
Bab. 51
["Mah ... Mama sebenarnya ada di mana sih? Kenapa Mama belum pulang-pulang?"] Terdengar Rosa kembali melayangkan tanya. Membuat Areta mengalihkan perhatian segera ke layar ponselnya.
"Iya, sayang. Mama pasti pulang, tapi belum sekarang. Rosa yang sabar dulu ya?" bujuk Areta mengulum senyuman.
Di layar ponsel itu terlihat wajah cemberut Rosa. Gadis kecil itu merajuk, membuat Areta gemas. Ingin sekali mencubiti pipi tirusnya, lalu memeluknya erat. Tapi sayangnya, Areta tak bisa melakukan hal itu.
["Jangan lama ya Mah pulangnya? Kalau tidak Rosa marah nih?"] Rosa tambah manyun sebagai bentuk protesnya karena sang Mama tak kunjung pulang, tinggal seatap lagi dengannya juga Angga.
"Iya. Mama bakal pulang cepet. Asalkan Rosa jangan suka ngambekan. Ya?"]
Rosa mengangguk. ["Janji ya, Mah?"] Sembari menunjukkan jari kelingkingnya.
Areta tertawa-tawa melihat tingkah lucu sang putri. "Iya, Mama janji. Ya sudah, sekarang Rosa tidur ya? Rosa jangan keseringan begadang sayang. Rosa kan belum sembuh benar. Oma Rosa di mana? Kasih handphonenya ke Oma. Mama mau bicara."
["Oma sudah tidur. Rosa sekarang ada di kamarnya Papa. Papa tadi minta tolong ke Rosa, katanya kangen sama Ma_"] Belum sempat Rosa menyelesaikan ucapannya, Angga telah mengambil alih ponsel. Dan kini pada layar ponsel Areta, wajah Angga yang terpampang.
Membuat Areta kesal, memasang wajah tak bersahabat di depan kamera. Agar Angga melihatnya.
["Maaf mengganggu kamu malam-malam begini. Ro-Rosa tadi nanyain kamu terus. Dia bahkan datang ke kamarku, mem-membangunkan aku, dan memintaku untuk menghubungi kamu."] ujar Angga salah tingkah. Kentara dari cara bicaranya yang terbata, bahkan tampak mengusap tengkuknya berkali-kali sembari mengalihkan pandangan sesekali. Bola matanya bergulir, seolah tak ingin bersitatap dengan Areta melalui kamera. Bukankah gelagat seperti itu merupakan gelagat seseorang yang sedang berbohong?
"Tapi apa tidak bisa kamu cari alasan? Ini kan sudah malam. Lagian Rosa itu harus banyak istirahat. Seharusnya kamu lebih memperhatikan kesehatannya. Tadi siang aku datang untuk menjenguk Rosa, tapi Rosa tidak ada di rumah."
["Aku mengajaknya ke mall. Dia minta dibelikan baju baru."]
"Apa bisa obrolannya dilanjutkan nanti? Kamu sudah mengganggu waktu istirahat kami. Kalau memang ada sesuatu yang penting yang ingin kamu bicarakan dengan istriku, silahkan dilanjutkan esok hari saja. Itu pun atas seijinku, karena Areta sekarang adalah istriku. Kamu paham kan?" Tiba-tiba Henry memeluk Areta dari belakang, menaruh dagu di pundak Areta dan mengarahkan tatapan ke layar ponsel Areta.
Pada layar ponsel Areta tampak reaksi Angga yang terkejut dengan kemunculan Henry. Perlakuan Henry terhadap Areta tersebut membuat Angga salah tingkah.
Sedangkan Areta merasa risih. Tetapi berusaha bersikap biasa saja serta membiarkan Henry berlaku sesuka hatinya. Areta bahkan tak menolak ketika Henry mencerupkan wajah di ceruk lehernya, melabuhkan kecupan demi kecupan di sana.
__ADS_1
Membuat Angga kalang kabut. Angga semakin salah tingkah. Bahkan wajahnya terlihat memerah seperti tengah menahan amarah.
Terbawa suasana sebab Areta tak menolak, Henry pun meraih ponsel Areta. Memutuskan sambungan video call, lalu menonaktifkan ponsel tersebut, menaruhnya asal di atas tempat tidur itu.
Gejolak dalam diri yang sempat tertahan itu pun kini tak sanggup lagi dibendungnya. Terlebih Areta sedikitpun tak memberikan perlawanan. Membuatnya semakin kalap, lupa diri.
Namun ketika ia membaringkan Areta di bawah kungkungannya, Areta justru menolak. Mengehentikan serbuan beringasnya seketika.
"Hen, Henry." Areta mendorong pelan tubuh Henry.
"Kenapa?" Wajah Henry berubah sendu seketika. Ada sedikit kekecewaan yang ia rasakan. Sebab ia terlalu berharap perasaannya akan berbalas.
Areta tak lekas menjawab. Ia malah memalingkan wajahnya.
"Sorry, aku pikir kamu ..." Menggantung kalimatnya sejenak, Henry lantas bangun dari posisi kungkungannya. Ia pun lekas turun dari tempat tidur itu, hendak beranjak pergi setelah berkata,
"Sorry kalau aku membuat kamu tak nyaman. Aku pikir kamu menyukainya. Tapi aku tidak akan memaksa kalau memang kamu tidak suka." Kemudian ia mulai mengayunkan langkahnya, hendak meninggalkan kamar demi meredam kekecewaan yang menderanya.
"Henry."
Henry pun memutar tubuhnya. Dilihatnya Areta berdiri di sisi tempat tidur, memandanginya dengan tatapan berbeda. Namun dahinya berkerut ketika dilihatnya Areta malah membuka tautan kancing piyamanya satu persatu sampai terbuka seluruhnya.
Areta lantas menanggalkan piyama itu dari tubuhnya. Berikut ia juga melepas bawahan piyama sampai menyisakan si kain berenda berwarna hitam yang membungkus dua aset membusungnya. Serta si underwear dengan warna senada.
Pemandangan itu pun serta merta membuat detak jantung Henry semakin berpacu. Ia terkejut melihat Areta berbuat demikian.
Dengan Areta memperlihatkan keindahan raganya tersebut otomatis membangunkan sisi kelelakian Henry yang harus mati-matian ia tahan sejak tadi. Jiwanya pun semakin bergejolak, ingin sekali mencicipinya.
Henry semakin terkejut lagi ketika Areta malah datang menghampirinya. Lalu mengalungkan kedua lengan di pundaknya. Menatapnya dengan tatapan penuh damba. Yang membuatnya berdebar-debar. Apakah ini merupakan pertanda jika Areta ...
"Maaf kalau aku sering membuat kamu kecewa. Aku sudah memutuskan akan memberi kamu kesempatan. Karena ..." Areta menjeda kalimatnya sejenak. Ditatapnya lekat sepasang mata Henry. Mencoba memberi sinyal bahwa ia pun mendamba sentuhan. Yang telah lama tak pernah lagi ia dapatkan dari Angga.
__ADS_1
Sementara Henry tengah menahan gejolak gairahnya yang ingin segera mendapatkan pelampiasannya.
"Areta, apa kamu sedang bermain-main denganku?" Henry sungguh tak kuasa lagi menahan gejolak hasratnya. Yang membuatnya kesulitan bernapas.
Dan Areta malah tersenyum. "Untuk apa aku bermain-main dengan suamiku sendiri," godanya merayu, mulai memberanikan diri. Melihat ketulusan dan kesungguhan Henry membuatnya lupa akan pendiriannya sendiri. Bahwa ia takkan pernah membuka hati untuk pria itu. Tetapi sekarang, lihatlah apa yang terjadi. Semua berkat ketulusan Henry.
Membuat Henry berkaca-kaca saking tak bisa menahan luapan haru ketika mendengar Areta mengakuinya sebagai suami.
"Apa kamu hanya akan berdiri saja di sini?" celetuk Areta mulai menggoda sembari menggigit bibirnya sensual, memberi kode.
Saking bahagianya, Henry pun segera membopong tubuh Areta, membawanya ke tempat tidur. Membaringkannya perlahan di sana, mengungkung raga mulus Areta di bawahnya. Membenamkan ciumannya cepat di bibir Areta, membuat Areta bahkan hampir kewalahan mengimbangi.
Dalam ruangan yang semula hening kini terdengar suara dessahan yang saling bersahutan merdu. Dua anak manusia tengah beradu, mengusak peraduan berdua dengan bermandikan peluh.
Lantaran hasrat yang terlalu lama terbendung, berpadu dengan kerinduan Areta mendamba sentuhan, membuat pergulatan semakin sengit dan panjang. Henry yang terbakar api gairahnya, begitu buas menyerang. Sehingga membuat lawan kewalahan, hampir tak bisa mengimbangi.
Beruntung Areta sudah berpengalaman di atas peraduan, sehingga meski kepayahan ia tetap berusaha semampu yang ia bisa. Mengayuh berdua mendaki sampai puncak terasa melelahkan. Henry pun jatuh terkulai, merebahkan diri di samping Areta begitu puncak percintaan diraih. Mengalungkan lengannya posesif pada pinggang Areta, Henry lantas mengecup pundak Areta berkali-kali.
"Makasih ya sayang," ucap Henry.
Areta tersenyum sembari mengelus sayang punggung jemari Henry. Pertahanannya akhirnya runtuh jua oleh cinta kasih tulus Henry. Mungkin memang sebaiknya ia mulai menerima dan membuka hati untuk pria itu yang sudah berstatus sebagai suaminya. Dengan tetap menyalahkan keadaan pun tiada berguna. Sebab Tuhan telah menggariskan nasibnya berakhir seperti ini.
Namun satu hal yang Areta syukuri, yaitu ia diberi pengganti Angga yang jauh lebih baik. Bahkan mencintai berkali-kali lipat lebih banyak dari yang pernah ia dapatkan terdahulu.
...
Sementara di sisi lain kota. Begitu Henry memutus sambungan video call, Angga dibuat kesal setengah mati. Ia bahkan membanting ponsel di atas tempat tidur saking jengkel melihat pemandangan yang disajikan Henry melalui layar ponsel. Beruntung Rosa sudah kembali ke kamarnya sendiri. Sehingga ia tak harus menjawab pertanyaan-pertanyaan yang akan dilontarkan gadis kecil itu ketika melihatnya dalam keadaan marah.
"Awas kamu Areta. Apa kamu sengaja ingin meledekku dengan memperlihatkan kemesraan kamu itu?" kesal Angga mengepalkan tinjunya erat. Rahangnya mengetat sampai gemeletuk gerahamnya pun terdengar.
*
__ADS_1