Antara Cinta Dan Obsesi

Antara Cinta Dan Obsesi
ACDO Bab. 71


__ADS_3

Bab. 71


Perlahan, dengan sangat hati-hati Henry merebahkan Areta di tempat tidur. Ia menyusul naik, lalu hendak menyerbu. Saking tak bisa menahan lagi.


Namun jemari lentik Areta dengan cepat menahan bibirnya, yang melupakan tata krama, nyosor tanpa permisi.


"Mandi dulu, kamu bau keringat. Aku jadi mual." Areta berkata sembari menutup hidungnya. Bukan bermaksud meledek, ia hanya sedang bercanda saja. Tapi jika Henry menurutinya, bukankah itu lebih bagus? Pasalnya, segala jenis aroma saat ini membuatnya sensitif, sejak ia positif hamil. Termasuk bau badan Henry, suaminya sendiri.


"Bau sekali ya?" tanya Henry sembari membaui aroma tubuhnya sendiri. Aroma parfum dan bau keringat bercampur menjadi satu, menguarkan aroma yang berbeda dari tubuhnya. Untuknya mungkin masih bisa diterima hidung. Tetapi bagi Areta yang sedang hamil di trimester pertama ini mungkin saja sensitif di indera penciumannya.


Sembari mengulum senyum, Areta mengangguk.


"Ya sudah. Aku mandi dulu ya?"


Kembali Areta mengangguk.


"Kamu yang mandikan."


Namun kali ini Areta menggeleng. Membuat Henry meniupkan napasnya panjang.


"Ya sudah." Lekas Henry turun dari tempat tidur. Lantas pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Hanya butuh waktu sepuluh menit bagi Henry menyelesaikan mandinya. Itu pun sudah waktu tercepat dari biasanya. Ia sudah tak sabar, masih dengan handuk melilit di pinggang ia hendak naik ke peraduan.


Namun ia tertegun, terpana melihat sang istri tengah menunggunya di atas peraduan dengan balutan lingerie berwarna merah. Kontras dengan kulit Areta yang putih dan mulus. Ia lantas teringat dengan lingerie yang dibelikan Hera dengan berbagai warna tersebut. Yang ia biarkan tersimpan rapi di lemarinya, bahkan tak pernah ia meminta Areta untuk mengenakannya.


Dan saat ini, sungguh ia terpana melihat Areta dalam balutan busana transparan tersebut. Areta terlihat seksi dan menggoda. Membuat darahnya berdesir hebat merambati seluruh nadinya. Urat sarafnya bahkan tegang, hingga jantung pun ikut berdetak kencang.


Terlebih lagi ketika Areta melempar senyum menggoda kepadanya. Membuat hasratnya begitu cepat sampai ke ubun-ubun. Tak sabaran ia naik ke tempat tidur, merangkak mendekat, ingin melihat sang istri dari dekat.


"Kenapa? Apa aku terlihat anah?" Pertanyaan itu yang terlontar dari Areta ketika melihat Henry tak berkedip menatapnya.


"Kamu ... Kamu sangat cantik, sayang." Ah ya ampun, jantungnya berdetak lebih cepat. Sungguh ia tak kuasa lagi menahan gejolak dalam jiwanya.


"Oh ya? Kamu beli banyak pakaian seperti ini tapi tidak pernah menunjukkannya padaku."


"Itu ... Sebenarnya Hera yang beli. Sebagai kado pernikahan. Aku hanya merasa malu saja memberikan pakaian itu ke kamu. Aku pikir kamu tidak akan suka."


"Siapa bilang?" Sengaja Areta mengenakan pakaian itu, sebab ia tahu apa yang diinginkan Henry. Sekali-sekali menggoda suami tidak mengapa. Lagipula ia sudah membuang malu bertanya kepada Nino tentang aman tidaknya berhubungan di trimester pertama ini, ditambah lagi ia sudah browsing di internet, mencaritahu banyak hal. Apalagi bukankah ia sudah berpengalaman mengenai hal ini?


"Yang benar saja. Kamu tidak keberatan memakainya?"


"Sekarang aku juga lagi pakai kan?"

__ADS_1


"Kalau begitu kamu tidak akan keberatan memakainya di setiap malam."


"Em ... Baiklah, kalau itu yang kamu mau."


"Benarkah?" Henry semakin tak sabar. Ia ibarat kucing yang sedang kelaparan kini. Menatap Areta layaknya mangsa yang empuk.


"Asalkan kamu senang, kenapa tidak?"


"Ah ... Kamu membuat aku tak bisa menahan diri lagi." Tanpa komando Henry lekas mendorong perlahan Areta sampai terbaring, kemudian mengungkungnya. Melepas handuk, melemparnya sembarang, lalu hendak menyerang.


Namun lagi-lagi dengan cepat Areta menahan bibirnya dengan telunjuknya.


"Sabar dulu, sayang. Jangan terburu-buru," ujar Areta. Sengaja menahan agar Henry tak menggempur sembarangan. Sebab mengingat kehamilannya saat ini masih rentan. Sangat riskan mengalami pendarahan jika tak hati-hati.


"Ada apa lagi? Ayolah, aku sudah tidak tahan lagi," rengek Henry berwajah memelas. Bahkan wajahnya terlihat lucu, merengek seperti anak kecil meminta mainan.


"Pelan-pelan sayang. Kamu tidak mau membahayakan baby kita kan?"


"Baiklah. Aku akan melakukannya dengan lembut dan sangat berhati-hati. Tapi tetap bisa membuatmu terbang melayang."


Wajah Areta sampai bersemburat merah digombali Henry demikian. Maka untuk selanjutnya ia memasrahkan dirinya, mempersembahkan dan menerima yang terbaik dari sang kekasih hati.


Sesuai seperti perkataannya, Henry bermain amat lembut dan sangat berhati-hat dengan kehamilan sang istri. Walau sedikit berpeluh, bertempur cantik di atas peraduan, puncak percintaan tetaplah begitu nikmat diraih. Keduanya masih saling memeluk, menunggu sampai waktu makan malam tiba.


...


"Mobil sudah tidak punya, motor butut apalagi. Jangan bilang ya kalau kamu mau menumpang mobilku setiap hari ke kantor. Malu-maluin." Mega berkomentar nyelekit, teramat menyinggung harga diri Angga sebagai lelaki juga sebagai seorang suami. Sikap Mega tak sedikitpun menunjukkan menghargai suami.


"Kamu tenang saja. Aku tidak akan menumpang mobil kamu." Kali ini Angga lebih tenang menghadapi sang istri. Yang justru memperlihatkan sifat aslinya setelah mereka menikah.


"Baguslah. Masa iya seorang Mega punya suami kere. Mau taruh di mana mukaku nanti."


"Kamu tidak perlu malu sekarang. Karena kita sudah tidak sekantor lagi."


"Maksud kamu? Kamu dipecat gitu?"


Angga menggeleng. "Tidak. Tapi aku dipindahkan ke luar kota. Sebagai staff biasa," ungkapnya tanpa perlu menutup-nutupinya.


Mega terkejut, sampai membelalakkan matanya.


"Ke luar kota? Terus aku gimana dong?" tanyanya mulai panik.


"Aku tidak akan memaksa kamu. Terserah kamu mau ikut denganku atau tidak. Tapi yang jelas, aku sangat membutuhkan pekerjaan ini."

__ADS_1


"Kalau aku ikut, terus kita tinggal di mana?"


"Tempat kost."


"Kost? Bukan apartemen?"


"Gajiku tidak akan cukup untuk menyewa apartemen. Kalau kamu tidak mau, ya sudah, kamu di sini saja bareng ibu."


"Berdua dengan ibu kamu? Tidak, aku tidak mau!"


"Terserah!" Angga tak peduli lagi. Ia lantas melenggang pergi meninggalkan Mega yang bersungut-sungut jengkel di halaman rumah.


"Angga tunggu! Angga, tunggu aku!" pekik Mega. Ia pun kemudian lekas menyusul Angga. Tentu saja dengan marah yang memenuhi rongga dadanya. Ia tak terima harus tinggal terpisah dengan suami disaat ia dalam keadaan hamil seperti ini.


...


Makan malam keluarga Adiswara berlangsung khidmat walau hanya ada mereka bertiga di meja makan tersebut.


Walau sedang tak berselera, Areta memaksa menghabiskan makanannya. Sebagai bentuk menghargai akan kasih sayang dan perhatian dari Agatha. Yang sudah susah payah memasak makanan kesukaannya.


"Kamu kalau lagi pengen apa-apa, kamu kasih tahu aja ke Mama. Ya?" Agatha menawarkan. Ia tahu dalam masa-masa mengidam, ibu hamil biasanya menginginkan sesuatu. Sebagai calon nenek, ia hanya ingin memberikan yang terbaik untuk menantu dan calon cucunya.


"Iya, Mah. Terima kasih atas semua perhatian Mama. Tapi maaf kalau aku nanti bakal merepotkan Mama," ucap Areta, mengakhiri makannya.


"Oh tidak, tidak. Mama tidak pernah merasa direpotkan kok. Malah Mama senang bisa memberikan apa yang kamu mau. Anggap saja Mama sedang menuruti keinginan calon cucu Mama." Kebahagiaan Agatha tak bisa ditutup-tutupi. Sangat terpancar jelas dari wajahnya.


"Ehem, ehem!" Henry berdehem untuk meminta perhatian dua wanita terkasihnya itu.


Agatha dan Areta pun serentak menoleh.


"Aku minta perhatiannya sebentar," ucap Henry.


"Ada apa, Henry? Ada yang ingin kamu sampaikan?" tanya Agatha.


"Untuk seminggu ke depan, aku akan berangkat ke Seoul untuk urusan bisnis. Sekaligus, aku ingin mengajak Areta ikut serta bersamaku," ujar Henry.


"Ke Seoul bersama Areta? Kenapa tidak? Gimana Areta, kamu mau tidak?" Agatha melempar tanya kepada Areta.


"Apa tidak akan merepotkan jika aku ikut bersama kamu, sedangkan kamu ke sana untuk urusan pekerjaan," ujar Areta sungkan.


"Kita akan pergi berbulan madu, sayang."


*

__ADS_1


__ADS_2