Antara Cinta Dan Obsesi

Antara Cinta Dan Obsesi
ACDO Bab. 19


__ADS_3

Bab. 19


Angga dilanda kebimbangan. Henry memberinya pilihan yang sulit. Antara jabatan, kehilangan pekerjaan, rumah tangganya, bahkan keselamatan Rosa sekalipun dijadikan Henry bahan kesepakatan dengannya.


Sejujurnya semua itu berat bagi Angga untuk memenuhinya. Namun keinginannya untuk mencicipi jabatan itu pun begitu kuat. Terlebih banyak keuntungan yang bisa didapatnya dari kesepakatan itu. Salah satu diantaranya kekuasaan. Dengan memiliki kekuasaan maka ia bisa melakukan apapun yang ia inginkan. Termasuk mendekati wanita cantik, seperti Mega misalnya.


Namun satu hal yang membuatnya terkejut adalah Henry yang menginginkan Areta. Ini seperti ia tengah menjual istrinya sendiri kepada lelaki lain.


Jujur, meski perasaannya terhadap Areta sudah tak seperti dulu lagi, namun ia pun tak ingin kehilangan Areta. Areta adalah ibu dari anaknya. Jelas ia dan Rosa masih membutuhkan Areta.


Angga duduk termenung di kantin kantor, memikirkan tawaran Henry. Juga memikirkan resiko yang akan ia hadapi nanti. Semalam ia telah menjanjikan kepada Areta bilamana mereka akan kembali bersama lagi begitu Rosa sembuh.


Namun sepertinya janjinya kepada Areta itu tidak akan terpenuhi. Sebab Henry menginginkan Areta.


Astaga.


Apakah Henry menyukai Areta?


Sejak kapan?


"Ck, aku jadi pusing memikirkan ini." Angga bergumam, mengacak rambutnya kesal. Ia hendak melepas Areta hanya demi sebuah jabatan. Namun ia tak menyangka atasannya menginginkan Areta. Atau bahkan mungkin menyukai Areta?


Ingat Angga, kesempatan tidak datang dua kali. Kamu sepakat, jabatan ada di tangan kamu. Tapi jika sebaliknya, maka kamu akan kehilangan pekerjaanmu.


Ucapan Henry itu masih terngiang jelas di kepalanya. Ia seperti menemukan jalan bercabang lalu berakhir pada jalan buntu. Ibarat kata, maju kena mundur kena.


Jika ia maju, jabatan tinggi menunggunya di depan. Namun konsekuensinya ia harus kehilangan Areta. Dan jika ia mundur, maka ia akan kehilangan pekerjaannya. Dan Areta tetap berada di sisinya.


"Kenapa jadi seperti ini?" Angga bergumam kesal. Meniupkan napasnya frustasi berkali-kali.


Sebenarnya, bisa saja jalannya mulus untuk mendapatkan apa yang ia inginkan, hanya tinggal menunggu keputusan Areta saja. Andai Areta setuju pun, lalu bagaimana dengan Rosa?


Bukankah artinya ia pun akan terpisah dari Rosa?


"Eh, lihat tuh Bu Mega. Dengar-dengar dia sedang dekat dengan Pak Dani, si duda kepala HRD itu." Rekan-rekan Angga di meja sebelah terdengar tengah menggosipkan Mega.


"Ah, masa sih?"


"Kemarin aku lihat mereka pulang bareng. Udah pasti ada sesuatu di antara mereka lah."


"Katanya manajer keuangan, kok malah makan di kantin?"

__ADS_1


"Keuangannya lagi menipis kali."


Obrolan rekan-rekannya itu tertangkap jelas oleh indera pendengaran Angga. Dan si bunga yang tengah digosipkan itu terlihat mengedarkan pandangannya, mencari-cari tempat duduk kosong untuk ia duduki.


Netra Mega pun terhenti pada meja yang ditempati Angga. Di mana Angga hanya duduk seorang diri.


Otomatis Angga salah tingkah ketika dilihatnya Mega datang menghampiri mejanya. Lalu mendudukkan diri pada bangku kosong di depannya.


"Sorry, bangku ini emang kosong kan?" tanya Mega sembari menaruh piring yang berisi makan siangnya.


Angga melebarkan senyumnya sumringah, mengangguk antusias. "Iya. Emang kosong kok dari tadi."


"Jadi tidak apa-apa dong aku duduk di sini?"


"Tidak apa-apa, silahkan. Saya malah senang bisa semeja dengan Bu Mega."


"Jangan panggil Bu dong. Rasanya aku ini dah tau kalau dipanggil begitu. Panggil nama saja."


"Tapi_"


"Angga. Nama kamu Angga kan?" sela Mega, mengulum senyuman manisnya.


Namun memang seperti itulah lelaki, yang sejatinya merupakan makhluk visual. Yang menyukai segala bentuk keindahan. Termasuk wanita.


"Bu Mega kenal saya?" Angga senang luar biasa. Tetapi tak terlalu menampakkannya. Tak salah ia mengangumi wanita itu. Yang ternyata adalah wanita ramah, santun, juga easy going. Mudah akrab dengan siapa saja.


"Ya kenal dong. Kamu staff marketing kan? Kamu juga salah satu panitia untuk anniversary perusahaan kan? Aku melihat kamu ada di ruang rapat kemarin. Eh, by the way, panggil Mega saja. Jangan panggil Bu."


Angga mengangguk antusias, senang bukan main bisa berada dekat dengan wanita yang dikaguminya. Jika keadaan seperti ini terus, akan dengan mudah baginya mendekati wanita itu.


...


Sementara Angga berbunga-bunga karena Mega, lain suasananya dengan yang terjadi kepada Areta.


Penyumbatan pada pembuluh darah kembali terjadi. Membuat kinerja jantungnya tidak maksimal, melemah, bahkan hampir terhenti. Membuat tim dokter mengambil inisiatif menggunakan alat kejut listrik untuk mengembalikan kinerja jantungnya.


Mondar-mandir gelisah di depan ruangan, Areta didera panik luar biasa. Dokter Nino sudah memberi penjelasan kepadanya, namun ia tak memiliki daya upaya. Ia sudah memohon agar pihak rumah sakit memberinya keringanan, memberinya tenggat waktu untuk melunasi keseluruhan biaya.


Pihak rumah sakit memberi kelonggaran waktu, tetapi tidak dengan operasi Rosa. Operasi tidak boleh ditunda jika tidak ingin kondisi Rosa semakin memburuk.


Terdorong oleh kondisi memburuk Rosa, pada akhirnya membawa langkah kaki Areta pergi menemui Angga di kantornya.

__ADS_1


Di selasar gedung mereka tengah berbincang, beradu sengit tentang pendapat masing-masing. Namun ujung-ujungnya, Areta lah yang harus mengalah. Menerima tawaran Angga pada akhirnya.


Duduk gelisah di salah satu kafe terdekat, Areta dan Angga tengah menunggu kedatangan seseorang. Seseorang yang akan membantu kesulitan mereka saat ini. Dengan konsekuensi yang tak main-main.


Areta sudah mempersiapkan mentalnya untuk itu. Semua akan ia lakukan demi Rosa.


"Sorry, telat." Suara seseorang terdengar dari arah belakang.


Sontak Areta menoleh ke arah sumber suara. Dahinya berkerut begitu mendapati Henry datang menghampiri mejanya. Lantas mengambil duduk di depannya dan Angga.


"Lumayan lama nunggunya?" tanya Henry melepas tautan kancing jasnya. Memangku kaki, Henry lantas menyandarkan punggung, memfokuskan tatapan kepada Areta.


Hatinya kegirangan ketika Angga menghubunginya, memberitahunya bahwa Areta menyetujui syarat yang ia berikan. Yang artinya, memiliki Areta bukan lagi sekedar angan dan mimpinya belaka. Akan tetapi mimpi itu kini akan menjadi kenyataan. Kenyataan yang sungguh membahagiakan.


Rasanya seperti seluruh isi dunia ini diberikan kepadanya. Ia sungguh tak kuasa lagi menahan gejolak di jiwanya. Areta itu ibarat separuh nyawanya.


"Lumayan, Pak Henry." Angga menjawab, dengan perasaan tak tentu. Entah ia harus bersedih atau berbahagia dengan keputusan Areta. Yang menerima perpisahan mereka demi keselamatan Rosa, putri semata wayangnya. Namun ia pun teramat menginginkan posisi yang ditawarkan Henry di perusahaan. Toh, hubungannya dengan Areta sudah terasa hambar belakangan ini. Berpisah pun tidak masalah baginya.


"Maaf, Anda_" Areta hendak menanyakan perihal kehadiran Henry diantara mereka. Namun Angga menyela cepat ucapannya.


"Pak Henry ini yang akan membantu kita membiayai pengobatan Rosa."


Areta terkejut, lalu menoleh menatap Henry.


"Jika Anda memang ingin membantu, kenapa harus memberikan syarat yang tidak masuk akal? Apakah Anda pikir perceraian itu hanyalah lelucon?" ujar Areta mulai didera emosi. Ia merasa seperti sedang dipermainkan oleh Henry.


"Areta, banyak hal yang kamu tidak tahu. Kenapa aku memberikan syarat itu," ucap Henry.


"Saya tahu Anda punya banyak uang. Tapi bukan seperti ini caranya. Apakah dengan mempermainkan orang kecil seperti kami Anda akan merasa senang?"


"Areta, apa kamu sudah gila? Bukannya tadi kamu bilang kamu setuju dengan syaratnya?" ucap Angga setengah berbisik. Khawatir jika Areta akan berubah pikiran.


"Sorry, Ga. Tapi sekarang aku berubah pikiran. Seharusnya sejak awal kamu kasih tahu aku, kalau orang yang akan membantu kita itu adalah atasan kamu. Aku tidak tahu apa yang kalian bicarakan sebelumnya. Tapi aku tidak terima dipermainkan seperti ini. Aku permisi." Berdiri cepat dari duduknya, Areta lantas mengayunkan kakinya pergi. Ia akan mencari cara lain untuk menyelamatkan Rosa, tetapi tidak dengan mengorbankan pernikahannya.


"Areta. Ingat kondisi Rosa sekarang Areta." Angga berujar untuk menghentikan langkah Areta.


Namun Areta tak peduli. Ia terus saja mengayunkan langkahnya pergi. Sampai akhirnya Henry berkata, yang membuat langkahnya terhenti tiba-tiba.


"Alu sudah mencaritahu tentang kondisi anak kamu, Areta. Satu-satunya cara untuk menyelamatkan anak kamu adalah dengan transplantasi jantung. Dan itu membutuhkan biaya yang tidak sedikit Areta. Terlambat sedikit saja kamu mengambil keputusan, maka nyawa anak kamu yang akan jadi taruhannya."


*

__ADS_1


__ADS_2