Antara Cinta Dan Obsesi

Antara Cinta Dan Obsesi
ACDO Bab. 70


__ADS_3

Bab. 70


Memang tidak mudah berada diantara dua pilihan itu. Sebab ada harga diri yang dipertaruhkan. Tapi menjadi pengangguran tak pernah terbayangkan olehnya ditengah kesulitan yang ia hadapi saat ini. Angga bimbang sejenak, belum lagi ada ibu uang masih bergantung kepadanya. Mau tidak mau ia pun tak punya pilihan lain.


"Terima kasih Pak Henry masih berbaik hati kepada saya," ujarnya tak melupakan tata krama. Walaupun hatinya mencelos, rasa-rasanya seperti ia tak punya muka lagi. Terpaksa ia menerima karena ia memang sangat membutuhkan biaya untuk kehidupan sehari-harinya. Belum lagi Mega sedang hamil sekarang. Yang tentu saja butuh biaya yang tak sedikit.


"Berterima kasihlah pada Areta. Sebetulnya aku yang sangat ingin memecat kamu. Tapi berkat Areta lah, aku mengambil keputusan ini. Kamu tahu kenapa?"


Angga menggeleng lemah.


"Karena aku tidak mau kamu mengganggu istriku lagi. Aku tidak mau kehadiran kamu mengganggu kejiwaannya. Apalagi dia sedang hamil sekarang ini. Aku tidak ingin kehamilannya terganggu karena stress. Kehadiran kamu disekitar istriku itu jelas-jelas sangat mengganggu."


"Areta ha-hamil?" Hati Angga mencelos mendengarnya. Perih, entah mengapa.


Henry hanya tersenyum. Tak menanggapi lebih.


Angga tak memungkiri, ada sedikit perasaan cemburu di hati mendengar kabar kehamilan Areta. Ia juga cemburu ketika tahu jika Areta bahagia dengan pernikahannya.


Langkah kakinya serasa lesu keluar dari ruangan Henry. Ia terbayang-bayang kenangannya dahulu bersama Areta. Ketika mereka masih berbahagia kala itu.


Dimatanya Areta adalah sosok wanita yang hangat, tak segan menunjukkan perhatian dan kasih sayangnya. Terkadang juga Areta menjadi agresif di saat-saat tertentu. Ia rindu akan sosok Areta dahulu, yang hanya tersenyum kepadanya, yang hanya mencintainya.


Namun sayangnya ia telah menyia-nyiakan semua itu. Tergoda akan sosok bening di luaran sana, ia malah membuang yang bersinar.


Teringat akan kenangan manis itu, tanpa ia sadari air mata menetes begitu saja dari pelupuk matanya.


"Andai aku tidak serakah ..." Angga pun hanya bisa bergumam, menyesali apa yang telah hilang darinya.


...


Membawa langkah panjangnya memasuki kediaman Adiswara, Henry melepas jas yang dikenakannya. Ia lantas mengambil duduk di sofa ruang tengah, yang jaraknya berdekatan dengan dapur dan ruang makan. Jas ia letakkan di sofa. Ia lantas membuka dasi, membuka dua kancing teratas kemejanya. Menghembuskan napasnya panjang, ia kemudian menyandarkan punggung, mengistirahatkan sejenak tubuh lelahnya di sofa itu.


Dari dapur Agatha bisa melihat Henry yang tengah bersandar punggung sembari memijit pelipisnya. Saking senangnya dengan kabar kehamilan Areta, Agatha memilih membantu Bi Lastri di dapur, membuatkan makanan favorit Areta.


"Loh, kok Mama di dapur? Aku bantuin ya Mah?" Tiba-tiba Areta muncul, menawarkan bantuan jasa.


Namun Agatha menolak.


"Tidak perlu, ada Bi Lastri kok. Mendingan kamu urus saja tuh, suami kamu." Sembari menunjuk Henry dengan dagu serta kerlingan matanya.

__ADS_1


Lekas menoleh, Areta terkejut melihat Henry, sudah pulang tapi tak langsung naik ke kamarnya.


Sambil matanya terpejam, Henry tengah memijat kepalanya yang terasa sakit. Ia pun dibuat terkejut saat tiba-tiba sepasang tangan lembut menyingkirkan kedua tangannya dari kepala, menggantikan memijat kepalanya dengan lembut.


Sontak Henry membuka matanya. Wajah cantik nan pucat Areta pun langsung tersaji di depan matanya. Ia lantas mengulurkan tangan kanannya meraih tengkuk Areta, menariknya lalu melabuhkan satu kecupan manis di kening Areta.


"Bukannya aku memintamu beristirahat?" Ujar Henry.


"Aku sudah tidak apa-apa. Lagian aku bosan di kamar terus." Sembari memutari sofa, kemudian mengambil duduk di sebelah Henry.


"Kamu kenapa? Kurang enak badan?" tanyanya kemudian.


Henry menggeleng. "Kepalaku sedikit pusing. Badanku juga terasa pegal semua. Mungkin butuh pijatan khusus dari kamu," kelakarnya tersenyum nakal.


"Sini, aku akan memijatmu." Areta mengulurkan tangan, hendak meraih kepala Henry.


"Bukan pijat yang itu sayang." Namun Henry malah menepis tangan Areta.


"Maksud aku ..." Ia mengulurkan tangan, menyelipkan sebagian rambut Areta yang tergerai ke belakang telinga. Lantas mendekat, membenamkan waja di ceruk leher Areta, menghidu aroma tubuh Areta yang belakangan ini menjadi candu baginya.


"Pijat spesial," sambungnya setengah berbisik sensual.


"Mandi dulu sana. Kamu bau keringat," usulnya sembari tersenyum.


"Kamu yang mandikan." Menarik wajahnya dari ceruk leher Areta. Hasratnya terpantik seketika, padahal Areta tidak menjanjikan akan menuruti keinginannya. Tapi hasratnya sudah menggebu-gebu.


Sembari tersenyum, Areta menggeleng. "Mandi sendiri dong. Kamu kam sudah dewasa," kelakarnya.


"Takut tidak bersih nanti," kilah Henry.


"Ck ck ck, astaga ... Banyak sekali alasan Tuan Henry ini. Emang secapek itu ya, sampe mandi sendiri saja tidak bisa."


"Mantan suami kamu itu bikin kepalaku sakit. Disaat seperti ini dia masih saja memikirkan harga dirinya. Padahal aku tahu persis seperti apa keuangannya sekarang ini. Dia terlilit hutang besar di bank."


Areta tak menanggapi. Ia mendengarkan saja penuturan Henry. Memang sebelumnya ia sempat meminta Henry agar tidak memecat Angga. Sebab Angga masih memiliki tanggungan, yaitu ibunya. Ia melakukan hal itu bukan karena ia masih memiliki perasaan, melainkan lebih ke kemanusiaan semata. Walaupun ia pernah merasa kesal dengan mantan ibu mertuanya itu, tapi ia pun tak tega jika sampai mereka hidup susah. Apalagi kalau sampai ngeluntang lantung di jalanan.


"Jadi terpaksa aku mengambil keputusan memindahkannya ke kantor cabang di luar kota. Bukan hanya untuk membantunya, aku melakukan itu juga untuk menjauhkan dia dari kamu."


Helaan napas panjang Areta terdengar. Yang menyiratkan kelegaan akan keputusan arif yang diambil Henry.

__ADS_1


"Terus, gimana perasaan kamu sekarang?" tanya Areta pada akhirnya. Sebab tak mudah mengambil keputusan seperti itu.


"Perasaan kamu sendiri gimana?" Henry malah balik bertanya. Walau seringkali Areta meyakinkannya bahwa tidak ada lagi perasaan Areta yang tersisa untuk Angga, entahlah, ia hanya ingin tahu saja seperti apa perasaan istrinya itu terhadap mantan suaminya tersebut.


Areta menggeleng pelan. "Biasa-biasa saja. Aku malah bangga sama kamu," sembari mengulas senyum.


"Kamu sungguh pria berhati mulia. Aku tahu kamu melakukan ini untuk membantunya. Aku sangat beruntung bisa memiliki kamu di dunia ini," sambungnya memuji, tulus dari dasar hatinya.


Hati Henry pun menghangat seketika mendengar perkataan manjs Areta. Ia lantas menempelkan dahinya dengan dahi Areta.


"Justru aku yang lebih beruntung bisa memiliki kamu. Kamu adalah segalanya bagiku," ujarnya lirih dengan nada mendamba.


"Apa kamu sedang menggombal?"


"Kamu tebak saja sendiri. Apa ini sekedar gombalan atau perasaan aku yang sebenarnya."


"Baiklah, Tuan Henry. Mau di pijat sekarang atau nanti? Kita hanya punya waktu dua jam sebelum makan malam."


Senyuman Henry tertahan. Ia lebih dari tahu apa maksud ucapan Areta. Yang membuat geli hatinya seketika. Bahkan jantungnya pun mendadak berdetak kencang. Kalimat Areta itu ia akui mampu membangunkan sisi kelelakiannya dalam sekejap.


"Kamu serius kan?" tanyanya.


Areta tertawa kecil. "Kamu tebak saja sendiri. Ya sudah, kalau kamu tidak mau. Tidak ada kesempatan kedua."


"Ish ... Kamu nakal."


Areta hanya tertawa. Lalu tanpa ia duga, tiba-tiba saja tubuhnya melayang di udara. Tanpa aba-aba, Henry membopong tubuhnya ala bridal, lalu lekas membawanya menaiki anak tangga menuju kamar. Hendak bergegas naik ke peraduan, menuruti gejolak di jiwa yang mulai menggebu-gebu, membawa hawa panas yang serasa membakar jiwa.


"Turunkan, aku berat." Areta merengek. Khawatir Henry takkan mampu menggendongnya sampai kamar.


"Kamu meragukan aku? Kamu lebih dari tahu seperti apa kemampuanku."


"Oh ya? Aku ingin buktinya."


"Segera sayangku. Bersabarlah sedikit." Sembari terus menapaki anak tangga satu per satu.


Di dapur rumah itu, Agatha dan Bi Lastri tersenyum-senyum melihat kemesraan sepasang suami istri tersebut.


Bagi Agatha sendiri, tiada yang lebih membahagiakan selain melihat kebahagiaan sang putra. Yang kini telah menemukan tambatan hatinya. Baginya itu sudah lebih dari cukup. Karena kebahagiaan seorang ibu ada pada anak-anaknya.

__ADS_1


*


__ADS_2