
Bab. 65
Segala kemungkinan buruk itu mulai memenuhi kepalanya. Firasat yang sama semakin terasa nyata ketika Nino makah datang menghampirinya dengan air muka yang ...
Entahlah. Ia tak ingin menafsirkan makna raut wajah Nino yang terlihat tak seperti biasanya.
Namun perasaannya tak menentu kini. Perasaan yang bersumber dari kekhawatiran serta firasat buruknya akan kondisi Rosa saat ini.
Nino belum mengatakan apapun. Tapi tangis pilu Wirda terdengar sampai ke telinganya, ketika Wirda diijinkan masuk oleh suster. Lalu menyusul suara Angga meneriakkan nama Rosa diiringi tangisnya yang menggelegar.
Mendengar tangis mantan suami dan mertuanya itu membuat tungkai kakinya terasa lemas, hampir tak mampu menumpu bobot tubuhnya. Jika saja Henry tak lekas datang dan merangkulnya erat.
"Maafkan saya Areta. Saya sebagai dokter sudah berusaha semampu yang saya bisa. Tapi Tuhan berkehendak lain. Tuhan lebih menyayangi Rosa." Nino berujar dengan lirih, bernada sedih dan penuh penyesalan. Sebab upayanya telah didahului oleh yang maha kuasa. Padahal Henry telah berkata akan menanggung semua biaya pengobatan Rosa, termasuk tranplantasi jantung. Namun rencana Tuhan jauh lebih baik. Tuhan telah mengakhiri penderitaan gadis kecil itu dalam berjuang melawan penyakitnya.
Areta tak kuasa lagi menahan tangisnya. Ia ambruk dalam dekapan Henry. Dunianya runtuh dalam seketika itu juga. Semua usahanya, perjuangannya berakhir sia-sia. Rosa akhirnya pergi dari sisinya untuk selama-lamanya.
Padahal ia telah berharap banyak atas kesembuhan Rosa. Tidak seperti dahulu, ia sungguh sangat kesulitan membiayai pengobatan Rosa. Sampai akhirnya ia bertemu dengan Henry, yang bersedia membiayai semua pengobatan Rosa tak peduli berapa banyak rupiah yang harus ia keluarkan. Ketika itu ia serasa seperti menemukan harapan baru. Ia pun mulai membangun mimpi-mimpi indahnya, bersama Rosa juga Henry.
Namun sekarang, entah Tuhan mungkin sedang marah kepadanya. Sehingga Tuhan mengambil kembali satu-satunya pelita dalam hidupnya.
Areta meraung, menenggelamkan wajah dalam dada Henry. Ia tahu, meski ia menjerit sekalipun, Rosa tidak akan mungkin bisa hidup kembali. Tapi bisakah ia sekedar meluapkan saja emosinya saat ini?
Pantas saja sejak semalam ia didera gelisah tak menentu. Rosa selalu memenuhi ruang di kepalanya. Darahnya berdesir, jantungnya berdebar hebat jika teringat Rosa. Rupanya ada pertanda buruk yang ia luput menyadari.
...
Dengan tangannya yang gemetaran Areta menarik terbuka lembar kain putih yang menutupi Rosa sekujur tubuh. Hanya sampai menampakkan wajah kaku Rosa yang pucat pasi, tak merona seperti dulu lagi.
Untuk kedua kalinya tangis Areta pecah. Mendayu perih, menyuarakan hatinya yang bak teriris sembilu menyaksikan si buah hati tersayang tengah terbujur kaku tak bernyawa lagi.
Angga dan Wirda juga meneteskan air mata yang sama, air mata kesedihan. Sedih kehilangan Rosa, putri terkasih, cucu satu-satunya yang menjadi kesayangan.
__ADS_1
"Rosa ... Jangan tinggalkan Mama. Rosa ..." Areta meraung pilu. Air matanya mengalir deras membasahi pipi. Menjadi bukti betapa sakit dan hancur hatinya akan kepergian Rosa.
Angga yang berdiri di sisi sebelah ranjang, terpukul melihat kesedihan Areta. Tergerak oleh hati kecilnya, ia hendak menghampiri, ingin menenangkan Areta.
Namun gerakannya kalah cepat dari Henry. Henry telah lebih dulu meraih Areta ke dalam dekapannya. Memberinya tempat ternyaman untuk menumpahkan tangisnya. Sebab itulah fungsinya sebagai teman hidup Areta kini. Yaitu selalu menemaninya dalam keadaan apapun. Baik dikala senang maupun susahnya.
Dan kenyataan itulah yang menampar Angga secara halus. Bahwa kini ia tidak berarti lagi buat Areta. Tempatnya telah tergantikan. Menyesal pun tiada guna, semua telah terlanjur terjadi dalam sekejap mata. Angga kini telah kehilangan dua permata dalam hidupnya. Areta dan Rosa.
"Menangislah sayang. Jangan kamu tahan. Menangislah sampai beban di hatimu berkurang." Henry berujar, sambil membelai lembut kepala Areta yang tengah bersandar di dadanya.
Angga terlihat cemburu. Sedangkan Wirda sinis, melirik remeh kepada Areta. Kendati kenyataan yang terpampang sekarang itu secara tak langsung telah menyindir harga diri mereka. Tapi tak sekali pun mereka menyadarinya.
...
Bahkan langit pun mendung. Seakan turut merasakan kesedihan yang sama. Pemakaman Rosa berlangsung khidmat. Banyak kerabat, keluarga, rekan dan teman yang datang melayat. Ikut ke pemakaman sebagai bentuk belasungkawa.
Satu per satu pelayat mulai meninggalkan area pemakaman. Menyisakan Areta, Henry dan keluarga, juga Angga dan Wirda. Ucapan belasungkawa mengalir kepadanya dari Agatha beserta keluarga.
"Mama turut berduka. Jujur, Mama masih shock dengan kenyataan ini. Mama harap kamu kuat ya?" ujar Agatha memberi penghiburan kepada Areta.
"Aku juga turut berduka ya, Areta. Kamu harus selalu ingat, seperti apapun kesulitan kamu, kami akan selalu ada buat kamu. Mulai sekarang, kamu harus membiasakan diri meminta bantuan kami. Karena aku pastikan, kami akan selalu siap membantu kamu," ujar Hera meraih jemari Areta ke dalam genggamannya, untuk memberinya kekuatan serta penghiburan.
"Makasih," balas Areta penuh haru.
Sementara di sisi lain, tak ada yang menghibur serta memberi kekuatan kepada Angga selain Wirda, ibunya sendiri. Mega yang kini tengah mengandung janinnya, serta penyebab hal ini terjadi, tak menampakkan batang hidungnya walau sekedar untuk menyampaikan empatinya.
"Sabar kamu, Angga. Ibu yakin, ada hikmah yang bisa kamu dapatkan dari semua yang terjadi. Sama seperti Ibu, kamu sangat sedih dan terpukul dengan kepergian Rosa. Tapi, seperti apapun kesedihan kamu, hidup kamu harus tetap berjalan. Jangan biarkan orang lain meremehkan kamu," ujar Wirda setengah berbisik sembari melirik Areta dengan kerlingan tak ramah.
Di seberang, Areta tengah dihibur oleh keluarga barunya. Sedangkan di sini, Angga seorang diri. Memeluk kesedihannya sendiri, tanpa ada yang memberinya kekuatan selain ibunya sendiri.
Padahal ia sangat berharap, Areta akan datang kepadanya, menumpahkan kesedihan kepadanya. Karena walau bagaimanapun, Rosa adalah buah hati mereka berdua.
__ADS_1
Namun, jangankan datang mendekat kepadanya, bahkan untuk melihatnya saja Areta sudah tak sudi lagi.
"Areta, bisakah kita kembali seperti dulu lagi, walau Rosa sudah tak bersama kita lagi?" Angga hanya bisa berharap dalam hatinya. Seperti apapun ia mengungkap penyesalannya, hal itu tetap saja tidak akan merubah apa yang telah terjadi. Karena keserakahannya yang didasari oleh obsesinya itu akhirnya ia kehilangan segalanya. Mengapa tidak dari dulu ia mensyukuri apa yang telah ia miliki. Setelah ia kehilangan, barulah ia menyesal.
...
Dengan wajah menyeringai dipenuhi amarah, Angga menekan bel pintu dengan tak sabaran.
"Tunggu sebentar." Terdengar suara seorang wanita menyahuti dari dalam.
Tak berapa lama, pintu rumah pun terbuka. Tanpa banyak berkata, gerakan cepat tangan kanan Angga meraih leher Mega. Mencekiknya kuat dengan kobaran amarah yang berapi-api.
Langkah Mega mundur perlahan. Wajahnya memerah. Dengan semua semua tenaganya ia berusaha menyingkirkan tangan Angga yang hendak merenggut nyawanya.
"Ang-Angga, a-apa yang kamu lakukan?" Mega kepayahan bertanya ditengah kepanikannya akan tindakan tak terduga Angga.
"Biadabb kamu Mega," ujar Angga tanpa melepaskan cekikannya.
Beberapa menit lalu Angga menghubungi Mega, meminta untuk bertemu. Mega yang kebetulan sudah berada di rumahnya pun menyetujui, dan meminta Angga untuk datang menemuinya di rumahnya saja.
Namun Mega tak menyangka jika Angga datang dengan niat jahat. Angga mencekik Mega sampai Mega kesulitan bernapas dan kesakitan akibat cengkeraman kuat jemari Angga.
"A-apa maksud kamu?"
"Kamu sudah membunuh anakku."
"Ja-jangan asal menuduh kamu Angga."
"Aku tidak akan mengampuni kamu Mega. Aku akan membunuh kamu sekarang juga."
"Angga!" Namun tiba-tiba suara lantang seseorang terdengar. Membuat Angga terkejut, lalu melepaskan cengkeraman tangannya dari leher Mega ketika dilihatnya seorang pria paruh baya dalam balutan seragam kepolisian lengkap tengah berdiri di seberang. Menghunuskan tatapan tajamnya dengan raut wajah dipenuhi amarah.
__ADS_1
Mega pun menyeringai tipis, dengan senyum culas terukir di bibirnya. Tak sia-sia ia meminta Angga datang. Tanpa sepengetahuan Angga, sebuah jebakan telah menunggunya.
*