
Bab. 50
Duduk bersebelahan di tepian tempat tidur, Henry meraih jemari Areta ke dalam genggaman eratnya. Saling menatap dalam jarak pandang beberapa jengkal saja membuat Henry bisa leluasa menelisik lekuk paras manis Areta.
"Sebenarnya aku ingin memberitahu kamu ini sejak tadi. Hanya saja aku bingung harus memulainya dari mana. Aku juga takut kamu tidak akan menyukainya. Areta, aku ingin menjadi ayah buat Rosa. Untuk itu aku butuh kamu di sampingku. Tolong beri aku kesempatan untuk menjadi ayah yang baik dan bertanggung jawab buat Rosa," ucap Henry tulus. Terlihat dari pancaran sinar matanya yang berbinar-binar bahagia. Sebab Areta mulai meluluh, tak lagi memberikan perlawanan ketika ia mendekat.
"Tapi tolong kamu pikirkan sekali lagi. Akan lebih baik jika kamu mendengarkan apa kata mama kamu."
"Areta, please ... Tolong jangan kamu ungkit lagi apa yang pernah dikatakan mama. Sekarang kita bahas saja tentang masa depan kita. Aku, kamu, dan Rosa."
"Tapi apa yang dikatakan mama kamu itu benar. Aku hanya tidak mau merusak hubungan kamu dan mama kamu. Aku tidak mau kamu jadi anak yang berdosa karena melawan orang tua. Coba kamu perhatikan aku baik-baik. Lihat aku dari sudut pandang yang berbeda. Sedikitpun tidak ada yang bisa kamu banggakan dari diriku.
"Masih banyak perempuan cantik di luar sana yang lebih baik dari diriku dan lebih pantas mendampingi kamu, Henry. Untuk apa kamu menyia-nyiakan masa depan kamu untuk wanita seperti aku ini. Yang bahkan seujung rambut pun sangat tidak pan_" kalimat panjang Areta terhenti ketika Henry menempelkan jari telunjuk di bibirnya.
"Aku sungguh tidak suka mendengar kamu membanding-bandingkan diri kamu sendiri dengan perempuan-perempuan di luar sana. Bagiku, kamu adalah yang terbaik. Memang, yang cantik banyak. Yang lebih baik juga banyak. Tapi dari semua perempuan yang ada di dunia ini, sayangnya hanya ada satu Areta. Dan itu adalah kamu." Menajamkan tatapan, Henry menunjukkan kesungguhannya melalui sorot matanya.
Areta bisa merasakan kesungguhan Henry, namun ia berusaha menyangkal. Bahkan berusaha melawan kata hatinya sendiri. Ia bahkan berusaha menolak rasa yang mulai hadir, membawa getar-getar tak biasa dalam dadanya. Yang ia sendiri sebetulnya memahami perasaan seperti apa gerangan.
Namun ia tak ingin terlihat sebagai wanita yang terlalu mudah takluk dan diluluhkan hanya dengan perkataan manis dan laku lembut seorang lelaki. Terlebih jika menilik kembali tujuannya menerima pernikahan ini, rasa-rasanya akan memalukan jika suatu hari ia mengakui jika ia pun mulai memiliki perasaan yang sama.
"Jika yang terbaik sudah aku dapatkan, untuk apa lagi aku mengharapkan yang lain," ujar Henry menatap lekat sepasang mata Areta. Sembari membawa jemari kanannya menyentuh lembut pipi kiri Areta.
"Andai kamu pergi dariku, apa kamu yakin aku bisa bahagia bersama dengan yang lain? Sedangkan kebahagiaan aku adalah kamu," sambungnya melembutkan nada suaranya.
Membuat hati Areta menghangat seketika. Ia terharu dengan ungkapan perasaan Henry yang begitu tulus. Jantungnya bahkan berdebar hebat diperlakukan seistimewa ini. Perlakuan yang bahkan hampir tak pernah diterimanya dari Angga, mantan suaminya. Hanya pada awal-awal pernikahan saja Angga memperlakukannya hampir serupa.
"Tolong kamu kasih tahu aku apa kekuranganku. Agar aku bisa berbenah diri menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Agar aku pantas menjadi suami dan ayah yang baik buat kamu dan Rosa."
__ADS_1
Areta pun tertegun. Tak bisa ia pungkiri Henry memiliki hati yang tulus. Tetapi, apakah mungkin Rosa akan bisa menerima Henry sebagai ayahnya. Sedangkan gadis kecil itu belum tahu-menahu perihal kenyataan orang tuanya yang sudah berpisah.
"Tapi Hen_" Sembari meraih jemari Henry dari wajahnya. Menurunkannya, menaruhnya bertumpuk dengan jemarinya sendiri.
"Areta, please ... Aku tidak ingin mendengar kata itu lagi. Tolong jangan pernah kamu merendahkan diri kamu sendiri. Aku sangat tidak menyukai itu. Mau orang berkata apapun tentang kamu, aku tidak peduli. Pantas dan tidak pantasnya kamu buat aku, itu hanya aku yang tahu."
"Tapi, Henry tolong kamu pikirkan ini baik-baik. Jangan sampai nanti kamu menyesal. Aku tahu kamu laki-laki yang baik. Kamu berhak mendapatkan wanita yang baik. Dan wanita itu bukan aku."
Menghela napasnya panjang, Henry menundukkan wajahnya. Ia tahu tak mudah merebut hati Areta. Tetapi bukan berarti ia akan menyerah dengan mudahnya.
Menarik tangannya dari genggaman Areta, Henry lantas memiringkan sedikit posisi duduknya menjadi berhadapan dengan Areta.
"Siapa yang bilang kamu bukan wanita yang baik? Hm?" tanyanya sembari membawa kedua tangannya menangkup wajah Areta. Mengunci tatapannya, mencoba meyakinkan Areta sekali lagi akan kesungguhan hatinya.
"Aku tahu kamu belum bisa membuka hati kamu untukku. Tapi aku sangat yakin, di hati kamu pasti ada sedikit celah. Aku hanya minta tolong, kasih aku kesempatan untuk memasuki celah itu. Akan aku buktikan ke kamu, dan kamu bisa melihat kesungguhanku, Areta," sambungnya parau. Dengan tatapan sayu, merayu kuncup bunga di hati Areta untuk bersemi dan berkembang.
Mungkin.
Namun ia tak ingin menerka-nerka, lantas mengambil kesimpulan sendiri. Sedangkan mungkin Areta hanya merasa iba saja kepadanya. Iba bukan berarti cinta bukan?
"Areta, aku harap kamu tidak akan merasa bosan mendengar ini dariku." Henry menghela napasnya sejenak, sebelum akhirnya kembali berkata, "Aku mencintaimu apa adanya."
Kalimat terakhir Henry itu pun akhirnya menerbitkan senyum di wajah Areta.
"Andai aku kasih kamu kesempatan, apa kamu tidak akan menyesal?" tanya Areta tiba-tiba.
Menggelengkan kepalanya cepat, Henry diserbu perasaan haru juga bahagia. Sebab pertanyaan itu merupakan pertanda jika Areta sudah mulai membuka hati untuknya.
__ADS_1
"Tidak akan pernah, Areta. Aku tidak akan pernah menyesal dan aku tidak akan pernah mundur untuk mendapatkan hati kamu," ujarnya bersemangat. Wajahnya pun mulai berseri-seri.
"Kalau begitu, silahkan maju. Aku ingin lihat seberapa kuat tekad kamu. Aku_" Belum sempat Areta menuntaskan kalimatnya, Henry telah lebih dulu membungkamnya dengan ciuman lembut.
Membuat Areta terkesiap, terkejut menerima serangan mendadak. Henry yang lihai memainkan perannya, berhasil membuat Areta terbawa oleh permainan lembutnya. Areta pun hanya bisa memejamkan matanya menerima cumbuan lembut Henry.
Areta yang terbuai pun memasrahkan diri saat Henry merebahkannya perlahan, sembari buas mencumbu. Tidak adanya penolakan dari Areta membuat Henry kalap mencicipi keindahan raga Areta. Satu per satu kancing piyama Areta sudah terlepas dari tautannya. Sehingga menampakkan dua aset mulus Areta yang terbungkus rapi dibalik kain berenda berwarna hitam.
Sembari menurunkan kecupan dari sepanjang leher, jemari Henry tak tinggal diam. Jemari itu mulai menelusuri punggung Areta, hendak meraih pengait si kain berenda di balik punggung itu saat tiba-tiba ...
Drrrrt Drrrrt Drrrrt
Bunyi getar ponsel di atas nakas menghentikan aksi kalap Henry. Gairahnya yang sudah meluap-luap itu pun harus ia tahan sejenak. Ia pun hanya bisa meniupkan napasnya kasar.
Sedangkan Areta bergegas bangun lalu meraih ponselnya yang bergetar itu dari nakas. Cepat ia menautkan kembali kancing piyamanya sebelum akhirnya menjawab panggilan video dari Angga.
Sedikit kesal, tetapi Areta juga tak bisa mengabaikan panggilan dari mantan suaminya itu. Karena bisa saja Rosa yang menghubunginya dengan menggunakan ponsel ayahnya.
Dan benar saja, begitu tombol hijau digeser, wajah Rosa terpampang jelas di layar ponselnya.
"Mama ..." panggil Rosa begitu panggilan tersambung.
Sembari memperbaiki rambutnya yang sedikit berantakan, Areta menjawab, "Halo, sayang. Mama kangen banget sama Rosa. Rosa kenapa belum tidur, Nak?"
["Rosa kangen Mama. Rosa mau Mama pulang. Kasihan Papa Rosa setiap malam tidurnya sendiri. Memangnya Mama di mana sih? Pulang ya Mah?"] Rosa memasang wajah cemberut, ingin sang mama menuruti permintaanya.
Tak lekas menanggapi permintaan Rosa, Areta melirik Henry sejenak. Yang menatapnya dengan tatapan mendamba, ingin Areta memahami hasratnya yang terbendung.
__ADS_1
*