Antara Cinta Dan Obsesi

Antara Cinta Dan Obsesi
ACDO Bab. 14


__ADS_3

Bab. 14


Tak hanya salah tingkah, Wirda bahkan tergugu-gugu. Seketika kehilangan kata-kata begitu Henry memperkenalkan siapa dirinya. Namun bukan Wirda namanya jika tak lekas menguasai keadaan.


"Oooh ... Atasannya Angga ya? Maaf, saya kira siapa. Mohon maaf banget ya Pak? Oh ya, mari Pak. Silahkan duduk dulu." Dengan gerakan cepat Wirda menyambar satu bangku tempat ia duduk sebelumnya. Bangku itu diletakkannya di dekat Henry. Mempersilahkan atasan sang putra untuk duduk.


"Silahkan, Pak Henry. Nanti Pak Henry capek loh berdiri terus." Wirda melebarkan senyum. Mempermanis mimik wajah, juga bersikap se-santun mungkin. Demi apa? Demi meraih simpati Henry, lalu akhirnya berempati. Setidaknya dengan melihat kondisi Rosa.


"Terimakasih." Henry pun mendudukkan dirinya di  bangku itu, di sisi lain ranjang. Berhadapan dengan Areta, hanya terpisah jarak oleh tempat tidur.


Beberapa menit lalu, ketika dalam perjalanan, Henry sudah meminta ijin Areta lebih dahulu untuk menjenguk Rosa. Henry berkata jujur bahwa ia tak sengaja mendengar percakapan Areta dan Angga. Hingga menggerakkan hati kecil Henry untuk melihat kondisi gadis kecil itu.


"Pak Henry mau minum apa?" Wirda menawarkan, berlaku sopan dalam menyambut tamu tak peduli medan, situasi dan kondisi.


"Tidak perlu repot-repot, Bu. Saya ke sini hanya bermaksud membesuk," tolak Henry halus sembari mengulum senyum.


Wirda mengangguk, paham dengan kalimat Henry. Padahal yang dilakukannya itu bukan sekedar memperlakukan tamu dengan baik, tetapi juga dalam rangka mencari muka.


"Pak Henry ini kelihatannya seusia Angga ya? Tapi Pak Henry sudah sukses di usia muda. Waaah ... Hebat ya. Luar biasa sekali Pak Henry ini." Wirda mulai memuji, demi menyenangkan Henry. Lalu akan dengan mudah meraih simpatinya. Siapa tahu Henry mau melirik Angga. Setidaknya memperhatikan kerja keras Angga di perusahaannya.


Henry hanya mengulum senyumnya. Tak menanggapi lebih pujian Wirda.


"Angga itu anak saya, Pak Henry. Angga itu anaknya rajin, ulet dan sangat bertanggung jawab dengan pekerjaannya. Yah, bisa dibilang Angga itu anaknya loyal terhadap atasan," sambung Wirda hendak melebih-lebihkan Angga.


"Angga itu anaknya jujur loh, Pak Henry. Dia juga bisa dipercaya. Tugas apa pun yang diberikan padanya, dia akan berusaha mengerjakan tugasnya dengan baik demi menyenangkan atasannya. Saya jadi sangat bersyukur, ternyata Angga punya atasan sebaik Pak Henry." Wirda menambahkan. Dan hanya mendapat senyuman dari Henry.


"Bu, bukannya kata Ibu tadi, Ibu sudah mau pulang?" Areta pun akhirnya mencoba mengingatkan. Tak tahan ia mendengar mertuanya itu berlebihan dalam memuji. Terlebih soal Angga.


Wirda mencebik. Sedikit kesal seolah Areta mengusirnya. "Baiklah. Kalau gitu Ibu pulang dulu ya? Oh ya, sebaiknya kamu beritahu Angga kalau atasannya datang membesuk Rosa."


"Iya, Bu. Nanti aku beritahu."

__ADS_1


"Ya sudah. Ibu pulang dulu. Permisi." Wirda pun beranjak pergi, meninggalkan Areta dan Henry berdua.


Hening membentang beberapa saat seperginya Wirda. Areta tengah memandangi sang putri yang tertidur pulas dengan alat bantu pernapasan itu. Sungguh miris hati Areta melihat kondisi Rosa yang kian hari malah kian memburuk saja. Seolah segala pengobatan juga perawatan yang mereka upayakan selama ini sia-sia saja.


Padahal Areta sungguh sangat berharap kondisi Rosa akan jauh lebih baik. Namun rupanya Yang Kuasa menginginkannya lebih bersabar lagi.


"Aku turut prihatin dengan kondisi kesehatan putri kamu, Areta." Henry membuka kata, hendak menyambung obrolan dengan Areta.


"Terimakasih, Pak," balas Areta tanpa mengalihkan fokusnya dari wajah Rosa.


"Areta, sorry. Aku dengar kamu lagi kesulitan dengan biaya perawatan anak kamu?"


Areta menghela napasnya sejenak. "Itu bukan urusan Anda."


"Areta, bisakah kamu tidak bersikap formal padaku? Jujur aku tidak nyaman kamu perlakukan seperti itu."


"Tapi Anda adalah atasan suami saya. Sudah seharusnya saya bersikap seperti itu."


"Tapi kita dulu adalah teman sekolah. Areta, kalau kamu mengijinkan, aku ingin membantu membiayai perawatan anak kamu."


"Maaf?" Areta berkerut dahi. Ingin memastikan apa yang didengarnya mungkin saja keliru.


"Aku akan membiayai semua biaya perawatan anak kamu sampai dia sehat kembali." Henry memperjelas kalimatnya. Mendadak hatinya tergerak ingin membantu. Namun bersamaan ide liciknya pun ikut merecoki. Berpikir mungkin bisa mengambil keuntungan dari hal ini. Paling tidak, ia bisa mengikat Areta dengan balas budi.


Areta mengerjap, ia memahami kalimat Henry. Sebab Henry secara gamblang mengutarakannya. Yang tak ia pahami adalah mengapa dengan mudahnya Henry menawarkan bantuan kepadanya hanya dengan alasan teman. Mustahil jika Henry tulus ingin membantunya.


"Tapi ..." Areta berpikir sejenak. Sejujurnya ia ingin menolak. Lantaran tak enak hati, malu, bahkan ia kurang meyakini ucapan Henry. Apalagi, mereka belum lama saling mengenal, meski dahulu pernah berada dalam satu tempat pendidikan.


"Areta, aku tulus ingin membantu kamu. Sebagai teman." Henry mencoba meyakinkan. Sebab dilihatnya Areta terlihat ragu. Atau bahkan mungkin tak percaya.


Henry memang tulus ingin membantu. Terdorong oleh rasa iba, lalu ingin menimba keuntungan dari situasi ini pada akhirnya.

__ADS_1


Keuntungan pertama, yaitu Areta akan bersimpati kepadanya. Penilaian Areta tentang dirinya tentu akan berbeda. Areta akan menilainya sebagai orang yang baik hati, tulus, dan suka menolong. Meskipun sejujurnya terselip sedikit akal bulus di dalamnya.


Dan yang kedua, yaitu ia bisa memanfaatkan situasi ini untuk membuat Areta berhutang budi kepadanya. Lalu akhirnya ia bisa meminta balas budi akan kebaikan yang diberikannya.


Di dunia ini, kemungkinan hanya ada satu diantara seribu yang memberi tanpa pamrih. Yang tulus dari dasar hatinya. Dan Henry bukan termasuk di dalamnya. Sebab kebaikannya terselip satu keinginan besarnya. Yaitu memiliki Areta.


Tak peduli bagaimanapun caranya. Tak peduli meski ia harus menempuh cara yang licik. Ia tak peduli, asalkan ia bisa memiliki Areta.


Tak peduli berapapun angka yang harus ia kucurkan untuk membantu Areta, asalkan balasan yang akan ia peroleh setimpal.


...


Sementara di lain tempat, Angga tampak berpikir keras di meja kubikelnya. Nominal yang ia butuhkan untuk biaya operasi sekaligus biaya perawatan pasca operasi tidaklah sedikit. Nominal yang hampir mencapai angka fantastis itu mustahil bisa ia dapatkan dalam waktu dekat ini.


Mengajukan kasbon atau meminjam dari kantor pun mustahil ia lakukan. Sebab ia harus berhadapan dengan Mega. Menjatuhkan imagenya di depan Mega, tentu saja tak mungkin ia lakukan.


Lalu, bagaimana caranya ia mendapatkan sejumlah besar uang dalam waktu dekat?


Henry.


Tiba-tiba saja nama Henry terlintas di benaknya. Henry adalah atasan yang baik juga ramah. Apa salahnya jika ia mencoba.


...


Areta masih terkejut dengan tawaran Henry. Tak ingin percaya, namun ekspresi wajah pria itu terlihat tak main-main.


"Maaf, Pak Henry. Saya ... Saya tidak tahu apakah Pak Henry serius atau memang Pak Henry hanya bermain-main saja. Tapi saya tidak bisa menerima tawaran Pak Henry. Suami saya sedang mengupayakannya. Jadi Pak Henry simpan saja uang Bapak. Lagipula, saya tidak akan sanggup menggantinya." Tak bermaksud menyinggung, namun Areta sungguh tak percaya semudah itu Henry menawarkan.


"Areta, aku serius ingin membantu kamu."


"Tapi saya sudah kasih tahu, saya tidak akan sanggup mengganti uang Pak Henry."

__ADS_1


"Baiklah. Aku tidak akan memaksa." Namun bukan berarti Henry akan mundur begitu saja. Ia akan mencari cara lain agar bisa menemukan celah untuk bisa mendekati Areta. Masa bodoh jika Areta sudah berstatus menjadi istri orang.


*


__ADS_2