Antara Cinta Dan Obsesi

Antara Cinta Dan Obsesi
ACDO Bab. 28


__ADS_3

Bab. 28


Dengan dibantu Olivia, Henry memilih dan memilah beberapa gaun eksklusif rancangan Olivia sendiri. Mencari yang terbaik untuk ia berikan kepada wanita terkasihnya, Areta.


Menggambarkan dengan jelas ciri-ciri wanita kesayangannya, senyum Henry tak pernah surut dari wajahnya. Membuat Olivia bisa dengan mudahnya menentukan gaun yang cocok dengan kriteria Areta.


Gaun berwarna hitam panjang mode One Shoulder Black Velvet dengan sebelah lengan panjang dan sebelahnya tanpa lengan itu menjadi pilihan Olivia. Belahan vertikal sampai batas paha yang terdapat pada bagian bawah gaun itu akan memberikan kesan seksi bagi si pemakainya.


Henry pun setuju dengan pilihan Olivia. Rasa-rasanya ia sudah tak sabar lagi menunggu malam. Ingin segera matanya melihat Areta dalam balutan gaun elegan dan seksi tersebut. Bahkan hanya dengan membayangkannya saja ia sudah dibuat berdebar tak karuan.


Setelah mendapatkan gaun yang diinginkannya, Henry kemudian mampir sebentar ke kantor. Berhubung malam nanti akan ada perayaan anniversary perusahaan, maka semua karyawan diperbolehkan pulang cepat hari ini. Dan kedatangan Henry ke kantor untuk urusan pribadinya.


"Gimana? Kamu sudah menemukan orangnya?" Henry bertanya ketika memanggil Fabian ke ruangannya.


"Kalau untuk pengacara, saya sudah menemukan orangnya. Tapi kalau untuk penghulu, saya belum menemukan orangnya. Pak Henry kalau memang ada niatan untuk menikah, sebaiknya Pak Henry ke KUA saja langsung. Sekalian untuk mendaftarkan pernikahan Pak Henry," jawab Fabian. Mengingat kalimat Henry beberapa jam lalu di apartemen itu, Fabian yakin kalau Henry berniat untuk menikahi Areta. Sehingga ia tak ragu berkata demikian.


Henry menghunus tatapan tajamnya kepada Fabian. Ia kesal, hal yang paling ia inginkan saat ini rupanya tak bisa terpenuhi.


"Fabian, jujur saja, aku memang ingin menikah. Tapi, menikah siri. Masalahnya, wanita yang akan aku nikahi itu belum resmi bercerai dari suaminya." Gamblang Henry mengutarakan niatnya.


Membuat Fabian tercengang, terkejut bukan main. Sebab yang ia tahu, Henry tidak sedang menjalin hubungan dengan wanita manapun saat ini. Lalu apakah wanita yang dimaksud Henry itu adalah Areta? Yang kata Henry adalah calon istrinya?


Tetapi, mengingat kembali Areta, Fabian merasa seolah pernah melihat wanita itu sebelumnya. Wanita yang wajahnya serasa familiar. Fabian pun terhenyak ketika ia mengingat pernah melihat wajah Areta pada foto lama yang disimpan rapi oleh atasannya itu bertahun-tahun lamanya. Apakah wanita itu adalah wanita yang sama?

__ADS_1


"Kalau seperti itu, Pak Henry jelas tidak bisa menikahi wanita itu. Pak Henry harus menunggu sampai wanita itu benar-benar bercerai dari suaminya. Paling tidak setelah ada keputusan dari pengadilan." Fabian menerangkan.


Dan Henry terlihat seperti tak bisa menerima. Pria itu kentara cemas dari raut wajahnya.


"Lalu, aku harus bagaimana?" tanya Henry bingung juga cemas.


"Ya Pak Henry bersabar saja dulu. Setelah perceraian pun, Pak Henry tidak bisa langsung menikahi wanita itu. Karena ada masa iddah bagi wanita yang sudah bercerai." Fabian menambahkan.


"Jadi, aku tidak bisa menikahinya sekarang?"


Fabian mengangguk. Namun dalam hati merasa geli melihat tingkah atasannya itu yang terkadang terlihat polos jika menyangkut urusan cinta.


Henry semakin resah. Menyandarkan punggungnya gelisah. Padahal ia sudah tak sabaran membayangkan Areta akan menjadi miliknya. Namun ternyata semua memiliki aturan. Tak semudah seperti yang ia bayangkan.


Mungkin kata terimakasih tak sepantasnya ia utarakan, sebab pertolongan yang ia dapat tak mengalir tulus dari si pemberinya. Beberapa saat lalu pihak rumah sakit menghubungi Areta, memberitahukan kepadanya bahwa operasi penyumbatan pembuluh darah akan dilakukan. Areta diminta ke rumah sakit untuk menandatangani surat persetujuan.


Berkat kesepakatannya dengan Henry, kini Areta tak lagi mengalami kesulitan dalam hal biaya untuk pengobatan Rosa. Henry sudah bersepakat akan menanggung keseluruhan biaya pengobatan Rosa asalkan Areta mau menjadi istrinya.


Karena kesepakatan itulah yang kini membuat rumah tangganya dengan Angga hancur berantakan. Dan mungkin juga, hanya ia yang merasa sangat kehilangan. Entahlah dengan Angga.


Areta akhirnya tersenyum bahagia, setelah beberapa jam lamanya menunggu dalam kecemasan saat operasi berlangsung. Operasi berjalan lancar, dan kini Rosa tengah terbaring di ranjang VIP rumah sakit Sinar Harapan. Areta tak henti mengecup penuh syukur punggung jemari kecil Rosa.


"Syukurlah operasinya berjalan lancar. Tadinya Ibu khawatir sekali. Ibu tidak menyangka ternyata cucu Ibu ini sangat kuat." Wirda berkata sembari menghampiri. Berdiri di sisi ranjang menatap terharu wajah pucat Rosa yang terlelap.

__ADS_1


Bukannya tidak senang operasi Rosa berjalan lancar, hanya saja Areta merasa kurang nyaman dengan kehadiran mertuanya itu. Yang tak lama lagi akan menjadi mantan mertua.


"Angga sudah cerita sama Ibu kalau Angga sudah menjatuhkan talak sama kamu. Sebetulnya Ibu prihatin dengan apa yang terjadi pada rumah tangga kalian. Tapi Ibu juga tidak bisa berbuat banyak. Ibu hanya bisa mendoakan kalian, semoga kelak semua akan baik-baik saja," ucap Wirda kemudian. Sama seperti Angga, wanita paruh baya ini telah tergiur oleh iming-iming jabatan yang kelak diduduki oleh Angga di perusahaan. Sebagai seorang ibu, tidak munafik, ia bangga sang putra bisa menduduki jabatan tinggi. Hal tersebut tentu saja bisa ia pamerkan ke tetangga-tetangga kompleks.


"Maaf, Bu. Aku harus pulang sekarang. Aku titip Rosa sebentar. Maaf kalau aku sering merepotkan Ibu. Kalau Rosa sudah siuman, tolong cepat kasih tahu aku." Areta berkata tanpa menoleh. Ia hanya merasa muak saja melihat mertuanya yang mata duitan tersebut.


Areta pun lantas berdiri. Mengayunkan langkahnya cepat meninggalkan ruangan VIP tersebut. Namun langkahnya terhenti sejenak di depan pintu. Tangannya telah memegangi handel pintu, hendak membuka pintu tersebut. Namun ia penasaran dengan reaksi Wirda akan apa yang akan ia utarakan nanti.


"Aku mungkin akan bercerai dengan Angga. Tapi apa Angga juga memberitahu Ibu kalau aku akan menikah dengan atasannya?" tutur Areta dengan hati menahan geram. Memberi Wirda tatapan tajam menikam.


Membuat Wirda terkesiap. Antara terkejut juga tak percaya. Ibarat melepas ikan kecil ternyata Areta malah mendapatkan ikan yang lebih besar. Wirda tentu saja terkejut mendengarnya, karena Angga tidak memberitahu hal ini sebelumnya.


Dan Areta mengulum senyuman sinisnya melihat ekspresi Wirda setelah mendengar apa yang ia utarakan.


"Kamu akan menikahi a-atasan Angga? Laki-laki yang tempo hari datang membesuk Rosa?" Wirda masih mengingat jelas paras tampan Henry. Pria karismatik, rupawan dan berkelas tersebut mengapa malah memilih Areta untuk dijadikan istri. Padahal di luar sana masih banyak gadis-gadis cantik yang lebih baik dari Areta.


"Iya. Henry Adiswara. Presiden Direktur Dreams Food. Setelah resmi bercerai dari Angga, aku akan segera menikahinya."


Wirda tergugu-gugu, kehilangan kata-kata. Jujur saja ia masih tak percaya mendengarnya. Jika Areta menikahi Henry, itu artinya Areta akan menjadi ...


"Haaah ... Aku tidak percaya ini. Mana mungkin Pak Henry mau menikahi calon janda seperti Areta. Apa di dunia ini tidak ada perempuan lain apa? Padahal di luar sana masih banyak gadis yang jauh lebih cantik dari Areta. Tapi kenapa harus Areta yang dia pilih? Aku sungguh tidak percaya ini." Wirda bergumam kesal begitu Areta keluar dari ruangan. Ia masih tak bisa menerima ini dengan akal sehatnya. Ia bahkan berpikiran jika Areta ingin membalaskan sakit hatinya dengan menikahi atasan Angga.


"Dia pasti pakai guna-guna. Mana mungkin orang seperti Pak Henry mau menikahinya." Wirda sungguh tak bisa mempercayai ini. Sangat terasa tak masuk akal baginya.

__ADS_1


*


__ADS_2