
Bab. 60
Berjalan dengan wajah kesal, Mega mengomel tak karuan. Ia jengkel, tak terima Angga main membatalkan pernikahan mereka begitu saja. Undangan bahkan sudah dicetak, gedung sudah di booking, bahkan mereka sudah melakukan fitting gaun. Lantas mengapa Angga tiba-tiba berubah pikiran seperti ini? Apakah Angga sudah memiliki wanita idaman lain?
Mana mungkin!
Bukankah Angga terobsesi kepadanya sudah sejak lama? Angga bahkan rela meninggalkan istrinya hanya demi bisa bersamanya. Lalu siapakah penyebab Angga melakukan semua ini? Mungkinkah anaknya yang sedang sekarat itu?
Langkah Mega melambat ketika tiba di lobi dan tanpa sengaja ia berpapasan dengan Areta. Yang tengah berjalan gontai dengan senyuman menghiasi wajahnya.
Segala kemungkinan yang mulai memenuhi kepalanya itu pun melahirkan firasat. Dan ia adalah tipe manusia yang memercayai adanya sebuah firasat. Termasuk firasat yang baru-baru ini menelusup ke dalam relung hatinya.
Menghentikan langkah, ia pun memutar tubuhnya segera. Dipandanginya sinis punggung Areta yang semakin menjauh. Matanya memicing tajam, pancaran auranya pun mulai terasa berbeda.
Sementara yang tengah dipandanginya, Areta, baru saja hendak menaiki fortuner hitam begitu supir membukakan pintu untuknya. Saat tiba-tiba terdengar suara seorang wanita yang menyindirnya tajam.
"Wah waaah, hebat ya. Sudah seperti nyonya besar aja sekarang. Nyonya besar dari hasil menjual diri. Ck ck ck, sayang sekali. Padahal kelihatannya seperti wanita baik-baik. Tapi ternyata ..." sindir Mega menatap remeh Areta, memindainya dari ujung kaki sampai ujung kepala dengan senyuman sinis.
Areta menoleh, lalu memutar tubuhnya segera begitu tahu siapa yang tengah memperdengarkan suara sumbangnya tersebut. Bisa dikata, ia tersinggung mendengarnya. Tetapi bila dilihat dari siapa yang tengah menyindir, ia malah tersenyum sinis pula.
"Kamu menyindirku?" tanya Areta menunjuk dirinya sendiri.
"Memangnya di sini ada siapa lagi selain kamu?"
"Aku rasa aku tidak punya urusan dengan kamu. Meladeni orang seperti kamu ini hanya membuang-buang waktuku saja. Permisi."
"Jangan terlalu menganggap sempurna suami kamu itu." Mega sengaja berkata demikian untuk mencegah Areta pergi.
Areta yang hendak naik ke mobil pun urung. Sebab kalimatnya sungguh membuatnya kesal. Ingin mengabaikan, namun kalimat Mega berikutnya membuatnya berkerut dahi. Lantas memutar tubuhnya kembali dan beradu tatap dengan Mega.
"Apa maksud kamu? Jangan coba-coba merendahkan suamiku. Atau kamu bisa merasakan akibatnya nanti," ujar Areta bernada mengancam. Sebab Mega ini sudah sangat keterlaluan menurutnya.
__ADS_1
"Sudah mulai berani kamu ya? Padahal dulu kamu itu bisanya cuma menangis dan menangis. Apa karena sekarang kamu istri seorang bos, makanya kamu sudah mulai berani menunjukkan taringmu?" Mega terkekeh, sinis dan sangat meremehkan Areta. Firasatnya mengatakan jika Areta lah penyebab Angga membatalkan pernikahan mereka. Dan jika benar, maka ia tak terima Areta menari diatas lukanya. Ia ingin membalas, minimal Areta juga harus merasakan seperti apa itu patah hati untuk yang kedua kalinya.
"Aku lihat kamu dan Pak Henry semakin mesra saja," sambungnya mencibir.
"Memangnya kenapa? Dia suamiku, wajar kan kalau kami mesra?"
Mega terkekeh. "Apa Pak Henry sudah cerita sama kamu, kalau dmia pernah meminta aku untuk merayu mantan suami kamu, Angga?"
Kening Areta semakin berkerut dalam. Ia tak terima Mega mencoba memfitnah Henry. Namun apa yang dikatakan Mega itu pun sedikit membuatnya penasaran.
"Kamu mau memfitnah suamiku?" tanyanya memastikan. Mega sudah melewati batasnya.
"Terserah kamu mau percaya atau tidak. Apa kamu masih ingat saat pertama kali kamu melihatku bersama Angga di depan toilet waktu itu?"
Areta memicing, mengingat-ingat kembali kejadian tempo hari. Di mana ia sempat memergoki Angga dan Mega sedang berciuman di depan toilet sewaktu ia menghadiri anniversary Dreams Food. Dan pada saat itu ia diselamatkan oleh Henry dari situasi yang membuat darahnya mendidih kala itu.
"Aku melakukannya atas perintah dari Pak Henry. Agar kamu melihatnya dengan mata kepalamu sendiri, lalu akhirnya kamu mulai membenci Angga. Retaknya hubungan kamu dengan Angga juga ada campur tangan Pak Henry di dalamnya. Dia bahkan meminta aku untuk menikahi Angga kalau perlu. Jika aku menolak, maka jabatanku yang akan jadi taruhannya. Pak Henry itu suka sekali mengancam. Jadi, demi menyelamatkan jabatanku, akhirnya aku pun menyetujuinya." Mega tersenyum, seakan ia tengah meledek Areta yang kini terlihat bimbang.
"Ya, Angga tiba-tiba membatalkan pernikahan kami. Entah apa sebabnya. Dan aku tidak terima dia mempermainkan aku seperti ini. Dia pikir dia itu siapa? Lihat saja, aku akan membuat Angga menderita," tambahnya kemudian melengos. Lantas menderapkan langkahnya meninggalkan Areta mematung seorang diri dengan segala kecamuk pikirannya.
Mega tersenyum puas bisa memuntahkan uneg-unegnya kepada Areta. Setelah ini ia yakin rumah tangga Areta dengan Henry tidak akan baik-baik saja.
...
Omongan Mega beberapa jam lalu tersebut sungguh sangat mengusik hati dan pikiran Areta. Ia tak bisa tidur dengan tenang meski berada dalam pelukan hangat Henry.
Selama ini ia berpikir kesalahan Henry hanyalah menawarinya pilihan yang sulit. Henry memanfaatkan keadaannya yang sedang kesulitan keuangan saat itu, lalu pria itu datang menawarkan bantuan dengan segala persyaratan yang keji. Selama ini ia mengira hanya itu kesalahan Henry. Dan berkat hal itulah ia mengetahui perselingkuhan Angga.
Namun ternyata, perselingkuhan Angga itu juga karena ada campur tangan Henry di dalamnya. Padahal ia telah mengira jika itu adalah murni kesalahan Angga yang begitu mudahnya tergoda.
Dan kini Angga membatalkan pernikahannya. Membuatnya berada diantara resah dan kebimbangan. Pasalnya baru-baru ini Angga memohon-mohon kepadanya ingin kembali. Jujur saja, uang terbayang-bayang dalam benaknya ketika itu adalah Rosa.
__ADS_1
Rosa masih terlalu kecil untuk menerima kenyataan perpisahan kedua orang tuanya. Bukan hanya kondisi mentalnya yang akan terganggu, kesehatan jantungnya pun ikut dipertaruhkan.
"Hen, ada sesuatu yang ingin aku tanyakan sama kamu," ujar Areta setelah membantu Henry mengenakan jasnya di pagi hari.
"Apa itu, sayang? Tanyakan saja," balas Henry sembari memasang jam tangan di pergelangan kirinya.
"Emm ... Aku ingin tahu, apa benar kamu pernah menyuruh Mega merayu Angga? Kamu bahkan mengancam akan memecatnya jika dia tidak mau. "
"Ee ..." Henry terkejut, dari mana kira-kira Areta mengetahuinya. Ia pun kebingungan untuk memberikan jawabannya.
"Den ... Sarapan sudah siap. Nyonya Agatha, Nona Hera dan Dokter Nino sudah menunggu di meja makan." Tiba-tiba terdengar suara Bi Lastri bersamaan dengan ketukan di pintu kamar. Sedikit menyelamatkan Henry dari situasi sekarang. Yang dilanda kebimbangan juga kebingungan.
"Kita sarapan dulu, yuk. Kebetulan ada Nino dan Kak Hera. Siapa tahu kamu ingin bertanya-tanya tentang kondisi Rosa?" ajak Henry demi menghindari menjawab pertanyaan Areta. Sebab ia belum mempunyai jawaban yang tepat untuk membuat Areta percaya kepadanya. Bahwa apapun yang dilakukannya semata-mata karena cintanya yang terlalu dalam.
Areta pun hanya bisa menurut, membiarkan Henry menggandeng tangannya, mengajaknya turun menuju ke ruang makan. Di mana keluarganya telah menunggu di meja makan.
"Waaah ... Makin mesra aja nih," goda Hera melihat pasangan baru itu saling bergandengan tangan bahkan ketika mengambil duduk tanpa melepaskan tautan jemarinya. Hera sudah mendengar semua tentang adiknya itu dari sang mama. Ia pun sama seperti mamanya, pada akhirnya tidak mempermasalahkan latar belakang Areta, asalkan adiknya bahagia.
"Iya, dong." Henry tersenyum, kemudian memberi kecupan manis di punggung jemari Areta sebelum akhirnya melepas tautan jemarinya.
"Terus kapan nih aku di kasih ponakan?"
Henry tersenyum simpul mendengar pertanyaan Hera. Sama seperti Agatha dan Nino, yang ikut tersenyum mendengarnya. Namun senyuman di wajah mereka itu pun berubah menjadi ketegangan ketika melihat Areta tengah mengolesi roti tawar dengan selai kacang. Kemudian roti yang telah diolesi dengan selai kacang itu pun hendak di suapi Areta ke mulut Henry.
"Areta, kamu_" Agatha hendak menghentikan Areta. Namun Henry cepat mencegahnya dengan mengangkat tangan kanannya.
Sementara yang lain terlihat tegang, khawatir dengan alergi Henry. Tetapi tidak dengan Areta. Ia justru tersenyum ketika menyuapi Henry. Ia sudah tahu tentang alergi Henry terhadap kacang-kacangan. Sengaja ia melakukannya karena kesal, ternyata Henry tak jujur kepadanya. Ia hanya ingin melihat saja seberapa besar cinta Henry kepadanya. Ia juga ingin melihat, apakah Henry akan memarahinya atau tidak. Dan bukankah Henry pantas dihukum karena sudah menyembunyikan kebenaran yang lain darinya?
Dan tanpa Areta duga, Henry malah memakan roti itu. Padahal ia telah mengira jika Henry tidak akan berani. Ia pun didera panik.
*
__ADS_1