Antara Cinta Dan Obsesi

Antara Cinta Dan Obsesi
ACDO Bab. 47


__ADS_3

Bab. 47


Silau oleh sinar matahari pagi yang menerpa wajah, Henry pun membuka matanya perlahan. Menatap nanar pada sesosok cantik yang tengah membuka tirai jendela kamarnya itu. Sehingga cahaya matahari masuk menembus kaca jendela dan membangunkannya.


"Ini sudah jam berapa?" tanyanya lalu bangun duduk bersandar punggung di kepala tempat tidur. Sembari memijit pelipis akibat kepala pusing efek minuman beralkohol.


"Sudah jam sembilan pagi," sahut Areta memutari sisi tempat tidur. Lantas meraih gelas yang berisi air madu di atas nakas.


Henry terkejut. "Kenapa kamu tidak membangunkan aku?"


"Maaf. Tapi aku lihat kamu tidurnya pulas."


"Seharusnya kamu bangunkan aku. Banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan hari ini." Menyibak selimut, ia hendak turun dari tempat tidur. Namun urung ketika Areta menyodorkan gelas berisi air madu itu kepadanya.


"Apa ini?" tanyanya.


"Ini air madu hangat untuk menghilangkan pengar. Semalam kamu mabuk berat. Jadi aku buatkan ini."


Henry tak lantas meraihnya. Dipandanginya saja gelas itu dengan perasaan campur aduk. Atara terkejut, heran, bahkan senang. Sebab hal itu merupakan sebentuk perhatian kecil dari Areta.


"Kalau tidak mau juga tidak apa-apa. Ini hanya madu, tidak aku campur racun kok. Ya sudah." Memutar tubuhnya, Areta hendak beranjak saat Henry mencegahnya.


Dengan cepat Henry menahan tangannya. Ia pun berbalik, "Kamu tidak mau minum air madu buatan aku karena kamu pikir aku mencampur minuman ini dengan racun kan?" sindirnya.


Dan malah menerbitkan senyum di wajah Henry.


"Kamu tenang saja. Meskipun aku tidak menyukai kamu, tapi aku tidak sejahat itu sampai punya pikiran mau meracuni kamu. Ini air madu murni, tanpa ada campuran apapun selain madu," sambungnya menegaskan. Memang ia tak punya pengalaman tentang minuman untuk mengurangi pengar akibat alkohol. Ia inisiatif mencari di internet. Dan hanya madu yang bisa ia temukan si dapur rumah itu.


Pagi-pagi sekali ia ke dapur sebelum tuan rumah terbangun. Dan hanya Bi Lastri yang ia temui di dapur, sedang menyiapkan sarapan untuk majikannya.


"Terima kasih." Henry berkata, mendongak, menatap lembut sepasang mata teduh Areta. Kemudian diambilnya segelas air madu itu dari tangan Areta. Meneguknya sampai tandas tak bersisa. Setelahnya ia kembalikan gelas kosong itu ke tangan Areta.


"Areta," panggilnya ketika Areta beranjak, hendak meninggalkan kamar. Turun dari tempat tidur ia lantas menghampiri Areta.


"Terima kasih," ucapnya kemudian.


"Kamu sudah mengatakan itu tadi."

__ADS_1


"Memangnya kenapa kalau aku mengatakannya sekali lagi?" Jujur hatinya gembira menerima perhatian kecil dari Areta. Ia yakin perlahan-lahan Areta pasti bisa membuka hati untuknya. Ia hanya perlu bersabar sebentar lagi.


"Tidak apa-apa. Lagian aku hanya membuatkan air madu." Areta mengusap tengkuk, bingung hendak berkata apa lagi. Sebab hal ini di luar kebiasaannya. Jika sebelumnya ia tak pernah peduli dengan keadaan Henry, tetapi sekarang entah mengapa ia malah melakukan hal di luar nalarnya. Padahal ia membenci pria itu. Pria yang suka memanfaatkan keadaan orang lain.


"Oh ya, kamu sudah sarapan?" tanya Henry kemudian. Sebab efek minuman keras itu akhirnya ia terbangun sedikit terlambat dari biasanya. Alhasil ia luput memperhatikan Areta. Ia bahkan melupakan jika semalam Areta tidak makan.


"Em... Su_" Areta hendak berkilah. Namun bunyi keroncongan perutnya mendadak protes. Tak ingin Areta berbohong dengan kondisi lambungnya yang belum terisi sejak semalam.


Bunyi keroncongan perut Areta itu pun membuat Henry didera cemas seketika. Khawatir jika nanti Areta jatuh sakit karena menahan lapar.


Areta membuang pandangan. Ke sembarang tempat asalkan tidak bertemu pandangan dengan Henry. Bunyi keroncongan perutnya itu sedikit membuatnya malu. Sejak semalam ia belum makan. Bahkan pagi ini Bi Lastri mengajaknya sarapan atas perintah Agatha. Tetapi ia menolak, dengan alasan menunggu Henry bangun. Sebab ia masih merasa canggung berada semeja berdua bersama Agatha.


"Kenapa kamu tidak sarapan bareng Mama. Nanti kalau kamu sakit gimana? Astaga, Areta. Kamu bikin aku cemas saja." Henry didera panik seketika. Diraihnya segera pergelangan Areta. Mengajaknya turun ke lantai bawah.


Sampai di lantai bawah, dilihatnya meja makan dalam keadaan kosong.


"Bi ... Bi Lastri," panggil Henry setengah berteriak.


Tak lama Bi Lastri datang tergopoh-gopoh.


"Iya, Den. Ada yang bisa Bibi bantu?" Membungkukkan badan, dengan sopan Bi Lastri bertanya.


"Baik, Den."


"Kenapa tidak ada yang mengajak istriku sarapan? Apa kalian sengaja ingin membuat istriku kelaparan?" Henry melayangkan tanya sebelum Bi Lastri beranjak.


"Henry," panggil Areta tak ingin Henry memarahi wanita paruh baya itu. Padahal ia sendiri yang menolak sarapan.


"Maaf, Den. Tadi Bibi sudah mengajak Nyonya sarapan. Tapi Nyonya menolak. Katanya mau nungguin Den Henry bangun. Biar sarapannya bareng Den Henry saja katanya," sahut Bi Lastri.


"Benar begitu?" Sembari melirik Areta dengan senyuman tipis terukir. Satu hal lagi yang membuat hatinya gembira, Areta menolak sarapan hanya demi menunggunya.


Areta malah terlihat salah tingkah. Membuang-buang muka demi menghindari bertemu tatap dengan Henry. Mengusap tengkuknya, kentara sekali jika Areta merasa canggung dan malu.


"Iya, benar Den."


"Ya sudah. Tolong siapkan makanannya ya, Bi?"

__ADS_1


"Baik, Den." Bergegas Bi Lastri menuju dapur.


Sepeninggal Bi Lastri Henry mengajak Areta duduk bersebelahan dengannya. Yang diajak malah terlihat salah tingkah. Dan entah mengapa pula kebenciannya pada pria itu tak seperti semula lagi. Kebencian itu perlahan-lahan mulai memudar. Namun bukan berarti semudah itu ia membuka hati untuknya.


"Jadi kamu nungguin aku dari tadi? Kenapa?" Henry membuka obrolan, menatap Areta dengan tatapan menggoda. Sembari mengukir senyuman menawan, cerminan hatinya yang bahagia.


"Siapa yang nungguin kamu? Aku hanya merasa tak sopan saja makan tanpa_" kalimat Areta terhenti. Ia baru tersadar, hampir saja ia menyebut kata 'suami'.


"Tanpa apa?" Menaikkan kedua alisnya, Henry sungguh gemas melihat Areta yang salah tingkah seperti itu.


"Aku hanya merasa tak sopan saja makan sendiri tanpa Tuan rumah. Hanya itu, tidak ada yang lain. Wajar kan, karena aku hanya tamu di rumah ini."


"Istri, Areta. Kamu itu istriku. Tidak mengapa kamu makan lebih dulu tanpa aku. Karena aku juga tidak mau kalau sampai kamu sakit hanya karena kamu menahan lapar."


Areta tak berkata-kata lagi. Sebab tak punya alasan untuk membantah ucapan Henry. Ia memilih membantu Bi Lastri menghidangkan makanan di atas meja. Selanjutnya ia mengisi piring kosong Henry dengan makanan. Tanpa sadar ia melakukan hal itu. Hal yang sudah terbiasa ia lakukan ketika makan bersama Angga dahulu.


Henry tersenyum-senyum mendapatkan pelayanan seperti itu dari wanita teristimewa di hatinya. Ia sungguh bahagia, namun berusaha menahan luapan bahagia itu. Jika ditanya, andai diijinkan, ingin rasanya ia memeluk erat Areta saat ini. Menghadiahinya kecupan sayang serta ucapan terima kasih yang tulus. Tetapi sayangnya ia harus memendam keinginannya itu.


...


Datang terlambat ke kantor, ini adalah kali pertama bagi Henry. Senyuman bahagia tak lepas dari wajahnya, dari saat ia tiba di kantor sampai Angga datang ke ruangannya untuk menyerahkan laporan penjualan produk di pasar lokal selama beberapa bulan berlalu.


Angga terheran-heran bahkan bertanya-tanya melihat air muka tak biasanya dari atasannya itu. Wajah sang atasan terlihat berseri-seri bahagia.


"Tahun ini penjualan produk kita melebihi target. Pantas saja Pak Henry terlihat senang sekali. Karena penjualan produk kita di Jepang pun meningkat pesat," ujar Angga menyentil, mencoba mencari tahu apa gerangan penyebab pasti sang atasan terlihat bahagia.


"Salah satunya karena itu," ucap Henry sembari memeriksa lembar demi lembar laporan tersebut.


"Salah satunya? Itu artinya ada hal lain dong yang bikin Pak Henry senang seperti ini." Angga makin penasaran, ingin menelisik lebih jauh. Bahkan perasaannya mulai tak tenang. Jangan-jangan dugaannya benar adanya. Jika penyebab Henry terlihat senang adalah ...


"Istriku. Pagi ini dia manis sekali." Senyuman Henry semakin terkembang kala mengingat gemasnya tingkah Areta pagi tadi.


Dan dugaan Angga pun ternyata benar. Membuatnya dirundung cemburu seketika.


"A-apakah Pak Henry dan Areta sudah... Sudah ..." Angga tak enak hati mengutarakan pertanyaan itu secara langsung. Sebuah pertanyaan yang tak beretika, sebab ia ingin mengetahui perihal hubungan ranjang sang atasan dengan mantan istri.


"Of course (tentu saja). Dan Areta itu ternyata sangat lincah." Gamblang Henry membalas. Dari kalimatnya saja ia sudah bisa menebak maksud Angga.

__ADS_1


Alhasil, Angga hanya bisa terdiam, menelan ludahnya kelat. Dengan keterkejutan yang tertahan, serta perasaan cemburu yang mulai menyelinap masuk ke dasar hatinya.


*


__ADS_2