Antara Cinta Dan Obsesi

Antara Cinta Dan Obsesi
ACDO Bab. 59


__ADS_3

Bab. 59


Samar ia mendengar suara Areta yang tengah berbicara dengan Fabian. Begitu sampai, ia sempat berpesan kepada Fabian agar tidak ada yang mengganggunya, termasuk Areta sebelum akhirnya ia memasuki ruangan.


Namun, mendengar suara Areta membuatnya berdebar. Kakinya pun tak bisa dicegah melangkah ke arah pintu. Lalu ia membuka pintu itu cepat sebelum Areta pergi.


Tak kuat rasanya ia melihat Areta pergi meninggalkannya. Apalagi jika sampai terjadi, Areta malah pergi meninggalkannya untuk selama-lamanya.


Sejujurnya, mendadak timbul keraguan dalam dirinya. Apalagi setelah ia mendengar omongan Angga beberapa saat lalu dalam sambungan telepon. Apakah Areta benar-benar mencintainya, ataukah hanya menjadikannya pelampiasan demi untuk membalas sakit hatinya kepada Angga.


Akan tetapi, ketika Areta datang dan memberanikan diri mengekspresikan perasaannya lebih dulu, kini keraguan itupun sirna dalam sekejap.


"Makasih ya sayang. Tadinya aku sempat berpikir kalau kamu akan berubah pikiran saat Angga mulai merayumu," ujar Henry sambil mengusap lembut punggung Areta yang tengah tengkurap diatas raga atletis Henry. Dikecupnya sayang puncak kepala Areta.


Saling memeluk di atas sofa dengan keadaan bulat tanpa sehelai benang pun yang menutupi raga keduanya itu menjadi penutup percintaan. Sementara pakaian mereka teronggok menyedihkan, berserakan tak karuan di lantai ruangan yang menjadi saksi bisu keganasan Henry. Menyerang bertubi-tubi tanpa ampun, mengimbangi Areta yang pun tak kalah lihainya.


"Kamu juga pasti sudah dengar kan, berkali-kali aku menolaknya." Mendongak, Areta menatap intens sepasang mata Henry.


"Apa benar kamu sudah tidak men_"


"Tidak lagi. Angga itu hanyalah masa laluku. Dan kamu adalah masa depanku. Sekarang aku hanya mencintaimu," sela Areta.


"Apa aku bisa mempercayai kamu?" Bukannya meragukan Areta, Henry hanya ingin mendengar kalimat itu terucap lagi dari mulut Areta. Ribuan kali pun Areta mengatakannya, ia takkan pernah merasa jemu.


"Memangnya aku terlihat sedang berbohong?"


Henry tertawa kecil. "Memangnya kamu serius?" godanya.


"Ya iyalah, aku serius. Hanya kamu yang aku cintai."


"Coba katakan sekali lagi."


"Aku mencintaimu."


"Kurang kenceng."

__ADS_1


"Iiih ... Kamu mengerjaiku ya?" Sembari memukuli dada bidang Henry dengan gemas. Yang dibalas Henry dengan kekehan renyahnya.


Areta manyun, memasang wajah merajuk, ingin bermanja-manja dengan sang penakluk hatinya.


"Kamu menyebalkan. Dasar." Areta semakin merajuk. Kali ini ia memasang kesal, tapi tak benar-benar kesal.


Bagi Henry sendiri, sangat menyenangkan rasanya melihat Areta berwajah merajuk seperti itu. Baginya Areta terlihat menggemaskan, sampai ingin dilahapnya hidup-hidup.


Henry tertawa-tawa menerima cubitan-cubitan kecil Areta di pinggangnya. Bukannya mengaduh kesakitan, ia malah membungkam mulut Areta dengan mengecupnya. Bukan hanya sekali, tapi berkali-kali.


Dua jam telah berlalu. Henry dan Areta pun bergegas mengenakan kembali pakaiannya masing-masing.


...


Sementara di sisi lain. Angga frustasi. Ia bahkan sudah melawan egonya sendiri dengan bermohon-mohon pada Areta agar Areta kembali lagi ke pelukannya.


Namun, apa yang terjadi? Areta malah menolaknya berulang kali. Penolakan Areta membuat pikirannya kacau, juga menyulut api amarah dalam dirinya. Yang serasa membakar jiwanya hidup-hidup.


Setelah kehilangan Areta, ia baru merasakan kehilangan yang mendalam. Dan kini ia begitu menggebu-gebu menginginkan Areta kembali ke pelukannya. Tetapi Areta malah menolak bahkan lebih memilih Henry.


Lama berpikir, serta merenungkan beberapa hal, yang akhirnya membawa langkahnya ke ruangan Mega. Baru beberapa menit lalu ia telah memantapkan hati untuk mengambil satu keputusan yang dianggapnya penting untuk hidup serta masa depan keluarganya.


"Ada yang ingin aku bicarakan dengan kamu," ujar Angga, berdiri di depan meja kerja Mega.


"Silahkan duduk." Mega menunjuk satu kursi di depan mejanya, sembari mengurai senyum.


"Tidak di sini. Mari kita bicara di luar saja."


Senyuman Mega terkembang lebar. "Baiklah. Ayo." Cepat ia menyambar tas yang tergeletak di depannya. Kemudian melangkah keluar dari ruangannya dengan menggamit lengan Angga. Sampai mengundang perhatian staffnya ketika ia keluar dari ruangan berdinding kaca yang telah dihuninya beberapa tahun itu.


Angga baru saja menghidupkan mesin mobil saat tiba-tiba Mega meraih tengkuknya. Lalu menyambar bibirnya penuh gairah.


Namun Angga tak membalas lumatann Mega, ia justru mendorong pelan tubuh Mega sampai pagutan terlepas. Yang membuat kedua alus Mega bertaut keheranan.


"Kenapa belakangan ini aku merasa kamu mulai berubah? Apa kamu sedang menyembunyikan sesuatu dari aku, Angga?" tanya Mega.

__ADS_1


"Mega, aku ingin mengatakan sesuatu sama kamu. Aku harap kamu bisa memahami ini."


"Baiklah, aku akan mencoba memahaminya. Tapi, setelah kita sampai di hotel. Aku ingin kamu, Ga. Sudah hampir seminggu loh kita tidak melakukannya. Sekaligus kita bicarakan masalah pernikahan kita." Sembari mengelus lembut paha Angga. Gerakan tangannya kemudian berhenti ketika mencapai pangkal paha Angga.


Cepat, Angga menyingkirkan tangan Mega. Dahulu ia menyukai perlakuan agresif Mega seperti itu, tapi sekarang ia malah merasa risih. Bahkan moodnya mendadak hancur diperlakukan seperti itu. Sebab hati dan pikirannya saat ini sedang kacau.


"Sebenarnya, masalah itu yang ingin aku bicarakan sama kamu," ucap Angga.


Senyuman Mega pun surut seketika. Wajahnya yang semula sumringah itu kini menjadi tegang. Segala pikiran buruk pun mulai berkecamuk dalam kepalanya.


"Masalah pernikahan kita? Memangnya ada apa dengan pernikahan kita?" tanya Mega mulai disergap cemas. Ia akui, perasaannya kepada Angga belumlah terlalu dalam. Dibandingkan Angga, ia masih lebih mengagumi Henry.


Namun, meski begitu ia tak ingin Angga mempermainkannya. Sebagai seorang wanita, belum lagi jika menilik statusnya sebagai seorang manajer, ia tak ingin Angga meremehkannya. Walau pun kini Angga adalah seorang direktur. Karena ia tahu, Angga mendapatkan posisinya sekarang ini hanya dari hasil menggadaikan istrinya sendiri. Terkesan keji memang. Tapi seperti itulah Angga. Yang tak pernah berpikir panjang. Bahkan kerap mengabaikan dampak yang akan ditimbulkan nanti akibat ulahnya.


"Mega, aku minta maaf yang sebesar-besarnya sama kamu. Aku harap kamu tidak akan membenciku setelah ini," ucap Angga memelankan nada suaranya.


Mega mengerutkan dahi dalam. Ia menyimak, menunggu apa yang akan diutarakan oleh Angga selanjutnya mengenai pernikahan mereka. Sebetulnya ia sudah memiliki firasat. Tapi ia tak ingin menerka-nerka, yang pada akhirnya malah akan membuatnya kecewa.


"Aku ingin membatalkan pernikahan kita," sambung Angga dengan wajah serius.


Membuat Mega terkejut bukan kepalang. Kedua matanya bahkan sampai terbelalak. Amarah pun mulai merasuki jiwanya. Firasatnya ternyata tidak meleset. Inilah yang ia takutkan, Angga akan membatalkan pernikahan mereka. Sebab belakangan Angga terlihat mulai berbeda. Yang sebetulnya menimbulkan kecurigaannya.


Dan lihatlah, apa yang terjadi. Angga rupa-rupanya sedang mencoba bermain-main api dengannya. Dan ia tak bisa terima dipermainkan oleh pria seperti Angga ini.


"Apa kamu bilang? Apa aku tidak salah dengar?" tanya Mega menuntut dengan tatapan menusuk. Jelas ia tak terima Angga mempermainkannya, membohonginya, menipunya, bahkan menyakitinya seperti ini.


"Mega, sebaiknya kita akhiri saja hubungan kita sampai di sini," tambah Angga tanpa ragu dan rasa bersalah. Yang memantik api amarah Mega seketika.


"Jangan keterlaluan kamu, Angga. Pernikahan kita sudah di depan mata, terus kamu malah mau membatalkannya begitu saja. Undangannya sudah di cetak Angga. Gila kamu ya?" Mega benar-benar emosi.


"Baru di cetak kan, belum di sebar. Jadi masih memungkinkan untuk dibatalkan."


Mega meradang. Wanita itu benar-benar meradang saking dikuasai amarah dan sakit hati. Tatapan tajamnya serasa ingin menelan Angga hidup-hidup.


"Tidak! Sebelum aku tahu alasannya, aku tidak mau membatalkan pernikahan ini. Apa kamu mau mempermalukan aku? Andai aku tahu siapa penyebab semua ini, maka aku tidak akan membuat hidupnya tenang. Paham kamu, Angga?"

__ADS_1


*


__ADS_2