa menelan salivanya saat kaki jenjang serta paha mulus Areta terpampang di depan matanya. Belahan vertikal pada bagian bawah gaun yang dikenakan Areta itu menampakkan lekuk keindahan raga si pemakainya. Yang membuat Henry terkesima, namun berupaya menyembunyikannya dibalik sikap santainya.

__ADS_1


Padahal debar jantungnya menggila saat ini. Raga mulus Areta itu bahkan membangunkan si Jeki di balik celana bahannya hingga terasa sesak. Mumi kecil itu jadi sering terbangun setiap kali ia berada dekat dengan Areta. Jangankan berdekatan, bahkan hanya dengan membayangkannya saja mampu membangkitkan hasrat gairahnya.


"Biar saya lanjutkan saja sendiri. Malam hampir larut, sebaiknya Anda pulang," ucap Areta merasa tak nyaman jika Henry terlalu lama berada di apartemen ini bersamanya.


"Tidak sebelum kaki kamu sembuh."


"Sudah sembuh kok. Sudah tidak apa-apa, kaki saya sudah tidak sakit lagi. Sebaiknya Anda pulang sekarang. Jujur saja saya tidak nyaman ada Anda di sini."


Gerakan tangan Henry pun terhenti seketika. Ia lantas menghela napasnya pelan. Lalu mendongak, menatap lekat sepasang mata Areta.


"Baiklah, aku akan pulang. Tapi..." Henry menggantung kalimatnya sejenak. Kemudian ia bangun dan mendudukkan diri di samping kiri Areta. Kantung kompres diletakkannya di meja.


Refleks Areta menjauh, menggeser duduknya ke kanan.


"Kalau kamu tidak bersikap formal seperti ini lagi, baru aku akan pergi," sambung Henry.


"Tapi Anda atasan suami saya."


"Mantan suami. Dan aku adalah calon suami masa depan kamu. Aku ingin tidak ada lagi jarak yang memisahkan kita. Salah satunya adalah sikap formal kamu. Cobalah bersikap santai denganku. Tenang saja, aku ini bukan serigala pemangsa kok." Henry mencoba bersikap santai dengan mengajak Areta bercanda, agar Areta pun bisa bersikap sama seperti dirinya.


Areta meniupkan napasnya pasrah. Ia tahu tidak akan ada gunanya berdebat dengan Henry. Sehingga ia pun hanya bisa menuruti saja permintaan pria itu dengan berat hati. Jujur saja, tidak ada kenyamanan dalam hatinya berada dekat dengan pria itu.


"Ya sudah. Kalau begitu silahkan kamu pergi. Ini sudah larut malam, dan aku lelah. Aku mau istirahat." Terpaksa Areta menurut agar Henry secepatnya pergi dari apartemen ini.


"Oke calon istriku." Tersenyum senang, Henry kemudian berdiri.


"Kalau begitu aku pergi dulu. Jangan lupa kunci pintunya dengan baik. Jangan bukakan pintu untuk orang lain. Kalau kamu butuh sesuatu, hubungi aku."


Areta mengangguk, namun tak menatap Henry.


"Dan satu lagi..."


Areta tengah berpaling muka, melihat apapun di sekitarnya asalkan bukan menatap Henry. Namun tiba-tiba saja, hembusan napas hangat terasa menerpa kulitnya. Lalu bisikan lembut pun terdengar di telinganya.


"Ketahuilah, aku mencintaimu Areta."


Bisikan itu pun seketika membuat Areta terkesiap dengan napas yang terasa sesak tak nyaman. Ungkapan cinta Henry malah membuatnya merinding.

__ADS_1


*


__ADS_2