
Bab. 21
"Tadi kayaknya Mama dengar kamu menyebut pengacara dan penghulu? Untuk apa, Henry?" tanya Agatha penasaran.
Mengambil duduk di depan meja kerja Henry, Agatha kembali melayangkan pertanyaan serupa. Sebab pertanyaan sebelumnya tak mendapatkan respon dari Henry.
"Kamu butuh pengacara dan penghulu untuk apa Henry? Kamu sedang tidak merencanakan sesuatu kan?" telisik Agatha memicingkan matanya tajam.
"Mama ngapain ke sini?" Kemudian memberi kode kepada Fabian agar meninggalkan ruangannya.
Fabian menurut. Bergegas ia mengayunkan langkahnya meninggalkan ruangan Henry dengan segudang tanya dalam benaknya. Untuk apa gerangan bujangan itu membutuhkan penghulu dan pengacara?
Apakah Henry sedang berencana menikah diam-diam?
Lalu pengacara?
Untuk apa pula Henry membutuhkan seorang pengacara kasus perceraian?
Memangnya siapa yang akan bercerai?
"Aaah ... Masa bodoh. Bukan urusanku." Fabian mengibaskan tangan sembari melenggang pergi. Mungkin saja atasannya itu sedang membantu teman yang membutuhkan jasa pengacara dan penghulu.
"Mama ke sini tuh cuma mau ngecek persiapan buat besok malam nanti. Mama khawatir anniversary perusahaan kita tahun ini tidak akan berjalan lancar," ujar Agatha cemas sebetulnya. Sebab setiap tahunnya ia lah yang sering mengadakan anniversary. Ia hanya cemas jika Henry tidak maksimal dalam persiapannya esok malam nanti.
Menyandarkan punggung, Henry mengulum senyumnya.
"Mama tidak usah cemas. Persiapannya sudah hampir rampung kok. Dan kali ini, pestanya mungkin akan sangat meriah. Mama pasti bakal terkejut." Tentu saja Agatha akan terkejut melihat kemeriahan pesta esok malam nanti. Sebab pada pesta itu, ia akan memberi sedikit kejutan.
Henry adalah anak yang patuh, penyayang keluarga. Namun untuk urusan asmaranya, Henry tidak suka diatur-atur oleh siapapun itu. Termasuk Agatha, ibunya.
Henry akan melakukan apapun itu, asalkan ia bisa mendapatkan si wanita pujaannya. Termasuk jika harus menentang keluarganya. Sebab kebahagiaannya, ia sendiri yang menentukan. Bukan orang lain.
"Kamu belum jawab pertanyaan Mama, Hen. Untuk apa kamu mencari pengacara dan penghulu."
__ADS_1
"Tidak ada apa-apa, Mah. Aku hanya berniat membantu teman. Itu saja kok."
"Bener? Kamu tidak bohong kan?"
Henry mengangguk.
"Oh ya, kamu kenal Tante Wina kan? Teman arisan Mama yang kemarin ngasih rekomendasi salon kecil itu?"
"Areta, Mah. Pemilik salon itu namanya Areta." Henry seakan tak terima Agatha memandang remeh salon Areta.
"Iya, iya, salonnya Areta. Tapi kamu ingat Tante Wina kan? Ternyata putrinya Tante Wina tuh lulusan Oxford loh Hen. Cantik lagi. Namanya Nada. Kemarin Mama udah ketemu. Kita juga udah sempat ngobrol. Dan katanya Nada tuh masih sendiri. Jomblo, sama seperti kamu." Agatha sumringah, tampak antusias bercerita tentang putri sahabatnya.
Yang malah tak mendapatkan respon dari Henry. Henry sudah hafal betul gelagat Agatha yang ingin menjodoh-jodohkannya dengan putri sahabat-sahabatnya itu. Dan Henry sedikitpun tidak memiliki ketertarikan kepada mereka. Sebab dalam hatinya hanya ada Areta. Sejak dahulu sampai detik ini, hanya Areta yang ia inginkan. Sehingga membuatnya harus menempuh cara kotor dan keji untuk mendapatkan si wanita dambaan.
"Jika kedatangan Mama ke sini hanya untuk membahas tentang putri temannya Mama itu, mendingan Mama pergi. Tinggalkan aku sendiri. Aku masih punya banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan, Mah," ujar Henry terang-terangan mengusir Agatha.
Dengan kesal Agatha pun bangun dari duduknya.
"Ya sudah. Terus pertahankan saja jomblo kamu itu. Mama pastikan Mama akan berhenti mengganggu kamu."
"That's right. Keputusan yang tepat, Mamaku tersayang." Henry mengulum senyumnya.
"Tapi ingat, Henry. Perempuan pilihan kamu nanti harus perempuan baik-baik, punya good attitude, berpendidikan, dan ... Bukan milik orang. Karena jaman sekarang katanya punya orang itu lebih menarik. Tidak heran di mana-mana banyak terjadi perselingkuhan. Dan Mama tidak mau anak Mama ini menjadi pengganggu rumah tangga orang.
Perempuan yang akan kamu bawa ke dalam keluarga kita nanti, harus perempuan yang memenuhi standar kriteria keluarga kita. Bukan perempuan sembarangan yang akan bikin malu keluarga kita. Kamu paham?" tutur Agatha panjang lebar. Memberi peringatan keras kepada Henry. Sebelum akhirnya melenggang pergi, menyisakan Henry yang terdiam kehilangan kata-kata. Serta senyuman yang surut seketika.
Meniupkan napasnya pelan, Henry memutar otak. Ia tahu apa yang akan dilakukannya ini bertentangan dengan prinsip keluarganya. Bahkan akan mempermalukan nama baik keluarganya.
Namun, cinta itu kian hari kian tumbuh subur dan bersemi indah di kalbunya. Bahkan kian merajai, menguasai hati dan pikirannya. Sehingga mampu menggeser akal sehat dari tempatnya.
"Aku tidak peduli keluargaku akan menentangku nanti. Yang terpenting buat aku sekarang adalah mendapatkan Areta bagaimanapun caranya," gumamnya antusias dengan semangat yang menggebu. Sebab hanya tinggal selangkah lagi Areta akan jatuh ke tangannya.
...
__ADS_1
"Maaf, Bu Areta. Tapi ini sudah menjadi peraturan rumah sakit. Kami sebagai dokter dituntut untuk mematuhi peraturan yang berlaku. Jika tidak, karir kami sebagai dokter akan dipertaruhkan. Bisa-bisa saya akan dipecat dari rumah sakit ini. Jadi, mohon maaf sekali lagi, Bu Areta." Nino berujar, memberi penjelasan kepada Areta ketika Areta menemuinya.
Sepulangnya dari pertemuan di kafe dengan Henry dan Angga, Areta memutuskan menemui Nino, salah satu tim dokter yang menangani Rosa langsung. Areta hendak meminta keringanan biaya operasi. Atau jika boleh, operasinya ditunda sejenak sampai ia bisa mengumpulkan uangnya.
Namun, Nino menjelaskan jika operasi itu tidak bisa ditunda. Harus segera dilakukan jika tidak ingin keadaan Rosa menjadi lebih parah lagi. Nino juga memberitahunya, bahwa sebaiknya keluarga segera mencari donor jantung untuk Rosa jika ingin kondisi Rosa pulih.
Kehilangan semangat, didera kecemasan juga ketakutan membuat Areta dirundung duka mendalam. Putri tercintanya berada dalam keadaan kritis saat ini, membuatnya terjebak diambang kebimbangan.
Ingin sekali ia melihat keceriaan terpancar kembali di wajah putri tercintanya. Namun ia pun sungguh tak sanggup bila harus melepas suami yang ia cintai. Lantas cara apa lagi sekiranya yang bisa ia tempuh untuk menyelamatkan Rosa juga pernikahannya?
...
"Kamu sebenarnya ada masalah apa sih dengan mamanya Rosa? Kasihan loh, dia sedang kesusahan sekarang. Bukannya membantu, kamu malah mempersulit." Nino bertanya, ketika berkunjung ke rumah mertua, memenuhi undangan makan malam dari Agatha. Ia dibuat penasaran oleh motivasi Henry yang mempersulit Areta.
Sebenarnya, bisa saja Nino memberi keringanan kepada Areta dengan menghubungi kepala rumah sakit. Yang tidak lain adalah keluarga Nino sendiri, atas dasar rasa iba dan juga kewajibannya untuk membantu pasien.
Akan tetapi, Henry malah memohon-mohon kepadanya untuk mempersulit Areta. Bila perlu menakut-nakutinya, demi sesuatu yang ia rencanakan.
"Aku akan membantu, tapi belum sekarang," ucap Henry.
"Memangnya kamu kenal dengan keluarga pasien? Kamu punya dendam apa sih ke mereka, sampai-sampai kamu memperlakukan mereka seperti itu?"
"Sebenarnya aku tidak punya dendam apa-apa. Hanya saja ..." Henry menghela napas sejenak. Menyandarkan punggung ke sandaran sofa sembari memangku kaki.
Nino menunggu penasaran jawaban Henry.
"Aku hanya ingin mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi milikku," sambung Henry mengurai senyuman sinis.
Membuat Nino kian penasaran saja dengan motivasi Henry yang sebenarnya. Sebab apa yang Henry lakukan ini sudah sangat keterlaluan. Tak hanya mempermainkan perasaan keluarga pasien, Henry bahkan tengah mempermainkan nyawa seorang pasien.
Nino protes, menampakkan kemarahannya akan sikap Henry. Yang melibatkannya dalam pelanggaran kode etik kedokteran. Namun Henry telah memberi jaminan, Henry telah berjanji kepadanya akan melunasi keseluruhan biaya pengobatan Rosa, sampai gadis kecil itu sembuh.
*
__ADS_1