Antara Cinta Dan Obsesi

Antara Cinta Dan Obsesi
ACDO Bab. 33


__ADS_3

Bab. 33


Bukan terjebak macet, tetapi Henry sengaja mengulur waktu untuk sampai ke aula dimana anniversary sedang berlangsung. Soal pemberian penghargaan yang menjadi tugasnya, lalu pada akhirnya malah diserahkan kepada Agatha itu memang sengaja sudah ia atur sebelumnya.


Ia sengaja berkata memberi kabar kepada Fabian bahwa ia terjebak macet di tengah perjalanan. Padahal yang sesungguhnya terjadi, ia mengulur waktu dengan memelankan laju mobil sambil berusaha mengajak Areta mengobrol. Walaupun Areta lebih banyak diam, tak menggubris semua omongannya.


Ia bahkan sengaja mampir sebentar ke toko bunga untuk membelikan seikat bunga mawar untuk Areta. Walaupun Areta menerimanya dengan wajah datar. Bahkan terlihat tak suka. Namun ia tak peduli. Semua ia lakukan demi mengulur waktu. Agar ketika mereka sampai, apa yang telah ia perintahkan kepada Mega sebelumnya langsung tersaji di depan penglihatan Areta.


Apa yang menjadi harapannya pun terwujud. Begitu memasuki aula, di seberang ia melihat Mega dan Angga yang sedang berpelukan. Ia pun sengaja mengajak Areta menghampiri, dengan beralasan ingin mengenalkan Areta kepada staf-staf kantornya.


Namun, begitu mereka menghampiri, Areta malah dibuat terkejut oleh pemandangan menyesakkan dada yang tersaji langsung di depan matanya itu.


"Angga?" Areta memanggil dengan suara bergetar, serta raut wajah yang dipenuhi amarah juga kekecewaan.


Sedangkan Henry menyembunyikan senyumnya.


Terkejut, Angga dan Mega pun sontak menoleh. Refleks Angga mendorong tubuh Mega menjauh ketika dilihatnya Areta berdiri tak jauh dengan raut wajah yang sulit diartikan.


Angga terkejut sekaligus takjub melihat Areta dengan penampilan berbeda. Cantik, anggun dan berkelas. Areta sungguh sangat mempesona malam ini. Angga pun hanya bisa menelan salivanya. Yang ia sayangkan adalah, calon mantan istrinya itu malah bersama pria lain, bukan dirinya.


Sementara Areta sakit hatinya melihat Angga berpelukan dengan wanita lain. Belakangan ini ia berpikir, Angga ingin bercerai darinya itu murni karena syarat yang diberikan Henry. Namun ia tak menyangka, rupanya penyebab Angga ingin bercerai darinya itu juga dikarenakan ada wanita lain dalam rumah tangga mereka.


"Angga, dia siapa?" tanya Mega melirik Areta.


"Emm... Dia..." Angga ingin mengatakan yang sebenarnya. Namun urung ketika dilihatnya Henry memberi kode melalui tatapannya agar Angga tidak membuka jati diri Areta.


Ingin sekali Areta melabrak Angga, menumpahkan amarahnya kepada pria itu. Namun bisikan Henry di telinganya itu pun mengurungkan niatnya.


"Tolong jangan buat keributan. Jangan sampai ada yang tahu siapa kamu sebenarnya. Untuk masalah kamu dan Angga, silahkan kalian selesaikan itu nanti. Yang terpenting sekarang adalah, kamu sudah tahu siapa suamimu yang sebenarnya. Hm?"


Dengan terpaksa Areta meredam emosinya. Demi kesepakatan yang telah ia buat dengan Henry. Ia kembali memasang raut wajah datar dan dingin. Seolah tidak terjadi apa-apa.

__ADS_1


Namun, bukan berarti ia akan membiarkan begitu saja perbuatan Angga. Ia akan menuntut penjelasan Angga nanti setelah pesta ini selesai.


"Ayo, Areta. Kita ke sana." Henry pun mengajak Areta menjauh dengan meraih jemari Areta, menggenggamnya erat bak sepasang sejoli.


Pada pesta itu, Nino turut hadir sebagai menantu Adiswara, mendampingi Hera Adiswara, kakak kandung Henry. Nino mengerutkan keningnya ketika melihat Henry tengah menggandeng seorang wanita cantik yang wajahnya tampak familiar.


Nino yang berdiri bersama Hera dan Agatha pun berbisik ke telinga Hera. "Itu pacarnya Henry?" tanyanya.


Hera terkejut, sontak menoleh ke arah Henry yang datang menghampiri.


"Waw, cantik banget." Hera tersenyum memuji.


Perhatian Agatha pun teralihkan pada objek yang menjadi pusat perhatian tamu saat ini. Objek itu tidak lain adalah Henry dan Areta yang terlihat serasi dengan warna pakaian senada serta sikap keduanya yang tampak mesra.


Senyuman Henry tak pernah lepas dari wajahnya. Menampakkan jelas binar-binar bahagianya.


Namun berbeda dengan Areta. Meskipun ia membiarkan Henry menggenggam tangannya, menautkan jari-jemarinya di sana. Tetapi hati Areta sedikitpun tidak berbahagia. Hanya sesekali ia menyunggingkan senyumnya saat kolega bisnis Henry menyapa.


"Ehem ... Ehem... Ehem." Hera menggoda, tersenyum usil menatap Henry ketika pria itu menghentikan langkah di depan mereka.


"Jadi ini nih, si bidadari hati yang berhasil mencuri hati si jomblo akut ini?" goda Hera, tersenyum jahil menggulir tatapan merayu kepada Henry dan Areta bergantian.


Henry menyunggingkan senyumnya, merasa mantap ingin memperkenalkan Areta kepada keluarganya.


Sementara Nino, masih berkerut kening heran. Ia merasa mengenali Areta.


"Mama, Kak Hera, Nino... Perkenalkan, ini Areta," ucap Henry.


"Oh iya, Mama ingat. Ini Areta yang di salon waktu itu kan?" Agatha menebak. Tersenyum senang menunjuk Areta.


Areta pun tersenyum. Namun senyumnya surut begitu tatapannya bergulir kepada Nino.

__ADS_1


"Iya, Ma. Dan Areta ini adalah calon istri aku," sambung Henry dengan ukiran senyum bahagianya.


"Ca-calon istri?" Malah Nino yang terkejut. Hampir saja ia tersedak minuman yang ia teguk. Dipandanginya heran Areta yang menunduk malu. Seolah tengah menghindari bertemu tatap dengannya.


Bagaimana Nino tidak terkejut. Sebab ia baru menyadari dan mengenali Areta yang sedang bersama adik iparnya itu adalah Areta yang ia kenal. Dan setahunya Areta sudah bersuami. Bahkan sudah memiliki seorang anak. Yang sedang menderita penyakit jantung, yaitu salah satu pasiennya.


"Ooh ... Jadi ini nih perempuan yang belakangan ini sudah bikin anak Mama jadi seperti orang gila?" Agatha terlihat sumringah. Tersenyum bahagia menatap Areta. Ia senang karena perempuan pilihan Henry adalah perempuan yang sempat ia kagumi. Cantik, sederhana, sopan juga santun dalam bertutur.


"Iya. Dia memang pria gila," batin Areta menahan geram.


"Jadi kapan nih bakal diresmikan calon istrinya? Aku saranin, lebih baik secepatnya ya, Hen. Biar kamu boboknya tidak sendirian lagi," goda Hera mengedipkan sebelah matanya.


Henry pun tersenyum lebar. "Tentu saja secepatnya dong, Kak."


"Nah, gitu dong. Itu baru adiknya Hera. Kalau gitu, selamat ya? Oh ya, ngomong-ngomong kita belum kenalan nih. Kenalin, aku Hera, kakaknya Henry." Hera mengulurkan tangannya. Yang disambut kikuk oleh Areta.


"Areta," balas Areta.


Bahkan untuk tersenyum saja rasanya kaku sekali. Tak hanya gugup, Areta bahkan didera cemas jika Nino mengungkap siapa dirinya yang sebenarnya. Andai terungkap, tentu saja ia akan sangat dipermalukan karena hal ini. Sebab mana ada di dunia ini seorang ibu yang menginginkan putranya yang masih bujang menikahi wanita seperti dirinya.


Mengingat ia tak pernah menginginkan menikahi Henry, jadi tak mengapa jika statusnya terungkap. Akan tetapi, jika mengingat Rosa, maka dengan terpaksa ia harus bungkam. Ia hanya bisa menuruti saja semua perkataan juga permintaan Henry.


"Mama senang sekali akhirnya kamu menemukan perempuan yang tepat untuk mendampingi hidup kamu. Kalau gitu Mama ucapkan selamat untuk kalian berdua. Soal restu, kalian tidak usah risau. Karena Mama dan keluarga besar Adiswara memberikan restu untuk kalian berdua."


Sementara Henry sedang berbahagia atas restu yang ia dapat. Di seberang Angga justru seperti didera penyesalan. Sesekali matanya melirik Areta, yang tampil di luar ekspektasinya. Areta yang ini adalah Areta yang mempesona, cantik dan anggun. Ia seperti melihat Areta yang berbeda saat ini.


"Siapa sih perempuan itu, Ga?" tanya Mega penasaran. Sebab sedari tadi, perhatian Angga malah tertuju kepada Areta.


"Alu lihat dari tadi kamu merhatiin dia terus. Siapa sih dia? Apa jangan-jangan kamu juga ingin mendekati perempuan itu? Jangan buta, Ga. Perempuan itu sedang bersama Pak Henry. Dan kamu tidak selevel dengan Pak Henry," sambung Mega mulai ketus. Merasa tak terima Angga mulai melirik wanita lain.


"Dia itu istriku."

__ADS_1


Mega pun terperangah.


*


__ADS_2