Antara Cinta Dan Obsesi

Antara Cinta Dan Obsesi
ACDO Bab. 69


__ADS_3

Bab. 69


"Nina bobo, oh nina bobo. Kalau tidak bobo digigit nya_"


"Hentikan!"


Nyanyian pengantar tidur Henry itu terhenti ketika Areta memukuli dadanya pelan. Areta merasa risih dan tak nyaman Henry menyanyikan lagu itu untuknya, sembari mendekapnya erat, menepuk-nepuk punggungnya lembut. Persis layaknya menidurkan seorang anak kecil. Dalam suhu pendingin ruangan yang nyaman, bahkan untuk saling mendekap sekalipun.


Henry pun terkekeh. "Tidurlah. Kamu butuh banyak istirahat."


"Aku justru tidak akan bisa tidur dengan nyanyian kamu itu. Apa kamu pikir aku ini anak kecil apa?"


"Karena mulai sekarang, aku akan memperlakukan kamu seperti anak kecil. Tidur aku nina bobokkan, makan aku suapi, bahkan mandi pun akan aku mandikan."


"Kamu kelewatan."


"Kamu benar. Aku kelewatan. Kelewatan sayang sama kamu."


"Gombal."


"Terserah apa katamu." Henry malah mempererat dekapannya.  Padahal siang ini dia masih memiliki jadwal rapat dengan divisi pemasaran. Namun dikarenakan kondisi Areta juga kabar bahagia yang datang tiba-tiba, ia sedikit menunda waktu rapat.


"Bukankah seharusnya kamu kembali ke kantor?"


"Aku akan kembali, tapi setelah memastikan istriku ini beristirahat dengan benar."


"Baiklah, aku akan tidur sekarang. Biar kamu bisa cepat-cepat kembali lagi ke kantor." Areta memaksakan matanya terpejam.


Henry melirik arloji di pergelangan kirinya. Ia masih punya waktu 30 menit lagi sebelum kembali ke kantor. Maka waktu 30 menit itu ia gunakan sebaik mungkin.


"Kamu sudah tidur?" Iseng Henry bertanya.


"Hm?" Areta menyahutinya dengan deheman. Yang menerbitkan senyum di wajah Henry.


"Tidurmu nyenyak?"


"Hm. Sekarang pergilah. Bukannya kamu ada banyak pekerjaan di kantor?"


"Baiklah. Aku akan pergi. Tapi kamu janji, istirahat yang benar. Jangan lakukan pekerjaan apapun di rumah ini. Kamu jaga calon buah hati kita baik-baik."

__ADS_1


Areta tertawa kecil, mengangguk dengan wajah tersembunyi di balik dada bidang Henry. "Iya, Tuan Henry tersayang. Aku akan menjaga calon buah hati kita dengan baik dan penuh cinta," sahutnya lantas mendongak. Menarik wajahnya sedikit menjauh.


"Bagus."


Namun justru wajah Henry yang mulai mendekat, hendak membunuh jarak perlahan. Lalu akhirnya malah merapatkan bibir. Saling menyesap lembut, berirama, seperti irama hati keduanya yang tengah bersenandung cinta.


"Pergilah." Areta melepas tautan bibir sejenak, mengusir Henry secara halus. Sebab ada banyak pekerjaan yang tengah menunggunya. Dan ia tak ingin menjadi istri yang manja, yang selalu merepotkan suaminya.


"Masih ada 30 menit lagi. Aku masih punya waktu untuk menjenguk buah hati kita."


Areta kembali tertawa kecil, sembari memukuli gemas dada Henry.


"Sayangnya, dedeknya belum bisa dijenguk sekarang. Kata Dokter Nino, masih rentan. Jadi kamu harus bersabar dulu. Ya?"


Henry membuang napasnya pelan, berpura-pura merajuk. Tapi sebetulnya memang sedang ingin dibujuk.


Apa yang dikatakan Hera beberapa menit lalu itu adalah benar. Itu memang kenyataan. Henry bucinnya tidak ketulungan terhadap Areta. Rasa-rasanya ia tak ingin jauh walau sejengkal pun.


"Kalau cuma ciuman kan bisa," tawarnya membujuk.


Areta merasa lucu mendengarnya. Sudah beberapa kali Henry meminta hak demikian, dengan dalih 'hanya'. Tapi nyatanya pria itu malah sampai kebablasan. Maka kali ini ia tak mengijinkan.


Sembari menggeleng dan tersenyum, ia berkata. "Sayangnya tidak bisa."


Sampai detik ini pun, rasanya ia masih tak percaya, Tuhan memberinya kesempatan untuk menjadi seorang ayah. Ia telah berjanji dalam hatinya jika ia akan berusaha menjadi seorang suami dan ayah yang baik. Apapun akan ia lakukan demi membahagiakan Areta dan si calon buah hati.


...


Sementara di sudut lain kota.


"Nyalain AC-nya kenapa sih? Gerah ini." Mega mengomel, mengipas-ngipaskan kedua tangannya di depan wajah.


Di dalam kamar berdiameter 3x4 m² itu, ukuran yang sempit buat Mega, membuatnya kegerahan tanpa nyala pendingin ruangan. Ia pun menggerutu, tidur siangnya jadi terganggu, bahkan jauh dari kata nyaman. Ia lantas melompat turun dari tempat tidur dengan wajah sinis menyebalkan.


"Maaf, untuk sementara kita belum bisa menggunakan AC. Aku sedang berhemat." Angga menyahuti sambil membuka ponsel. Baru saja sebuah pesan masuk ke ponselnya, memberitahunya bahwa Presiden Direktur Dreams Food ingin bertemu dengannya setelah rapat siang ini.


"Terus aku kepanasan gitu? Gila ya. Kalau begitu aku mau kembali ke rumah orang tuaku. Aku tidak mau tinggal di sini. Nyesal aku nikah sama kamu." Menghentak kakinya merajuk, Mega lantas keluar dari kamar itu setelah membanting daun pintunya kuat.


Angga tak memedulikannya. Sebab ada masalah lain yang lebih serius dibanding merajuknya Mega. Padahal ia dan Mega telah mengajukan cuti selama 3 hari, dan Henry juga telah menyetujuinya. Lalu mengapa tiba-tiba Henry meminta ingin bertemu? Apakah Henry sudah tahu jika ia pernah membujuk Areta agar mau kembali kepadanya? Ia bahkan beberapa kali menghubungi Areta, melancarkan rayuan yang sama, namun akhirnya malah berujung dengan pemblokiran. Ya, Areta memblokir semua akses baik via telepon, chat, bahkan di media sosial pun Areta memblokirnya.

__ADS_1


Sebuah pesan itulah yang kini membawa Angga duduk berhadapan dengan Henry di ruangan presdir. Padahal ia masih dalam masa cuti.


"Boleh saya tahu kenapa Pak Henry memanggil saya?" Angga bertanya, kembali bersikap formal, sebab berada di lingkungan pekerjaan.


"Angga, saya turut berduka dengan kepergian Rosa. Saya juga ikut bahagia dengan pernikahan kamu. Saya ucapkan selamat," tutur Henry dengan pembawaan khas berwibawanya.


"Terima kasih, Pak Henry."


"Saya langsung saja." Baru saja Henry berkata demikian, pintu ruangannya di dorong terbuka oleh Fabian.


Fabian datang memberikan sebuah amplop berwarna putih. Amplop tersebut ia berikan kepada Henry, setelahnya Fabian bergegas keluar dari ruangan tersebut.


Tepat pintu ruangan ditutup, Henry mengangsurkan amplop tersebut ke depan Angga.


Firasat buruk pun mulai membayangi Angga. Hatinya berdebar-debar curiga. Jangan-jangan ...


"Silahkan dibuka," ujar Henry.


Dengan penuh tanda tanya Angga pun meraih amplop tersebut, mulai membukanya.


Namun ia sungguh terkejut ketika membaca isi dalam kertas itu, yang tertulis dengan jelas tentang ...


"Angga, mohon maaf sekali saya harus mengambil keputusan ini. Kamu dipecat secara hormat dan dengan pesangon." Henry berujar tanpa ada keraguan. Sorot matanya penuh percaya diri. Hal inilah yang sempat ia mintai pendapat Areta beberapa jam lalu.


Angga membisu seribu bahasa, menatap nanar amplop tersebut. Tanpa terduga ia malah mengangsurkan kembali amplop tersebut kepada Henry.


Henry terlihat santai menanggapinya. Sebab ia bisa menerka mengapa Angga malah mengembalikan amplop tersebut. Untuk apa lagi jika bukan karena harga dirinya. Padahal beberapa bulan lalu, ketika Angga menyetujui syarat akan jabatan yang diinginkannya, pria itu tidak memiliki harga diri. Lantas sekarang, ia malah melindungi harga dirinya? Sungguh lucu.


"Pak Henry tidak perlu repot-repot memecat saya. Dengan senang hati saya sendiri yang akan mengundurkan diri dari perusahaan ini." Angga terlihat percaya diri berkata. Padahal keadaannya kini sedang terjepit, dililit hutang yang menggunung. Tapi demi harga diri ia tak akan sudi dikasihani oleh orang lain. Terlebih Henry, pria yang kini telah menggantikan posisinya di samping Areta.


Henry tersenyum tipis. Dugaannya tidak salah. Angga mempertahankan gengsinya, juga berusaha menutupi rasa malunya. Mungkin.


"Sebenarnya Angga ..." Henry menjeda kalimatnya sejenak. Diraihnya amplop itu. Lalu tak disangka, ia malah merobek amplop itu di depan Angga. Raut wajahnya yang semula terlihat biasa-biasa saja, kini berubah serius.


Angga terkejut. Namun tak ingin bertanya mengapa Henry merobek surat pemecatannya.


"Sebenarnya saya tahu kesulitan apa yang menimpa kamu sekarang ini, Angga. Sebenarnya juga Areta mengusulkan agar saya tidak memecat kamu. Kamu tahu kenapa?" Henry bertanya.


Angga menjawabnya dengan helaan napas panjang.

__ADS_1


"Karena katanya kamu masih menanggung ibumu. Untuk itulah, saya membatalkan pemecatan kamu. Tapi saya akan memindahkan kamu ke kantor cabang di luar kota, dengan posisi staff biasa. Bagaimana? Kamu setuju atau tidak? Atau kamu lebih memilih surat pemecatan ini?" tanya Henry memberi pilihan.


*


__ADS_2