
Bab. 55
Duduk gelisah di kursi kerjanya, ekspresi murkanya tak jua surut dari wajahnya. Ia kalang kabut, merasa kehabisan akal untuk bisa kembali memperdaya Areta melalui Rosa.
Bayangan kemesraan Areta dengan Henry masih menari-nari di pelupuk matanya. Seolah Areta tengah meledeknya, membuat amarahnya meluap-luap tak terkira. Ia tak terima mengapa Areta malah berbahagia di atas kesakitannya.
Harus ia akui, ia baru merasa kehilangan ketika ia merasakan sesuatu yang kurang dalam hidupnya. Seperti perhatian Areta, kasih sayangnya, pelukan hangatnya. Ia tak merasakan semua itu lagi semenjak Areta berpisah darinya.
Padahal sudah ada Mega, yang tak lama lagi akan ia nikahi. Namun entah mengapa, hatinya masih saja merasa kosong. Ia tak memungkiri, perhatian yang diberikan Mega jauh berbeda dengan perhatian yang sering ia terima dari Areta dahulu. Yang sayangnya ia baru menyadari hal itu belakangan.
Angga tengah menahan amarahnya yang menggunung dengan kedua tangan terkepal erat, saat tiba-tiba Mega datang ke ruangannya.
"Loh, loh, kamu kenapa sih? Kok mukanya serem gitu?" Mega mengerutkan dahinya heran ketika menghampiri Angga yang menampakkan raut wajah berbeda. Tak biasanya Angga menyambut kedatangannya dengan wajah marah seperti ini.
"Duduk saja dulu di kursi. Aku lagi pusing, tolong jangan ganggu aku." Angga menolak ketika Mega hendak mendaratkan pantatt di pangkuannya.pl
Membuat Mega terheran-heran. Menautkan alisnya dalam, Mega memperhatikan raut wajah Angga.
"Kamu ini kenapa sih? Tidak biasanya kamu bersikap seperti ini padaku. Apa jangan-jangan kamu_"
"Jangan bodoh, Mega. Apa kamu mulai mencurigaiku lagi? Asal kamu tahu ya, apapun yang aku lakukan, Areta tidak pernah sekali pun mencurigaiku seperti ini." Dengan cepat Angga menyela ucapan Mega. Saking masih terbawa sisa-sisa emosinya, ia bahkan sampai mengungkit Areta tanpa sadar.
Membuat Mega otomatis naik pitam. Ia pun tersulut emosi, ia jengkel Angga membanding-bandingkannya dengan mantan istrinya seperti ini. Harga dirinya tersakiti, sebab ia merasa tak selevel dengan Areta. Baik dari latar belakang, penampilan, bahkan sampai prestasi. Lalu Angga malah membandingkannya dengan wanita kampungan seperti Areta? Oh jelas ia tak bisa terima.
"Ooh ... Jadi sekarang kamu mulai berani membanding-bandingkan aku dengan mantan istri kamu yang kampungan itu?
"Dengar ya Angga, seujung rambut pun aku tidak bisa dibandingkan dengan mantan istri kamu yang sok suci itu. Lagaknya sok suci, sok alim, eh tau-taunya lacur juga. Kalau bukan karena menjual tubuhnya, mana mungkin orang seperti Pak Henry terpikat dengan perempuan seperti itu. Cih!" Amarah Mega terpantik, terpancing oleh kalimat Angga yang terkesan tak menghargainya lagi. Ia sampai menyalak, memelototi Angga dengan geramnya.
Sementara Angga yang dipelototi malah semakin tersulut emosinya. Perlakuan Mega seperti menyiram minyak dalam api yang sedang menyala. Membuat api amarah yang belum padam itu justru semakin berkobar.
"Jaga mulut kamu ya!" Bagun dari kursinya Angga berdiri tegak, menantang Mega dengan berapi-api.
"Mulut kamu tuh yang harusnya dijaga. Kamu pikir perempuan kampungan seperti mantan istri kamu itu selevel denganku? Aku tak terima dong kamu banding-bandingkan aku dengan dia."
"Areta itu bukan perempuan seperti yang kamu kira. Sekali lagi aku dengar kamu menghina Areta, maka aku_"
__ADS_1
"Maka aku apa? Hah?" Mega tak mau kalah. Ia balas menantang Angga, membusungkan dada dengan sombongnya.
Angga pun hanya bisa mengepalkan tinjunya kuat, saking geram dengan keangkuhan Mega. Yang dengan berani melawan calon suaminya sendiri. Dengan melihat sifat dan perilaku Mega saat ini saja Angga sudah bisa memprediksi akan seperti apa rumah tangganya nanti dengan Mega. Mana bisa seorang wanita temperamental seperti Mega ini akan ia jadikan istri dan ibu bagi Rosa.
Tidak!
Tidak bisa!
"Dengar ya, Angga. Jangan coba-coba kamu mengancam aku. Apa kamu pikir aku sama dengan mantan istri kamu itu? Aku bukan perempuan bodoh yang mudah kamu perdaya." Mega menegaskan sembari mengarahkan jari telunjuknya ke wajah Angga.
Angga pun hanya bisa menelan salivanya kasar. Semakin ke sini ia semakin melihat jelas perbedaan Mega dan Areta. Jika Areta akan selalu sabar menghadapinya, tapi tidak dengan Mega. Wanita berambut cokelat panjang itu bahkan dengan berani melawannya. Jika sudah seperti ini, masihkah ia berniat menjadikan wanita seperti Mega sebagai istrinya?
Membuang muka, Mega lantas mengayunkan langkahnya meninggalkan ruangan Angga. Menyisakan Angga yang menatap tajam punggung Mega sampai menghilang dibalik daun pintu yang menutup.
Angga pun menggeleng frustasi. Ia semakin terbayang kengerian perjalanan biduk rumah tangganya dengan wanita temperamental seperti Mega. Takkan mungkin ia bisa hidup tenang jika mempunyai istri pembangkang seperti Mega ini. Akan jadi seperti apa nasib rumah tangganya nanti.
...
"Oma ..." Rosa memanggil dengan suara pelan. Menghampiri Wirda yang tengah duduk di teras rumah, berbincang-bincang dengan tetangga yang datang bertamu.
"Rosa boleh pinjam handphonenya Oma tidak?" Wajah Rosa terlihat sendu, memelas dengan memasang wajah menghiba.
"Buat apa, sayang?"
"Rosa pengen nelfon Mama. Rosa kangen Mama."
"Ya sudah, ambil saja di kamar Oma."
Rosa pun senang, kegirangan begitu diperbolehkan oleh Wirda. Bergegas ia mengayunkan langkahnya memasuki rumah, hendak ke kamar omanya saat terdengar obrolan Tante Yuni, tetangga sebelah yangs sering datang mengobrol dengan Wirda.
"Eh, Bu Wirda, dengar-dengar Angga dan Areta itu sudah pisah ya?" Terdengar Yuni bertanya.
Pertanyaan Yuni itu pun seketika membuat ayunan kaki mungil Rosa terhenti. Pelan, Rosa menghampiri jendela ruang tamu. Daei jendela itu ia bisa mendengar dengan jelas obrolan dua wanita tersebut.
"Bu Yuni tahu dari mana?"
__ADS_1
"Banyak tetangga yang sudah pada tahu, Bu Wirda. Saya dengar Areta juga sudah menikah lagi ya. Dengan atasan Angga pula. Apa benar begitu Bu Wirda?"
Dari balik jendela Rosa memperhatikan, memasang telinganya tajam. Walaupun ia seorang anak kecil, namun ia mengerti dengan obrolan dua orang dewasa tersebut.
"Bu Yuni ini tahu dari mana sih?" Wirda terlihat salah tingkah. Sesekali ia melirik ke arah pintu, memastikan jika Rosa sudah tak berada lagi di sana.
"Tidak penting saya tahunya dari mana Bu Wirda. Jaman sekarang informasi tuh lebih cepat. Kalau cuma masalah Areta sama Angga mah, sudah banyak yang pada tahu, Bu. Katanya Angga juga akan segera menikah lagi ya?. Memangnya ada masalah apa sih Bu antara Areta dan Angga. Kok bisa-bisanya mengambil keputusan seperti itu. Apa mereka tidak memikirkan nasib anak mereka?"
Wirda semakin salah tingkah. Kebenaran yang berusaha ia sembunyikan rapat-rapat, tak ia sangka akan semudah itu diketahui banyak orang.
Sementara Rosa yang sedang menguping dibalik jendela itu tengah memegangi dadanya. Wajahnya meringis kesakitan dengan bulir-bulir keringat yang mulai mengembun di dahinya. Dadanya kembang kempis, naik turun menahan sesak.
"Ma ... Ma ..." Rosa bergumam lirih, susah payah menyebutkan satu kata.
...
Sementara di lain tempat. Areta tengah memilih produk-produk untuk kebutuhan salonnya. Setelah mendapatkan produk yang ia mau, bergegas ia membawa barang-barang tersebut ke meja kasir sembari menerima panggilan telepon dari Henry.
Sedari tadi Henry tak henti menghubungi Areta demi memastikan keamanan sang istri di luar, berada jauh dari jangkauan matanya.
"Iya, sayang. Ini, aku sudah selesai belanjanya. Sekarang udah mau ke mobil. Nih, baru saja naik." Areta menyahuti setiap pertanyaan Henry sembari memberi kode kepada si supir untuk segera tancap gas.
Sepanjang perjalanan menuju Dreams Food sepanjang itu pula obrolannya dengan Henry tak terputus.
Namun begitu memasuki lobi Dreams Food, langkah kakinya pun terhenti ketika Angga datang menghampirinya sambil berlari-lari.
Wajah Angga terlihat tegang, panik, bercampur marah.
"Pantas saja dari tadi aku menghubungi kamu tapi tak pernah tersambung," ujar Angga sinis.
Areta pun gegas menutup obrolannya dengan Henry.
"Rupanya kamu malah sibuk bermesraan dengan suami kamu sementara anak kamu saat ini sedang sekarat di rumah sakit."
*
__ADS_1