
Bab. 52
Kesulitan memejamkan mata, Angga memilih menyeduh secangkir kopi. Walau dipaksa pun matanya sulit untuk terpejam, jadi mengapa tidak terjaga saja semalaman?
Pemandangan kemesraan Henry dan Areta itu masih tergambar jelas di pelupuk matanya. Yang memantik api amarahnya seketika. Ada cemburu yang merasuki jiwanya, namun ia menyangkalnya.
Beberapa menit lalu ia meminta bantuan Rosa untuk menghubungi Areta dengan alasan Rosa merindukan ibunya. Padahal ia yang mulai merindukan Areta. Sebab belakangan ia merasa seperti ada yang kurang dalam hidupnya. Mungkinkah ia mulai merasa kehilangan?
"Kok kamu ngopinya tengah malam begini, Angga." Wirda tiba-tiba muncul di dapur, mengagetkan Angga yang tengah mengaduk kopinya.
"Amu tidak bisa tidur, Bu." Angga menyahuti sembari membawa secangkir kopinya menuju ruang tengah. Menyalakan TV lalu mendudukkan diri di sofa ruang tengah tersebut.
"Memangnya kenapa kamu tidak bisa tidur? Kamu dan Mega baik-baik saja kan?" Sembur Wirda menyusul ke ruang tengah setelah meneguk segelas air minum.
"Kami baik-baik saja, Bu."
"Lah, terus, kapan kalian nikahnya? Ibu mau secepatnya saja kalian menikah. Kamu perlihatkan tuh sama Areta, kalau kamu jauh lebih bahagia bersama Mega. Palingan juga rumah tangganya Areta tidak akan sebahagia kamu. Mungkin saja dia hanya dijadikan pembantu oleh mertuanya. Mana mungkin juga atasan kamu itu beneran cinta sama dia."
Angga terdiam, pikirannya mulai mengelana. Padahal ia sudah terlanjur menggadaikan sertifikat rumah ibunya untuk membiayai pernikahannya dengan Mega. Bahkan semua uangnya sudah ia transfer ke rekeningnya Mega. Juga ia telah melamar Mega secara resmi pada kedua orang tuanya.
Namun, entah mengapa hatinya mulai meragu. Bayang-bayang Areta malah terlalu sering datang mengganggunya. Tiba-tiba saja ia merasa seolah ada yang kurang dalam hidupnya. Setiap malamnya ia merindukan Areta. Berbaring di samping Areta, memeluknya, menciumnya, membelainya, mem ...
"Bu, tolong jangan ungkit dulu masalah pernikahan aku dengan Mega. Aku pusing, di kantor banyak kerjaan belakangan ini." Angga meminta, berdalih atas kegalauannya saat ini. Yang sebetulnya disebabkan oleh Areta.
...
Fajar menyingsing, berganti mentari memancarkan sinar hangatnya. Sehangat pemandangan dua sejoli yang tengah menikmati sarapannya sembari sesekali saling melempar senyuman hangat. Bahkan sesekali juga Henry meraih jemari Areta, mengecupnya penuh kasih.
Agatha yang menyaksikan pemandangan itu hanya bisa bertanya-tanya dalam hati. Ingin bertanya secara langsung, ia takut akan menyinggung perasaan Henry. Sebab tak biasanya Areta terlihat bersikap manis kepada sang putra. Membuatnya bertanya-tanya juga curiga.
Selesai sarapan, Areta mengantar Henry sampai ke depan pintu. Menyaliminya, melambaikan tangan begitu Henry menuruni teras rumah setelah melabuhkan kecupan hangat di keningnya.
Namun tangan Henry urung membuka pintu mobil. Ia memutar tubuh, memandangi Areta yang tengah berdiri di ambang pintu, menyunggingkan senyum kepadanya.
"Loh, kenapa?" Areta bertanya sembari melangkah menghampiri.
Henry tampak berpikir sejenak, sebelum akhirnya berkata. "Aku berpikir sebaiknya kamu ikut denganku ke kantor."
"Aku ikut kamu?" Areta terkejut. Mengarahkan telunjuk ke dadanya sendiri.
__ADS_1
Henry mengangguk.
"Apa nanti tidak akan aneh?" Sembari tertawa kecil.
Namun tawanya terhenti ketika Henry meraih pinggangnya. Merangkulnya, merapatkan tubuh Areta kepadanya. Yang membuat Areta risih, malu jika sampai dilihat orang rumah.
"Memang apanya yang aneh, hm? Justru aku sangat senang kalau kamu mau ikut denganku. Kamu tahu kenapa?"
Areta menggeleng, sembari tersenyum manja. "Kenapa?"
"Karena aku tidak mau jauh-jauh dari kamu."
Areta terkekeh. Dipukulinya gemas lengan Henry. "Gombal."
"Ini bukan gombal sayang. Tapi ini kenyataan." Memang sejak Areta membuka hati untuknya, ia semakin tak ingin jauh dari Areta. Hatinya cemas jika Areta jauh darinya. Bahkan berada di dekat Areta, menyentuh Areta sudah menjadi candu baginya.
"Iya, kenyataannya gombal kan?" goda Areta.
Balas Henry yang tertawa sembari mengelus lembut sebelah pipi Areta.
"Gimana ya aku menjelaskan ini sama kamu. Aku memang tidak bisa jauh dari kamu. Aku selalu merindukanmu setiap kamu jauh dari aku. Dan ..." Henry menjeda kalimatnya sejenak, lalu mengedarkan pandangan. Memperhatikan keadaan sekeliling.
"Dan yang paling aku rindukan dari kamu adalah ini ..." Cepat Henry membenamkan wajahnya. Menyatukan bibirnya dengan bibir Areta. Mulai menyesapnya lembut mengikuti irama hatinya yang tengah kasmaran.
"Kamu iih ..." Areta memukuli lengan Henry begitu Henry melepas pagutan. Kedua pipinya merona malu serta degup jantungnya bertalu-talu hebat.
"Kalau ada yang lihat gimana?" Sembur Areta memelototkan matanya kesal.
Namun Henry malah tersenyum-senyum. Lantas mendaratkan kembali satu kecupan singkat di bibir Areta.
"Biarkan saja. Aku tidak peduli. Ya sudah, ayo ikut aku," ajaknya.
"Tapi, Henry. Hari ini aku rencananya mau ketemu Rosa."
"Nanti aku antar."
"Tapi ..."
"Areta." Henry menatap Areta tajam namun tanpa kekesalan. Ia setengah memaksa.
__ADS_1
"Baiklah. Tapi aku ambil tasku dulu di dalam."
Bergegas Areta memasuki rumah, hendak ke lantai dua untuk mengambil tasnya di dalam kamar. Namun langkahnya terhenti pada pijakan anak tangga pertama ketika terdengar suara Agatha memanggil.
"Areta."
Areta pun menoleh. Langsung bersikap santun ketika Agatha datang menghampiri.
"Ada yang bisa aku bantu, Mah?" tanyanya sungkan.
Agatha tersenyum sinis mendengar Areta tak berbicara formal lagi kepadanya. Yang artinya Areta sudah meruntuhkan jarak yang tak terlihat lagi antara dirinya dengan keluarga Adiswara.
"Mama cuma mau minta tolong sama kamu. Tolong jangan kamu permainkan Henry. Mama lihat apa yang kalian lakukan tadi di depan." Melihat Areta dan Henry berciuman di depan rumah beberapa menit lalu, mengharuskan Agatha membuka suara. Sebab ia tak ingin sang putra disakiti.
Areta mengulum senyuman sebab ia memahami perkataan Agatha. Ibu mana yang rela melihat anaknya terluka. Agatha pun sama, tak ingin putra terkasihnya tersakiti hanya karena cinta.
"Aku menyayangi Henry tulus, Mah," sahutnya malu-malu.
"Areta, kamu masih punya kesempatan untuk memikirkan tawaran Mama. Tolong kamu pikirkan ini baik-baik. Jangan sampai Henry yang akan tersakiti."
"Mah ..." Areta menghela napas sejenak. Ia tahu tak mudah mengambil keputusan ini. Sebab ada masa depannya yang dipertaruhkan. Tapi berkat ketulusan Henry, ia pun meyakinkan diri untuk menerima Henry sebagai masa depannya.
"Aku tahu Mama tidak menyukaiku karena latar belakangku. Aku menikahi Henry karena uang. Aku yakin Mama juga tahu hal itu. Aku sadar, tidak seharusnya aku memanfaatkan Henry hanya demi keuntunganku. Kalau memang Mama tidak bisa menerimaku, aku bersedia pergi dari kehidupan Henry. Aku tahu, kehadiranku merupakan aib bagi keluarga kalian." Areta menundukkan wajahnya malu, juga sadar diri jika kehadirannya hanya membawa malu keluarga Adiswara.
Tanpa sepengetahuan Areta dan Agatha, Henry berdiri di seberang. Melihat dan mendengarkan percakapan istri dan ibunya dengan wajah sendu.
"Areta, Mama sudah mendengar tentang kamu dari Nino. Mama juga sudah tahu bagaimana cara Henry mendapatkan kamu. Mama tuh sebenarnya kasihan sama kamu. Untuk itulah kenapa Mama memberi kamu tawaran seperti itu. Agar kamu punya kesempatan untuk kembali berkumpul dengan keluarga kamu. Tapi ..." Agatha menggantung kalimatnya sejenak. Diraihnya jemari Areta ke dalam genggamannya.
"Mama sungguh sangat berharap lebih sama kamu. Henry itu anak yang tulus. Mama cuma mohon sama kamu, jangan kamu sakiti anak Mama," sambungnya meminta.
"Mah, mungkin aku telat menyadari ini. Tapi aku janji sama Mama, aku akan mencintai Henry setulus hatiku. Apapun yang terjadi nanti, aku tidak akan pernah pergi meninggalkannya."
Agatha mengukir senyuman, lalu meraih Areta ke dalam pelukannya. Tangannya bergerak naik turun mengusap lembut punggung Areta.
"Maafkan Mama yang sempat menyakiti perasaan kamu. Mama menerima kamu apa adanya. Asalkan kamu mencintai Henry. Hanya itu yang Mama inginkan."
Di seberang, Henry tersenyum bahagia menyaksikan pemandangan yang membuatnya terharu.
*
__ADS_1