Antara Cinta Dan Obsesi

Antara Cinta Dan Obsesi
Tukang Satire Profesional


__ADS_3

Kamar Flo berantakan seperti kapal pecah. Di hari ketiga, Flo masih tidak tahu ke mana Dareen dan istri jahanamnya pergi berbulan madu. Cek penggunaan passport dan beberapa travell sama sekali tidak menolong. Tidak ada jejak. Hal ini membuatnya curiga kalau mereka berdua sengaja menggunakan kendaraan umum agar tidak bisa dilacak. Selain itu, gawai mereka juga tidak bisa dihubungi.


"Arrgh." Flo menjerit kemudian membanting apa saja yang bisa dijangkaunya sehingga menimbulkan bunyi yang cukup keras.


Fauzan yang sejak tiga hari lalu mendengar suara-suara ribut dari kamar Flo, merasa sedikit terganggu. Dia bergidik mengingat kejadian dua malam lalu di mana lelaki itu terbangun di pagi buta karena mendengar Flo menjerit dan menangis. Kondisi Flo juga terbilang mengenaskan. Wanita itu tidak keluar kamar sepulang dari supermarket, kecuali untuk mengambil minum.


Fauzan penasaran penyebab sikap menyedihkan Flo, wanita yang menurutnya cukup seksi itu. Dia juga tidak berpikir kalau kepergiaan Dareen adalah alasannya. Hal itu menurutnya tidak masuk akal. Jadi, Fauzan mulai berpikir kalau Flo sedang memiliki masalah dengan pasangannya. Namun, lelaki yang merasa tampan itu tidak ingin mencampuri masalah orang lain. Dia harus fokus mencari beberapa objek potret untuk meyakinkan beberapa perusahaan kalau dirinya layak disebut fotografer profesional.


Fauzan terkaget sendiri saat membuka pintu. Seorang pria dengan postur tinggi, lengkap dengan pakaian rapi khas orang kantoran berdiri hendak mengetuk pintu. Mengetuk pintu? Kening Fauzan mengernyit. Rumah ini sudah dilengkapi bel dan intercom, sehingga tidak perlu repot diketuk. Namun, dia tidak ingin repot-repot memikirkan hal remeh begitu. Masa bodoh.


"Mas Dareen dan Mbak Thalita sedang tidak ada. Lagi bulan madu," terang Fauzan sebelum si pria bertanya. Ia yakin sekali kalau pria ini adalah teman Dareen.


"Iya, saya tahu." Si pria mengulum senyum sopan meski tampak gelisah. Fauzan kembali mengernyit. Heran.


"Flo ada?" tanya pria itu yang langsung membuat Fauzan mengangguk paham. Lelaki itu mulai menarik kesimpulan kalau si pria mungkin adalah pasangan Flo.


Fauzan mengamati si pria yang tampak mapan dan dewasa sejenak lalu berujar, "Ada." Fauzan menunjuk kamar di lantai atas. "Mas pacarnya?"


Fauzan terlanjur kepo sehingga pertanyaan itu meluncur tanpa sadar.


"Flo nggak melakukan hal aneh-aneh, kan?" tanya si pria tampak cemas.


Fauzan sedikit berdecak. Benar-benar pasangan yang cocok. Ditanya apa jawabnya apa. Tapi dari caranya bersikap tampak jelas kalau lelaki ini sangat tahu kebiasaan buruk wanita itu. Fauzan tersenyum miris. Merasa kasihan. Dia menyimpulkan bahwa si pria sudah tahu kelakuan Flo yang sudah mirip orang kesurupan.


"Tolong diurus ya, Mas ... ?" Fauzan menggantungkan ucapannya, belum tahu nama dari pria di depannya.


"Raka." Pria itu menyambung ucapan Fauzan.


"Mas Raka. semoga kedatangan Mas membuat dia sedikit lebih tenang." Fauzan menepuk pundak lelaki itu untuk menyemangati kemudian pamit untuk urusan pekerjaan setelah mengenalkan diri sebagai sepupu Thalita.


Raka langsung bergegas menuju ruangan yang ditunjukkan Fauzan. Sudah telat tiga hari. Seharusnya Raka datang tepat di saat Dareen dan Thalita pamit untuk berbulan madu. Masalahnya, Raka sedang ada di luar kota. Mengisi seminar selama seminggu full. Dareen mewanti-wanti agar Raka menjaga adiknya. Sahabatnya itu meminta Raka menenangkan Flo yang emosinya labil.


Raka mengembuskan napas lega melihat Flo terduduk di tepi ranjang dengan tatapan kosong. Setidaknya, Flo tidak melakukan hal aneh-aneh dengan menggoreskan benda tajam ke nadinya seperti yang sudah-sudah. Lelaki itu mendekati Flo lalu mengusap punggung wanita itu. Flo tersentak lalu menatap Raka dengan sendu.


"Bang Dareen meninggalkanku." Flo tidak bisa menahan air mata. Wanita itu menghambur ke pelukan Raka. "Aku mau ketemu bang Dareen."

__ADS_1


"Bang Dareen nggak boleh berduaan sama wanita itu, Bang. Nggak boleh." Flo menggelengkan kepalanya frustrasi.


Membayangkan Dareen berduaan dengan wanita itu membuat kepala Flo terasa ingin meledak. Apalagi bulan madu. Tanpa sadar ia memukul-mukulkan lengannya pada dada bidang milik Raka. Sementara dada kanan Raka kini basah dengan air mata. Raka hanya mengusap-usap punggung sahabat kecilnya itu. Ada rasa sesak yang menyelimuti dada setiap kali melihat Flo dalam keadaan begini. Namun, Raka mencoba mengesampingkan perasaannya. Saat ini, Flo membutuhkan dukungan darinya.


"Tenanglah. Mereka akan kembali dalam waktu dekat," bisik Raka menenangkan. "Kamu sudah makan?" Flo menggeleng. Sama sekali tidak ada hasrat untuk itu.


"Mereka nggak bisa dihubungi, Bang. Sebenarnya mereka kemana? Mereka sengaja menghindariku," keluh Flo. "Aku yakin wanita itu sengaja membuat bang Dareen meninggalkanku. Dasar wanita licik." Tangannya terkepal. Kesal.


"Kalau begitu kamu harus makan," bujuk Raka. "Kamu harus bertenaga. Kalau kamu abai dengan kesehatan, kamu akan kelihatan menyedihkan dan tak akan menarik lagi di mata Dareen."


Flo mengusap air matanya lalu menatap lelaki yang sudah di anggapnya sebagai kakak itu dengan bingung. Raka sendiri merutuki ucapannya. Inilah yang terkadang membuat Dareen tidak menyukainya. Raka terlalu mengikuti kemauan Flo. Padahal di balik itu, hati Raka tidak baik-baik saja.


"Kamu harus menunjukkan kalau bukan Dareen yang selalu ada untuk dia, Ka. Dia perlu tahu kalau Rakalah yang selama ini selalu ada untuk Flo," tuntut Dareen suatu waktu.


Raka takut hubungannya dengan Flo menjadi renggang kalau Flo tahu perasaannya. Wanita itu akan menghindar, bahkan menjauhinya. Raka tidak siap untuk itu. Rasa sakit saat melihat Flo mengejar cinta Dareen tidak sepadan dengan rasa sakit jika Flo pergi darinya. Karena itulah, dia memilih untuk diam dan menahan semuanya sendiri.


"Apa aku terlihat menyedihkan?" Flo menatap langsung manik mata Raka.


Raka tersenyum tipis. "Ya, terlihat menyedihkan," jawabnya sambil melihat pantulan dirinya dalam sorot mata wanita di hadapannya. "Tapi, Flo, seberapa menyedihkannya hidup kita, jangan pernah menunjukkannya pada orang lain. Kamu harus ingat bahwa Fleuriandra sudah berhasil menghapus semua kesedihan dan penderitaannya sejauh ini." Raka menghapus sisa air mata Flo.


"Aku harus apa, Bang?" lirih Flo. "Semuanya terasa kembali seperti semula. Rasanya aku kembali kehilangan gairah hidup." Flo kembali menjatuhkan diri di ranjang.


"Satu-satunya jalan agar aku kembali memiliki gairah hidup adalah dengan menghancurkan rumah tangga bang Dareen dan wanita itu," Flo menatap wajah Raka dengan nestapa. "Iya, kan, Bang?"


Raka hanya mengusap kepala Flo tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Ia mulai membuka aplikasi pengantar makanan. Dalam kondisi seperti ini, Raka tidak mungkin membantah ucapan Flo. Bisa-bisa wanita ini malah ngamuk. Makanya, Raka lebih memilih sibuk membantu membereskan kekacauan yang dibuat Flo di ruangan ini.


"Abang bener. Aku harus memiliki banyak energi untuk menyingkirkan wanita itu," tekad Flo sambil membuka makanan yang dipesankan Raka.


Raka tersenyum. Ia mengusap puncak kepala Flo. Dari pada murung, Raka lebih suka melihat Flo yang penuh ambisi seperti ini. Dalam kondisi begini, perhatian Flo masih bisa dialihkan pada hal lain-lain.


"Makanlah," pinta Raka. Lelaki itu kemudian kembali duduk di samping Flo. Matanya memperhatikan ruangan yang kembali tertata rapi. Seandainya tidak ada Raka, entah kapan ruangan ini akan bersih kembali. Rumah ini tidak menyediakan pembantu. Mendadak Raka mengingat lelaki yang ia temui di depan pintu.


"Jadi, kalian tinggal berdua saja selama tiga hari ini?" tanya Raka. Ada perasaan tidak nyaman yang menggelayuti.


"Siapa?"

__ADS_1


"Sepupu Thalita."


Flo memutarkan bola mata mendengar nama Thalita disebut. Sebisa mungkin Flo tidak mau menyebut atau mendengar nama wanita pengganggu itu.


"Mungkin." Flo mengendikkan bahunya. Ia memang tidak tahu apakah lelaki itu tidur di rumah ini atau tidak. Lebih tepatnya, tidak peduli.


Raka membulatkan bola mata. "Tapi, dia tidak melakukan hal aneh-aneh, kan, sama kamu?"


"Selain mulutnya yang kadang membuatku pengen ngulek, enggak, Bang." Raka mengembuskan napas lega. "Lagian kalau dia macam-macam, nggak akan mungkin menang mengalahkan Fleuriandra."


Raka mengangguk menyetujui. Kalau Flo yang bilang, ia yakin memang keadaannya seperti itu. Namun, tetap saja. Laki-laki dan perempuan dewasa tinggal seatap itu rasanya mengusik ketenangan hati Raka.


"Abang nggak bisa biarin kalian tinggal berduaan saja." Flo menaikkan satu alisnya. "Meskipun nggak setiap hari, Abang akan usahakan nginep dirumah ini untuk menjaga kalian berdua sampai Dareen pulang."


Flo mengangguk. Lagian ia juga butuh teman berdiskusi. Yah, meskipun seminggu hanya bisa ketemu Raka dua sampai tiga kali. Maklum jadwal si motivator ini sangat padat. Banyak entrepreneur muda yang membutuhkan tips dan trik menjadi pengusaha sukses seperti Raka.


"Oke, Bang!" Flo berseru.


***


Fauzan kembali ke rumah sekitar jam tujuh malam. Ia menyipitkan mata melihat Flo yang kini tengah menonton acara kartun di ruang keluarga. Dia heran tetapi segera paham kalau mungkin adalah dampak hubungannya yang sudah baik dengan Raka, pacar Flo.


"Setelah diitengokin ayam jantan, ayam betina pun keluar dari kandang," sindir Fauzan. "Di mana-mana wanita sama saja. Merajuk. Setelah lelaki merasa bersalah dan harus mengemis maaf." Fauzan berdecak.


Flo memperbesar volume suara televisi, tidak ingin meladeni ucapan menyebalkan sepupu si wanita penggoda itu. Baginya, Fauzan dan sikap sok tahunya adalah hama yang merusak ketenangan hidupnya.


"Apa lelaki tadi diam-diam menemuimu di belakang istrinya? Jadi setelah tidak berhasil menggagalkan pernikahan mereka, kalian diam-diam melakukan hubungan gelap?"


Flo mendelik. Menatap Fauzan yang kini cengengesan lalu berucap, "Nggak lucu!"


"Sari pada mengejar pria beristri lebih baik kejar pria single mapan dengan status fotografer profesional seperti Wira Fauzan," kelakar pria itu membuat dada Flo sedikit bergemuruh.


Disadari atau tidak, candaan lelaki ini selalu sesuai dengan realita. Flo tahu Fauzan hanya bercanda, tapi entah kenapa selalu tepat sasaran. Daripada fotografer, pria ini lebih seperti tukang satire profesional.


"Whatever! ketus Flo. "Nggak ada fotografer profesional yang tidak mengenal Fleuriandra!"

__ADS_1


[Bersambung]


Thanks for reading :)


__ADS_2