Antara Cinta Dan Obsesi

Antara Cinta Dan Obsesi
ACDO Bab. 37


__ADS_3

Bab. 37


Terlanjur membuat kesepakatan sehingga Areta hanya bisa pasrah. Waktu terlalu cepat berlalu, perceraiannya dengan Angga telah jatuh keputusan resmi dari pengadilan. Hak asuh Rosa ada padanya, dan Angga pun tak menuntut. Sebagai rasa bersalahnya ia biarkan Areta mengambil hak asuh Rosa.


Namun dengan catatan, Areta tidak akan melarang kapanpun ia ingin menemui Rosa. Areta menyanggupi. Dan ketukan terakhir palu hakim itu pun menjadi pertemuan terakhir mereka.


Waktu bergulir terlalu cepat. Membawa Henry dengan cepat pula pada momen yang paling ia nantikan sejak kesepakatannya dengan Areta dan Angga dimulai. Henry berdebar luar biasa namun hati juga riang gembira. Senyuman merekah senantiasa terukir di wajahnya sembari memperbaiki tampilannya di depan cermin. Raga atletisnya yang terbungkus rapi dengan jas pengantin itu membuatnya tampan memesona.


Lama Henry menanti hari ini. Hari dimana Areta akan menjadi miliknya yang sah. Susah payah ia menyembunyikan status Areta dari sang ibu. Bahkan Nino sudah ia wanti-wanti agar tak sampai salah bicara di depan Hera nanti. Nino pun memaklumi, dengan catatan Henry akan memberitahu ibunya setelah pernikahannya nanti.


Karena sampai detik ini Agatha masih belum mengetahui bahwa wanita yang akan dinikahi Henry adalah seorang janda dengan satu anak.


Berbanding terbalik dengan Henry, Areta justru didera cemas juga keraguan. Karena sejujurnya, ia tak menginginkan pernikahan ini. Ditatapnya miris pantulan dirinya dalam cermin yang dibalut cantik oleh kebaya putih. Dengan pulasan make up tipis membuat wajah ayu Areta terlihat segar, dan semakin menonjolkan kecantikan yang dimilikinya.


Bukannya bahagia, Areta malah terlihat sedih. Dan yang paling ia sedihkan saat ini adalah Rosa. Untuk sementara ini Rosa dititipkan kepada Wirda. Karena rumah yang mereka tempati dahulu telah dijual. Dan uang hasil penjualan rumah itu, kata Angga akan digunakan untuk melunasi hutang-hutang mereka.


"Waaah ... Pengantinnya cantik sekali." Hera memuji begitu memasuki kamar rias dan mendapati Areta yang tengah berdiri di depan cermin dalam balutan kebaya pengantin itu. Menunggu prosesi akad sore hari ini.


Areta mengulas senyumnya tipis, menghargai pujian Hera. Pernikahan digelar tertutup di kediaman Adiswara sendiri atas permintaan Henry. Dengan alasan Areta adalah seorang yatim piatu.


Demi kebahagiaan Henry, juga berkat bujuk rayu pria itu, Agatha pun menyetujui tanpa banyak bertanya. Sebab dilihat dari penilaian Agatha, Areta adalah wanita baik-baik. Selain berparas cantik, Areta punya attitude yang baik, ramah, santun dalam bertutur kata. Membuat Agatha dan keluarga begitu cepat jatuh hati terhadap kepribadian Areta.


"Akad nikahnya akan dimulai. Penghulunya udah nunggu dari tadi. Ayo, aku antar ya?" Hera menawarkan, mengajak Areta bersamanya. Membawanya menuju ruang tengah dimana pengantin pria, penghulu, para saksi, serta tamu undangan dari kalangan terdekat saja tengah menunggu.


"Tuh, Henry sudah tidak sabar nungguin kamu. Lihat tuh mukanya, senyam-senyum terus dari tadi." Hera menggoda Areta sembari menuntunnya menuju tempat akad.


Henry tengah menunggu dengan wajah cerahnya. Tersenyum bahagia melihat Areta yang datang menghampiri, lalu mengambil tempat di sampingnya.


"Pandang-pandangannya dilanjutkan nanti setelah akad ya? Kenapa? Sudah tidak sabar lagi ya pengen meluk?" goda Hera, sebelum kemudian mengambil duduk di sebelah Agatha dan Nino.

__ADS_1


Henry tersipu malu digoda sang kakak. Sedangkan Areta malah tak terlihat senang. Wajah Areta suram, kentara sedih dari rait wajahnya.


Namun, mau bagaimana lagi. Semua telah terlanjur disepakati. Perpisahan Areta dengan Angga telah cukup menorehkan luka di hati Areta. Ditambah lagi dengan perselingkuhan Angga, yang membuat Areta meradang, menumbuhkan benih-benih benci di hatinya.


Dan benih-benih kebencian itu pun semakin tumbuh subur ketika di hari yang sama, beberapa jam lalu, ia malah menerima undangan digital pernikahan Angga dengan Mega.


Ia pun tak bisa berbuat apa-apa. Hanya bisa memasrahkan keadaan, mengikuti ke mana alur kehidupan membawanya. Toh, ia dan Angga sudah tidak punya hubungan apa-apa lagi.


"Bagaimana para saksi? Sah?" Penghulu bertanya begitu Henry selesai mengikrarkan akad, terdengar lantang penuh keyakinan dan percaya diri. Menerima tanggung jawab baru, sebagai seorang suami.


"Sah." Berbarengan para saksi mengesahkan.


Membuat senyuman bahagia Henry terukir lebar di wajahnya. Debar-debar di jantungnya pun kian menghentak saat Areta meraih uluran tangannya, menciumi punggung jemarinya dengan status yang baru. Istri Henry Adiswara.


Henry membalas kecupan di punggung jemari tangannya dengan satu kecupan hangat di kening Areta. Membuat hatinya syahdu, bahagia tiada tara.


Banyak ucapan selamat dan syukur mengalir untuk Henry dan Areta. Yang telah bersatu dalam ikatan yang sakral, sah sebagai pasangan suami dan istri. Babak baru kehidupan mereka pun dimulai.


...


Hanya Rosa satu-satunya pelita dalam hidupnya yang gelap ini. Tetapi sayangnya, gadis kecil itu telah menjadi korban perceraian orang tua karena keegoisan orang tuanya sendiri.


Areta menyapukan pandangannya, memindai setiap sudut kamar mewah berukuran tiga kali lipat dari kamarnya dengan Angga itu dengan tatapan lesu. Rasanya seperti ia sedang bermimpi saat ini, tiba-tiba saja ia sudah berada di dalam kamarnya Henry.


Areta baru saja mendaratkan pantatt di atas tempat tidur king size saat terdengar suara derik pintu terbuka. Yang sontak membuat pandangannya beralih ke pintu kamar itu. Dimana Henry masuk, lalu menghampirinya.


"Masih pusing?" tanya Henry mendudukkan diri di samping Areta.


Yang membuat Areta kesulitan bernapas seketika itu juga. Areta bahkan gugup kala Henry berada terlalu dekat dengannya. Sengaja Areta menarik diri dari pesta pernikahannya yang masih berlangsung dengan beralasan kepalanya pusing. Padahal ia hanya merasa tak betah saja berlama-lama ditengah-tengah keramaian.

__ADS_1


Ia pun mengangguk pelan.


"Kamu tunggu di sini, biar aku ambilkan obat dulu buat kamu."


"Tidak perlu, aku hanya butuh istirahat. Aku capek."


"Ya sudah, kalau begitu kamu istirahat saja. Kalau kamu tidak merasa nyaman, kamu tidak perlu kembali ke bawah. Lagian acaranya kan sudah selesai, hanya tinggal ramah tamahnya saja. Dan sudah ada mama yang menangani. Kamu tiduran saja."


Areta diam saja. Tidak membalas ucapan Henry.


Henry pun tersenyum. Ia tak kecewa ataupun marah dengan sikap dingin Areta terhadapnya. Pelan-pelan ia akan mengambil hati wanita itu, sampai wanita itu luluh dan membuka hati untuknya.


"Kalau begitu aku ke bawah dulu. Mungkin aku akan sedikit lama. Kalau kamu ngantuk, kamu tidur saja. Tidak usah menungguku," sambungnya.


Areta mengangguk. Namun dalam hati mengoceh.


"Memangnya siapa yang menunggu kamu." Raut wajah Areta muram, amat kentara tak bahagia dengan pernikahan ini. Sebuah pernikahan yang hanya dilandasi oleh kesepakatan, bukan cinta.


Areta pun baru bisa bernapas lega begitu Henry keluar dari kamarnya. Kamar yang telah dihiasi sedemikian rupa ala-ala pengantin baru itu membuat Areta muak saja. Belum lagi, ranjang yang tengah ia duduki saat ini dipenuhi oleh taburan kelopak bunga mawar merah. Semerah hatinya yang membara saat ini.


Perlu diulangi, Areta tidak merasa bahagia dengan pernikahan ini. Pernikahan yang sejatinya telah merenggut paksa kebahagiaannya itu dengan sengaja telah menghancurkan hidupnya. Entah ia harus menyalahkan siapa untuk peristiwa memilukan hati ini.


...


Tamu undangan yang terbatas itu pamit pulang satu persatu. Menyisakan tuan rumah yang memberi perintah kepada para asisten rumah tangganya untuk membereskan sisa-sisa pesta yang dilaksanakan tertutup, mengikuti keinginan Henry.


Di lantai bawah, ada Agatha, Nino, dan Hera yang masih bercengkerama, mengobrolkan banyak hal. Sedangkan Henry memilih bergegas ke kamarnya, ingin segera menemui Areta.


Namun begitu ia memasuki kamar, ia malah disuguhi pemandangan yang membuatnya terkejut sekaligus Heran. Di lantai kamar itu, di sebelah ranjang dengan beralaskan selimut tebal Areta tengah berbaring.

__ADS_1


*


__ADS_2