Antara Cinta Dan Obsesi

Antara Cinta Dan Obsesi
ACDO Bab. 43


__ADS_3

Bab. 43


"Kenapa kamu tidak kasih tahu Mama siapa Areta sebenarnya."


Sontak Henry bangun dari duduknya. Refleks karena keterkejutannya melihat Agatha datang tiba-tiba tanpa memberitahu sebelumnya. Agatha bahkan masuk ke ruangannya tanpa mengetuk pintu terlebih dulu. Membuatnya terkejut dan tak siap menghadapi kemarahan Agatha.


Alhasil ia harus memaksa otaknya bekerja cepat menyiapkan tameng akan amunisi serangan yang akan dilancarkan Agatha.


"Mama? Kenapa Mama tidak kasih tahu aku dulu kalau Mama mau ke sini? Bukannya tadi Mama bilang Mama ada arisan dengan teman-teman Mama?" Henry mencoba bersikap santai. Meski otaknya sedang menerka-nerka sekaligus menyiapkan jawaban atas pertanyaan yang akan dilontarkan Agatha berikutnya.


Dengan dikuasai amarah, Agatha menghampiri Henry. Menajamkan tatapan laksana tombak yang menghunus. Membuat Henry menelan ludahnya kelat.


"Henry, sejak kecil Mama tidak pernah mengajari kamu berbohong. Bahkan Mama seringkali memberi contoh, baik secara langsung maupun tidak langsung. Seperti itu Mama lakukan dari sejak kamu kecil hingga kamu dewasa. Kamu adalah kebanggaan Mama, satu-satunya putra penerus keluarga. Tapi lihat, apa yang kamu lakukan sekarang? Kamu sudah mengecewakan Mama," ujar Agatha.


Dari Nino Agatha mengetahui siapa Areta juga status Areta sebelum menikah dengan Henry. Tak ia sangka Henry tega membohonginya, bahkan menyembunyikan kebenaran Areta darinya.


"Kenapa sih kamu sampe setega ini sama Mama hanya demi perempuan itu?" sambung Agatha melayangkan tanya dengan nada jengkel.


Dari kalimatnya saja Henry sudah bisa menebak jika Agatha tak lagi merestui hubungannya dengan Areta. Dan hal inilah yang berusaha ia hindari dengan tidak memberitahu keluarganya tentang siapa Areta. Apalagi jika sampai Agatha tahu bagaimana caranya mendapatkan Areta, sudah tentu hal itu akan membuat Agatha murka.


"Perempuan itu?" Henry meninggikan kedua alisnya. Tak terima wanitanya diremehkan, sekalipun yang meremehkan adalah ibunya.


"Dia istriku. Istri yang aku cintai," sambungnya menekankan.


"Cinta? Kamu yakin dia juga cinta sama kamu? Bukannya dia menikahi kamu hanya demi uang? Apa kamu pikir Mama tidak tahu semuanya? Kamu juga yang membiayai pengobatan anaknya yang sedang sakit jantung itu bukan?"


"Dari mana Mama tahu?"


"Tidak penting dari mana Mama tahu semuanya. Yang terpenting sekarang adalah nama baik keluarga kita. Apa kamu mau bikin malu Mama dengan menikahi perempuan yang sudah memiliki anak?"


"Memangnya apa salahnya jika Areta sudah punya anak. Yang terpenting adalah perasaanku padanya. Aku tidak peduli seperti apapun dia, aku tetap mencintainya."

__ADS_1


"Jelas salah Henry. Mana mungkin seorang janda akan Mama jadikan sebagai menantu Mama. Henry, mumpung pernikahan kalian baru seumur jagung dan tidak banyak orang yang tahu, lebih baik kamu ceraikan saja dia."


"Mama mau aku menceraikan Areta?"


"Iya. Masih banyak perempuan cantik di luar sana yang lebih pantas mendampingi kamu dan lebih baik di bandingkan Areta. Andai sejak awal kamu jujur sama Mama, tidak akan pernah Mama memberikan restu untuk kalian berdua.


"Areta itu bukan kriteria yang pantas menjadi menantu keluarga kita. Coba kamu pikirkan, berapa banyak hinaan yang akan Mama terima andai semua orang tahu siapa menantu keluarga Adiswara. Jujur saja, Mama tidak akan sanggup menanggung hinaan orang-orang. Jadi sebaiknya, kamu ceraikan saja dia." Hanya ini yang terpikirkan oleh Agatha sebagai jalan keluar sebelum keluarganya benar-benar dipermalukan akibat perbuatan sang putra.


Henry pun meradang, menahan luapan amarah yang telah memenuhi rongga dadanya. Wajahnya merah padam akibat luapan amarah itu yang ingin ia muntahkan. Namun beruntung akal sehatnya masih berada pada tempatnya. Sehingga tak lantas ia kobarkan api amarah itu, yang nantinya malah akan menyakiti ibunya.


"Aki tidak akan menceraikan Areta walau apapun yang terjadi. Mama tidak tahu seperti apa sulitnya aku mendapatkan wanita yang aku dambakan selama hidupku. Mama tidak pernah tahu seberapa lamanya aku memendam perasaanku padanya. Aku bahkan sampai harus membuatnya berpisah dari suaminya hanya demi bisa memilikinya. Dan sekarang Mama mau aku melepas wanita yang aku cintai begitu saja?"


Raut wajah Henry berubah dalam seketika. Auranya pun kini terlihat berbeda. Agatha meremang, ia seperti tengah melihat sosok Henry yang lain dalam diri Henry yang tengah dirasuki amarah saat ini. Agatha seperti melihat Henry yang berbeda.


"Apa kamu bilang? Kamu yang sudah membuat Areta berpisah dari suaminya?" Agatha terkesiap, dikejutkan oleh kenyataan lain yang tak disangkanya. Hari ini ia seperti menemukan kepribadian yang berbeda dalam diri Henry. Henry yang sekarang tengah berhadapan dengannya tidak seperti Henry yang dikenalnya selama ini. Ia lantas mulai bertanya-tanya, bahkan mulai meragukan dirinya sendiri, apakah ia mengenal putranya dengan baik?


"Aku tidak peduli walaupun dia tidak mencintaiku. Yang terpenting bagiku adalah aku bisa memiliki dia untuk seumur hidupku." Ada gejolak kemarahan dalam diri Henry yang tak mampu ia redam. Akal sehatnya bahkan hampir bergeser jika saja Agatha bukan ibu kandungnya.


"Aku tidak peduli. Mama tidak berhak mengatur hidup aku. Apapun yang aku lakukan, semua itu demi kebahagiaan aku."


"Mama tidak akan mengatur-ngatur hidup kamu andai kamu tidak melakukan kesalahan. Mama menyesal sudah merestui hubungan kamu dengan Areta. Sekarang juga Mama minta sama kamu Henry, lepaskan Areta. Apa yang kamu rasakan padanya itu bukan cinta. Tapi kamu terobsesi sama dia."


"Mama please, jangan minta aku melepaskan Areta. Yang harus Mama lakukan sekarang adalah bantu aku meluluhkan hati Areta. Karena aku sangat mencintai Areta. Areta adalah kebahagiaan aku, Mah. Please, bantu aku."


"Apa jangan-jangan kamu memanfaatkan keadaan Areta yang sedang kesulitan keuangan?" Dari cerita Nino Agatha mengetahui bahwa Areta sedang kesulitan finansial untuk membiayai pengobatan Rosa sebelum memutuskan menikahi Henry. Dari cerita itulah ia bisa menyimpulkan jika keduanya kemungkinan hanya saling mengambil keuntungan.


Henry tak menjawab pertanyaan Agatha. Ia malah meniupkan napasnya kasar, menatap tajam Agatha.


"Astaga Henry. Apa yang kamu lakukan?" Agatha membeliak kaget. Ia tak menyangka putranya berbuat sampai sejauh itu dengan memanfaatkan keadaan hanya demi mewujudkan obsesinya.


Memutari sisi meja, Henry menghampiri Agatha. Diraihnya jemari Agatha ke dalam genggamannya. Sorot matanya yang semula diliputi aura kemarahan, kini berubah sendu mendayu merayu.

__ADS_1


"Mah, aku mohon sama Mama. Tolong jangan minta aku melepaskan Areta. Aku sangat mencintainya, Mah. Aku mohon Mama bantu aku untuk bikin Areta jatuh cinta padaku. Please," ucap Henry merayu dengan wajah memelas.


Agatha menghela napasnya panjang. Sejujurnya ia pun ingin melihat putranya bahagia. Namun dengan wanita yang tepat. Tak hanya dari bibit, bebet, dan bobot, tetapi juga wanita yang benar-benar mencintai Henry.


"Mama akan selalu berdoa untuk kebahagiaan kamu, Henry. Tapi bukan dengan Areta." Menarik jemarinya dari genggaman Henry, Agatha lantas meninggalkan ruangan itu segera. Menyisakan Henry yang mematung dengan wajah murka.


...


Sore hari sekembalinya dari salon, Areta pulang ke kediaman Adiswara. Baru beberapa langkah saja ia memasuki rumah itu, Bi Lastri memanggilnya. Wanita paruh baya itu datang tergesa sambil membawa buket bunga mawar merah di tangannya.


"Barang-barang Nyonya dari apartemen sudah Bibi rapikan," ujar Bi Lastri santun.


Areta mengulum senyum. "Makasih, Bi."


"Oh ya, ini, ada buket bunga buat Nyonya." Sembari menyodorkan buket bunga tersebut ke tangan Areta.


Yang disambut Areta dengan kernyitan di dahinya. "Dari siapa, Bi?"


"Dari Den Henry katanya."


Senyum yang terkembang itu pun surut seketika. "Emm ma-makasih Bi." Areta bahkan sampai terbata lantaran didera perasaan tak menentu seketika itu juga.


"Kalau gitu Bibi balik ke belakang dulu ya Nya?" Bi Lastri pun beranjak ke belakang, meninggalkan Areta yang terdiam memandangi buket bunga di tangannya.


Bukannya tak suka mendapat perhatian dan perlakuan manis seperti ini, namun Areta merasa risih saja. Bahkan perasaannya saat ini sedang tak menentu. Belum lagi sakit hatinya tak bisa membawa Rosa pulang bersamanya masih merongrong kalbunya. Jadi buket bunga itu sedikitpun tak bisa mengembalikan moodnya.


Tak ingin mematung lama di ruang tamu, Areta pun beranjak, hendak ke lantai dua. Saat tiba-tiba terdengar suara Agatha memanggilnya.


"Areta. Mama mau bicara sama kamu."


*

__ADS_1


__ADS_2