
Bab. 38
"Waw..." Mega terpukau, ketika Angga datang menjemputnya menggunakan mobil baru. Kijang Innova Zenix Hybrid berwarna putih itu terparkir manis di depan rumahnya. Angga datang menjemputnya bak seorang putri malam ini.
"Gimana, kamu suka?" tanya Angga sembari merangkul pundak Mega. Tak sia-sia ia menjual rumah yang ditempatinya selama ini bersama Areta dan Rosa. Uang hasil penjualan rumah itu ia gunakan untuk membeli mobil keluaran terbaru dengan harga mencapai ratusan juta rupiah itu. Sebagai seorang direktur, tentu saja ia membutuhkan sebuah kendaraan sebagai penunjang gaya hidupnya.
"Tentu saja suka dong sayang. Ini harganya pasti mahal ya?"
"Buat kamu tidak masalah, sayang."
"Tapi..." Mega menoleh, memanyunkan bibirnya manja di depan wajah Angga.
"Tapi kenapa? Kamu tidak suka dengan mobilnya? Atau kamu mau merek yang lain?"
"Bukan. Aku cuma mikir, kalau kamu beli mobil semahal ini, terus gimana dengan pernikahan kita? Aku tidak mau loh ya, kalau pernikahan kita hanya digelar secara sederhana. Pokoknya aku maunya pernikahan kita itu digelar meriah dan mewah. Aku tidak mau jadi omongan tetangga."
"Kalau soal itu kamu tidak usah khawatir sayang. Aku sudah menyiapkan budget untuk itu."
"Oh ya?"
"Tentu saja, sayang. Untuk kamu apa yang tidak bisa aku berikan? Hm?" Angga menyentil gemas hidung Mega. Yang dibalas Mega dengan kecupan mesra di pipinya.
"Makasih ya, sayang?"
Angga tersenyum, merasa senang bisa memberikan apa yang diinginkan Mega. Demi mewujudkan pernikahan impian Mega, ia sampai menggadaikan rumah orang tuanya ke rentenir. Sementara hutang di bank belum ia lunasi.
Demi keinginan si kekasih hati Angga sampai harus meminjam dari rentenir dengan jaminan rumah yang masih ditempati oleh Wirda saat ini. Sebab hanya rumah peninggalan mendiang ayahnya itulah satu-satunya harta yang mereka miliki.
__ADS_1
...
Areta baru ingat, ia tidak membawa sehelai pun pakaian ganti. Semua pakaiannya masih berada di apartemen. Sehingga masih mengenakan kebaya pengantin, ia merebahkan tubuh lelahnya diatas selimut tebal yang ia ambil dari tempat tidur. Ia gunakan sebagai alas untuk ia berisitirahat setelah membuka sanggul rambutnya serta membersihkan wajahnya menggunakan tisu basah yang ada di kamar itu.
Ia baru saja merebahkan diri, matanya belum lama terpejam saat indera pendengarannya menangkap suara derit pintu terbuka. Disusul suara derap langkah yang terdengar semakin mendekat.
Ia menahan napas, berpura-pura telah tertidur lelap saat sebuah sentuhan hangat jemari Henry membelai wajahnya. Sebisa mungkin ia tak membuat gerakan, agar Henry mengira ia telah tertidur lelap.
Namun jantungnya tidak baik-baik saja saat sebuah kecupan menyusul, mendarat di pelipis kirinya. Posisi berbaringnya yang menyamping ke kanan itu memungkinkan baginya untuk menyembunyikan ketegangannya saat ini. Yang bisa saja akan tergambar jelas di wajahnya. Ia hanya ingin menghindari sesuatu yang tak ia inginkan terjadi kepadanya malam ini. Terlebih, status diantara mereka kini bukan lagi penghalang bagi Henry untuk bisa melakukan apa yang dikehendaki pria itu.
"Kenapa kamu malah tidur di bawah? Apa tempat tidurku masih kurang luas buat kamu?" Bisikan lembut itu terdengar di telinganya. Namun ia tak menghiraukan. Ia malah semakin merapatkan kelopak matanya.
"Apa kamu tidak kedinginan tidur di bawah sini?" Henry kembali berbisik di telinganya. Membuatnya tak bisa tenang. Deru napasnya yang memburu menjadi pertanda jika ia ketakutan saat ini. Ia hanya tak ingin pria itu sampai berbuat macam-macam kepadanya.
"Nanti kalau kamu sakit gimana?"
Namun rupanya, harapan tinggallah harapan. Matanya yang dipaksakan terpejam itu harus terbuka kembali saat tiba-tiba tubuhnya malah melayang di udara. Membuatnya terkejut luar biasa. Kedua matanya membeliak kaget menatap Henry. Yang malah tersenyum menatapnya.
"Aku tahu kamu belum tidur," ucap Henry dengan posisi mengangkat tubuh Areta. Hendak membaringkannya di tempat tidur.
Begitu memasuki kamar, ia disuguhi pemandangan yang terus terang saja membuatnya kaget sekaligus ada sedikit rasa kecewa. Sebab dari tingkah Areta yang terlihat saja ia bisa melihat dengan jelas bila wanita itu masih belum bisa menerimanya sebagai suaminya. Rasa kecewa juga ikut menghampiri, sebab sampai hari ini Areta masih bersikap dingin terhadapnya.
Namun ada yang menggelitik perasaannya ketika ia mendekat, lalu berbisik di telinga Areta, kelopak mata Areta mengkerut. Penanda bila wanita itu kemungkinan hanya berpura-pura tidur saja. Sehingga membuatnya gemas dan ingin mengerjainya.
"Turunkan aku!" pinta Areta dengan tatapan tajamnya.
"Iya, akan aku turunkan. Tapi di sini." Bukannya menurunkan Areta ke lantai, ia malah membaringkannya di atas tempat tidur. Lalu mengungkung tubuh Areta di bawahnya.
__ADS_1
Yang seketika membuat pernapasan Areta seakan terhenti. Bahkan degup jantungnya bertalu-talu takut. Hal inilah yang menjadi kekhawatirannya sejak tadi. Jangan sampai Henry meminta haknya sebagai suami. Sebisa mungkin ia harus menghindar dari keadaan yang tak ia inginkan.
"A-apa yang kamu lakukan?" tanya Areta gugup, didera ketakutan seketika.
Henry tersenyum sinis, menatap bola mata Areta intens.
"Sekarang kamu itu adalah istriku. Jadi, aku tidak perlu lagi meminta ijin sama kamu untuk melakukan apapun yang aku inginkan. Termasuk..." ucapnya sembari mendekatkan wajahnya perlahan. Hendak menjangkau bibir ranum Areta yang menggodanya sejak tadi.
Refleks Areta memalingkan muka.
Membuat Henry sedikit kecewa. Lalu menjauhkan kembali wajahnya. Terus terang saja, ada hasrat membuncah yang ia redam susah payah. Yang sebisa mungkin tak ia tampakkan. Namun melihat tampilan Areta yang dibalut kebaya ketat sehingga menampakkan jelas lekuk raga moleknya itu membuatnya tak tahan ingin segera mencicipi. Toh kini mereka merupakan pasangan yang sah. Jadi ia merasa sah-sah saja bila meminta haknya sebagai suami.
"Aku harap kamu tidak lupa, kita menikah karena kesepakatan, bukan cinta," ucap Areta sembari memalingkan kembali wajahnya, masih berada dibawah kungkungan Henry.
Perlu Areta mengingatkan Henry akan status pernikahan mereka yang terjadi di atas kesepakatan. Agar pria itu tidak akan semena-mena dengan statusnya yang baru. Diatas kertas memang mereka adalah sepasang suami istri. Tetapi tidak pada kenyataan bagi Areta.
"Karena kesepakatan ataupun tidak, pada kenyataannya sekarang kita adalah sepasang suami istri. Kamu sudah jadi milikku, Areta. Aku berhak atas diri kamu." Satu hal lagi yang menusuk perasaan Henry, ternyata Areta tidak menganggap pernikahan ini. Semula ia mengira bila Areta mulai menerima meski masih bersikap dingin. Sebab Areta tak pernah membantah ucapannya selama dalam masa menunggu keputusan sidang perceraiannya dengan Angga. Tetapi ternyata ia malah salah mengira.
Areta tersenyum miring. "Pernikahan kita sah diatas kertas. Tapi pada kenyataannya ini hanya mimpi buat kamu. Jadi jangan pernah berharap kamu akan terbangun dari mimpi itu. Karena sampai kapanpun, aku tidak akan pernah bisa mencintai kamu. Lebih baik aku mati daripada aku harus menyerahkan tubuhku. Kalau kamu ingin melihat aku mati, silahkan kamu sentuh aku."
Henry terdiam mendengar ucapan tajam Areta. Yang menusuk hatinya dalam. Namun demi cintanya ia tidak akan menyerah merebut hati Areta.
Bangun dari posisi mengungkung tubuh Areta, Henry lantas turun dari tempat tidur itu. Tak memungkiri ada sakit yang ia rasakan, mengiris perih sampai ke dasar hatinya.
"Dengar Areta. Saat ini kamu boleh membenciku. Tapi, suatu hari nanti aku yakin, kamu akan membuka hati kamu untuk aku. Aku mencintai kamu sejak lama. Apapun akan aku lakukan untuk kamu. Aku tidak akan menyerah sampai kamu sendiri yang datang padaku." Henry berkata sebelum akhirnya melenggang pergi. Menyisakan Areta yang terpaku memandangi pintu kamar yang dibanting keras oleh Henry. Hingga menghasilkan bunyi dentam kencang yang membuat Areta terlonjak.
*
__ADS_1