Antara Cinta Dan Obsesi

Antara Cinta Dan Obsesi
ACDO Bab. 72 End


__ADS_3

Bab. 72


Sungguh berlimpah cinta dan kasih sayang yang tercurah untuk Areta. Membuat Areta tak henti mengurai syukur atas nikmat yang telah diberi.


Selama perjalanan honey moon di Seoul, Henry benar-benar memperlakukan Areta dengan baik. Menjaganya dengan hati-hati, bahkan memanjakannya dengan memberikannya kesempatan untuk berbelanja apapun yang diinginkannya.


Selama seminggu di Seoul Areta laksana seorang Tuan Puteri. Dilimpahi cinta, kasih sayang, serta perhatian tak hanya dari suami tercinta juga dari mertua serta kakak iparnya terkasih.


Sepulang dari Seoul, Areta langsung di sambut oleh pembukaan Areta Beauty Salon yang telah selesai di renovasi. Dahulu Areta Beauty Salon hanya memiliki dua orang karyawan yang membantu. Tetapi kini, Areta Beauty Salon memiliki 10 orang karyawan yang selalu siap membantu. Bahkan salon itu luasnya mencapai lima kali luas yang sebelumnya dan memiliki dua lantai.


Areta Beauty Salon juga telah menjadi salon langganan teman-teman sosialita Agatha. Dalam sekejap salon itu menjadi salon favorite banyak orang, dari banyak kalangan.


Mungkin kata terima kasih saja tidak akan cukup untuk membalas semua kebaikan yang telah Henry berikan kepadanya. Areta hanya mampu membalasnya dengan cinta yang tulus dan sepenuh jiwa.


"Sayang, aku tidak tahu bagaimana harus membalas semua kebaikan kamu. Jujur, aku sangat berterima kasih sekali sama kamu." Areta berkata ketika mereka duduk berdua di balkon kamar sambil menatap langit sore. Sembari menyandarkan kepala di pundak Henry.


Beberapa bulan telah berlalu, kehamilan Areta telah memasuki usia 36 minggu. Tidak begitu sulit untuk Areta menjalani kehamilannya saat ini, sebab ia telah memiliki pengalaman. Belum lagi dengan perhatian suami dan mertuanya, membuatnya semakin tenang menjalani hari-harinya. Sampai tak terasa kehamilannya telah memasuki trimester ketiga. Dan kini hanya tinggal menunggu waktunya sampai si buah hati yang dinanti lahir ke dunia.


"Kamu mencintaiku kan?" Henry malah bertanya. Membuat Areta refleks mendongak, dan Henry menoleh, menurunkan pandangan. Keduanya saling menatap.


"Tidak."


Henry terdiam mendengar jawaban Areta. Tapi Areta malah mengulum senyum kemudian.


"Tapi aku sangat mencintaimu," sambung Areta tulus. Yang dibalas Henry dengan kecupan mesra di bibirnya. Saling membalas pagutan untuk sesaat. Sampai akhirnya Henry berkata.


"Cintamu itu sudah lebih dari cukup membalas semuanya. Aku tidak butuh apapun lagi selain kamu, kebahagiaan kamu dan calon buah hati kita." Sembari mengelus lembut perut Areta yang membuncit.


Areta kembali tersenyum. Sebuah kecupan manis pun kembali berlabuh, saling mencumbu mesra di bawah buaian indahnya langit sore. Disaat-saat seperti ini, ketika dilanda asmara, serasa dunia milik berdua.


Kebahagiaan yang melingkupi keduanya tak lebih karena cinta dan kasih sayang keduanya yang tulus, ikhlas memberi dan saling menerima.


...


Tidak ada yang berbeda seperti hari-hari yang dilaluinya, masih bertemankan sepi. Kamar berukuran 3x4 meter persegi ini menjadi saksi betapa Angga sangat kesepian semenjak pindah ke kota ini. Menjadi pegawai biasa Dreams Food, bukan lagi sebagai direktur pemasaran. Ia telah kembali ke level kehidupannya yang semula.


Mempunyai istri cantik yang ia banggakan dahulu ternyata tak menjamin kebahagiaannya di masa depan. Mega bahkan rela hidup terpisah dengannya hanya demi jabatannya. Mega tidak rela kehilangan posisi manajer keuangan jika ia memutuskan ikut dengan Angga. Alhasil Mega mengambil keputusan tinggal bersama orang tuanya.


Sementara Wirda, ia biarkan tinggal seorang diri, bertemankan sepi dan nelangsa. Tiada lagi tawa cucu kesayangannya terdengar. Wirda pun hanya bisa menyesali apa yang terjadi.


Angga membuang napasnya panjang ketika menerima pesan dari Mega. Yang memberi kabar jika ia ingin melayangkan gugatan cerai kepada Angga setelah ia melahirkan nanti.


Angga tidak bisa berbuat apa-apa. Ia menuruti saja semua keinginan Mega tanpa banyak kata. Mempunyai istri yang keras kepala seperti Mega ini juga membuatnya sedikit kesulitan. Sehingga setiap Mega mengambil keputusan, ia tak banyak membantah.

__ADS_1


Menonaktifkan ponselnya, Angga lantas merebahkan tubuh lelahnya. Dengan kepala berbantalkan kedua tangannya. Menatap langit-langit kamar itu, yang muncul malah bayang-bayang Areta dan Rosa.


"Areta, maafkan aku. Jujur, aku sangat merindukanmu." Angga pun hanya bisa berbisik lirih pada bayangan itu.


"Rosa, maafkan Papa, sayang. Maafkan Papa."


Tak kuasa Angga menahan pilu di dada. Hingga air matanya jatuh berderai. Sudah terlambat bagi Angga menyesal. Bahkan sudah tidak ada lagi kesempatan baginya untuk memperbaiki segalanya. Keadaan sungguh telah jauh berbeda. Yang bisa Angga lakukan hanyalah berlapang dada menerima nasibnya kini.


...


Waktu begitu cepat berlalu. Henry membawa langkahnya berlari menuju salah satu ruangan VIP di rumah sakit Sinar Harapan.


Beberapa menit lalu Agatha mengabarkan kepadanya bahwa Areta tengah berjuang melahirkan si buah hati ke dunia. Buah hati yang telah lama dinanti kehadirannya. Pelengkap kebahagiaannya bersama Areta.


Mendorong daun pintu tak sabaran, Henry disuguhkan dengan pemandangan mengharukan sekaligus membahagiakan begitu pintu terbuka. Agatha tengah gembira menggendong seorang bayi mungil nan lucu, mengajak bayi itu bercanda walaupun bayi itu tidur tak memberi tanggapan.


Di dalam ruangan itu sudah ada Nino, juga Hera. Yang ikut gembira menyambut kehadiran ponakan tersayang.


"Ponakan aunty yang ganteng. Nanti kalau sudah besar, mainnya sama aunty ya?" Hera berujar sembari menyentil gemas hidung kecil si bayi dalam gendongan Agatha.


Nino juga ikut-ikutan mengerubungi si bayi mungil itu. Turut gembira dengan kehadiran anggota keluarga yang baru.


Sementara Areta, tengah duduk bersandar di kepala ranjang, sambil tersenyum-senyum melihat mertua serta iparnya begitu senangnya dengan kehadiran cucunya.


"Maafkan aku ya sayang. Aku terlambat datang. Aku tidak sempat menemani kamu berjuang melahirkan anak kita," ucap Henry penuh penyesalan sembari menggenggam jemari Areta dengan erat.


Sayangnya Henry tidak bisa melihat dan menemani Areta disaat wanita itu berjuang antara hidup dan mati melahirkan si buah hati ke dunia. Ia tengah berada dalam rapat penting saat itu, rapat dengan kolega bisnis baru yang berasal dari Hongkong. Rapat itu sudah beberapa kali tertunda. Dan kali ini adalah kesempatan terakhir bagi Dreams Food untuk bisa bermitra dengan perusahaan serupa dari Hongkong. Sehingga tidak memungkinkan untuk ditunda lagi.


"Tidak apa-apa sayang. Kan ada Mama, Kak Hera, dan Dokter Nino. Aku bisa mengerti kok, rapat itu sangat penting buat kamu. Karena masa depan Dreams Food juga ditentukan oleh rapat itu kan?" Areta tersenyum penuh pemakluman. Beruntungnya, ia sudah berpengalaman melahirkan secara normal. Sehingga ia sudah tahu tahapan proses yang harus dilaluinya. Beruntungnya juga ada Agatha dan Hera yang setia menungguinya, menyemangatinya, serta memberinya perhatian.


"Tuh, Papa udah datang. Cucu Oma mau digendong Papa," ucap Agatha menghampiri Henry.


"Coba lihat deh Hen, dia sangat mirip dengan kamu," sambung Agatha memperlihatkan bayi itu kepada Henry.


"Mirip aunty-nya dong, masa mirip papanya." Hera bergurau, saking bahagianya diberi ponakan.


"Syukur persalinannya lancar. Tidak ada kendala sedikitpun. Oh ya, kalian sudah menyiapkan nama tidak untuk bayi itu?" tanya Nino.


"Tentu saja aku sudah menyiapkan nama untuknya," sahut Henry meraih bayi mungil itu ke dalam gendongannya. Perasaan haru menyeruak ketika bayi itu berada dalam gendongannya. Sebagai seorang lelaki ia merasa sempurna kini. Menjadi ayah adalah tugas baru untuknya. Pastinya tidak akan mudah menjadi sosok ayah baik. Tetapi ia akan berusaha sebaik dan semampu yang ia bisa. Demi kebahagiaan keluarga kecilnya. Kedua matanya bahkan berkaca-kaca melihat bayi mungil itu.


"Halo anak Papa yang ganteng. Papa ucapkan selamat datang untuk kamu. Terima kasih kamu sudah hadir melengkapi kebahagiaan Papa. Papa janji, Papa akan berusaha memberikan yang terbaik untuk kamu dan Mama kamu," ujar Henry dengan setitik air mata bahagia jatuh dari pelupuk matanya.


...

__ADS_1


Waktu yang terus bergulir, membuat bayi mungil itu kini tumbuh besar. 5 tahun berlalu sangat cepat. Anak kecil itu tengah bermain mobil-mobilan di ruang tengah dengan ditemani nenek, aunty dan uncle-nya.


"Haidar ..."


Namun perhatian anak kecil itu teralihkan dari mainannya ketika terdengar suara yang memanggil namanya.


"Mama ... Papa ..." sapa Haidar, bangun dari duduknya, lalu berlari menghampiri Areta dan Henry yang baru saja kembali dari perjalanan bisnisnya.


Haidar menghambur memeluk Areta dan Henry bergantian.


"Haidar senang ya Mama dan Papa sudah pulang. Haidar sudah kangen kan?" Agatha berseru, bangun dari duduknya, ikut menghampiri.


"Oh ya? Haidar kangen sama Mama dan Papa?" tanya Henry.


Haidar mengangguk.


"Lihat nih Papa dan Mama bawa apa buat Haidar. Oleh-oleh dari Cina." Dari balik punggungnya, Henry mengeluarkan sebuah kotak mainan, mobil-mobilan canggih dengan remote kontrol, edisi terbatas buatan Cina.


"Hore ... Makasih ya Papa, Mama. Haidar sayang sama Mama dan Papa." Haidar kembali memeluk mama dan papanya bergantian sebagai bentuk ungkapan terima kasihnya.


Haidar Putra Adiswara, yang kerap disapa Haidar. Anak tampan itu telah menjadi pelengkap kebahagiaan keluarga Adiswara. Sejauh ini rumah tangga Areta dan Henry jauh dari kabar-kabar miring. Rumah tangga mereka dipenuhi oleh cinta dan dilingkupi oleh kebahagiaan tiada tara.


Siapa sangka, obsesi Henry ingin memiliki Areta hingga bertahun-tahun lamanya itu akhirnya terwujud menjadi kenyataan. Obsesi seringkali dinilai menjadi hal yang buruk bagi seseorang yang mengalaminya.


Namun obsesi Henry bukan sekedar obsesi. Tanpa disadarinya perasaan itu berubah menjadi cinta yang tulus, yang terlahir dari perasaannya yang mendalam terhadap Areta. Karena ketulusan hatinya, kebahagiaan pun turut menyertainya sepanjang masa.


SELESAI / TAMAT


Hai hai ... Mohon maaf sekali cerita Henry dan Areta harus berakhir sampai di sini. Author ucapkan terima kasih yang sebanyak-banyaknya buat reader yang udah setia mengikuti cerita receh ini dari awal sampai tiba di penghujung cerita. Maaf juga othor tidak sempat membalas komentar kalian.


Oh ya, tidak lupa pula author mengucapkan Minal Aidin Walfaizin, Mohon Maaf Lahir dan BatinπŸ™.


Semoga kita semua berada dalam lindungan Allah SWT.


Author pamit undur diri dulu. Sampai jumpa di kesempatan berikutnya.


Jangan lupa follow akun FB author untuk info cerita selanjutnya dari author abal-abal ini.


See you next time, i love you all 😘😘


Bye πŸ‘‹πŸ‘‹πŸ‘‹


__ADS_1


__ADS_2