
Bab. 34
Seperti biasanya, Areta tidak betah berlama-lama berada di pesta seperti itu. Berada di tengah-tengah orang banyak membuat Areta minder. Ia tidak percaya diri bertemu dan berinteraksi dengan orang-orang dari kalangan atas. Apalagi Henry sudah memperkenalkan dirinya sebagai calon istri. Sehingga membuatnya semakin minder saja. Oleh karena itu ia memilih keluar dari aula, meninggalkan pesta yang masih berlangsung itu.
Areta hendak ke toilet. Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Mencari-cari dimana toilet berada. Sampai ia melihat petunjuk di mana toilet berada.
Toilet itu berada di ujung koridor, melewati lorong diantara dua ruangan. Areta pun bergegas membawa langkahnya menuju toilet. Baru saja ia berada di ujung lorong saat tiba-tiba sebuah pemandangan menjijikkan lagi-lagi tersaji di depan matanya secara cuma-cuma. Pemandangan yang membuatnya meradang.
Di depan sana, Angga dan Mega sedang bercumbu mesra tak tahu malu bahkan tak kenal tempat. Mereka sedang berciuman, saking panasnya sampai mereka tak menyadari sepasang mata Areta tengah mengawasi dengan kilatan api amarah yang siap membakar.
Keduanya masih saja bercumbu tak menyadari situasi. Sampai akhirnya Areta tak tahan lagi. Lantas menyuarakan sakit hatinya lantang.
"Dasar pecundang murahan!" Areta memekik dengan amarah yang menggebu-gebu. Sungguh Angga sudah keterlaluan kali ini. Pantas saja belakangan ini Angga enggan lagi menyentuhnya. Rupanya selama ini Angga memiliki wanita lain.
Suara pekikan Areta itu pun mengagetkan dua sejoli yang kehilangan malu di depan sana. Yang sontak keduanya menoleh. Si wanita ekspresinya biasa-biasa saja ketika tertangkap basah. Berbeda dengan si lelaki yang justru terkejut bukan kepalang. Si lelaki bahkan salah tingkah, kebingungan entah harus bersikap bagaimana.
"Rupanya seperti ini kelakuan kamu, Angga?" Areta mulai berkaca-kaca. Sakit di hatinya teramat menusuk hingga ke dasar kalbu. Tak ia sangka, Angga sampai setega ini mengkhianatinya.
"A-Areta?" Angga tergagap, kehilangan kata-kata. Bahkan ia kebingungan harus berbuat apa. Ingin menghampiri Areta, namun ia sendiri yang telah lebih dulu menjauhi Areta.
"Aku tidak menyangka kamu tega bermain gila di belakangku." Air mata yang menggenang di pelupuk mata itu pun pada akhirnya jatuh berderai, tak tertahankan lagi. Sebagai bukti betapa sakit hati Areta dikhianati oleh orang yang ia cintai.
Dengan berderai air mata, Areta pun menghampiri dua sejoli yang tengah dimabuk cinta itu. Areta bahkan tak sanggup lagi menahan luapan amarah yang memenuhi rongga dadanya, dan membuat dada itu terasa sesak.
"Jadi kamu perempuan jallang yang sudah bikin suami aku kehilangan akal sehatnya?" sembur Areta memindai Mega dari kaki sampai kepalanya.
__ADS_1
Mega tersenyum sinis.
"Areta, kamu salah paham." Angga berusaha membela diri. Walau kesalahannya terpampang jelas di depan mata. Tiada guna lagi ia membela diri. Toh, Areta sudah melihat bukti pengkhianatannya dengan mata kepala Areta sendiri.
"Kamu keterlaluan, Ga. Kamu sungguh keterlaluan. Aku pikir kamu ingin berpisah dari aku murni karena syarat yang diberikan Pak Henry. Tapi ternyata..." Areta terkekeh, menghapus kasar air mata di pipinya.
"Jadi inilah alasannya kenapa kamu sering menolak aku. Betapa bodohnya aku mencintai laki-laki seperti kamu," sambungnya menahan perih dan sebah di dada.
Angga kehilangan kata-kata. Bahkan ia tak bisa berbuat apa-apa lagi. Sedangkan Mega malah beranjak hendak meninggalkan Areta dan Angga. Bermaksud ingin memberi mereka kesempatan untuk menyelesaikan persoalan diantara mereka berdua.
Namun, baru beberapa langkah saja Mega menjauh, tiba-tiba Areta memanggilnya, menghentikan langkahnya.
"Tunggu." Areta berkata, kemudian membawa langkahnya menghampiri Mega.
"Kamu mau ke mana?" tanyanya menahan geram. Ingin rasanya ia mencabik-cabik perempuan itu. Namun ia masih menyadari situasi serta tempat dimana mereka berada saat ini.
"Kamu mau pergi setelah mencuri barang milik orang lain?" Areta berdiri tepat di hadapan Mega, menikamnya dengan tatapan tajam menusuk. Ada amarah yang berusaha ia redam dibalik tatapan itu. Jika saja mereka berada di situasi dan tempat yang berbeda saat ini, ia bersumpah tidak akan membiarkan mereka memperlakukannya seperti ini. Paling tidak ia bisa memberi balasan yang setimpal.
"Mencuri kamu bilang? Siapa mencuri siapa?" Mega sinis, memandang sebelah mata Areta. Ia paham maksud kalimat Areta. Dan ia tak terima dikatai Areta pencuri.
"Aku pikir kamu cerdas. Jadi kamu bisa mengerti siapa disini yang jadi pencuri. Mengambil barang yang bukan haknya, bukankah itu pencuri namanya? Dan hanya perempuan yang tidak bermoral yang suka mencuri barang milik orang lain. Bahkan dengan tidak tahu malunya berbuat tidak senonoh di tempat umum seperti ini. Perempuan seperti itu tidak lebih dari seorang jallang. Jallang yang suka memungut barang dari tempat sampah. Ambil, silahkan ambil saja barang yang sudah aku buang itu di tempat sampah. Dasar sampah!"
"Hei!" Mega berseru lantang dengan mata membeliak murka sambil mengarahkan telunjuknya ke wajah Areta.
Membuat Angga terkejut dan lekas menghampiri. Hendak melerai perdebatan yang mulai memanas itu.
__ADS_1
"Sebaiknya kamu jaga mulut kamu itu. Aku ini bukan perempuan seperti yang kamu kira. Angga akan menceraikan kamu, jadi aku tidak mencuri Angga dari kamu. Tadinya aku sempat berpikir, kenapa Angga ingin berpisah dari kamu. Aku bahkan sempat mengira kalau Angga itu sama saja dengan laki-laki lain di luar sana yang suka bermain gila di belakang istrinya. Tapi setelah bertemu kamu, aku malah jadi kasihan sama Angga. Pantas saja Angga ingin berpisah dari kamu. Suami mana coba yang bakalan betah dengan istri seperti kamu yang tidak pandai menghargai suaminya. Kalau aku jadi Angga, aku akan melempar kamu ke jalanan. Karena istri seperti kamu itu lebih pantas hidup di jalanan."
"Mega!"
Suara lantang yang terdengar itu pun sontak mengalihkan perhatian Angga, Areta, juga Mega. Yang membuat Angga dan Mega salah tingkah seketika. Lalu berusaha menjaga sikap ketika Henry datang menghampiri.
Areta menghilang tiba-tiba di tengah pesta yang sedang berlangsung. Membuat Henry khawatir, lantas bergegas mencarinya. Ia bahkan sudah meminta bantuan Fabian untuk mengecek semua CCTV. Dari Fabian lah ia mengetahui jika Areta hendak ke toilet. Namun malah bertemu dua manusia laknat tak tahu malu itu sedang bercumbu di ujung lorong, di depan toilet.
Lekas ia pun pergi menyusul Areta. Lalu siapa sangka ia malah mendengar perdebatan sengit Areta dan Mega. Yang membuat kupingnya memanas dan tak terima wanita kesayangannya dikatai seperti demikian. Ia memang meminta Mega mendekati Angga, tetapi tidak dengan menghina Areta.
"Pak Henry?" Mega menyapa, tersenyum kikuk sembari menyelipkan uraian rambutnya ke belakang telinga.
"Ada yang bisa saya bantu, Pak?" tawarnya.
"Pak Henry ada apa kemari, Pak? Adakah yang bisa saya bantu?" imbuh Angga, pun menawarkan jasa.
"Aku peringatkan kalian berdua, jangan pernah sekalipun menyakiti Areta. Sekali lagi aku mendengar kalimat seperti tadi, maka aku tidak akan segan-segan mendepak orang yang dengan sengaja menyakiti calon istriku ini." Henry bertegas kata sembari membawa lengan kanannya merangkul pinggang ramping Areta.
Mega pun terkejut, membulatkan kedua matanya tak percaya.
"Calon istri?" gumamnya.
Sedangkan Angga, hanya bisa menatap dingin pemandangan itu. Areta membiarkan Henry merangkul pinggangnya, seolah Areta sudah bisa menerima Henry. Padahal jelas beberapa saat lalu Areta sangat marah dan cemburu melihat kedekatannya dengan Mega. Apakah itu berarti Areta juga akan menerima perpisahan mereka?
"Ayo, sayang. Pesta belum selesai. Masih ada beberapa klienku yang ingin kenal sama kamu," ajak Henry, kemudian membawa Areta meninggalkan tempat itu. Menyisakan Angga dan Mega yang menatap iri.
__ADS_1
*