
Bab. 18
Sembari mengeringkan rambut dengan handuk kecil, Henry melangkah keluar dari kamar mandi. Mengguyur tubuh dengan air dingin menyejukkan di malam hari menjadi pilihan Henry. Tubuh lelahnya terasa lengket oleh keringat sejak pulang tadi. Ingin segera ia membasuh keringat, namun waktunya untuk membersihkan diri masih terbentur oleh obrolannya dengan Nino.
Henry meminta bantuan Nino untuk merawat seorang pasien kelainan jantung. Yang langsung disanggupi oleh Nino tanpa bertanya lebih. Henry belum menceritakan secara detil kepada Nino tentang Rosa. Namun Henry telah meminta Nino untuk bersiap disaat ia membutuhkan jasanya nanti. Nino pun menyanggupi.
Mendaratkan bokkong di tepian tempat tidur, Henry meniupkan napasnya resah. Memikirkan langkah selanjutnya untuk mendapatkan Areta.
Rencana awalnya untuk memisahkan Areta dan Angga sebentar lagi akan membuahkan hasil. Sekarang ia harus menentukan langkah selanjutnya, yang harus ia tempuh. Tak peduli meski onak berduri menghalangi, tak hirau meski jalannya terjal mendaki. Sebab satu-satunya yang ia pedulikan saat ini hanya Areta.
Ya.
Areta.
Henry tak tahan membayangkan berapa lama lagi wanita itu bersama Angga, suaminya. Ia bahkan tak sanggup membayangkan Areta masih berada dalam satu ranjang bersama Angga. Oleh karenanya ia harus cepat bertindak, agar Angga dan Areta segera berpisah. Lalu Areta akan jatuh ke tangannya.
Bangun dari tepian tempat tidur itu, Henry lantas meraih ponsel di atas nakas.
"Halo, Fabian?" sapanya begitu panggilan tersambung.
"Fabian, aku mau minta tolong sama kamu. Tolong kamu carikan penghulu ..." seperti itulah kira-kira kutipan percakapan Henry dan Fabian. Sebelum akhirnya Henry menaruh kembali ponsel di nakas. Lantas ia naik ke tempat tidur. Memiringkan tubuh, diraihnya guling untuk ia bawa ke dalam pelukannya.
Sekarang mungkin hanya guling saja yang bisa ia peluk. Tetapi sebentar lagi, Areta lah yang akan ia peluk. Menemaninya, menghangatkan ranjang dinginnya. Mengisi kekosongan tempat disampingnya.
Senyumnya terkembang kala membayangkan aktifitas panas di atas ranjang bersama Areta. Hanya membayangkannya saja jantungnya sudah berdebar hebat. Bahkan Si Jeki yang bersembunyi dibalik celananya itu pun terbangun. Dibangunkan oleh gejolak hasratnya yang terbendung. Dan mungkin tidak akan lama lagi, hasrat itu akan menemui muaranya. Si Jeki pun tidak akan kesepian setiap malamnya.
...
Di waktu yang sama, di rumah Angga dan Areta.
Setelah perdebatan yang cukup alot beberapa saat lalu, Angga telah lebih dulu menyelami mimpinya. Berlayar di pulau kapuknya dengan dengkuran halus, memunggungi Areta.
Areta menatap resah punggung Angga. Kata perpisahan itu masih terngiang-ngiang di telinganya. Yang jujur saja ia tak sanggup melakukannya. Ia tak ingin suami yang dicintainya itu terpisah darinya.
Merapatkan diri, Areta melingkarkan lengannya di pinggang Angga. Mencerukkan wajahnya di tengkuk Angga.
__ADS_1
"Ga?" panggilnya lirih bernada sensual. Amat kentara merindukan belaian.
"Hm?" Diserang kantuk, Angga bahkan malas menyahuti lebih. Ia tahu apa maksud Areta. Bukannya tak ingin, hanya saja ia sedang tak bertenaga. Dan keinginannya untuk bermadu kasih telah dibawa pergi angin lalu. Sebab dalam benak serta angannya saat ini telah dipenuhi oleh bayang-bayang Mega. Yang tanpa sadar ikut melekat dalam alam bawah sadarnya, mendambakan wanita itu dalam tidurnya.
"Kamu sudah tidur? Aku_"
"Aku ngantuk sekali, Areta. Nanti saja. Aku sedang tidak ingin sekarang. Aku lelah seharian ini," sahut Angga malas.
Areta pun tak menuntut. Ia memilih mengalah. Ditariknya kembali lengannya dari pinggang Angga. Lalu merubah posisi berbaringnya memunggungi Angga. Menarik selimut sampai batas dada, ia lantas memejamkan matanya. Hendak menyusul segera ke alam mimpi demi meredam kekecewaan yang mendera.
Angga sudah tak seperti dulu lagi. Yang mesra juga romantis. Angga yang dulu pergi entah ke mana, berganti Angga yang dingin juga pasif.
Areta merasakan perubahan itu sejak beberapa bulan belakangan. Entah karena dipicu permasalahan pelik yang tengah mereka hadapi, atau mungkin memang Angga sedang kelelahan saja karena pekerjaannya.
Entahlah.
Areta tak ingin mengambil kesimpulan yang keliru dari penolakan Angga. Yang nantinya malah akan menimbulkan curiga serta syakwasangkanya terhadap suaminya sendiri.
Tetangga depan rumah, rumah tangga mereka sedang diuji oleh suami yang kedapatan berselingkuh. Tetangga samping rumah, suaminya berpoligami. Menilik dari permasalahan rumah tangga tetangganya tersebut, Areta masih merasa beruntung. Setidaknya Angga tidak seperti suami-suami tetangganya itu. Tuhan memberinya cobaan melalui penyakit Rosa. Juga finansial mereka yang tak mumpuni dalam mengupayakan pengobatan terbaik bagi sang putri tercinta.
Areta memilih menghempaskan tubuhnya di atas sofa ketimbang diatas ranjang empuknya. Ia lebih memilih bertemankan sunyi, dipeluk dinginnya udara malam ketimbang hangatnya ranjang namun tak ada yang menemani.
Ada sosok Angga di sana, tetapi sosok itu seakan tiada. Sosok itu menjadi dingin seperti dinginnya udara malam. Tak ada lagi kehangatan dari Angga yang membuat tidurnya lelap. Yang ada Angga justru tak peduli lagi kepadanya. Ataukah mungkin tak tertarik lagi kepadanya?
Ah, Areta tidak ingin berpikiran yang aneh-aneh. Mungkin memang Angga hanya sedang lelah saja, bukan karena ada wanita lain.
...
Pagi-pagi sekali Angga sudah berangkat ke kantor. Angga tengah disibukkan oleh pekerjaannya sebagai panitia pelaksana untuk anniversary perusahaan esok malam nanti. Pesta ini akan menjadi ajang unjuk gigi bagi Angga demi meraih simpati atasan.
Apalagi atasan sudah mengiming-iminginya dengan jabatan tinggi. Yang membuat semangat kerjanya semakin berkobar. Hanya saja syarat uang diberikan atasan masih terasa sulit ia penuhi. Padahal semalam ia sudah merundingkannya dengan Areta.
Untuk syarat tersebut Areta masih belum memberikan jawabannya.
"Gimana Angga dengan syarat yang saya berikan? Kamu sudah membicarakannya dengan istri kamu?" Henry bertanya ketika mengundang Angga ke ruangannya.
__ADS_1
Angga mengangguk pelan. "Sudah, Pak Henry. Tapi istri saya masih membutuhkan waktu untuk mempertimbangkannya," sahutnya ragu.
"Kesempatan tidak akan datang kedua kali, Angga. Pikirkan ini baik-baik. Jika sampai esok kamu masih belum memberikan keputusan, maka bersiap-siaplah untuk kehilangan pekerjaanmu. Jabatan gagal kamu dapatkan, dan kamu malah kehilangan pekerjaanmu."
Angga pun mulai was-was, didera panik juga cemas. Bagaimana jika Henry serius dengan ucapannya? Kehilangan pekerjaan disaat ia sedang butuh biaya hidup, tentu ia tak ingin.
"Tapi kenapa, Pak? Kenapa harus dengan syarat itu? Apa Pak Henry tidak bisa memberi syarat yang lain?"
"Kamu ingin tahu apa alasannya?"
Angga mengangguk cepat. "Iya, Pak. Saya dan istri saya harus tahu apa alasan Pak Henry memberikan syarat yang tidak masuk akal itu."
"Baiklah kalau kamu ingin tahu. Alasannya adalah ... Karena saya menginginkan istri kamu, Angga." Gamblang Henry mengungkap alasannya. Tanpa ia peduli seperti apa penilaian Angga kepadanya.
Hasratnya kian menggebu, ingin segera memiliki Areta dengan cara apapun. Meski dengan cara yang kotor ia tak peduli. Masa bodoh orang mau berkata apa tentangnya.
Angga pun hanya bisa terpaku, kehilangan kata-kata. Ia hanya tak menyangka, istri yang baginya sudah tak menarik lagi di matanya itu ternyata diinginkan oleh orang lain. Tak tanggung-tanggung, atasannya pula. Seorang pria lajang, tampan dan mapan. Bahkan idaman banyak wanita.
Apakah ini lelucon?
Apakah Tuhan sedang mempermainkan hidupnya?
Meski Areta sudah tak menarik lagi di matanya, namun ia masih membutuhkan wanita itu untuk merawat putrinya. Apakah ia mundur saja dari kesepakatan ini?
...
Singgah sebentar di salonnya, Areta lantas bergegas ke rumah sakit. Kondisi Rosa dikabarkan memburuk lagi. Membuat Areta disergap ketakutan.
"Bu Areta, operasi Rosa harus segera dilakukan. Operasi ini hanya seperti pertolongan pertama saja. Jika Bu Areta ingin keadaan Rosa benar-benar pulih, hanya ada satu cara yang harus kita tempuh." Nino Orlando, dokter yang menangani Rosa menjelaskan ketika Areta menemuinya di ruangannya.
"Apa itu, Dok?"
"Transplantasi jantung."
Areta terkesiap. Terkejut bukan kepalang. Ia bahkan hampir saja kehilangan kesadarannya.
__ADS_1
*